
Adnan membawa Sharla pergi ke rumahnya. Adnan turun dari mobil dan menarik paksa Sharla masuk ke dalam istana megah miliknya.
Sharla heran dengan tingkah Adnan yang sangat murka, saat melihat Sharla tengah bersama Chan.
Adnan membawa Sharla menuju ruang tengah rumahnya. Ia menyeret Sharla. Sesampainya di ruangan itu, ia menghempas tubuh Sharla dengan kasar, hingga Sharla jatuh tersungkur di lantai.
"Berapa kali aku menyuruhmu untuk tidak mendekati Chan?! Apa kau tidak mengerti dengan yang aku katakan?!" Adnan berteriak di hadapan Sharla. Sharla hanya diam karena ia takut.
Adnan mencengkram lengan Sharla dan menyejajarkan posisinya dengan Sharla yang bersimpuh di hadapannya. Sharla mendongkak. Ia mengumpulkan keberaniannya untuk melawan Adnan.
"Aku bukan siapa-siapamu, Adnan!" Sharla menggerutu.
"Kenapa kau membatasi diriku dengan orang lain? Apa aku kekasihmu? Apa aku istrimu? Aku Kakakmu? Aku Adikmu? Tidak! Aku bukan anggota keluargamu," tambahnya.
"Sialan!" gumam Adnan.
Plak ...
Adnan menampar pipi Sharla, hingga Sharla kembali tersungkur di lantai. Kening terbentur dan sudut bibirnya berdarah. Sharla hanya bergeming.
"Bawa aku pulang!" ujar Sharla tanpa menatap Adnan. Adnan hanya bergeming. Ia menatap lekat mata Sharla.
"Sebaiknya, Nona turuti kemauan Tuan," ujar Pak Bhur dengan nada dan ekspresi datar, diikuti wajah pucatnya yang tiba-tiba muncul disamping Sharla.
Adnan langsung berdiri dan pergi ke kamarnya. Meninggalkan Sharla dan Pak Bhur sendiri di ruang tengah.
"Ambil ini, Nona. Bersihkan luka di sudut bibir anda," ujar Pak Bhur sambil memberikan saputangan pada Sharla. Sharla menerimanya dan membersihkan sudut bibirnya yang berdarah itu.
"Memangnya apa yang dia inginkan?" ujar Sharla sambil mengernyitkan dahinya. Pak Bhur hanya bergeming.
Apa keinginannya? Kenapa aku yang disuruh menurutinya, benak Sharla.
"Sebaiknya, Nona beristirahat disini saja." Pak Bhur menatap Sharla dengan tatapan dingin.
"Mari, saya antarkan ke tempat anda beristirahat, Nona." Pak Bhur mempersilahkan Sharla untuk berjalan lebih dulu.
"Pak Bhur saja jalan lebih dulu, rumah ini terlalu besar." Sharla nampak ragu. Pak Bhur akhirnya berjalan mendahului Sharla.
Pak Bhur membawa Sharla menuju lantai 2 rumah itu. Tanpa Sharla sadari, ada sesosok wanita yang memperhatikannya di pojok ruangan. Buat yang baca novel ini malem-malem ... coba lihat ke pojok ruangan, siapa tau ada yang merhatiin.
Saat berjalan ke arah tangga, Sharla melihat para pelayan yang tengah mengerjakan pekerjaannya, tapi dengan wajah yang pucat dan sangat dingin. Bibir mereka sangat putih dan pucat ditambah kulit mereka putih kembang, seperti tidak ada darah.
Pak Bhur pun sampai di depan pintu kamar yang hendak Sharla tempati. Ia mempersilakan Sharla masuk. Sharla pun masuk ke kamar itu. Pak Bhur menutup pintu itu dengan pelan.
Ceklek
(Suara pintu terkunci)
__ADS_1
Sharla terkesiap dan langsung berbalik ke arah pintu. Ia terus menggedor pintu dan mencoba membuka pintu itu, tapi hasilnya nihil.
"Pak Bhur..." Sharla berteriak tapi tidak ada balasan dari Pak Bhur.
Sharla terus berusaha menggedor pintu. Tiba-tiba, ada orang yang memeluk Sharla dari arah belakang. Sharla terkesiap dan langsung membalikan badannya ke belakang.
Ternyata Adnan yang memeluknya. Mata Sharla terbelalak saat melihat Adnan yang tanpa busana. Hanya handuk yang melilit di bagian bawahnya. Sharla langsung menutup kedua matanya dengan menggunakan kedua tangannya.
Adnan langsung menggendong tubuh Sharla dan menghempaskannya diatas kasur miliknya.
"Ayo, kita lakukan sekarang!" ujar Adnan sambil menyeringai.
"1 minggu adalah waktu yang lama untukku," tambahnya.
Adnan langsung membuka paksa pakaian Sharla. Sharla terus memberontak, berusaha untuk melawan Adnan. Tapi, usaha yang dilakukannya sia-sia.
Baju yang dikenakan Sharla akhirnya robek. Adnan juga membuka paksa bra yang digunakan Sharla. Kini, buah dada Sharla terlihat jelas. Adnan memainkannya.
"Sialan!" Sharla bergumam berkali-kali di tambah tangisannya. Adnan tidak mendengar gumaman Sharla.
Sharla hanya bisa menangis saat itu. Merelakan hal yang seharusnya dijaga, tapi ... ya sudahlah.
Permainan Adnan pun selesai, ia terjatuh dan menindih tubuh Sharla. Adnan langsung memejamkan matanya dan tertidur di dada Sharla.
Sharla menggeser tubuh Adnan. Sharla beranjak dan menggunakan bra miliknya. Ia mengambil baju yang tadi ia gunakan, tapi sudah robek.
Sharla kembali ke atas tempat tidurnya. Ia melihat ke arah Adnan yang sedang tertidur.
"Apa yang kau inginkan dariku?" gumam Sharla. Terdengar isak tangis Sharla saat mengelus pipi Adnan.
HAHAHAHAHA
Suara yang tidak asing di telinga Sharla. Ia beranjak dari tidurnya dan pergi ke arah jendela kamar. Sharla melihat sesosok gadis yang berlari.
"Siapa yang berlari di tengah malam seperti ini?" gumam Sharla sebari memincingkan matanya.
Look at me! Hahahaha...
Suara itu kembali mendenging di telinga Sharla. Sharla menutup kedua telinganya dengan kedua tangannya.
"Siapa?!" Sharla berteriak.
Prakkk ...
Suara benda terjatuh dan pecah. Sharla segera mencari ke arah sumber suara. Ternyata, benda yang jatuh itu berasal dari ruang pakaian milik Adnan. Sharla berjalan dan membuka pintu ruang itu.
__ADS_1
Di dalam ruangan yang super besar itu, Sharla menemukan lagi pintu disana. Sharla mendekati pintu itu dan menemukan sebuah ruangan lagi. Di dalam ruangan berukuran 3x3 itu, terdapat foto gadis yang sangat cantik. Bingkai foto yang besar itu terjatuh dan pecah.
"Siapa dia?" gumam Sharla.
Sharla mendekati foto itu dan melihat sebuah tulisan di bawahnya. Sharla memincingkan matanya sambil membaca tulisan itu.
"Sarah Tiban," gumam Sharla.
Siapa dia? Apa dia kekasihnya? Atau istrinya? Jangan-jangan mantan istrinya? Bagaimana mungkin, benak Sharla.
Saat Sharla hendak mengambil foto gadis itu, tiba-tiba tangannya terkena pecahan kaca dari bingkai yang pecah.
Darah di pergelangan tangannya pun mengalir sangat cepat. Sharla hanya bisa menghisap darahnya sediri. Darah itu terus mengalir dan tak kunjung berhenti.
Sharla beranjak dari duduknya dan hendak keluar dari ruangan itu. Tidak sengaja, Sharla kembali menginjak pecahan kaca hingga membuat kakinya mengekuarkan darah yang cukup banyak.
"Akhh..." Sharla berteriak. Ia terjatuh di lantai.
Apa kau menyukai itu, Sharla?
Suara itu kembali mengganggu Sharla. Telinga Sharla kembali mendenging. Sharla hanya memejamkan kedua matanya.
"Pergi kau dari sini! Pergi!" Sharla berteriak.
Siapa kau yang beraninya menyuruhku pergi dari sini?
Sharla menangis sekencang mungkin agar Adnan terbangun. Sharla merasa ketakutan dan pikirannya tidak berjalan dengan benar.
Ku mohon, jangan ganggu aku. Aku tidak memiliki kesalahan. Berhenti menggangguku, benak Sharla.
Siapa yang menyuruhmu membantah Adnan?
Sharla langsung membuka kedua matanya dan melihat ke sekaliling ruangan itu. Tidak ada satupun orang di dalamnya, kecuali dirinya seorang.
Adnan, bangun! Bantu aku! Aku terluka dan ada yang menggangguku, benak Sharla. Ia terus menangis
"Sharla!"
Sharla mendongkak dan ternyata Adnan berada di hadapannya.
"Apa yang kau lakukan?" Adnan merasa khawatir. Ia memincingkan matanya menatap Sharla.
"Ti-tidak, ak-aku hanya memeriksa keadaan. Tadi, aku mendengar benda terjatuh dan ternyata foto ini yang ter..." ucapan Sharla menggantung.
"Loh, dimana bingkai itu?" ujar Sharla yang kebingungan.
"Kenapa pergelangan tanganmu terluka? Lihat, kakimu juga." Adnan memicingkan matanya.
__ADS_1
"Tidak bukan ini masalahnya. Tadi aku melihat bingkai foto terjatuh. Aku berusaha mengambilnya dan tanganku tersayat. Tapi kenapa bingkai itu tidak ada?"
Adnan tidak mendengar penjelasan Sharla, ia langsung menggendong tubuh Sharla dan membawanya ke tempat tidurnya. Sharla terus berbicara tanpa henti. Berusaha meyakinkan apa yang ia lihat.