
Anggap saja itu keberuntungan untukmu ... karena kau melepas pengkhianat di hidupmu.
___________________ππ___________________
"Awalnya aku hanya ingin mengelabuinya ... aku katakan kalau aku sedang bersantai di rumah."
"Setelah menghubungiku, dia datang ke rumah sakit ini. Awalnya aku ingin mendekatinya, tapi hati kecilku menyuruhku untuk pergi ke ruang informasi. Aku berjalan ke ruang informasi dan mencari identitas tunanganku. Awalnya aku pikir dia akan memberikan kejutan padaku. Ternyata tidak, dia pergi ke Dokter Shanty."
"Apa yang dilakukan dengan Dokter Shanty?" tanya Sharla.
"Dokter Shanty itu Dokter kandungan, kan? Ya pasti dia akan pergi untuk memeriksa kandungannya." Chan menghela napas kasar.
"Saat dia pulang, aku pun memasuki ruangan Dokter Shanty. Aku bertanya pada Dokter Shanty, apa yang dia lakukan di sini."
"Dokter Shanty awalnya curiga, untuk apa aku mengetahui kondisi wanita itu. Tapi, aku berusaha meyakinkannya. Aku mengatakan pada Dokter Shanty, bahwa aku adalah sahabatnya."
"Dokter Shanty pun percaya padaku. Dia mengatakan bahwa tunanganku hamil." Air muka Chan sangat marah.
"Aku tersentak saat itu ... aku tidak percaya dan aku langsung keluar dari ruangan Dokter Shanty."
"Bukankah itu kabar yang bagus, Chan?" ujar Sharla.
"Bagus katamu? Bahkan aku belum menyentuh tunanganku sendiri." Chan menatap Sharla dengan tatapan tajam. Sharla tersentak.
"Apa kau tidak meminta untuk mengambil sampel darahnya?" ucap Sharla.
"Aku tidak membutuhkan sampel darah, DNA, dan lain-lain. Karena aku yakin, aku belum pernah berhubungan badan dengan tunanganku sendiri." Mata Chan mulai berkaca-kaca. Sharla menghembus nafas dengan kasar
"Dan aku sangat-sangat yakin, ini pasti hasil dari perbuatannya yang dilakukan dengan selingkuhannya." Chan mendekati jendela ruangan Sharla yang mengarah ke jalanan Kota Amladhi.
Sharla mendekati Chan dan memegang pundaknya dari belakang.
"Jangan bersedih, Chan. Anggap saja itu keberuntungan untukmu ... karena kau melepas pengkhianat di hidupmu," ujar Sharla.
Chan berbalik dan langsung memeluk Sharla.
"Terima kasih, Sharla," ujar Chan.
Ponsel Chan berdering, ia menatap layar ponselnya. Ternyata, Chan mendapat panggilan dari Riyu.
"Ada apa?" ujar Chan dalam ponselnya.
"Ada yang ingin menemuimu ... dia sudah menunggu diruanganmu," ujar Riyu. Chan langsung mematikan sambungan dan pergi dari ruangan Sharla.
Chan sampai pada ruangannya, ia melihat Frans tengah duduk di kursi yang menghadap kursi Chan. Chan berjalan ke kursinya dan duduk di hadapan Frans.
Frans menatap lekat Chan. Wajahnya yang pucat dan matanya yang sayu, membuat Chan langsung menebak kalau Frans kekurangan darah.
"Ada yang bisa saya banβ" ucapan Chan terpotong.
"Jauhi Sharla Harrera!" Frans berteriak.
"Maksud anda, Tuan?" Chan mengernyitkan alisnya. Frans bergeming.
Frans langsung beranjak dari duduknya. Ia berjalan mendekati pintu keluar. Sebelum menarik pintu itu, Frans sempat menoleh ke arah Chan.
"Aku peringatkan kau untuk yang terakhir kalinya! Jauhi Sharla!" Frans lalu keluar dari ruangan Chan. Chan memegang dahinya.
__ADS_1
Tadi Adnan ... sekarang Tuan itu. Setelah ini siapa lagi, benak Chan.
Chan lalu beranjak dari duduknya dan pergi keruangan Sharla untuk mengajaknya makan siang.
Sesampainya di ruangan Sharla, Chan melihat Adnan berada diruangan itu. Chan langsung mendorong pintu kaca ruangan Sharla dengan kasar.
"Pergi kau dari sini! Kau tidak pantas untuk menemui dia lagi!" Chan berteriak sambil menutup kedua matanya. Chan menunjuk arah pintu.
Sharla lalu mendekati Chan dan menggenggam kedua lengannya.
"Apa kau baik-baik saja? Kau lihat apa?" ujar Sharla. Chan membuka kedua matanya perlahan. Tidak ada seorang pun di ruangan Sharla, kecuali sang pemilik ruangan.
"Baru saja aku melihat Adnan disini," ujar Chan.
"Adnan?" Sharla mengerutkan alisnya.
"Tidak ada Tuan Adnan disini. Aku sedang membaca artikel," tambah Sharla.
"Apa kau bergurau? Tidak mungkin ada Tuan Adnan disini. Oh ... aku tahu, kau pasti lapar, ya? Mari kita pergi makan siang." Sharla menggenggam pergelangan tangan Chan. Chan tersenyum.
Mereka pun pergi menggunakan kendaraan Sharla menuju sebuah resto di dekat rumah sakit.
"Apa kau menyukainya?" tanya Chan sebari memandang Sharla lekat.
"Tentu, resto ini sangat-sangat bagus!" seru Sharla. Chan hanya tersenyum melihat Sharla
Sharla merasa di sekelilingnya ada Adnan. Ia menyapu ruangan dan matanya tertuju pada pengusaha sukses no.1 di Kota Amladhi. Siapa lagi kalau bukan Adnan.
Sharla menghembus napas dengan kasar.
Sehari saja, aku tidak bertemu dengannya ... mungkin hidupku bisa tenang, benak Sharla
Bagaimana aku bisa bertemu dengannya? Ada yang tidak beres, benak Chan.
Mereka segera menghabiskan makanannya dan pergi dari resto itu. Tidak lupa, Chan menggenggam erat tangan Sharla.
Mereka berada di dalam mobil. Chan merasa sangat kesal, saat mengingat wajah Adnan.
"Kau baik-baik saja?" ujar Sharla.
"Maybe."
Sharla hanya bergeming. Chan lalu mengendarai mobilnya. Chan hendak membawa Sharla ke pusat perbelanjaan.
Tiba-tiba, sebuah mobil menghandang jalan mereka. Chan menghentikan mobilnya mendadak.
"Sudah gila, ya?" umpat Chan.
Seorang pria menggunakan setelan jas langsung turun dari mobilnya.
"Adnan," gumam Sharla.
Adnan langsung mendekati pintu tempat Sharla duduk. Ia membuka paksa pintu yang terkunci itu. Dengan sekuat tenaga, Adnan dapat membuka pintu mobil yang terkunci.
Sungguh dasyat tenaga Adnan.
Lalu Adnan mencengkram lengan Sharla dan memaksanya untuk turun. Sharla pun menuruti kemauan Adnan. Ia turun dan mengikuti langkah Adnan.
__ADS_1
Mau di bawa kemana aku, benak Sharla.
Chan turun tergesa-gesa dari mobilnya. Ia mencengkram salah satu lengan Sharla.
"Apa yang ingin kau lakukan?" ujar Chan.
"Dia kekasihku ... ada masalah?" tatapan Adnan dingin.
"Kekasih?" gumam Chan.
"Benar. Bahkan ciuman pertamanya, sudah menjadi milikku." Adnan sangat bangga saat itu.
Tiba-tiba...
Plakk ...
(Sharla menampar Adnan.)
"Ingat Tuan Lapondi, aku bukan kekasihmu! Jangan semena-mena, walaupun kau memiliki segalanya!" ucap Sharla.
Adnan memegangi pipinya, bekas tamparan Sharla. Adnan merasa tidak terima. Ia langsung menarik paksa Sharla dan membawanya masuk ke dalam mobil. Adnan masuk ke dalam mobilnya.
Chan berusaha mengejar mobil Adnan, tapi hasilnya nihil. Chan kehilangan jejak Adnan.
Adnan membawa Sharla ke apartemennya. Adnan melewati jalan belakang agar tidak diketahui oleh khalayak umum. Ia menggendong Sharla sambil membawa 1 paper bag. Ia berjalan menuju kamar Sharla.
Adnan membawa Sharla menuju kamarnya. Ia menghempaskan tubuh Sharla di atas tempat tidur. Ia lalu mengunci pintu kamar Sharla.
"Apa yang akan kau lakukan?" ujar Sharla.
Adnan berbalik dan menatap Sharla lekat.
"Seberapa besar nyalimu, hingga nekat memanggilku dengan sebutan 'kau' bukannya 'Tuan' ?"
Adnan tiba-tiba teringat dengan ucapan perawat, saat dia dirawat di rumah sakit.
Dia sangat menghormati orang yang bisa menghargai orang lain.
Sharla bergeming. Adnan mendekati Sharla. Wajahnya sangat dekat, hingga hanya ada jarak ... sekitar 0,5 cm.
"Hormati aku!" Adnan menatap lekat Sharla.
"Cih, aku tidak akan menghargai orang sepertimu." Sharla menggerutu.
Adnan langsung mengambil paper bag miliknya. Di dalamnya terdapat tali yang sangat tebal.
Ia mengikat tangan serta kaki Sharla. tidak lupa, ia juga menutup mulut Sharla dengan lakban yang sangat tebal.
"Layani aku!" Adnan berbisik di telinga Sharla.
Sharla menggelengkan kepalanya.
"Ini akibat karena kau telah mengkhianatiku," tambahnya.
____________________________________________
Ilustrasi pemeran Chan.
__ADS_1