
Adnan pun turun setelah mengganti pakaiannya.
"Terimakasih sudah mau membawaku pulang," ucap Adnan.
"Sekarang, kau boleh pergi." Adnan mengusir secara halus.
"Kunci mobil saya, Tuan?" ucap Sharla.
Lalu Adnan memberikan kunci mobil pada Sharla.
"Tolong datang ke rumah sakit kembali, Tuan." Sharla memberikan saran pada Adnan.
"Kapan?" ucap Adnan.
"Lusa." Sharla beranjak dari duduknya dan hendak meninggalkan rumah Adnan.
"Saya permisi." Sharla keluar dari rumah besar itu dan menuju parkir mobilnya.
Sharla melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Meninggalkan pekarangan rumah Adnan.
Adnan masih berdiri di ruang tamu saat itu.
"Pak Bhur," panggil Adnan.
Pak Bhur lalu mendekati Adnan. Ekspresi Pak Bhur sangat datar.
"Ada apa, Tuan?"
"Aku punya tugas untukmu. Kumpulkan seluruh pelayan di rumah ini!" ucap Adnan tanpa memandang Pak Bhur.
***
[Apartemen Sharla]
Sharla memilih untuk pulang saja, daripada kembali ke rumah sakit. Ia mengambil ponselnya dan menghubungi Chan.
"Aku tidak kembali ke rumah sakit," ujar Sharla saat Chan mengangkat panggilannya.
"Baiklah, aku akan menggantikan posisimu."
"Terimakasih, Chan. Akan aku tutup telponnya." Reyca langsung memutus sambungannya.
Ia keluar dari dari mobilnya dan berjalan masuk ke apartemennya. Sesampainya di kamar, Sharla lantas merebahkan tubuhnya di atas kasur.
Ting ...
(Suara ponsel Sharla)
Sharla beranjak dari posisi tertidur, lalu mengambil ponselnya.
Ia melihat pesan dari ponselnya saat itu.
Sharla mengernyitkan dahinya. Ia heran dengan pesan yang sampai pada ponselnya itu.
Sharla akhirnya beranjak dari posisinya dan menghampiri pintu apartemennya.
Sharla membuka pintu.
"Atas nama Dokter Sharla?" ujar pria pembawa paket itu.
__ADS_1
"Iya." Sharla nampak ragu.
"Ini paket kiriman anda, Nona. Silakan tanda tangan di bagian sini." Kurir itu memberikan nota yang harus di tanda tangan oleh Sharla.
Sharla hanya mengikuti perintah kurir itu.
"Permisi, Tuan. Apa anda salah alamat? Saya rasa, saya tidak berbelanja online untuk beberapa hari kebelakang ini," ujar Sharla.
"Mungkin ini adalah kado spesial dari kekasih anda." Kurir itu menjawab dengan santai.
"Jika boleh tahu, siapa yang mengirimkan ini?" tanya Sharla.
"Mohon maaf, Nona ... saya hanya menjalankan tugas saya sebagai pengantar paket."
Sharla hanya bergeming.
"Saya permisi," ujar kurir itu.
Sharla langsung masuk ke dalam sambil membawa paket di tangannya. Dia menaruh paket itu di atas meja makan. Ia pergi ke dapur untuk mengambil minum dan cemilan.
Saat Sharla kembali, betapa terkesiapnya dia saat melihat paket yang ia bawa telah lenyap begitu saja. Sharla mendekati meja makan dan mencari paketnya yang hilang.
"Aku ingat aku menaruhnya disini ... tapi, dimana sekarang?" gumam Sharla.
Sharla sudah panik. Suhu tubuhnya sangat dingin. Sharla sangat ketakutan. Ia mengambil ponselnya dan menghubungi Chan.
"Ada apa lagi, Sharla?" tanya Chan dari balik ponsel Sharla.
"Bisakah kau kemari?" pinta Sharla.
"Aku tidak tahu alamat apartemen milikmu," ucap Chan santai.
Sharla langsung memutus sambungannya dan mengirim pesan pada Chan. Ia mengirim alamat apartemen tempat ia sekarang.
Chan bergegas untuk pergi ke apartemen Sharla. Sesampainya di apartemen itu, Chan keluar dari mobilnya tergesa-gesa dan langsung menekan tombol lift menuju lantai kamar Sharla.
Tok ... tok ... tok ...
(Chan mengetuk pintu apartemen Sharla.)
"Sharla ... ini aku, Chan. Buka pintunya, Sharla!" suara Chan nampak khawatir.
Sharla segera beranjak dari duduknya dan membuka pintunya.
Chan melihat air muka Sharla mulai menangis. Chan langsung memeluknya.
Ku mohon jangan menangis. Aku tidak tega melihat kau lemah, benak Chan.
"Kau akan baik-baik saja," ujar Chan.
"Apa yang terjadi?" tambah Chan.
Sharla menceritakan kejadian yang terjadi sambil menyeka air matanya. Mulai dari kurir yang misterius, paket yang datang tiba-tiba, hingga menghilangnya paket itu.
"Dia juga mengirimkanku pesan. Aku akan ambil ponselku," ucap Sharla. Ia berlari mengambil ponselnya yang berada di meja makan tadi.
Sharla mencari-cari pesan dari kurir misterius itu, tiba-tiba saja lenyap.
Dimana pesan itu? Aku rasa, aku belum menghapusnya, benak Sharla.
"Ketemu?" Chan mendekati Sharla.
__ADS_1
"Sebentar ... aku yakin, aku belum menghapus pesan darinya," ujar Sharla. Sharla terus mencari pesan yang hilang itu sambil menyeka air matanya.
Tanpa berpikir panjang, Chan lalu mengambil ponsel Sharla dan langsung memeluk wanita yang kebingungan itu.
"Apa yang kau pikirkan, Sharla?" ucap Chan sebari mengusap rambut Sharla.
Ku mohon berhenti menangis, benak Chan.
Sharla tiba-tiba menangis dalam pelukan Chan. Chan semakin membawa Sharla ke dalam pelukan yang hangat itu. Sharla terus menangis, tapi Chan tidak menyeka tangisan Sharla.
"Aku sungguh-sungguh, Chan." Sharla berbicara dan masih dalam dekapan Chan.
"Aku tahu, mungkin saja kau sedang letih. Beristirahatlah ... aku akan menunggumu disini," ujar Chan.
"Aku takut, Chan. Aku takut, ini akan menjadi teror untukku," ucap Sharla.
"Aku tidak ingin, hal buruk datang padaku," tambahnya.
"Tidak ... semua akan baik-baik saja. Percayalah." Chan melepas pelukannya dan menggenggam kedua lengan Sharla dengan erat.
Lalu Chan membawa Sharla menuju sofanya. Chan lalu duduk di sofa tersebut. Chan mengambil bantal sofa itu dan menaruh di pangkuannya. Ia juga menghidupkan televisi.
"Kau boleh tidur disini," ujar Chan sambil menunjuk bantal di pangkuannya.
"Apa kau tidak keberatan?" tanya Sharla.
"Santai saja."
Sharla lalu tidur di paha Chan. Chan mengusap rambut Sharla saat Sharla sudah tertidur. Ia juga mengelus pipi Sharla yang putih itu.
Cantik, benak Chan.
Chan lalu kembali menonton televisi di apartemen Sharla. Membiarkan gadis itu tertidur di sampingnya.
***
Waktu menunjukan pukul 4:16 PM. Sharla terbangun saat mendengar musik dari acara favoritnya di televisi. Ia mendongkak menatap Chan yang tertidur dengan posisi duduk.
Dia benar-benar menungguku, benak Sharla.
Sharla beranjak dari posisinya dan duduk di samping Chan. Ia memindahkan bantal di paha Chan dan menaruhnya di pahanya. Sharla lalu merebahkan tubuh Chan.
Sharla mengusap pipi Chan sebari menonton acara kesukaannya. Ia juga memainkan rambut Chan saat itu.
Menggemaskan, benak Sharla.
Chan menggeliat saat itu. Mencoba membuka matanya, menyesuaikan cahaya ruangan. Chan terkesiap saat melihat Sharla sudah bangun.
"Sharla," ujar Chan sebari beranjak dari tidurnya.
"Saat aku bangun, aku melihat mu tertidur dalam posisi duduk. Jadi aku tukar saja posisiku," ucap Sharla.
Chan lalu melihat jam ditangannya. Waktu menunjukan pukul 4:30 PM. Chan bergegas untuk pulang.
"Ingin kemana?" tanya heran Sharla.
"Aku akan pulang ... terimakasih atas tumpangannya," ucap Chan.
"Tumpangan?" Sharla bergumam.
"Kau memberiku tumpangan untuk tidur." Chan mendengar gumam Sharla.
__ADS_1
"Cih ... santai saja. Kau hati-hati, ya!" ujar Sharla sambil memenggang pundak Chan.
"Baiklah." Chan lalu pergi meninggalkan kamar apartemen Sharla.