
[Apartemen Sharla, 5:30 PM]
Sharla kembali ke apartemennya. Ia nampak lelah sekali. Ia berjalan ke dapur dan mengambil cangkir, kemudian menuang susu yang berada di dalam kulkas.
"Melelahkan sekali ... setidaknya, secangkir susu dapat mengubah suasana hatiku," ujarnya sambil meneguk susu.
Ia berbalik dan hendak pergi ke kamar mandi. Dia tersentak saat melihat sesosok bayangan hitam tengah duduk di sofanya.
"Siapa kamu?" Sharla tak gentar.
Sharla berlari ke arah saklar lampu dan menghidupkannya. Ternyata, Adnan yang berada di sofanya.
"Tuan ... bagaimana anda bisa sampai disini?" ujar Sharla sebari mengerutkan alisnya. Adnan beranjak dari duduknya dan mendekati Sharla.
Adnan memutar tangan kanan Sharla sampai ke belakang. Posisi Adnan saat ini berada di belakang Sharla.
"Apa kau pikir, masalah yang di rumah sakit sudah selesai?" Adnan berbisik di telinga Sharla. Sharla meringis.
Adnan melepas genggamannya.
Sharla berbalik dan menghadap ke arah Adnan.
"Dengar baik-baik. Aku bisa menyewa puluhan wanita untuk tidur denganku," ujar Adnan sebari menunjuk wajah Sharla.
"Jika anda bisa, apa pedulinya dengan saya?" Sharla melawan.
"Bisa saja, kau yang akan aku sewa."
"Saya tidak haus akan harta, Tuan Lapondi!" Sharla menatap Adnan lekat.
Sharla hendak pergi meninggalkan Adnan. Tapi, Adnan menarik lengah Sharla, hingga Sharla jatuh di pelukan pria terkaya no.1 di kotanya itu.
"Apa yang membuatmu berani melawanku, Nona Harrera?" Adnan menatap lekat Sharla. Adnan semakin mempererat pelukannya.
"Jika aku memeluk pinggang seperti ini pada wanita lain, maka mereka akan melayaniku dengan senang hati," tambahnya.
"Anda sudah melebihi batasanmu, Tuan!" Sharla mencoba mendorong Adnan. Tapi usahanya sia-sia.
Adnan menjatuhkan tubuh Sharla ke sofa, kemudian menindihnya. Kedua tangan Sharla dicengkram oleh Adnan.
"Jaga batasan anda, Tuan!" ujar Sharla.
"Adnan Hartigan Lapondi, tidak memiliki batasan apapun!"
Sharla memberontak. Adnan lalu melepaskan cengkramannya. Ia juga beranjak dan duduk di sofa.
"Silakan anda pergi, Tuan." Sharla tidak memandang Adnan.
"Apa kau mengusirku? Bagaimana jika aku yang mengusirmu?" ujar Adnan. Sharla mengernyitkan alisnya.
"Mak-maksud anda?" ucap Sharla terbata-bata.
Adnan mengeluarkan sertifikat kepemilikan Apartemen Sharla. Ia sudah membeli apartemen, tempat tinggal Sharla.
"Aku mengubah aturan, khusus untuk ruangan ini. Kau mau pindah dan tinggal di rumahku atau kau membayar sewa 4x lipat dari harga apartemen ini?" ujar Adnan. Sharla tersentak
Bagaimana aku bisa membayarnya? 4x lipat dari harga apartemen. Apa aku harus turuti ke inginannya, ya?
"Aku ..." ucapan Sharla terputus.
Tidak, aku tidak boleh ikut dengannya. Aku tidak memiliki hubungan apapun dengannya, benak Sharla.
"Aku setuju. Aku akan menyewa apartemen ini," ujar Sharla santai. Adnan berusaha santai.
"Dibayar setiap bulan," ujar Adnan. Sharla tertegun.
__ADS_1
Dasar iblis, benak Sharla.
"Baik-baik, aku akan membayar setiap bulan," ujar Sharla santai.
Adnan tidak terima. Ia beranjak dari duduknya dan langsung keluar dari apartemen Sharla.
Saat Adnan keluar, Sharla merasa aura di apartemennya langsung berubah. Sharla menggelengkan kepalanya.
"Apa yang aku pikirkan ini ... tidak akan terjadi apa-apa," gumamnya.
Sharla ...
Bisikkan itu terngiang di telinga sharla. Sharla menoleh. Melihat sesosok bayangan hitam tengah berdiri di sampingnya. Matanya merah menyala.
Harrera ...
Bayangan itu berteriak hingga membuat telinga Sharla mendenging. Sharla berusaha berlari, tapi hasilnya nihil. Dia terus berusaha. Siluman itu mendekati Sharla. Matanya yang merah terus menyala.
Sharla memejamkan matanya. Ia kembali membuka matanya. Tidak ada apapun di hadapannya, saat ia menoleh ke belakang ...
Siluman itu berada di belakangnya. Sharla berteriak. Tidak ada yang mendengar teriakannya. Ia pun jatuh pingsan.
***
Sharla tersadar. Ia melihat di sekelilingnya, ternyata dirinya berada di dalam kamar. Ia merasakan sakit dibagian kepalanya.
"Bagaimana aku bisa sampai disini," ujar Sharla sambil memegang kepalanya.
"Aku yang membawamu kemari." Suara laki-laki yang tidak asing di telinga Sharla.
Sharla menoleh ke arah jendela. Ternyata Adnan tengah berdiri disana.
"Aku mendengar teriakanmu," ujar Adnan. Sharla hanya bergeming.
Adnan lalu pergi meninggalkan Sharla sendiri di kamarnya. Sharla tetap bergeming.
Sharla beranjak dari posisinya dan pergi ke kamar mandi.
***
[Gedung Pusat Dhijabu Group, 7:30 AM]
Adnan datang ke kantornya tepat pukul setengah 8 pagi. Seperti biasa, Adnan memasang wajah datar dan dingin.
Adnan berjalan melewati bawahannya. orang-orang yang bekerja pada Adnan langsung memberikan salam dengan cara menundukkan kepalanya.
Adnan berjalan menuju ruangannya menggunakan lift. Adnan sampai di ruangannya, sekretarisnya yang bernama Ima langsung menemui Adnan.
"Selamat pagi, Tuan. Hari ini, anda akan rapat bersama salah satu perwakilan dari perusahaan Florist. Rapat ini membahas pembagian saham," ujar Ima.
"Siapkan saja semuanya," ucap Adnan tanpa memandang Ima saat berbicara. Ima lalu pergi meninggalkan ruangan Adnan.
Tiba-tiba, Adnan menerima panggilan dari nomor telepon milik Sharla.
Adnan Menatap layar ponselnya sambil menyeringai.
Cih, apa kau begitu merindukanku sekarang, benak Adnan.
Adnan lalu menerima panggilan dari Sharla.
__ADS_1
"Ini masih terlalu pagi, sayang ... apa kau sudah merindukanku?" ujar Adnan sambil menyeringai.
"Siapa yang kau panggil sayang? Aku ini Chan! Jangan pernah kau hubungi Sharla lagi!" Chan menggerutu.
"Memang kau siapa yang berani menyuruhku?" nada bicara Adnan sangat dingin.
"Dengarkan ini baik-baik, Tuan Lapondi ... jangan pernah dekati Sharla lagi!"
"Aku orang terpandang di kota ini. Siapa kau, yang berani-beraninya menyuruhku untuk menjauhi Sharla?" ujar Adnan.
"Kau bisa mencari wanita lain. Tapi tolong, jangan Sharla!"
Adnan lalu memutus sambungannya dan membanting ponselnya.
"Sialan, siapa dia yang berani-beraninya menyuruhku untuk menjauh dari Sharla," gumam Adnan.
Kau akan aku habisi, Chan. Kau hanya seorang Dokter ... tidak lebih dari itu, benak Adnan yang menggerutu.
Lalu Adnan memanggil Ima dan menyuruhnya untuk memesankan ponsel baru untuknya.
Adnan juga menyuruh Ima untuk memanggil Frans agar datang ke ruangannya.
Frans pun datang ke ruangan Adnan.
Penampilan Frans sama seperti penampilan Pak Bhur.
Bibir yang pucat, kulit yang putih layaknya tanpa darah dan matanya yang sayu.
"Ada yang bisa saya bantu, Tuan?" ujar Frans dengan nada yang begitu berat dan intonasi yang sangat lembut.
"Aku ingin kau untuk mencari informasi tentang Dokter Chan. Ia bekerja di Rumah Sakit Antira Permai." Adnan menatap jendela kantornya saat berbicara dengan Frans.
Frans hanya mengangguk dan pergi meninggalkan ruangan Adnan.
Ini akibatnya jika kau berani menyuruh Adnan Hartigan Lapondi, benak Adnan.
***
[Rumah Sakit Antira Permai.]
Chan menyerahkan ponsel milik Sharla. Sharla tengah duduk di meja ruangannya.
"Aku sudah hubungi laki-laki yang tidak tahu malu itu," ujar Chan.
"Terima kasih, Chan. Aku tidak tahu dan aku tidak yakin, kalau dia akan menuruti permintaan mu."
Sharla nampak sedih. Ia menundukan wajahnya. Chan lalu mendekati Sharla dan berlutut di hadapannya.
"Kenapa kau bersedih? Ini bukan sepenuhnya salahmu, Sharla. Aku hanya ingin melindungimu saja," ujar Chan sembari menggenggam kedua telapak tangan Sharla.
"Kenapa kau ingin melindungiku? Bukankah kau sudah memiliki tunangan?" ucap Sharla sambil menatap lekat manik-manik mata Chan.
"Maafkan aku, Sharla ... aku belum menceritakan ini padamu. Sebenarnya, tunanganku ... cih, dia meninggalkanku demi laki-laki yang lebih kaya dariku."
Sharla tersentak dan langsung beranjak dari duduknya.
"Apa kau yakin? tapi ... tapi dia wanita yang baik," ujar Sharla sambil mengerutkan alisnya.
"Dia sering datang membawa makan siang untukmu, bahkan ... aku pernah melihatnya datang kemari dan menjemputmu. Dia sangat menyayangimu, Chan."
"Sayang? Sayang darimananya? Berselingkuh dariku, bermain gila di belakangku ... apa itu yang kau katakan sebagai tanda kasih sayang?" mata Chan berkaca-kaca.
"Yang benar saja? A-apa yang terjadi?" Sharla semakin penasaran.
__ADS_1
"Satu minggu setelah hari pertunangan kami ... aku melihatnya di rumah sakit ini. Awalnya dia menghubungiku dan bertanya, apakah aku masih bekerja atau sudah pulang." Chan lalu bangkit dari posisinya.