Dark Side Of My Husband

Dark Side Of My Husband
First Kiss


__ADS_3

Kau selalu mengatakan padaku bahwa semua akan baik-baik saja.


___________________👑👑____________________


[Apartemen Sharla, 5:30 PM]


Sharla kembali ke apartemennya. Ia merebahkan pinggangnya di atas tempat tidur. Ia lalu mendapat panggilan dari Adnan.


"Apa lagi?" ucap Sharla sebari menatap layar ponselnya. Sharla menerima panggilan itu.


"Buka pintumu, cepat!" suara dingin Adnan di balik ponsel Sharla.


Sharla mengernyitkan alisnya sambil menatap layar ponselnya.


"Cepat!" Adnan berteriak. Sharla terkesiap.


Untung aku tidak menempelkan ponselku di telinga. Aku bisa tuli, saat mendengarnya berteriak, benak Sharla.


Sharla beranjak dari tidurnya dan berjalan menuju pintu apartemennya.


Ceklek...


(Sharla membuka pintu apartemen)


Sharla tertegun karena melihat Adnan berada di depan Apartemennya.


Adnan hanya menatap Sharla dengan tatapan dingin.


Hampir 5 menit mereka mematung di depan pintu, menatap satu sama lain. Hingga akhirnya, Adnan menegur Sharla.


"Apa kau tidak di ajarkan sopan santun oleh orangtuamu?!" Adnan menggerutu.


Sharla merasa sedih saat Adnan mengucapkan 'orangtuamu'. Sharla menyingkirkan tubuhnya ke samping dan memberikan Adnan jalan.


Sharla hanya bergeming. Adnan masuk dengan santai.


"Berikan aku segelas wine!" ucap Adnan yang langsung duduk di sofa Sharla.


"Maaf, Tuan ... saya tidak memiliki wine," ucap Sharla merendah.


Adnan beranjak dari duduknya dan mendekati Sharla.


"Apa yang kau punya?" ujar Adnan. Sharla hanya bergeming. Adnan lalu berjalan menuju pintu kulkas milik Sharla.


Hanya ada kue, sayuran, susu dan cemilan disana. Adnan menaruh sebuah kain terlipat yang berukuran sangat kecil, di sela-sela sayuran. Lalu, Adnan mengambil susu dan menaruhnya di gelas milik Sharla.


Ia berjalan mendekati Sharla, sambil membawa gelas berisi susu.


"Sharla Harrera, seorang Dokter sukses bahkan ternama ... ia tinggal di apartemen ini. Bahkan, tempat ini tidak layak disebut rumah," ucap Adnan.


Sebenarnya, apartemen milik Sharla ini merupakan apartemen mewah. Tapi, bagi Adnan tidak.


Sharla hanya menundukan kepalanya. Ia rasa, tidak ada gunanya berdebat dengan Adnan ... sudah dipastikan Sharla akan kalah.


Adnan mendekati jendela apartemen milik Sharla.


"Hei,Bukankah disini tempatnya vas bunga. Kemana pergi vas bunga itu?" Adnan bertanya sambil menunjuk ke arah tempat vas bunga itu


Sharla mendongkak dan menatap Adnan lekat.

__ADS_1


Dia tahu darimana soal vas bunga itu, benak Sharla.


Adnan lalu meneguk susu di dalam gelasnya sampai habis lalu menaruhnya di dekat meja makan.


Adnan berjalan keluar apartemen milik Sharla.


Apa dia akan pergi? Bagus ... pergilah sejauh mungkin dan jangan pernah kembali, benak Sharla.


Sharla lalu berjalan menuju kamar mandi. Di dalam bilik kamar mandi, Sharla mendengar suara kuku mencakar dinding.


Sharla keluar untuk melihat apa yang terjadi, tapi tidak ada apapun di dinding itu.


KRESTTT ... KRESTTT...


suara itu makin menjadi-jadi. Sharla tetap tidak memperdulikannya. Ia pun selesai mandi, lalu berjalan ke kamarnya.


Sharla berjalan dengan perasaan yang kurang nyaman. Ia merasa seperti ada sesuatu yang membebani punggungnya.


Sharla sampai di depan kamarnya. Betapa terkesiapnya dia, saat melihat sosok gadis yang duduk di atas tempat tidurnya.


Jantung Sharla berdetak sangat kecang, tubuhnya melemas dan mengeluarkan keringat dingin.


"Si-siapa kamu?" ucap Sharla terbata-bata


Gadis itu memutar kepalanya 180°. Matanya hitam dan mengeluarkan darah. Mulutnya berisikan banyak sekali darah.



Jauhi pria itu! Dia tidak layak untuk bersanding denganmu! Jauhi atau kau akan menjadi sepertiku!


Gadis itu berbisik, tapi bisikannya membuat telinga Sharla menjadi mendenging.


"Apa maksudmu?" ucap Sharla.


Sharla yang masih menggunakan lilitan handuk di tubuhnya. Ia terus mencari ke sudut ruangan apartemennya.


"Siapa dia?" Sharla bergumam.


~Epilog~


***


[Rumah Sakit Antira Permai, 8:30 AM]


Sharla selalu datang ke rumah sakit pukul 8 lebih 30 menit. Chan menunggu Sharla di ruangannya.


Sharla membuka pintu kaca itu. Ia sudah tidak terkejut lagi, saat melihat Chan ada di ruangannya.


Chan menoleh ke arah pintu. Sharla tersenyum padanya.


"Selamat pagi ... apa kau membawakan teh untukku?" tanya Sharla.


"Itu sudah menjadi tradisi kita sekarang, hahaha..."


"Kau ini seperti tidak ada pekerjaan saja. Kenapa kau tidak pergi ke ruanganmu?" tanya Sharla.


"Huh sudahlah ... jika ada pasien, maka staf informasi akan menghubungiku," ujar Chan.


Tiba-tiba, Adnan datang menghampiri ruangan Sharla. Adnan langsung membuka pintu tanpa permisi ataupun mengetuknya lebih dulu.

__ADS_1


Sharla dan Chan menoleh ke arah pintu. Mereka terkesiap melihat Adnan saat itu.


Mereka saling menatap satu sama lain.


Canggung dan hening, ya ... suasana itu tercipta saat Adnan datang.


"Silakan, Tuan." ujar Sharla.


Adnan masuk dan duduk di sofa ruangan Sharla. Sharla memberi isyarat pada Chan untuk meninggalkan ruangannya.


Chan lalu pergi dan di ruangan itu yang tersisa hanya Adnan dan Sharla.


Adnan lalu beranjak dari duduknya dan berbaring di hospital bed. Sharla mendekati Adnan.


Ia memeriksa dibagian kaki Adnan, tapi tidak ada masalah sama sekali. Sharla mengerutkan alisnya.


Tiba-tiba, Adnan menarik lengan Sharla dan membuatnya terjatuh di pelukan Adnan. Sharla berusaha memberontak. Lalu, Adnan melepas pelukannya.


"Kenapa? Bukankah itu yang di lakukan oleh Chan kemarin?" Adnan berbicara sambil menyeringai. Sharla hanya bergeming.


Adnan kembali menarik lengan Sharla. Wajah Sharla dan Adnan sangat dekat. Tidak ada jarak diantara kedua wajah itu. Hembusan napas dan detak jantung keduanya terdengar sangat jelas.


"Kau sebaiknya tinggal di rumahku saja," ujar Adnan.


"Daripada tinggal di tempat kumuh seperti itu." Adnan menyelipkan rambut Sharla ke belakang daun telinganya.


Tiba-tiba, Adnan mencium Sharla. Ia ******* bibir mungil Sharla. Sharla terkesiap dan langsung mendorong Adnan. Sharla hanya bergeming.


Tidak melawan dan tidak melakukan apapun. Ia memegangi tembok. Napas Sharla pun tidak beraturan. Adnan mengusap ujung bibir dengan jempolnya.


"Manis sekali, apa ini pertama kalinya kau bercumbu?" tanya Adnan sambil menyeringai. Sharla hanya mengangguk samar.


"Bagus. First kiss milikmu sudah menjadi milikmu," ujar Adnan.


Adnan turun dari hospital bed dan berjalan mendekati Sharla. Sharla mundur beberapa langkah hingga ia terjatuh di sofa. Adnan segera menindih tubuh Sharla.


"Lakukan sekali lagi," ujarnya.


Sharla lalu mendorong Adnan, hingga terdorong beberapa langkah.


"Jaga sikapmu, Tuan! Kau orang terpandang di kota ini." Sharla menggerutu.


"Lalu, jika aku orang terpandang?"


"Maka kau harus memberi contoh pada orang lain!" Sharla berteriak.


Adnan mendekati Sharla. Membekap mulutnya dan merangkul pinggang Sharla.


"Berani-beraninya, kau membentakku!" Teriak Adnan.


Adnan lalu mendorong Sharla hingga terjatuh di sofa. Adnan lalu pergi meninggalkan ruangan Sharla. Adnan pergi dengan perasaan marah.


"Kau menggunakan kekuasaan untuk memenuhi hasratmu, Tuan." Sharla bergumam.


Chan langsung menghampiri Sharla di ruangannya.


"Ada apa denganmu?"


"Aku baik-baik saja. Kau selalu mengatakan padaku bahwa semua akan baik-baik saja," ujar Sharla santai.

__ADS_1


Maaf, aku kembali membohongimu, benak Sharla.


Chan lalu memeluk Sharla dengan erat.


__ADS_2