Dea Alaska

Dea Alaska
Bab 23 : Pesan Aska


__ADS_3

Melihat Dea sempat mematung kemudian seolah pura-pura tak mengenal sambil membenarkan topi yang dia kenakan hingga wajahnya sedikit tersembunyi saat menunduk, Aska tak jadi memanggilnya. Apartemen di pagi hari jelas terasa begitu ramai karena jam berangkat kerja yang sama. Memanggil Dea adalah hal yang malah akan mengundang perhatian para penghuni yang berada di lantai yang sama.


Pandangan Aska hanya bersitatap dengan Arin yang menatapnya dengan tatapan kesal. Lalu kedua wanita itu menghilang dibalik pintu lift yang tertutup.


Seakan baru sadar, Aska langsung melepas pelukan Ana padannya. Dea pasti salah paham. Mengejar Dea, sekali lagi bukanlah pilihan yang tepat.


"Mas"


"Kamu ngapain di sini?" nada suara dingin itu meluncur dari mulut Aska. Genggaman tangannya pada tali tote bag mengerat. Aska gagal memberikan ini pada Dea.


"Maaf mas"


"Saya tanya kamu ngapain di sini? Tahu saya tinggal di sini dari siapa?"


Bisa dibilang hubungan mereka berkahir tak baik dulu. Hampir mirip dengan kisah cinta Dea yang ditinggal karena Ardigo menikahi Ria yang sedang hamil. Aska bahkan melihat dengan kepala mata sendiri bagaimana Ana menghianatinya dengan tidur bersama laki-laki lain. Jika Aska tak mengenal siapa laki-laki itu mungkin dirinya tak akan sebenci ini, hanya saja Ana salah dengan tidur bersama teman kuliah Aska sendiri.


"Aku nggak hamil mas, aku menyesali semuanya. Aku ingin kembali lagi sama kamu"


Tawa sarkas Aska menguar. "Orang brengsek itu ninggalin kamu setelah kamu berubah menjadi ****** nya?"


"Mas"


Air mata yang dulu selalu Aska usahakan untuk tak meluncur dari kedua mata indah Ana kini menerobos tanpa izin sang pemilik. Dulu Aska selalu menghapusnya terus memeluk tubuh itu. Namun sekarang Aska membiarkannya begitu saja.


"Kalau dia ninggalin kamu, jangan cari aku lagi. Karena aku nggak butuh wanita yang bersikap layaknya wanita malam"


Kalian mungkin terkejut karena sikap Aska pada Ana terkesan begitu jahat dengan kalimat-kalimat tajamnya, berbanding terbalik dengan sikap Aska kepada Dea.


Dulu, dulu sekali Aska juga pernah bersikap begitu lembut pada Ana, meratukan wanita itu, dan menjaga kehormatan wanita itu. Hanya saja, sikap menghargainnya dipatahkan begitu saja saat Aska melihat semua yang dilakukan oleh Ana. Demi menjadi penyanyi terkenal, Ana rela menjajahkan tubuhnya pada teman sekampus. Sejak saat itu sikap dan kata-kata Aska berubah drastis.


"Aku minta maaf mas"

__ADS_1


Helaan napas kesal terdengar. Aska menggeram kesal saat mengingat perilaku Ana. Wanita yang ia temui pertama kali di panti asuhan, dan wanita yang pertama kali berhasil mengisi kekosongan hati Aska dulu.


"Denger An. Hubungan kita sudah selesai. Jadi, saya harap jangan pernah datang lagi ke sini. Singkirkan tangan kamu dari pintu unitku"


"Aku minta maaf mas. Aku sungguh minta maaf sama kamu. Aku sadar aku salah, aku sadar cuman kamu yang memang tulus cinta sama aku. Aku sadar cuman kamu yang bisa menerima aku apa adanya."


"Tapi sayangnya sadar kamu terlambat An"


"Nggak bisakah kita ulang dari awal lagi mas?"


"Ulang lagi dari awal? Kamu pikir kalau kita ulang lagi dari awal luka saya akan sembuh? Kamu pikir kalau kita ulang lagi dari awal, kehormatan kamu akan balik lagi? Nggak An. Dan aku nggak berniat untuk hidup dengan wanita yang kehormatannya sudah diambil oleh laki-laki lain"


"Apa karena tetangga yang tinggal di depan unit kamu?"


Tangan Aska yang hendak menutup pintu terhenti seketika. Mengenal Ana lebih dari 5 tahun, Aska tahu wanita itu selalu datang tak pernah dengan tangan kosong, ada saja yang direncanakan Ana dan Aska harus mencari tahu secepatnya. Ia pernah jatuh cinta dengan wanita ini, namun Aska kini menyesalinya. Penyesalan yang amat dalam.


***


Dengan sebuah senyuman anggun, Dea menjabat tangan sosok laki-laki bernama Aldo. Dengan jabat tangan ini maka Dea resmi menjadi bagian dari Alaska Entertainment. Mengingat nama Alaska, Dea sempat aneh karena namanya sangat mirip dengan nama panjang Aska. Hanya saja Aska sudah ada bahkan sebelum Ardigo mendirikan agensinya sendiri dan Dea baru bertemu dengan Aska baru-baru ini, ditambah lagi pekerjaan Aska adalah seorang arsitek maka dari itu Dea yakin itu hanya pikiran anehnya saja yang muncul tiba-tiba.


"Selamat bergabung dengan kami Dea Aliska Rahayu"


"Terima kasih pak" jabatan tangan Dea dan Aldo terputus. Laki-laki itu kembali duduk di kursinya, sama seperti Dea yang juga ikut duduk di tak jauh dari laki-laki itu.


"Jangan panggil Pak. Saya nggak setua itu. Di sini sifatnya kekeluargaan. Jadi manggil mas mungkin lebih baik"


Dea tersenyum. Jika dilihat dari wajahnya, Aldo memang tak terlalu tua untuk ia panggil dengan pak. Ini hanya formalitas saja kepada atasan. Jika dikira-kira mungkin usianya sama seperti Aska.


Ah, ngomong-ngomong tentang Aska, sebenarnya siapa wanita itu sebenarnya?.


"Saya juga diterima kan Mas? Arin pengangguran nih"

__ADS_1


Aldo memasang wajah seolah tengah berpikir. Dari cerita Arin, sosok Aldo adalah sosok yang suka bercanda, berbeda dengan Gema yang terkesan selalu serius di depan keluarganya, apalagi jika sudah menyangkut tentang adiknya itu.


"Terima nggak ya?" canda Aldo.


"Kalau aku nggak di terima, Dea juga nggak lah. Dia artis ku mas, aku managernya"


Keduanya tertawa bersamaan. Dea yang tak tahu dimana letak kelucuan dari obrolan mereka terpaksa ikut tertawa. Tanpa ada yang sadar jika ponsel Dea yang sejak tadi di silent tengah di bombardir oleh puluhan pesan dari Aska.


Aska :


Bisa makan siang bareng De?


Singan nanti aku bakal pulang ke apartemen, kita makan siang bareng.


Aska:


Dea? Kok nggak diread sih?


Aska:


Dea? Aku bisa jelasin kejadian tadi pagi. Itu nggak seperti yang kamu pikirin.


Aska :


Dea


Dea


Dea


Dea

__ADS_1


...°°°...


maaf karena kemarin nggak up ya. ada acara keluarga soalnya.


__ADS_2