Dea Alaska

Dea Alaska
Bab 21 : Sat Set Sat Set


__ADS_3

Selesai makan, Aska melirik jam dinding di atas tv. 21.00, mengobrol dengan Dea memang selalu membuat Aska merasa nyaman, bahkan tanpa sadar sudah hampir 4 jam dirinya berada di rumah ini.


Banyak yang mereka bicarakan, mulai dari pengenalan diri masing-masing, lebih tepatnya Aska yang mengenalkan dirinya sendiri secara lengkap tanpa Dea minta. Semuanya mengalir begitu saja. Sesekali mereka juga tertawa saat membahas hal-hal aneh yang terjadi di sekitar mereka. Wajah Dea yang ia lihat begitu letih dan sedih berubah menjadi lebih ceria. Aska merasa bukan hanya dirinya saja yang merasa nyaman, namun Dea juga merasakan hal yang sama.


"Enak, jadi arsitek?"


Aska menopang dagunya sambil menatap Dea yang tengah meletakan kepalanya di atas meja makan. Agenda sengaja memperlambat perakitan meja agar besok ia bisa kembali datang, gagal total karena Dea ikut turun tangan.


"Karena aku suka, jadi rasanya enjoy aja. Bekerja sesuai dengan hobi itu enak De"


"Setuju. Jadi artis juga cita-cita ku sejak awal. Rasanya enjoy banget pas ngejalaninya. Tapi sekarang, tinggal melambaikan tangan karena banyaknya komentar kebencian"


Aska ikut merebahkan kepalanya di atas meja. Membuat tatapan mereka kembali bertemu "Pengin coba kerja kantoran?"


"Nggak. Jurusan kuliah ku emang ekonomi, tapi buat terjun langsung ke perusahaan kayanya nggak deh"


"Kenapa?"


Kali ini Dea kembali duduk tegak. Wanita itu mungkin merasa sedikit risih karena jarak pandang mereka yang begitu dekat.


"Setiap hari terikat aturan bekerja 8 jam, duduk di gedung yang selama 8 jam, matengin komputer selama 8 jam. Kayanya aku bisa mati dini karena stress, belum lagi tekanan dari atas. Ogah dah"


"Kalau atasannya aku, kayanya bakal beda De"


Dea tertawa "Lagi nawarin kerjaan nih ceritanya?"


Tawa renyah milik Dea layaknya sebuah sihir yang membuat Aska juga ikut tertawa. Menegakan tubuh, Aska menenggak sisa air putih di dalam gelasnya, kemudian berdiri " Udah jadi artis aja. Kayanya aku juga nggak sanggup kalau jadi bos kamu. Mulut ku bisa sobek karena senyum terus ngeliat kamu seharian mondar-mandir di sekitar ku. Fokus kerja ku gagal nanti karena ada yang cantik banget di kantor"


Bola mata cantik dihadapan Aska itu memutar jengah. Makin ke sini Aska semakin terang-terangan melemparkan gombalan ke arahnya. Ah, Dea pasti sudah membuka pintu begitu lebar hingga Aska sangat percaya diri untuk mendekatinya.


"Sudah jam 9, nggak baik di rumah anak gadis sampai malam. Aku pulang ya. Jangan kangen" canda Aska yang lagi-lagi hanya di balas dengan bola mata yang memutar malas.


Mengekor Aska yang berjalan menuju pintu, Dea cukup kagum karena dirinya bisa langsung dekat dengan Aska hanya dalam hitungan hari. Dari awal tabrakan tak sengaja, menjadi tetangga dadakan dan kini malah asik untuk diajak bicara dan bercanda.

__ADS_1


"Aku pikir kamu mau keluar lewat jalan yang sama kaya pas masuk tadi"


"Nggak dong. Kalau aku jatuh terus mati, kamu tambah depresi nanti"


Dea mencebik tak suka. Aska malah tertawa sambil membuka pintu. Begitu Aska keluar dan laki-laki itu masuk ke dalam unitnya sendiri, Dea hendak menutup pintu unitnya namun tertahan saat matanya menangkap Arin keluar dari pintu lift. Nyaris saja ia ketahuan kalau Aska baru dari rumahnya.


"Lo ngapain ke sini?" belun juga Arin sama di depannya, pertanyaan itu sudah terlontar dari mulut Dea. Arin itu adalah orang yang memegang erat kata-katanya, dan seharusnya pertanyaan itu tak perlu Dea lempar padahal sudah tahu tujuan sahabatnya itu datang ke apartemennya.


"Jadi, yang mana unit nya? Yang ini? Lo bilang tetanggaan kan sama dia?"


Sebelum Aska mendengar suara Arin yang malah berdiri tepat di depan unit Aska, Dea buru-buru menarik Arin agar segera masuk ke dalam rumah. Namun, memang sepertinya takdir malang sedang benar-benar mengunjunginya bulan ini, pintu unit Aska tiba-tiba dengan laki-laki itu yang muncul sambil mengatakan sesuatu.


"Ponsel aku ketinggalan di sofa ka... Mu De"


Bisakah ia tenggelam saja ke dasar laut sekarang? Tatapan Arin rasanya membuat Dea tak bisa bernapas seperti dalam air.


"Hai"


Sapaan Aska pada Arin membuat Dea mengatupkan bibirnya sambil melotot horor ke arah Aska. Yang ditatap hanya mengerutkan dahinya bingung.


Arsen yang baru melihat sosok Arin dalam jarak dekat menautkan kedua alisnya bingung. Dea hanya melirik sebal ke arahnya sambil mendengus. Apa dia berbuat salah barusan.


"Ngapa pada diam aja di situ? Ah, nunggu ada penghuni lain yang ngambil foto kalian dan boommm gosip Dea pacaran meledak lagi. Kaga kelar-kelar itu gosip kayanya"


Pekikan Arin dari dalam, menggeraikan Dea untuk menarik ikut serta Aska masuk ke dalam unitnya. Benar kata Arin, bisa gawat jika ada yang melihat dan memfoto mereka berdua. Orang-orang diluar sana yang mendukungnya pasti akan ikut menghujat karena mereka berpikir jika Dea pasti juga sudah selingkuh saat masih bersama Ardigo.


Menutup pintu, Dea dan Aska langsung berdiri di depan Arin yang kini berkacak pinggang. Ditangan wanita itu ada benda pipih berbentuk persegi panjang yang sudah jelas ponsel milik Aska.


"Ini punya lo?"


Bukankah memanggil dengan 'lo' pada orang yang baru kenal itu terkesan tak sopan? Tapi ajaibnya Arin melakukannya begitu saja. Tak peduli, toh Arin yakin jika Aska bisa membaca raut wajah ketidaksukaan pada sosok laki-laki itu.


"Lo, punya hubungan apa sama aktris gue?"

__ADS_1


"Sahabat lo" koreksi Dea langsung. Arin itu mendapat julukan makhluk jadi-jadian saat sekolah dulu. Suka sekali cosplay menjadi ibu-ibu yang sedang marah padahal wajah baby face wanita itu malah tampak menggemaskan.


"Berisik. Lo diam dulu aja De." pandangan Arin kini kembali tertuju ke arah Aska yang masih terlihat begitu tenang "Lo pacaran sama Dea"


Dea memutar bola matanya jengah, sedangkan Aska yang sebelumnya tampak tenang kini malah menunjukan senyuman tipis.


"Belum jadian. Masih OTW." jawab Aska tenang.


"Masih OTW tapi udah bolak-balik masuk ke apartemen Dea sampai ponsel ketinggalan?"


"Saya bantu Dea rakit meja makan tadi. Dan bantu Dea juga agar nggak di serbu sama ibu-ibu"


"Sama ibu-ibu?" pertanyaan Arin itu kali ini tertuju untuk Dea.


"Gue nyalain musik kenceng. Lupa kalau udah pindah. Ingetnya kaya masih di Menteng"


Arin menggeplak dahinya sendiri "Hei TUKIJAH! luas unitnya aja udah beda. Ya kali lo nggak sadar?"


"Ya mau gimana lagi? Orang gue udah kesel projek terkahir gue ilang juga. Mana banyak banget komentar yang tepuk tangan karena gue dikeluarin!!"


"Ya. Dan lo hampir mustahil balik lagi ke dunia hiburan kalau ibu-ibu tahu lo ya masang musik kenceng!!!"


"Gue kesel Rin. Gara-gara Ria malah bikin statement kalau dia keluar karena lagi hamil muda, gue yang diserang habis-habisan. Emang udah gila dunia, hamil di luar nikah masih aja di bela"


"Tapi dia keluar juga suaminya masih punya duit De. Lah lo?"


Aska yang sejak tadi menjadi pendengar dua wanita yang tengah adu mulut itu berdehem keras. Tangannya menengadah ke arah Arin "Boleh saya ambil ponsel saya? Setelah itu kalian boleh lanjut debat setelah saya pulang, cuman jangan terlalu kencang suaranya"


"Lo suka sama Dea?" fokus Arin kembali pada Aska. Masih menyimpan ponsel milik Aska, Arin ingin tanya lebih jauh terlebih dahulu.


Anggukan kepala Aska begitu mantap "Saya suka sama Dea. Jika takut ada gosip yang muncul karena saya sering berada di dekat Dea, saya bersedia membuat klarifikasi jika memang saya sedang berusaha menarik Dea untuk menjadi pacar saya. Atau bahkan, kalau digosipkan kami akan menikah, saya tidak masalah. Saya bisa melamar Dea dalam waktu dekat"


Arin merasa kalah berdebat seketika. Mengembalikan ponsel milik Aska, Arin langsung berjalan mendekat ke arah Dea dan berbisik pada sahabatnya ini.

__ADS_1


"Buset De. Sat set sat set banget ini cowok"


__ADS_2