Dea Alaska

Dea Alaska
Bab 27 : Mas?


__ADS_3

"Kak, yang kemarin kan batal, jadi besok malam kamu harus datang ya. Titik. Mamah nggak mau alasan apapun"


"Iya mah. Kalau nggak ke proyek dadakan. Kakak usahain dateng"


"Ya jangan ke proyek lah kak. Malu mamah kalau kamu sampai nggak datang. Batal lagi nanti"


Menekan tombol speaker pada ponselnya, Aska mulai memasukan beberapa potongan daging ke dalam kotak bekal milik Dea.


"Lah. Kemarin kaka udah dateng eh ternyata dibatalin dari pihak temen mamah. Impas dong"


Minggu lalu Aska menuruti permintaan sang mamah untuk datang ke acara kencan buta. Satu jam ia menunggu di restoran tempat pertemuan, namun wanita yang digadang-gadang anak dari sahabat mamahnya itu tak kunjung datang. Bukankah itu berarti dari pihak wanita juga menolak kencan buta konyol itu?.


Jika saja, hubungan dirinya dengan Dea sudah membaik. Aska pasti akan membawa Dea ikut serta dengannya besok malam. Tapi nyatanya hubungan mereka masih berjalan ditempat, tak ada kemajuan bahkan nyaris merenggang karena akhir-akhir ini Dea benar-benar menghindarinya.


"Yang ini beda lagi kak. Sebenernya Kamu juga kenal kok. Mamah yakin kamu nggak bakal keberatan"


"Aska nggak janji bakal datang ya mah. Kakak usahain, tapi kalau ada kerjaan ya mau bagaimana lagi"


"Mau ngejomblo terus? Kata adek mu kamu punya gebetan, tapi gagal juga kan?"


Gagal? Rasanya kata itu belum pantas untuk Aska sekarang. Masih ada kotak bekal Dea padanya, maka ia masih punya kesempatan terakhir kalinya untuk mendekati gadis itu. Entahlah, Aska juga tak yakin jika dirinya mampu mendapatkan hati Dea, namun tak bicara dengan wanita itu lebih dari satu minggu membuat Aska tak baik-baik saja.


"Kaka ada urusan mah, nanti Aska telfon lagi ya mah. Bye"


Mematikan sambungan telfon, Aska langsung beralih mencari nomor Dea. Di telfon, tak mungkin diangkat. Maka dari itu Aska mengirimkan pesan pada Dea jika dirinya akan mengunjungi unit apartemen wanita itu. Menurut info dari Arin, seharusnya jam segini Dea sudah berada di rumah. Terlebih, tadi ia juga sempat mendengar suara pintu unit Dea yang tertutup.


Memastikan jika penampilannya cukup tampan, dengan kotak bekal makan serta dua gelas berisi kopi, Aska keluar dari unit apartemen nya dan mencekam bel unit Dea. Berharap jika wanita itu bersedia untuk membuka pintu apartemennya.


Namun, saat pintu unit itu terbuka. Bukan Dea yang Aska lihat, melainkan wanita berusia kisaran mamahnya yang menyumbulkan wajahnya dari balik pintu dengan ekspresi bingung.


"Siapa?"


Tubuh Aska refleks langsung berdiri tegap. Tanpa perlu bertanya balik pun, Aska tahu jika yang baru saja membukakan pintu dan bertanya kepadanya adalah sang calon ibu mertua. Dari cara berpakaian dan tata rambutnya Aska yakin tebakannya tak salah sekarang. Seperti ucapan Gema dulu jika Aska harus mencari tahu segala sesuatu mengenai Dea sebelum mendekatinya. Bukan hanya karir dan dimana wanita itu tinggal, Aska juga mencari tahu keluarga Dea. Setidaknya Aska sudah pernah melihat wajah mamah Dea dari akun instagram kakak laki-laki wanita itu.


Menganggukkan kepalanya sebagai ucapan salam, Aska menarik senyumnya "Saya Aska tante, penghuni unit depan"

__ADS_1


"Oh iya. Ada keperluan apa yah?"


"Dea nya ada tante?" kalian tahu? Rasanya Aska seperti kembali ke masa-masa remaja. Apel di rumah pacar dan meminta izin kepada ibu dari pacarnya.


"Dea nya belum pulang. Masuk dulu nak, anak tante bisa kena gosip kalau ada yang liat cowok berdiri depan unit apartemennya"


Menggaruk lehernya yang tidak gatal sama sekali, Aska melangkah masuk setelah dipersilahkan. Jika hanya ada Dea di rumah ini, Aska pasti akan langsung duduk di sofa. Tapi, kali ini Aska lebih memilih untuk tetap berdiri dan tidak duduk sebelum dipersilahkan. Jaga image di depan calon ibu mertua.


"Temannya Dea ya nak Aska? Kok Dea nggak pernah cerita punya temen non artis seganteng kamu"


Bukankah ini tanda bendera putih dikibarkan?.


"Kami baru jadi teman saat Dea pindah tan. Kebetulan saya juga baru pindah ke gedung ini. Jadi karena sama-sama penghuni baru, bisa langsung dekat"


Ajeng tersenyum lebar. Sejak berita mengenai pernikahan Ardigo, Ajeng takut jika Dea akan depresi dan patah hati berkepanjangan. Tapi, saat melihat keberadaan Aska, sepertinya rasa khawatirnya terlalu berlebihan. Putrinya cantik, pintar dan terkenal, jelas banyak pria tampan yang akan bersedia menjadi pengganti Ardigo.


"Lah kok berdiri aja. Duduk duduk, nak Aska mau minum apa?"


"Apa saja tante"


Tak perlu terlalu lama meninggalkan calon mantu sendirian, Ajeng kembali ke ruang tamu dengan dua cangkir jus jeruk dan sepiring berisi potongan apel.


***


"Uhuk uhuk" Dea tersedak saat tengah minum air. Sial nya jalanan sore hari ini cukup lumayan padat hingga mobil hanya bisa melaju lambat ditengah puluhan motor yang baru saja keluar dari gedung-gedung perkantoran. Tak ada rem mendadak, tak ada insiden ditabrak dari belakang, entah kenapa Dea bisa tersedak tiba-tiba. Seolah ada hal yang sejak tadi ia takutkan akan diucapkan oleh mamah kepada Aska di rumah sekarang.


"Nggak bisa ngebut apa Rin? Buruan. Habis anak orang di rumah ini!" desak Dea.


Arin yang sejak tadi diburu-buru agar melajukan mobilnya dengan cepat menggeram kesal. Sahabatnya ini entah kenapa berubah layaknya kebakaran jenggot.


"Lo kenapa sih?"


"Raden Ajeng Purwaningsih sudah sampai di apartemen"


"Ya terus?"

__ADS_1


Kali ini gantian Dea yang mengeram kesal. Bisa-bisanya dari banyaknya waktu yang ada, Aska mengembalikan kotak bekalnya di saat sang mamah sampai apartemen. "Aska mau ke unit gue"


"Oh ya ud.... WHAT????"


Tak perlu saling berbagi pikiran tentang apa yang akan menimpa Aska jika bertemu dengan mamah, Arin yang tahu sendiri bagaimana sifat mamah Ajeng langsung menancap gas begitu jalanan tampak sedikit senggang setelah berbelok ke arah kanan. Apartemen Dea tak terlalu jauh lagi, seharusnya dengan jarak segini mereka bisa sampai dengan cepat.


Tak menunggu Arin turun dari mobil, begitu mobil berhenti di depan gedung apartemennya, Dea langsung turun dan berlari kencang. Lift yang biasanya bergerak cepat kini bahkan terasa begitu lama. Keluar dari lift, Dea langsung berlari ke arah unitnya dan menekan password cepat. Jangan sampai mamah menginterogasi Aska layaknya kekasih Dea.


"Eh tuh anaknya pulang"


Pandangan Dea bukan tertuju ke arah mamahnya yang tengah berada di belakang meja pantry melainkan ke arah Aska yang tampak duduk santai di sofa. Tangan laki-laki itu bahkan sempat-sempatnya melambai ke arah Dea, yang mau tak mau ditengah-tengah nafasnya yang tersengal-sengal Dea balik melambaikan tangan.


"Kamu, ngapain di sini?"


"Loh kok manggilnya kamu. Panggil mas, nak Aska lebih tua dari kamu mbak" Ajeng berjalan melewati putrinya sambil membawa nampan berisi bakpia balong.


Mas?.


Samar-samar Dea melihat Aska tersenyum tipis dibalik kata terima kasihnya kepada mamah untuk bakpia balong nya.


"Karena anaknya udah pulang, tante tinggal istirahat di kamar dulu ya nak Aska. Ngobrol dulu aja sama Dea"


"Baik tante"


"Mbak, mau berdiri aja terus disitu?"


Dea menghela napas kasar. Dilihat dari sikap mamah yang bahkan malah menyuruhnya memanggil Aska dengan sebutan 'mas' pasti ada hal yang sudah terjadi sebelumnya.


Mencium tangan mamahnya, Dea mengambil posisi duduk berhadapan dengan Aska. Membiarkan sang mamah meninggalkan mereka berdua dan masuk ke dalam kamar.


"Kamu ngapain disini?" tanya Dea setelah yakin mamah menghilang dari balik pintu.


"Nggak mau pakai saran dari mamah kamu?"


"Maksudnya?"

__ADS_1


"Dipanggil mas juga nggak keberatan saya kok"


Sayangnya gue yang keberatan.


__ADS_2