
Adnan membersihkan luka dan membalutnya dengan perban. Sharla terus menceritakan hal yang terjadi padanya tanpa henti.
Adnan merasa kesal, ia langsung mencium bibir Sharla agar Sharla dapat berhenti membahas hal mistis itu.
Sharla tertegun dan langsung menjauhkan dirinya dari Adnan.
"Kenapa? Kenapa kau menjauh?" ujar Adnan sambil menyeringai.
"Ti-tidak."
Adnan beranjak dari duduknya. Ia pergi ke arah ruang pakaian dan mengambilkan Sharla baju kaos tipis miliknya.
"Gunakan ini!" perintah Adnan. Sharla mengikuti kehendak Adnan. Adnan lalu menggendong tubuh Sharla menuju ruang makan.
Adnan membuka pintunya dengan kunci kamar miliknya. Sharla heran dengan tingkah Adnan yang kadang baik, kadang menyebalkan dan terkadang membuatnya emosi.
Sharla baru merasakan nyeri di bagian selangkangannya. Karena terfokus dengan teriakan sosok tak kasat mata itu, ia tidak merasakan sakit setelah berhubungan dengan Adnan.
Adnan pun sampai di meja makannya. Ia memberikan Sharla tempat duduk yang nyaman. Adnan tidak berbicara sepatah katapun dengan Sharla, hingga makanan mereka terhidang di atas meja.
Mereka menyantap makanan itu dengan lahap. Hanya suara alat makan yang saling bersahutan satu sama lain. Mereka menyelesaikan makan malamnya dan kembali ke kamar Adnan.
"Beristirahatlah!" perintah Adnan. Sharla hanya mengangguk.
Saat Sharla hendak tidur, tiba-tiba ia melihat seprai putih itu ternodai dengan noda darah.
"Apa kau tidak ingin menggantinya?" ujar Sharla. Adnan menoleh ke arah sharla sambil mengernyitkan dahinya.
"Sepertinya ... darah di tanganku terjatuh di seprai putih ini," ujar sharla.
"Apa kau yakin ini darah di pergelangan tanganmu?" Adnan menyeringai. Sharla hanya mengangguk.
Adnan lalu mendekati wajahnya ke arah Sharla.
"Bagaimana jika ini darah sucimu?" bisik Adnan.
Sharla membelalak. Ia menatap lekat manik-manik mata Adnan. Pipi Sharla mulai memerah karena malu.
"Apa kau ingin mengilanginya? Sepertinya kau tidak lelah hanya dalam 1 ronde," bisik Adnan.
"Sebaiknya kau panggil pelayan untuk membersihkan ini," ujar Sharla.
Adnan lalu beranjak dan menghubungi pelayan dibawah dengan telpon rumahnya. Tidak butuh waktu yang lama, para pelayan itu datang membawa seprai putih beserta bedcover.
Adnan duduk di dekat jendela kamarnya. Sedangkan Sharla, ia menatap para pelayan yang tengah menjalani tugasnya. Dengan wajah yang pucat pasi, pelayan itu tetap melakukan tugasnya.
Sharla mendekati para pelayan.
"Kak ..." ucapan Sharla menggantung di udara.
Kenapa tangannya sangat dingin, benak Sharla. Ia juga mengernyitkan kedua alisnya.
"Sekarang kalian boleh pergi," ujar Adnan sambil memberikan intruksi dengan menunjuk ke arah pintu.
__ADS_1
Para pelayan itu membungkukkan sedikit tubuhnya, memberi hormat untuk Adnan dan Sharla. Lalu, mereka pergi meninggalkan kamar Adnan.
"Lagi?" Adnan menyeringai.
"Ti-tidak, aku ingin tidur sekarang." Sharla langsung naik ke atas tempat tidur Adnan.
Adnan menyusul, kemudian tidur di samping Sharla. Sharla tersentak karena melihat Adnan yang diam di sampingnya.
"Apa yang kau lakukan?" tanya jengkel Sharla.
"Ingin tidur. Ini kamarku, seharusnya aku yang bertanya ... apa yang kau lakukan?"
Sharla bergeming dan hendak turun dari tempat tidur Adnan. Tiba-tiba, Adnan mencegat Sharla turun dengan menggenggam lengan Sharla.
Sharla menoleh dan menaikan salah satu alisnya.
"Tidurlah disini bersamaku," ujar Adan memelas.
"Tapi kita belum menikah, bagaimana mungkin kita tidur bersama." Sharla jengkel dengan Adnan.
"Kita belum menikah, tapi kita sudah melakukan hubungan di luar nikah, kan?" ujar Adnan sambil menyeringai.
Adnan langsung menarik Sharla. Sharla terdorong, hingga terjatuh di dada bidang milik Adnan. Adnan sigap memeluk wanita kecil yang ada di hadapannya itu.
"Pejamkan matamu. Kau akan tahu, betapa nikmatnya di peluk oleh Tuan Lapondi saat tertidur," ujar Adnan sebari memejamkan matanya. Sharla mendengus kesal.
***
"Terima kasih," ujar Sharla saat sampai di depan rumah sakitnya.
Adnan tidak membalas perkataan Sharla, ia langsung melajukan mobilnya dan pergi meninggalkan area rumah sakit.
Mobil Sharla masih terpakir rapi di depan rumah sakit.
Seperti biasa, Sharla akan pergi ke ruang informasi.
"Selamat pagi," ujar Sharla sambil mendorong pintu ruang informasi.
Terlihat Chan dan Riyu berada disana. Pipi Chan memar akibat hantaman Adnan tadi malam. Sharla berlari mendekati Chan
"Chan, apa kau sudah mengobati pipimu?" ujar Sharla sebari mengelus pipi Chan yang memar itu.
"Sudah, Riyu membantuku kemarin. Apa kau baik-baik saja?" ujar Chan dengan santai. Sharla hanya mengangguk.
"Apa saya ada janji pasien sekarang?" tanya Sharla pada Riyu.
"Sepertinya pukul 12 siang nanti, Dok." ujar Riyu tanpa memandang Sharla saat bicara.
Sharla hanya menganggukan kepalanya dan langsung pergi. Chan memperhatikan langkah Sharla yang berbeda, tidak seperti biasanya.
Sharla pun sampai di ruangannya. Ia melihat secarik kertas di atas meja kerjanya. Sharla mengambil kertas itu dan membacanya.
__ADS_1
Apa peringatan waktu itu sudah kau abaikan?
Dia bukan manusia! Dia iblis! Dia membunuhku!
Sharla mengernyitkan alisnya saat membaca pesan yang disampaikan.
"Apa yang terjadi?" gumamnya.
Tiba-tiba Sharla teringat gadis yang duduk di tempat tidurnya dan menyuruh Sharla untuk menjauhi seseorang.
"Jauhi pria itu. Dia tidak layak untuk bersanding denganmu. Jauhi atau kau akan menjadi sepertiku ... siapa yang harus aku jauhi?" gumam Sharla.
Sharla tidak ingin ambil pusing. Ia langsung meremas kertas itu. Tiba-tiba, ponsel Sharla berbunyi. Ia mengambil ponsel itu dan menerima panggilan.
"Jangan percaya dengan surat itu. Semua itu hanya rekayasa," ujar seorang pria dengan nada dingin.
Sharla mengernyitkan alisnya dan menatap layar ponselnya. Tertera tulisan 'Human' yang menandakan kalau Adnan sedang menghubunginya.
"Bagaimana kau tahu tentang ini?" ujar Sharla santai.
"Aku hanya menebak saja."
"Hmm ... aku sudah membuangnya," ujar Sharla sebari membuang kertas itu ke dalam tempat sampah.
Adnan langsung memutus sambungannya. Sharla merasa aneh dengan tingkah Adnan.
***
Satu minggu berlalu. Sharla pun mengemasi barangnya dan akan pergi ke Kota Amslar untuk hadir di Rapat Ikatan Dokter.
Sebelum berangkat, Sharla menghubungi temannya yang berada di kota Amslar bernama Relia.
"Halo, Dokter Sharla ... ada yang bisa saya bantu?" tanya Relia.
"Halo, Dokter Relia. Senang bisa menghubungi anda ... begini, saya akan datang ke Kota Amslar," ucap Sharla di dalam telponnya.
"Benarkah? Wah, itu berita yang sangat bagus. Kau ingin berlibur berapa lama?" tanya Relia senang.
"Saya datang bukan untuk berlibur, Dokter Relia."
"Panggil saja Relia ... kita ini sesama Dokter."
"Baiklah ... saya datang karena ada rapat ikatan dokter yang di selenggarakan di kota anda," ucap Sharla.
"Benarkah? Terimakasih Sharla. Aku akan menyiapkan kamar untukmu," ucap Relia kegirangan.
"Saya yang harus berterimakasih pada anda. Baiklah, saya tutup panggilan ini," ucap Sharla.
"Baik ... sampai jumpa."
Sharla pun memutuskan sambungannya pada Relia.
__ADS_1
Setelah menghubungi Relia, Sharla kembali mengemasi barangnya yang hendak ia bawa.
Ia juga menerima pesan dari Chan yang mengajaknya untuk bertemu.