
Jangan harap, aku akan menyentuhmu.
___________________🌱_______________________
Chan tiba-tiba memeluk Sharla dan membawanya ke dekapan yang hangat itu.
Membiarkan Sharla menangis di pelukannya.
"Kau akan baik-baik saja," gumam Chan.
"Apa aku harus merelakan masa depanku demi dirinya?" Sharla mendongkakan kepalanya.
"Tidak, aku akan pergi bersamamu."
"Tapi, dia akan melakukan hal yang lebih berbahaya selanjutnya." Sharla khawatir dengan situasi dirinya dan Chan.
"Tidak akan terjadi apapun. Percayalah padaku. Semua akan baik-baik saja." Chan kembali memeluk Sharla.
***
[Gedung pusat Dhijabu Grup.]
Adnan berjalan menuju ruang meeting bersama dengan Ima, sekretarisnya.
Ima membuka pintu untuk Adnan. Adnan memasuki ruangan itu.
Orang-orang di ruangan meetinh sangat tegang. Bagaimana tidak, melihat wajah Adnan saja sudah membuat mereka susah untuk bernapas.
Adnan menoleh pada sekretarisnya. Ima langsung memberi aba-aba.
Meeting kali ini berjalan dengan cepat. Adnan hanya mengiyakan presentasi dari mitra kerjanya itu.
Meeting pun selesai. Beberapa orang meninggalkan ruangan. Adnan hendak keluar dari ruangan itu. Tiba-tiba, Tuan Kim mencegat Adnan untuk pergi.
"Tuan Lapondi, saya selaku mitra kerja anda. Hanya ingin memperkenalkan anak perempuan saya," ujar Tuan Kim. Tuan Kim menoleh ke arah anak perempuannya. Anaknya pun mendekat.
"Halo, Tuan. Saya Shila," ujar anak Tuan Kim. Shila mengulurkan tangannya.
"Adnan," jawab Adnan singkat sebari membalas uluran tangan Shila.
"Kalian bisa pergi. Biarkan aku berdua dengan Shila," ujar Adnan tanpa menatap lawan bicaranya. Kedua tangan Adnan selalu berada di kantong celananya.
Tuan Kim dan Ima pun keluar dari ruangan meeting. Tuan Kim keluar dengan perasaan yang senang dicampur bangga.
Di dalam ruangan meeting, Adnan berjalan menuju tempat duduknya semula.
"Kemari," ujar Adnan dengan nada dingin.
Shila mendekati Adnan. Gadis itu berdiri sebari tersenyum tipis. Jantung Shila berdegub kencang.
"Duduk!" perintah Adnan sambil menepuk pahanya.
"Maksud, Tuan?" ujar Shila dengan gayanya yang sok polos itu.
Adnan, apa kau menyukaiku? Aku memanglah cantik, kau akan terpikat denganku.
Shila sangat percaya diri. Ia lalu duduk di pangkuan Adnan. Adnan memeluk tubuh gadis itu.
"Berapa usiamu?" tanya Adnan dengan nada dingin.
"Hmm ... 25 tahun," ujar Shila dengan nada yang dibuat-buat.
"Apa kau kerja di perusahaan Ayahmu?" ujar Adnan sebari menyelipkan rambut Shila ke belakang daun telinga Shila.
"Hmm." Shila tersenyum dan menganggukan kepalanya.
__ADS_1
Tiba-tiba, Shila merangkul leher Adnan. Ia mendekatkan wajahnya pada Adnan.
"Hei, apa yang akan kau lakukan?" Adnan menyeringai.
"Tuan boleh melakukan apapun padaku dan tubuhku," ujar Shila sambil menatap Adnan. Tatapannya sangat menggoda.
"Sungguh?" Adnan menyentuh bibir Shila. Mengusap-usap bibir atas dan bawah Shila.
Shila mendekati wajahnya dan hendak mencium bibir Adnan.
"Apa Ayahmu mengajarkan ini padamu?" ujar Adnan sambil menyeringai. Hampir saja Shila mencium bibir Adnan.
Shila menjauhkan wajahnya. Ia mengernyitkan dahinya. Seolah-olah dia tidak mengerti .
"Ayahmu menyuruhmu untuk melakukan ini? Cih ... Ayahmu menjualmu untukku, demi perusahaannya. Aku tahu taktik kotormu itu, Shila." Adnan menyeringai.
Adnan mendorong tubuh Shila hingga tersungkur di lantai.
"Jangan harap, aku akan menyentuhmu. Kau bukanlah tipe wanita yang ingin aku sentuh," ujar Adnan.
Adnan lalu meninggalkan Shila sendiri di ruangan itu.
Sialan, ketus Shila dalam hati.
***
[Rumah Sakit Antira Permai.]
Sharla pergi ke ruang informasi.
"Ada pasien setelah ini?" ujarnya saat memasuki ruang informasi.
"Tidak, tapi ..." ucapan Riyu menggantung. Sharla mengangkat kedua alisnya.
"Kau terpilih untuk mengikuti rapat Ikatan Dokter di Kota Amslar," ujar Riyu.
"Mi-minggu depan?" Sharla grogi.
Bagaimana ini? Apa aku datang diam-diam saja, ya? Dia pasti akan murka, benak Sharla.
"Ada apa?" ucapan Riyu membuat pikiran Sharla buyar. Sharla hanya menggelengkan kepalanya.
Sharla langsung meninggalkan ruang informasi dan hendak kembali ke ruangannya.
Tiba-tiba, Chan mencegat Sharla di depan ruang informasi.
"Ada apa?" ujar Chan. Sharla hanya menggelengkan kepalanya.
Tiba-tiba, Chan menarik Sharla dan memeluknya erat. Sharla tertegun, air mukanya berubah seketika.
"Bicaralah padaku, jika kau memiliki masalah," ucap Chan sebari mengelus rambut Sharla.
Sharla memberontak agar Chan melepaskan pelukannya.
"Ekhm..." suara yang tidak asing di telinga Sharla dan Chan. Mereka menoleh ke arah suara dan mendapati Adnan berada di belakang mereka bersama Frans.
"Tu-tuan Lapondi," ujar Sharla terbata-bata.
Chan tidak melepaskan pelukannya. Ia menoleh sebentar dan kembali memeluk Sharla.
"Lepaskan aku, Chan!" gumam Sharla.
Adnan mendekati Chan dan ...
Brukk...
__ADS_1
Adnan menghantam Chan hingga tersungkur di lantai. Orang-orang yang berada di rumah sakit langsung mencari sumber suara hantaman itu.
Sharla mencoba membantu Chan untuk bangun. Tapi, Adnan segera menarik Sharla keluar.
Adnan memberi isyarat pada Frans untuk menangani Chan.
"Sha-Sharla..." Chan bergumam.
Adnan menarik paksa lengan Sharla hingga masuk ke dalam mobilnya. Semua orang disana terdiam, tidak berani menolong Sharla ataupun Chan. Mereka takut dengan Adnan.
"Masuk!" Adnan berteriak dan mendorong tubuh Sharla ke dalam mobilnya.
Adnan lalu menutup pintu mobil dengan kasar. Ia lalu berjalan mengelilingi mobil agar dapat masuk ke dalam mobil.
Di dalam mobil Adnan, Sharla merasa ada seseorang ikut bersamanya. Tapi Sharla hanya berdua bersama Adnan di dalam mobil.
Siapa sebenarnya Adnan? Kenapa aku merasakan aura mistis saat di dekatnya, benak Sharla.
Seluruh tubuh Sharla jadi merinding. Telapak tangan Sharla pun mengeluarkan keringat .
Skrekk ... Skrekk
Tubuh Sharla mulai bergemetar. Adnan langsung menoleh ke arah Sharla.
"Kenapa?" ujar Adnan dengan nada yang dingin.
"Ti-tidak apa-apa. Ak-aku hanya sedikit lapar," ujar Sharla terbata-bata.
Adnan melajukan mobilnya dan meninggalkan Rumah Sakit Antira Permai.
Di tengah perjalanan, Sharla melihat di sekitarnya sudah gelap. Ia memincingkan matanya.
Ini jam berapa? Kenapa semua gelap sekali, benak Sharla.
Sharla melihat jam di tangan Adnan. Waktu menunjukan pukul 2:30 PM, tentu saja ... ini masih siang. Sharla mengernyitkan alisnya.
Sharla!
Bisikan dari bangku belakang yang membuat Sharla tertegun. Sharla tidak bisa mengatur napasnya. Jantungnya berdetak sangat kencang.
Aku membencimu! Kau tidak menuruti permintaan Adnan!
Sharla berusaha tenang dengan terus memandang jalan. Keringatnya bercucuran sangat deras.
"Aku ingin dibawa kemana?" ujar Sharla dengan nada khawatir. Adnan hanya bergeming.
Sharla! Lihat aku!
Bisikan itu terus mendenging di telinga Sharla. Tubuhnya sudah merinding. Mata Sharla tertutup rapat.
SHARLA!
Sharla langsung membuka matanya. Keringat di tubuh gadis itu terus bercucuran tanpa henti.
Sharla menoleh ke belakang dan tanpa sengaja, ia melihat sesosok gadis menggunakan pakaian serba putih.
"AAAAAAA..." Sharla berteriak dan sontak membuat Adnan menghentikan kendaraannya.
Adnan menatap tajam Sharla. Adnan juga memincingkan matanya.
"Ma-maafkan aku ... aku melihat sosok—" ucapan Sharla terpotong.
"Kau terlalu banyak berkhayal. Sekarang duduk dan diamlah!"
__ADS_1
Adnan kembali mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi. Tubuh Sharla sangat dingin. Ia nampak seperti orang depresi.
Halusinasi? Tidak, jelas-jelas aku melihatnya sendiri. Apa dia masih di belakangku? Ya tuhan selamatkan aku, benak Sharla.