
sudah lama ngga update. nulis bab ini harus buka bab sebelumnya lagi karena lupa nama panjang Dea sama nama mamahnya Dea. Hahahha. maaf karena upnya libur lama ya. selamat membaca.
...***...
Coklat asli, permen coklat, kue coklat, minuman rasa coklat atau apapun yang berbahan dasar coklat biasanya bisa membuat Dea sedikit merasa tenang, tapi nyatanya hal itu tak berlaku sekarang. Entah karena memang sudah tak lagi ampuh untuk menenangkan tubuhnya atau Dea yang terlalu gugup karena hari ini ada pemotretan pertama untuk sebuah produk setelah gosip yang menimpanya kemarin, Dea tak henti-hentinya meremas tangannya sendiri.
Bagaimana jika apa yang telah ia lewati selama ini akan kembali menimpanya? Ucapan mantan kekasih Aska masih terbayang cukup jelas di kepalanya sekarang.
Dea baru saja bergabung dengan agensi baru dan bisa langsung mendapatkan tawaran sebagai bintang iklan, ia takut akan membuat semuanya berantakan semuanya.
Sudah satu minggu pula ia menghindari Aska. Tak pernah mengangkat telfon laki-laki itu atau membalas pesan, jika tak sengaja bertemu pun, Dea akan bersikap normal seolah-olah hanya melihat orang asing yang melintas di sekitarnya. Meski baru bertemu sekali dengan Ana, Dea merasa jika ancaman wanita itu bukan main-main. Lebih tepatnya Dea harus lebih waspada sekarang untuk kelangsungan karir kedepannya.
"Lo kecewa karena projek yang lo dapat nggak sesuai ekpektasi lo? Bertahap, iklan dulu baru film"
Kepala Dea menoleh ke arah Arin yang baru saja menyelipkan secangkir es kopi di sela-sela tautan tangan Dea. Tak bisa tenang karena coklat, maka Dea biasa menggantinya dengan es kopi. Dingin, manis dan pahit disaat bersamaan. Seperti jalan hidupnya yang ditentukan oleh author.
"Gue gugup" bisik Dea. Tatapannya tertuju pada para staf yang terlihat mondar-mandir menyiapkan perlengkapan sebelum pemotretan dimulai.
"Kaya nggak pernah didepan kamera aja. Tenang. Gue susah payah yakinin agensi dan CEO Miracel buat make lo sebagai modelnya. Biasanya mereka nggak pake artis, tapi pake model kalau nggak istri CEO nya yang cantik betul kaya model"
Dea menganggukkan kepalanya. Miracel bukanlah perusahaan kosmetik kecil. Namun sangat besar dengan produk yang semuanya nyaris laris dipasaran. Dea bangga bisa menjadi model produk ini, karena itu ia merasa gugup karena takut perusahaan ini akan mendapatkan dampak buruk dari gosipnya kemarin.
Bagaimana kalau tidak selaris biasanya karena skandal Dea Aliska Rahayu?
"Mereka beneran mau pakai gue bukan karena lo yang maksa kan Rin?"
"Gue cuman ngeyakinin mereka doang. Dari awal emang mau pake lo, soalnya kebetulan yang punya kenal sama pak Aldo. Satu almamater kayanya"
Dea mengangguk lagi. Aba-aba sang fotografer bernama Bibil dengan perawakan laki-laki gemulai itu membuat semuanya siap di posisinya masing-masing. Dea berdiri dari tempat duduknya dan berjalan menuju spot foto. Wanita berperut besar yang berdiri disamping Bibil tampak tersenyum ramah pada dirinya. Itu dia, sang model yang kini berubah status menjadi istri CEO Miracle.
"Cin. Pose you yang bagus ya. Biar you atau eke bisa kerja sama terus. Soalnya si mamih lagi blendung perutnya" Tangan Bibil mencolek wanita yang baru Dea ketahui tadi bernama Anya.
Lagi, Dea menganggukkan kepalanya. Ia diberi kepercayaan oleh Miracle untuk menjadi modelnya, maka ia akan mengerahkan sebaik mungkin usaha yang ia miliki.
Pemotretan berakhir 3 jam kemudian. Tak ada masalah, semua gambar yang diambil tampak begitu bagus dan indah. Semuanya berjalan dengan begitu lancar. Dea bahkan bisa bernapas lega tepat saat dirinya masuk ke dalam mobil yang membawanya kembali ke apartemen. Bukan pertama kali menjadi bintang iklan, tapi entah kenapa rasanya ini baru pertama kalinya hingga membuat Dea segugup ini. Arin yang kini tengah menyetir bahkan tak kuasa menahan tawanya melihat ekspresi penuh kelegaan Dea sekarang.
Dea merogoh ponselnya yang berbunyi dari dalam tas. Nama Aska terpampang disana. Tak ada niatan untuk menjawab atau mematikan panggilan, Dea membiarkannya begitu saja hingga nada dering telfon beriringan dengan lagu yang diputar di radio.
"Lo lagi berantem sama tetangga lo itu?"
"Sebagai artis yang baik, gue nurut sama ibu manager yang ngelarang gue buat berhubungan sama laki-laki manapun terlebih dahulu"
__ADS_1
"Sayangnya gue nggak percaya lo langsung nurut hanya karena sekali gue suruh"
"Terserah" begitu nada dering tak terdengar kembali, Dea menyandarkan punggungnya di sandaran kursi. Mungkin karena sudah tak mendapat tawaran kerja apapun selama beberapa bulan. Hanya dengan satu pemotretan, tubuhnya terasa begitu lelah sekarang.
"Tadi, waktu lo lagi foto. Dia juga telfon"
"Hmm" Dea memejamkan matanya. Mencoba untuk tidur agar Arin diam dan tak melanjutkan obrolan mengenai Aska.
"Gue angkat"
Tepat saat dua kata itu menggetarkan gebdang telinganya lalu disalurkan ke otak untuk dicerna maksudnya, kedua mata Dea melotot seketika. Tubuhnya langsung duduk tegak menghadap ke arah Arin yang sesekali melirik ke arahnya dengan tatapan bingung dan kaget.
"Nggagetin banget sih!!"
"Lo ngapain tadi?"
"Apanya?"
"Waktu Aska telfon gue"
"Gua angkat"
Dea menghela napasnya kesal. Perihal masalah Ana, ia belum sempat menceritakannya kepada Arin "Terus dia ngomong apa?"
"Akhh.. Ngapain lo angkat sih. Gue itu lagi ngindarin dia. Habis karir gue kalau kaya gini terus!!"
Ting.
Notifikasi pesan masuk. Tak memperdulikan Arin yang kini malah balik bertanya kenapa karir dan Aska saling berhubungan. Dea mengambil ponselnya kembali. Bukan pesan dari Aska, melainkan pesan dari mamah yang berkata sudah sampai di unit apartemennya. Semalam mamah Ajeng memang berkata akan terbang ke Jakarta dan meminta alamat lengkap unit baru Dea.
"Cuman angkat telfon Aska doang kenapa karir lo bisa ancur. Lo jangan ngada-ngada ya. Jangan buat gue deg-degan" Arin bertanya setelah menepikan mobil dipinggir jalan. Susah payah mereka merangkak kembali ke titik ini, jangan sampai harus jatuh kedua kalinya.
"Mantan Aska nemuin gue minggu lalu" ucap Dea akhirnya.
"Mantannya?"
"Iya. Dan dia tahu plus punya foto waktu Aska masuk ke unit gue"
"Yak!!!!" pekik Arin.
"Makanya gue ngindarin Aska dari kemarin!!!"
__ADS_1
"Lo punya nomornya? Gue harus pastiin dia punya foto kalian beneran apa nggak. Gila sih emang lo"
Ting.
Raden Ajeng Purwaningsih.
Mbak, belanja sayuran dimana? Kulkas udah macam rumah kosong. Sepi banget!!
Mengabaikan pesan sang mamah. Dea kembali menatap ke arah Arin "Gue nggak punya nomornya. Gue bahkan nggak sempet minta dia buat nunjukin fotonya saking keselnya sama dia. Buka kaki demi karir? EMANG GUE RIA!!!!"
Ting.
Raden Ajeng Purwaningsih.
Mbak. Ada motor yang bisa dipinjem nggak? Mamah mau ke supermarket sebentar beli sayuran. Daripada ke pasar.
"Habis riwayat kita kalau itu foto kesebar Dea!! Mana baru kontrak sama Alaska"
"YA MAKANNYA JANGAN DIANGKAT KALAU ASKA TELFON GUE!!"
"YA MANA GUE TAHU KALAU LO AJA BARU CERITA WAKIJAH!!!"
Ting.
Raden Ajeng Purwaningsih.
Mbak, kok di waca tok?"
Ting.
Raden Ajeng Purwaningsih.
Mbak?
Menghela napas. Dea memilih untuk membalas pesan dari mamahnya terlebih dahulu. Jika tak kunjung dijawab, sudah dipastikan sang doro ratu akan mengamuk saat Dea pulang nanti.
Baru saja hendak mengetik pesan balasan, satu notif pesan kembali masuk ke ponselnya. Nama yang tertera membuat jari-jari tangan Dea berhenti seketika.
Aska.
Aku nggak tahu apa yang buat kamu marah dan menghindar. Tapi, kotak bekal kamu masih di aku. Ini sudah aku isi dengan sushi. Jangan lupa dimakan ya. Aku ke unit kamu sekarang. Semoga kamu udah ada di rumah.
__ADS_1
Refleks, Dea langsung memukul lengan Arin berulang kali "CEPETAN JALAN. HIDUP GUE JUGA BISA HABIS KALAU KAYA GINI!!!"