Dark Side Of My Husband

Dark Side Of My Husband
Mahluk


__ADS_3

Adnan sampai di sebuah ruang VIP khusus untuknya dan Sharla saja. Seorang pelayan menggunakan pakaian super seksi membawakan vodka dan beberapa minuman berkelas lainnya.


"Biar saya bantu, Tuan." ujar pelayan itu.


"Tidak usah, kau pergilah!" perintah Adnan.


Dengan berat hati, pelayan itu akhirnya keluar dari ruang Adnan. Sharla yang duduk di samping Adnan hanya bergeming.


Mata Sharla menyapu ruangan. Tiba-tiba, ia melihat sesosok wanita berbaju putih. Sosok itu sama persis dengan yang ia lihat di ruang oprasi saat itu.


Ponsel Sharla tiba-tiba berbunyi. Terdapat nomor asing yang masuk. Ia segera membaca pesan itu. Sharla membalas pesan dari Pak Him, sopir Adnan.



"Minumlah!" ucapan Adnan membuat pikiran Sharla buyar.


"Hah? I-iya. Tapi, aku tidak bisa minum." ucapan Sharla terbata-bata.


"Sebagai Nyonya Lapondi, kau harus belajar!"


"Nyonya Lapondi? Sejak kapan aku menikah denganmu?" Sharla mengernyitkan dahinya.


Sejak kita berhubungan malam itu, benak Adnan


"Tidak usah bertanya terlalu banyak!" gerutu Adnan.


"Aku seorang Dokter, Adnan! Mana mungkin aku menjadi seorang peminum. Aku mengobati orang, tapi aku yang mencari sakit." Sharla membentak Adnan.


Tanpa berpikir panjang, Adnan langsung mencekoki mulut Sharla dengan segelas Vodka. Penglihatan Sharla mulai buram. Kepalanya terasa berat.


"Ayo kita pulang, kepalaku sudah sakit." Sharla mencoba mengajak Adnan untuk segera pergi dari tempat itu.


"Kepalamu sakit atau kau takut?" ujar Adnan sambil menyeringai. Ia kembali meminum vodka yang berada di dalam gelas yang ia genggam.


"Takut? Memangnya aku takut apa?


Setidaknya ini membuatku menjadi pura-pura lugu, benak Sharla.


"Lihat saja, raut wajahmu berubah."


****. U ARE NOT HUMAN, ADNAN! Cepatlah pergi dari hidupku, benak Sharla sambil menggerutu


"Baiklah, ayo pulang." Sharla merengek.


Adnan tetap berada di posisinya Iya hanya bergeming dan tidak menghiraukan harlah


"Aku akan membawamu pulang, apabila..." ucapan Adnan menggantung.


"APA?" Sharla berteriak.


Adnan mengisi kembali gelas milik Sharla dengan minuman Vodka.


"Jika kau mau menghabiskan seluruh minuman ini." Adnan menyeringai menatap Sharla.


You are dumb or stupid, benak Sharla.

__ADS_1


"Apa yang kau inginkan, Adnan?" ujar Sharla.


"Hanya menginginkanmu untuk meminum sebotol Vodka ini."


"Apa kau ingin melihatku mati di ruangan ini?" ucap Sharla yang menggerutu.


"Tidak-tidak bukan itu maksudku. Masalah kematianmu, itu sudah ada yang mengaturnya. Kau tenang saja." Adnan mengusap puncak kepala Sharla.


Sepertinya dia sudah terlalu banyak minum, benak Sharla menggerutu.


Sharla pun akhirnya menuruti semua keinginan Adnan agar ia segera pergi dari ruangan VIP tersebut. Ia menghabiskan seluruh botol minuman yang ada dihadapannya itu.


Kepala Sharla sangat berat. Penglihatannya buram. Sedangkan Adnan, dia masih tersadar. Adnan sering minum-minum bersama temannya, jadi 5 sampai 6 sloki tidak membuatnya mabuk.


"Bawa aku pulang," ujar Sharla yang sudah mabuk berat.


Adnan mendengus kesal. Ia menghela napas kasar, lalu menggotong Sharla pergi keluar dari ruang VIP itu.


Adnan sebelumnya sudah menghubungi Pak Him untuk menyiapkan mobil. Adnan pun berjalan menuju parkir mobil dan membawa Sharla pergi ke hotel.


Dalam perjalanan menuju hotel Adnan, Pak Him terus menatap ke arah belakang. Ia selalu melihat sosok gadis yang sama seperti yang dilihat oleh Sharla.


Kenapa gadis ini selalu berada di belakang Nona? Apakah Nona Sharla pernah melakukan kesalahan, hingga membuat gadis ini menjadi dendam dan mengikutinya kemanapun ia pergi.


Pak him memikirkan kondisi Sharla ke depannya agar tidak diganggu oleh makhluk tak kasat mata ini.


Sharla masih memejamkan matanya. Ia merasakan berat di kepalanya hingga ia tidak dapat membuka matanya. Adnan merangkul Sharla agar tidak kedinginan karena Pakaiannya yang sedikit terbuka.


Sesampainya di hotel. Adnan menggotong Sharla menuju kamar hotelnya. Pak Him turut mengikuti langkah Adnan.


"Kau pulanglah, biarkan aku yang membawanya." Adnan berbicara tanpa memandang sopirnya. Pak Him hanya mengangguk dan pergi meninggalkan Adnan.


"Aku akan menjagamu," ujar Adnan sambil menyelipkan rambut Sharla ke belakang telinganya.


Adnan merasakan keberadaan roh Alicia di dekatnya. Adnan segera keluar dari kamar dengan membawa dupa dan korek. Ia menutup rapat pintu kamar Sharla.


Seperti biasa, ia menaruh buah di atas nampan dan menghidupkan 3 buah dupa dengan aroma melati, cempaka putih dan kenanga.


Alicia sangat menyukai ketiga aroma bunga tersebut. Adnan selalu menyediakan 3 dupa dengan aroma berbeda.


Adnan duduk menghadap arah barat daya. Matanya terpejam dan mulutnya berkomat-kamit.


"Janganlah kau muncul kali ini," gumam Adnan.


"Sharla Harrera, Adka Hartigan Lapondi dan bayi yang akan berada di kandungan Sharla, aku persembahkan semuanya untukmu," tambahnya.


Adnan mencium aroma tubuh Alicia saat sebelum Alicia meninggal dunia. Ia mengingat setiap tragedi pembunuhan yang ia lakukan terhadap Alicia.


Tanpa Adnan sadari, ia meneteskan air mata. Air mata yang membasahi pipinya. Ia merasa ada yang memeluknya dari belakang. Ia yakin kalau itu adalah roh Alicia, mantan kekasihnya.


"Semua demi cinta kita," ujar Adnan sabari mengusap air matanya.


Nanan tidak boleh menangis!


Adnan mendengar namanya disebut oleh orang yang sangat ia kasihi.

__ADS_1


"Aku membuat roh orang yang aku cintai menjadi tidak tenang," gumam Adnan.


Tiba-tiba, ponsel Adnan berdering. Sigap Adnan menghapus air matanya dan menerima panggilan telpon itu.


"Papa ..." suara Adka yang menangis.


"Ada apa?" ujar Adnan dengan nada dingin.


"Papa aku takut. Aku melihat bayangan hitam masuk ke kamarku. Aku takut. Aku memanggil Pak Bhur, tapi Pak Bhur tidak mendengarku." Adka menangis di dalam telponnya.


Prakkk ...


(Suara kaca terjatuh)


"AAAAAAAA," teriakan Adka membuat Adnan merasa geram.


"Itu hanya ilusimu, Adka! Sekarang tidurlah! Ini sudah larut!" Adnan langsung memutuskan sambungan telponnya.


Ia kembali bersimpuh dan membaca beberapa mantra, agar orang-orang yang berada di rumahnya bisa membuat Adka menjadi tenang.


***


[Rumah Chan, 12:30 AM]


Chan berusaha mengirim pesan untuk Sharla. Ia ingin menceritakan hal yang ia lihat di dalam rumah Adnan yang menurutnya menjanggal.


Flashback


Chan berjalan memuju rumah Adnan. Ia menggetuk pintu rumah Adnan. Pak Bhur membuka pintu dengan wajah yang sangat pucat.


"Ada yang bisa saya bantu?" ujar Pak Bhur sebari menatap manik-manik mata Chan.


"Begini, saya mendapat panggilan dari Dokter Sharla untuk kemari. Adka Hartigan Lapondi sedang sakit, katanya." Chan menjelaskan pada Pak Bhur.


Pak Bhur hanya bergeming dan terus menatap Chan. Tatapan Pak Bhur sangat kosong. Chan mengibaskan tangannya ke arah Pak Bhur.


"Pak..." ucap Chan.


Ayolah ... ada bocah yang tengah kesakitan dan aku masih berdiam diri disini, benak Chan.


"Silakan masuk," ujar Pak Bhur sambil mempersilakan Chan.


Chan hanya mengangguk dan berjalan mendahului Pak Bhur. Saat Chan melewati ruang tengah, ia mendengar suara jeritan, orang yang meminta tolong, bahkan suara tawa.


Chan juga mendengar suara tangisan, tawa dan permintaan dari mantan kekasihnya.


Apa aku sedang memikirkannya? Hingga aku teringat denga suara tawanya, benak Chan.


Chan lalu berbalik dan tidak melihat Pak Bhur di belakangnya.


Loh, dimana pelayan itu? Apa dia tidak mengikutiku? Aneh, benak Chan.


Saat Chan berbalik, tiba-tiba Pak Bhur berada di hadapannya.


"Saya disini, Tuan." Tatapan Pak Bhur masih sama. Chan tersentak hingg mundur beberapa langkah.

__ADS_1


"Dimana kamar Adka?" tanya Chan. Pak Bhur lalu berjalan dan diikuti oleh Chan.


~Bersambung~


__ADS_2