Dark Side Of My Husband

Dark Side Of My Husband
Sesosok


__ADS_3

Adnan dan Frans melihat Sharla keluar dari gedung sekolah sambil menggendong Adka.


"Lihat, apa mereka pantas untuk disatukan?" tanya Adnan pada Frans.


"Satukan saja, agar utang-utang yang Tuan miliki dapat terbayar lunas," ujar Frans dengan tatapan dingin, menatap Sharla dan Adka.


"Cih, aku butuh 2 nyawa lagi untuk membayar lunas semuanya."


"Mari kita pergi makan malam," ujar sharla setelah sampai di dalam mobilnya.


"Frans, arahkan mobil menuju tempat makan malam yang indah!" perintah Adnan untuk Frans sang sopir.


"Baik, Tuan."


Frans pun melajukan mobilnya menuju resto makan malam yang sangat romantis.


Di tengah perjalanan menuju restoran itu, Adka mulai bertanya tentang keberadaan Ibunya.


"Papa, dimana Mama? Kenapa dia tidak menjemputku? Dia sudah berjanji akan menjemputku!" tanya Adka, bocah malang yang tidak tahu keberadaan sang ibu.


Adnan hanya bergeming tidak memperdulikan pertanyaan dari anak semata wayangnya itu.


Sharla juga hanya bisa berdiam diri tidak berani mencampuri urusan Keluarga Lapondi.


"Papa ... apa Papa tahu, aku memimpikan Mama yang sedang menangis. Aku ikut sedih karena melihat Mamaku menangis. Papa dimana Mama?" ucap Adka sambil menggoyang-goyangkan lengan Adnan.


"Cukup Adka! Berhenti menanyakan tentang keberadaan Mamamu!" Adnan tiba-tiba marah. Ia membentak Adka yang tidak tahu tentang apapun


"Pa-Papa." Mata Adka mulai berkaca-kaca. Terdengar isak tangisnya.


Adka langsung berbalik dan memeluk Sharla yang berada di sampingnya. Sharla terkesiap dan kangsung memeluk Adka. Ia memindahkan Adka ke pangkuannya.


"Hei, anak laki-laki tidak boleh menangis. Jagoan tidak pernah menangis!" Sharla berbisik di telinga Adka.


"Berhenti menangis, Adka!" Adnan membentak. Ia menghela napas kasar. Adnan juga memijat sedikit keningnya karena tingkah Adka.


"Ibu, tolong aku ..." suara Adka yang sangat memprihatinkan. Ia tidak bisa menyeka air matanya. Kali ini Adka melihat Ayahnya membentak dirinya.


"Hentikan Adnan! Kasihan Adka," ujar Sharla membentak Adnan. Adnan mendengus kesal.


Mobil Adnan pun sampai di resto. Adnan turun lebih dulu. Sharla meminta izin untuk menenangkan Adka di dalam mobil. Frans memberikan kunci mobilnya pada Sharla.


"Adka, dengarkan Ibu ... Adka tidak boleh menangis lagi, ya!" ujar Sharla dengan tulus.


"Maaf, aku tidak bisa memanggilmu Mama. Mama hanya untuk memanggil Mamaku saja," ujar Adka sambil menundukan kepalanya.


"Tidak apa-apa, Adka. Baiklah kalau begitu ... mari kita turun." Sharla hendak beranjak, tapi Adka mencegatnya.


"Dimana Mamaku?"


Sharla bingung ingin menjawab apa. Otaknya terasa buntu saat itu. Tiba-tiba, ada suara ketukan dari arah jendela tempat duduk Sharla.


Sharla dan Adka menoleh. Sharla tersentak kaget sedangkan Adka malah bahagia.

__ADS_1


Sharla melihat seorang gadis yang sama, saat gadis itu berada di atas tempat tidur Sharla. Matanya hitam dan mengeluarkan darah. Mulutnya berisikan banyak sekali darah.


Disisi lain, Adka melihat sosok Ibu yang ia nanti-nantikan selama ini. Ibu yang menyayanginya sepenuh hati.


"Mama!" teriak Adka. Adka berusaha keluar dari mobilnya.


Mama? Tidak, ini tidak mungkin, benak Sharla.


"Adka berhenti! Apa yang kau lakukan, Adka!" Sharla berteriak.


"Itu Mamaku, Bu!" Adka memberontak. Adka pun berhasil keluar dari mobil.


Sosok yang tidak diketahui ini membawa Adka menuju semak-semak dekat resto itu. Sharla pun mengejar Adka hingga ke semak-semak.


"Apa yang kau ingin? Katakan!" teriak Sharla saat sampai di tengah semak-semak.


"Kembalikan anakku!" tambahnya.


Sharla melihat Adka sudah jatuh tak sadarkan diri. Sharla berusaha mendekati Adka, tapi kakinya terasa berat.


"Apa yang kau inginkan dari anakku!" Sharla kembali berteriak.


Anakmu? Hahaha ... dia adalah anakku! Aku yang melahirkannya!


Sharla merasa sangat tidak nyaman dengan telinganya yang terus mendenging tanpa henti.


"Apa yang membuatmu kembali ke dunia ini?" tanya Sharla pada sesosok mahluk yang tidak tahu wujud aslinya seperti apa.


Sepertinya kau percaya dengan mahluk sepertiku. Aku sudah memperingatimu 2x tapi kenapa kau tidak mengerti juga?


Pertama, aku ingin membalas dendamku pada orang yang telah membunuhku. Kedua, aku ingin menyelamatkanmu.


Sharla berusaha menggerakan kakinya, tapi itu sia-sia. Matanya mulai sayu. Sharla tidak bisa membuka matanya. Perlahan, mata Sharla mulai terpejam.


Tok ... tok ... tok ...


(Suara kaca mobil.)


"Nona!" suara Frans dari luar mobil.


Sharla dan Adka tersentak dan terbangun. Mata mereka terbuka dan menyesuaikan cahaya.


"Mengapa Nona dan Tuan Muda tertidur di dalam mobil? Bukankah kalian yang menyuruh kami untuk makan malam?" ujar Frans dengan tatapan dingin.


"Paman Frans, tadi aku bertemu deng—" ucapan Adka terpotong.


"Baik, kau kembalilah. Aku akan segera menyusul." Sharla berusaha tenang. Frans pergi meninggalkan mobil mereka.


"Ibu ... kenapa Ibu memotong omonganku?" tanya Adka.


"Apa kau ingin Papamu marah lagi? Tidak, kan? Maka tutup mulutmu. Kau mengerti?"


Adka hanya mengangguk. Mereka pun turun dari mobil dan berjalan menuju restoran yang besar itu. Seperti biasa, Sharla menggendong Adka.

__ADS_1


"Ibu tahu, aku memimpikan Mamaku. Dia bilang adikku sudah lahir. Dia akan menjadi gadis yang sangat cantik. Mimpi ini terasa nyata," ujar Adka. Sharla langsung menghentikan langkahnya.


Mimpi? Apa aku juga memimpikan hal yang sama? Bertemu dengan mahluk aneh yang mengaku sebagai Ibu Adka? Siapa dia sebanarnya?


"Ibu, kenapa Ibu berhenti?"


"Hah? Tidak-tidak. Tidak apa-apa." Sharla tertegun dan langsung melanjutkan langkah kakinya.



***


Adnan mengantar Sharla ke apartemennya. Adka merasa heran dengan Sharla yang tinggal di tempat lain.


"Kenapa Ibu tidak tinggal bersama kita?" tanya Adka saat Sharla sudah keluar dari mobil.


"Berhenti menanyakan hal yang tidak penting, Adka!" bentak Adnan. Adka ingin menangis lagi.


Sesampainya di rumahnya. Adka langsung berlari masuk dan melihat ke sekeliling rumahnya.


"Kemari Adka!" ujar Adnan.


Adnan mengajak Adka pergi ke salah satu ruang yang sangat kecil yang berada di rumahnya.


Adka merasa takut saat memasuki ruangan itu. Banyak sekali asap dan wewangian di dalamnya. Adka memilih sembunyi di belakang Adnan.


Adka melihat sesosok bayangan hitam yang sangat tinggi dan besar.


"Berikan salam padanya! Dia adalah Nenekmu," ujar Adnan pada Adka. Adka masih diam di belakang Adnan.


"Cepat Adka!"


Adka memberanikan diri untuk melaksanakan perintah Ayahnya. Jantung Adka berdebar sangat kencang.


"Dekati dan beri salam untuknya!" perintah Adnan.


Adka mendekatinya. Kaki Adka bergemetar, begitu juga dengan tangannya. Jantungnya berdebar sangat kencang.


"Se-selamat malam," ucap Adka terbata-bata.


Tiba-tiba, bayangan itu mengeluarkan cahaya merah menyala di matanya. Untuk yang baca malam hari, coba liat ke pojok ruangan, siapa tahu ...


"Papa..." teriak Adka.


Adnan laku mendekati Adka dan memegang bahunya. Adnan mengambil gelas untuk mengambil sedikit lendir yang berasal dari bayangan itu.


"Cepat minum ini!" ujar Adnan sebari memberikan gelas yang berisi lendir itu untuk Adka.


"Aku tidak mau, Pa!"


"Cepat!" Adnan memaksa Adka untuk meminumnya. Adka pun terpaksa meminum lendir yang tidak tahu dari mana asalnya itu.


Adka merasa sangat pusing. Perutnya mual dan matanya berkunang-kunang.

__ADS_1


"Papa," Adka merintih kesakitan.


Adnan langsung menggotong Adka dan membawanya pergi ke kamar Atas.


__ADS_2