Dark Side Of My Husband

Dark Side Of My Husband
Aura yang tidak semestinya.


__ADS_3

Dokter Chan pergi meninggalkan ruang inap VIP yang di tempati oleh Adnan saat itu. Ia berjalan menuju ruang kerja Sharla.


"Huh ... orang itu berani-beraninya menyogokku dengan uang," umpat Chan saat tiba di ruang kerja Sharla.


Pemilik ruangan tersebut tidak ada di sana saat itu.


"Kenapa aku pergi kemari? Bahkan Sharla tidak ada disini ... bodoh." Chan lantas beranjak dari duduknya dan pergi meninggalkan ruanganĀ  Sharla.


Chan mengambil ponselnya dan menghubungi Sharla.


"Ada apa, Chan?" suara Sharla di balik ponsel Chan.


"Jam berapa kau ingin kemari?" Chan bertanya pada Sharla.


"10 menit lagi, aku akan sampai."


"Cepatlah! Aku sangat kesal sekarang," ucap Chan.


***


Hari ini adalah hari dimana Adnan sudah boleh meninggalkan rumah sakit, tempat Sharla bekerja.


Saat itu, Sharla berada di ruangannya tepat waktu. Sharla tidak mengetahui jika hari ini adalah hari terakhir Adnan ada di rumah sakit ini.


Seorang perawat datang ke ruangan Sharla.


Tok... tok ... tok ...


(Suara ketukan pintu kaca ruangan Sharla)


Sharla mendongkakan kepalanya untuk melihat siapa yang datang. Lalu, ia kembali menatap layar laptopnya.


"Ada apa, Kak?" tanya Sharla.


"Tuan Lapondi akan pulang hari ini, Dok."


Sharla terkesiap dan menghentikan aktivitasnya dengan laptop saat itu.


Bagus, ini akan menjadi hari terakhir aku bertemu dengannya, benak Sharla.


Sharla tidak tahu bahwa hari ini adalah awal dari kehancuran hidupnya untuk selamanya.


"Lalu, apa lagi?" tanya Sharla.


"Sebaiknya, Dokter memeriksanya terlebih dahulu ... sebelum menyuruhnya pulang," saran perawat itu.


"Baik, aku akan ke ruangannya." Sharla beranjak dari duduknya dan meninggalkan perawat itu sendiri di ruang kerjanya.


Sharla berjalan melewati ruangan-ruangan di rumah sakit. Ia menaiki lift dan sampai di ruang inap yang Adnan tempati.


Tok ... tok ... tok ...


(Sharla mengetuk pintu ruang inap Adnan)


Adnan saat itu hanya menoleh ke arah sumber suara. Ia menatap sambil memegang ponsel di tangannya.


Sharla membuka pintu itu dengan perlahan. Berharap semoga yang terjadi di hari itu tidak terulang kembali.


"Permisi ... Tuan Lapondi." Nada suara yang sangat lembut. Sharla menyapa Adnan.


Adnan terkesiap melihat kedatangn Sharla yang mendadak.


Aku tidak menyangka ... dia akan kembali, benak Adnan.

__ADS_1


Sharla berjalan mendekati Adnan. Sharla merasa aura di ruang VIP sangat aneh.


"Tuan Lapondi, saya akan memeriksa keadaan anda terlebih dahulu." Sharla memasang stetoskop di telinganya.


"Permisi, Tuan." Ia meminta izin pada Adnan.


Mengapa denyut jantungnya berdetak sangat kencang, benak Sharla.


Lalu Sharla melepas stetoskopnya dan memeriksa di bagian kaki.


"Apa disini terasa nyeri, Tuan?" tanya Sharla sopan sebari menunjuk kaki Adnan yang patah.


Adnan hanya menggeleng sambil mengerutkan alisnya.


"Saya akan pergi untuk membuat resep obat," ucap Sharla yang hendak pergi. Adnan mencegat Sharla, ia memegang pergelangan tangan Sharla.


"Aku ingin kau mengantarku pulang," pinta Adnan.


"Tapi, Tuan ... saya disini ada pekerjaan," ucap Sharla. Adnan melepas genggaman tangannya. Adnan membuang muka saat itu.


Sharla merasa iba dan mendekati Adnan.


"Baiklah ... saya akan mengantarkan anda, Tuan."


Adnan lantas menoleh ke arah Sharla. Matanya membinar dan tampak bibirnya menyeringai.


Sharla lantas pergi menuju ruangannya, ia menuliskan resep untuk Adnan dan kembali ke ruangan Adnan.


Sesampainya di ruangan Adnan, Sharla mengetuk pintu sebelum masuk ke dalam. Sharla mendekati Adnan dan membantunya untuk bangun.


"Mari, Tuan ... biar saya bantu."


"Aku tidak butuh bantuanmu ... aku bisa berjalan sendiri," ucap Adnan.


Lantas mereka keluar dari ruangan tersebut. Adnan membayar perawatannya di ruang administrasi, Sharla pergi menebus obat milik Adnan. Mereka pun selesai dengan urusan masing-masing.


Adnan menunggu Sharla di ruang tunggu dekat parkir mobil. Sharla pun datang menghampiri Adnan.


"Mari, Tuan." Sharla memegang lengan Adnan. Adnan menatap lekat tangan Sharla.


"Maaf." Sharla lantas melepaskan genggaman tangannya.


"Berikan kunci mobilmu!" perintah Adnan.


"Biar aku saja yang membawa mobilnya," ucap Sharla.


"Berikan saja padaku!"


Sharla pun memberikan kunci mobilnya pada Adnan. Mereka berjalan menuju mobil Sharla yang tengah di parkir, di depan rumah sakit.


Adnan mengendarai mobil milik Sharla dengan kecepatan sedang, meninggalkan rumah sakit itu. Di dalam perjalanan, suasana hening dan canggung tercipta. Tidak ada yang berbicara sedikitpun.


Adnan merasa suntuk dan akhirnya mulai bicara.


"Dimana kau tinggal?" tanya Adnan.


"Ada apa, Tuan?" jawab Sharla.


"Aku ingin mengetahui dimana kau tinggal." Adnan berbicara tanpa memandang Sharla


"Itu pri--"


"Berhenti menyebut itu privasi! Cepat beri tahu aku!" Adnan memaksa Sharla. Sharla bergeming.

__ADS_1


Sampai pada akhirnya, mereka sampai di rumah Adnan. Seorang satpam membuka gerbang untuk mobil Sharla agar dapat masuk ke istana itu.


Bagus sekali rumahnya, benak Sharla.


"Mari, kita turun," ucap Adnan.


"Apa tidak sebaiknya, saya langsung kembali ke rumah sakit saja, Tuan?" Sharla menolak dengan cara halus.


Adnan merasa tidak terima. Ia keluar dari mobil, berjalan mengelilingi mobil untuk mencari dan membuka pintu di sebelah Sharla.


Adnan membuka pintu itu dan memaksa Sharla untuk keluar.


"Cepat keluar!" Adnan mencengkram lengan Sharla. Sharla meringis.


Mau tidak mau, Sharla harus mengikuti keinginan Adnan. Ia pun turun dan berjalan di samping Adnan.


Adnan membuka pintu rumah yang amat besar itu. Adnan masuk terlebih dahulu, diikuti oleh Sharla dari belakang.


Sharla merasa tidak nyaman di rumah Adnan saat itu.


"Kau tunggu disini," ucap Adnan sebari menunjuk sofa, "aku akan kembali, setelah aku mengganti pakaianku."


Adnan berjalan menuju tangga rumahnya. Meninggalkan Sharla sendiri di ruang tamu saat itu.


Sharla duduk sambil menatap Adnan yang berjalan mendekati tangga rumahnya. Sharla melihat sesosok bayangan hitam yang selalu mengikuti langkah Adnan.


Sharla memincingkan matanya, pandangannya terfokus pada bayangan yang sekejap hilang, sekejap muncul itu.


Apa dia gadis yang berada di ruang operasi itu, benak Sharla.


"Mau saya buatkan apa, Nona?" suara pelayan di rumah Adnan sontak membuat Sharla terkesiap.


Dia adalah Pak Bhur, kepala pelayan di rumah Adnan. Bukan rumah, tapi lebih tepatnya dikatakan sebagai istana.


Sharla menatap pelayan itu dengan tatapan kosong karena pelayan itu tiba-tiba berada disampingnya.


"Panggil saja Pak Bhur, Nona."


"Ba-baik, Pak Bhur. Saya Dokter Sharla. Saya yang akan merawat Adnan sampai dia benar-benar pulih." Sharla mengulur tangannya. Pak Bhur membalas uluran tangan Sharla.


Dingin sekali tangan Pak Bhur, benak Sharla.


"Nona, apa anda ingin saya buatkan minum?" ucap Pak Bhur.


"Tidak usah, Pak." Sharla menggelengkan kepalanya.


Pak Bhur berjalan menuju dapur. Sharla menatap kepala pelayan itu sambil memikirkan keberadaan pelayan tersebut yang secara tiba-tiba berada di sampingnya.


Aku tidak melihat seorang pelayan datang menghampiriku. Mungkin aku terlalu fokus pada ilusiku tentang sosok hitam itu. Tapi, kenapa wajah Pak Bhur sangat pucat, benak Sharla.


Tiba-tiba, Pak Bhur menghentikan langkahnya dan berbalik menatap Sharla sambil tersenyum. Pikiran Sharla buyar, saat Pak Bhur tersenyum padanya. Sharla membalas senyuman Pak Bhur.


---------------------------------------------------------------------


Bonus foto dari Ilustrasi Adnan dan Sharla


Sharla (@baifernbah)



Adnan (@ryu_vachirawich)


__ADS_1


__ADS_2