Dark Side Of My Husband

Dark Side Of My Husband
Persiapkan tubuhmu dalam 1 minggu.


__ADS_3

Sharla menghela napas kasar. Adnan lalu membuka lakban dari mulut Sharla.


"Aku tidak mengkhianatimu!" Sharla berteriak.


"Kau pergi dengannya, apa itu bukan pengkhianatan namanya?" Adnan mempertegas suaranya.


"Dengarkan ini, Adnan Hartigan Lapondi ... kau bukan kekasihku, maka aku tidak perlu memikirkan perasaanmu!" Sharla berteriak. Ia menatap tajam manik-manik mata Adnan.


Adnan kesal. Tanpa sengaja, Adnan menghantam kepala Sharla dengan keras. Gadis itu terjatuh dan tak sadarkan diri.


"Bangun!" Adnan berteriak. Sharla yang pingsan hanya bergeming.


"Apa kau tidak mendengarkan aku?" Adnan mengguncang tubuh Sharla.


Adnan lalu mengambil aroma terapi di atas meja rias milik Sharla.


"Sharla bangun. Sharla!" Adnan terus menggunacang tubuh Sharla. Air muka khawatir terpancar di wajah Adnan.


Setelah menunggu 2 jam, akhirnya Sharla siuman. Matanya mulai menyesuaikan cahaya di ruangan.


Sharla memegangi kepalanya yang rasanya sakit.


"Ahh..." Sharla bergumam.


Ia merasakan udara melewati dadanya saat itu. Ia menoleh dan mendapati dirinya sedang tidak menggunakan busana.


Sharla terkesiap dan menoleh ke arah jendela. Melihat Adnan yang duduk di sofa kamarnya tanpa menggunakan baju dan hanya menggunakan celana panjangnya.


Adnan duduk sambil menatap Sharla yang kebingungan. Ia hanya bergeming.


"Hei bodoh! Apa yang kau lakukan padaku?" Sharla menggerutu. Adnan hanya menyeringai.


Sharla melilitkan selimut di tubuhnya dan beranjak dari tempat tidur.


Mata Sharla terbelalak akibat melihat pakaiannya berserakan di lantai kamarnya.


Sharla menangis saat melihat kamarnya yang berantakan.


Sharla mendekati Adnan dan langsung menamparnya.


"Kau bisa menyewa wanita lain, tapi kenapa aku yang kau tiduri?" ujar Sharla sebari menyeka air matanya.


Sharla lalu jatuh tersimpuh di hadapan Adnan. Ia menangis dan menundukan wajahnya.


"Aku sudah tidak suci lagi." Sharla bergumam. Sharla beranjak dan langsung menampar Adnan lagi. Adnan tetap bergeming.


"Aku tidak menginginkan sepeser uang darimu! Aku bukan wanita murahan, yang bisa kau ajak tidur dan kau bayar setelah itu." Sharla berteriak.


"Kenapa harus aku?" ujar Sharla sambil menyeka air matanya. Sharla menggenggam kedua lengan Adnan.


Adnan beranjak dari duduknya dan langsung memegang kedua lengan Sharla. Tatapan Adnan sangat tajam saat melihat Sharla.


"Apa?" Sharla mendongkakan kepalanya.


"Bodoh!" Adnan menggerutu.

__ADS_1


"Jika memang kau sudah tidak suci lagi, mengapa tempat tidurmu tidak ada bercak darah sedikitpun?" Adnan menatap Sharla dengan tatapan dingin.


Sharla lalu membalikan tubuhnya dan menatap tempat tidurnya. Memang benar, tidak ada bercak darah di atas tempat tidurnya.


Sharla merasa malu. Ia lalu menundukan kepalanya. Adnan lalu memutar tubuh Sharla hingga menghadap dirinya.


"Kau harus membayar 2 tamparan yang kau berikan padaku," ujar Adnan sambil menyeringai.


"De-dengan apa?" ucap Sharla terbata-bata.


Adnan lalu mendorong tubuh Sharla hingga terjatuh di atas tempat tidur. Adnan menindih tubuh Sharla. Sharla sangat ketakutan saat itu.


"A-apa kau bu-butuh uang? A-aku akan berusaha me-mencarikan untukmu," ujar Sharla yang terbata-bata.


"Kau tidak mendengarkan ucapanku tadi?" ujar Adnan santai.


"Apa kau ketakutan sekarang?" tambahnya.


Tanpa aba-aba, Adnan lalu mencium leher Sharla dan meninggalkan tanda merah di dadanya. Sharla merasakan ngilu saat Adnan membuat tanda merah di dadanya.


Sharla meringis kesakitan. Sharla hanya memejamkan matanya, menahan rasa ngilu dan sedikit sakit. Adnan segera mendongkakan wajahnya.


Cih, ini pasti pertama kali untuknya, benak Adnan.


Adnan mulai membuka lilitan selimut di tubuh Sharla.


Tiba-tiba, Sharla memeluk tubuh Adnan yang kekar itu. Adnan terkesiap.


"Ku mohon, hiks ... jangan lakukan ini padaku." Terdengar isak tangis Sharla.


"Ku mohon maafkan aku," ucap Sharla yang terus menangis.


Adnan lalu beranjak dari posisinya dan duduk di tepi tempat tidur Sharla. Sharla pun bangun dan kembali memeluk Adnan dari belakang. Adnan memutarkan tubuhnya. Sharla terus menangis, Sharla lalu melepaskan pelukannya.


Adnan menatap tajam gadis dihadapannya ini.


"Kenapa kau melepas pelukanmu?" Adnan mengernyitkan dahinya.


Sharla mendongkak, menatap manik-manik mata Adnan.


Mata Sharla sudah dibanjiri oleh air mata.


Adnan lalu mendekatkan dirinya pada Sharla. Sharla langsung memeluk Adnan dan menyandarkan kepalanya di dada Adnan yang bidang dan kekar itu. Adnan tidak membalas pelukan Sharla.


"Aku akan membayar sewa apartemen ini. Mungkin, aku akan membayar perbuatan yang telah aku lakukan untukmu," ujar Sharla tanpa menyeka air matanya, membiarkan air matanya jatuh di dada bidang milik Adnan.


"Beri aku waktu. Aku akan mempersiapkan diriku untukmu."


Adnan mendengus kesal. Sharla hanya bisa memelas pada Adnan.


"Satu minggu, aku akan memberikanmu waktu satu minggu. Aku tunggu kau di Hotel YI." Adnan lalu menghempaskan tubuh Sharla dengan kasar.


Sharla lalu menyeka air matanya. Adnan menggunakan pakaiannya dan langsung meninggalkan apartemen Sharla.


__ADS_1


***


[Gedung pusat Dhijabu Grup.]


Adnan datang bersama Frans ke kantornya. Kali ini Frans mengikuti Adanan masuk ke dalam ruangannya.


"Ada yang ingin aku sampaikan padamu," ujar Adnan sebari berjalan menuju ruangannya.


Semua bawahan Adnan memberikan hormat padanya. Ima menghampiri Adnan.


"Selamat pagi, Tuan. Hari ini ada ada rapat dengan—" ucapan Ima terpotong.


"Batalkan semua," ujar Adnan.


"Sebaiknya, anda ikuti saja. Ini akan menguntungkan untuk perusahaan anda, Tuan." Frans menasehati Adnan dengan wajah yang datar. Adnan hanya mengangguk.


"Jam berapa?" ujar Adnan.


"Jam 10 nanti, Tuan."


Adnan lalu memasuki ruanganya dan meninggalkan Ima sendiri diluar. Ia lalu duduk di kursi presiden direktur.


Frans tetap berdiri di hadapan Adnan.


"Katakan, apa yang tuan inginkan!" ujar Frans.


"Aku ingin kau memesan kamar VIP di Hotel YI," ujar Adnan.


"Kenapa anda tidak menggunakan hotel milik anda, Tuan?" Frans berkata dengan wajah datarnya.


Adnan menatap lekat mata Frans. Frans lalu membaca isi pikiran dari Adnan.


"Baik, Tuan. Akan saya pesankan untuk anda. Semoga anda berhasil mendapat apa yang anda inginkan," ujar Frans. Ia langsung meninggalkan ruangan Adnan.


***


[Rumah Sakit Antira Permai, 8:30 AM]


Sharla berjalan dengan tatapan kosong. Ia memikirkan kejadian semalam. Matanya merah dan sebam.


Sharla sampai di ruangannya. Seperti biasa, Chan sudah menunggu di ruangan Sharla. Chan lalu mendekati Sharla.


"Apa kau baik-baik saja?" Chan bertanya dengan nada khawatir.


"Chan..." Sharla langsung memeluk Chan. Chan membalas pelukan Sharla.


"Apa yang terjadi denganmu semalam? Apa dia menyakitimu?" tanya Chan sebari mengusap puncak kepala Sharla.


"Dia menyuruhku untuk..." ucapan Sharla menggantung di udara.


"Apa? Apa yang dia suruh? Apa yang dia mau darimu?" ujar Chan sembari memegang kedua lengan sharla.


"Hiks ... dia menyuruhku untuk melayaninya," ujar Sharla yang terus menyeka air matanya.


"Kurang ajar!" Chan menggerutu.

__ADS_1


"Aku harus mempersiapkan diriku selama satu minggu, setelah itu aku akan bertemu dengannya di Hotel YI." Tatapan Sharla sangat kosong saat bicara dengan Chan.


__ADS_2