Dea Alaska

Dea Alaska
Bab 29 : Akting Mamah Ajeng


__ADS_3

"Kamu ada jadwal syuting hari ini mbak?"


Menyomot ayam goreng dari atas piring, Dea mengambil poisi duduk dimeja makan menghadap ke arah sang mamah yang tengah masak. Pagi ini Dea tak punya jadwal apapun, hanya saja ia harus mengunjungi kantor setelah semalam Arin memberi info jika pak Gema akan datang ke kantor setelah masa cuti panjangnya. Percayalah, meski sudah bergabung dengan agensi Alaska lebih dari 1 bulan, baru kali ini Dea akan bertemu langsung dengan sang CEO.


"Mamah masak banyak, kasih juga ke Aska ya mbak"


Dea tak menyahut, lebih tepatnya enggan untuk bertemu dengan laki-laki itu setelah pembicaraan mereka semalam. Oh tidak, lebih tepatnya lagi setelah dirinya mengusir Aska tadi malam.


"Masukin ayam gorengnya juga ke box mbak. Jangan makan terus"


"Hubungan Dea nggak sedekat itu sama Aska mah, jadi nggak perlu sok akrab dengan berbagi makanan. Ini Jakarta bukan Solo mah"


Suara pisau yang beradu dengan talenan menggema seketika. Dea yang sebelumnya hendak kembali ke kamar, terpaksa mendaratkan kembali pantatnya di kursi meja makan lalu memasukan beberapa potong ayam goreng ke dalam box yang sudah disiapkan. Meski terkenal anggun dan lemah lembut dimata orang lain, namanya ibu akan tetap terlihat mengerikan jika marah di mata anak-anaknya.


"Kamu mau keluar hari ini? Rapih banget"


Sambil menutup box makanan yang sudah diisi dengan 3 potong ayam goreng, Dea menganggukkan kepalanya. Ia dan Arin janji akan pergi ke agensi jam 8 pagi, tapi sudah nyaris jam 8 lebih 5 menit, batang hidung wanita itu belum juga terlihat.


"Mau ke agensi sebentar. Ini tinggal nunggu Arin aja"


Ajeng kini yang tampak mengangguk ngerti. Setidaknya selama dirinya berada di Jakarta sekarang, ia akan sering melihat putrinya ketimbang dulu saat Dea belun tersandung gosip apapun.


"Ngomong-ngomong, mamah ngapain ke Jakarta?"


Mata Ajeng yang sebelumnya tampak biasa saja kini spontan mendelik mendengarnya. Anak-anak zaman sekarang memang selalu membutuhkan alasan akan semua yang dilakukan. Dan Ajeng paling tak suka hal itu. Kenapa juga harus menanyakan apa alasan orang tua mengunjungi anaknya sendiri?.


Melihat raut wajah mamahnya yang tak bersahabat. Dea langsung tersenyum dan bergerak mendekat ke arah mamah, bergelayut manja ditangan ibu tiga anak itu.


"Dea tahu mamah nggak suka sama pertanyaan itu, tapi kalau mamah dateng cuman karena khawatir, Dea baik-baik aja sekarang. Malah harusnya Janu yang mamah cek, alih-alih kuliah yang bener malah ngeband terus sama teman-temannya"


"Setidaknya Janu laki-laki dan nilai dia nggak turun. Mamah udah tenang. Tapi kamu?"


Dea memanyunkan bibirnya. Menjadi anak perempuan satu-satunya benar-benar amat menyusahkan "Dea baik, mamah bisa lihat sendiri"

__ADS_1


"Mamah tahu kamu baik-baik aja. Kalau nggak baik mana mungkin ada nak Aska yang main ke sini semalam"


Dea kembali ke meja makan sambil memutar bola matanya jengah. Jangan sampai ajang interview mengenai Aska seperti semalam terulang kembali. Semalaman penuh sang mamah tak henti-hentinya bertanya mengenai Aska, seperti apa hubungan kalian, Aska kerja dimana, asal mana bahkan hingga Aska sudah punya pacar atau tidak.


Lagi pula, mau dia punya atau tidak, siapa juga yang peduli?.


"Aska itu anak baik-baik mbak. Mamah bisa lihat itu. Nggak kaya Ardigo yang memang dari awal mamah udah nggak setuju sama hubungan kalian"


Dea menopang kepalanya dengan satu tangan "Kayanya dulu ada yang ngajarin aku nggak boleh banding-bandingin orang kayanya"


"Ya terserah kamu lah mbak. Udah sana dianterin box nya, keburu nak Aska berangkat kerja. Kayanya calon menantu mamah itu pekerja keras"


"Mamah!!" kesal Dea.


Dengan hentakan kakinya yang penuh kekesalan. Dea berjalan keluar unit sambil menenteng paper bag berisi kotak bekal. Jika seperti ini terus, Aska akan memiliki alasan untuk menemuinya lagi.


Ia hanya akan memberikan bekal makan ini tanpa ada basa-basi sama sekali. Jika bukan Aska yang mau menjauh, maka dirinya yang akan membuat jarak dengan laki-laki itu.


Hanya dalam satu kali memencet bel, pintu unit Aska terbuka. Menampilkan sosok laki-laki itu yang kini sudah rapih dengan stelan kantor.


Sexy.


"Udah mau berangkat?"


****. Bukankah nggak ada basa-basi, kenapa juga harus tanya hal itu?.


"Iya. Kamu juga ada jadwal syuting?"


Aneh jika tak dijawab, sudah terlanjur yang pertama kali mengajukan pertanyaan, Dea menggelengkan kepalanya.


"Nggak. Cuman mau ke agensi. Agensi TEMAN KAMU"


Tindak. bukan ini ekspresi yang seharusnya Aska tunjukan kepadanya. Alih-alih memasang wajah tampak bersalah, Aska malah tersenyum super tampan yang membuat jiwa bingal Dea meronta-ronta. Ini orang nggak paham kalau gue sebenernya kesel tapi kangen juga?.

__ADS_1


"Kenapa senyum begitu?"


Aska menggelengkan kepalanya. Nampak gemas dengan wanita yang ada di depannya ini "Nggak. Aku kira kamu nggak mau lagi ngobrol sama aku depan unit kaya gini" Aska mendekat lalu berbisik "Katanya takut ada yang ngeliat kita"


Mundur satu langkah, sebisa mungkin Dea memasang ekspresi tak suka "Jangan deket-deket, aku cuman mau ngasih ini dari mamah"


Box makan berpindah dari tangan Dea ke tangan Aska.


"Makasih, bisa jadi alasan buat kita ngobrol lagi"


"Gantung aja di pintu kalau mau ngembaliin dan—"


"Mbak"


Panggilan dari arah belakang membuat Dea menoleh seketika. Dea hampir saja jantungan karena takut jika ada yang melihat mereka, namun saat menemukan Raden Ajeng Purwaningsih menyembulkan wajahnya dari balik pintu unit, Dea bisa bernapas sedikit lega.


"Arin telfon, katanya nggak bisa jemput kamu karena macet banget. Jadi ketemuan di agensi aja. Dan— halo mas Aska"


Sapaan itu membuat helaan napas Dea yang lega kini berubah menjadi kesal. Sang mamah sudah berada di taraf tergila-gila dengan Aska.


"Halo tante. Terima kasih untuk makanannya tante"


Dan Aska yang sadar akan hal itu memanfaatkannya dengan baik.


"Semoga suka ya mas. Mas Aska mau berangkat ya?" tak lagi hanya menyembulkan wajahnya dari balik pintu. Ajeng sudah sepenuhnya berdiri di depan pintu.


Panggilan dari 'nak Aska' kini sudah berubah jadi 'mas Aska' biar lebih akrab.


"Iya tan. Ini mau berangkat. Bekalnya saya bawa ke kantor ya tan. Nanti Aska beliin sesuatu buat tante sebagai rasa terima kasih"


"Nggak usah repot-repot. Gini aja, Arin kan nggak bisa jemput, kalau tante minta tolong anterin Dea ke agensi—"


"Mamah!!" pekik Dea. Dia bisa naik taxi untuk sampai ke agensi, tak perlu sampai diantar oleh Aska.

__ADS_1


"Kamu telat ke kantornya nggak nanti. Karena scandal yang kemarin, tante takut kalau Dea kemana-mana sendiri"


Bisakah mamahnya diberikan trofi sekarang sebagai aktris yang berbakat dalam akting? Dea bahkan takjub dengan akting mamahnya sekarang.


__ADS_2