Dea Alaska

Dea Alaska
Bab 36 : Rencana Aska Di Luar Nalar


__ADS_3

Dibalik meja kerjanya dengan pemandangan kota Jakarta, Aska duduk di sana sambil mengetukkan jarinya menatap layar ponsel yang kini tengah menampilkan pesan dari mamah. Masih ada waktu 30 menit lagi sebelum rapat, Aska memutuskan untuk menghubungi wanita yang menjadi bahan obrolan dia dengan mamahnya.


Seperti yang mamah Mega katakan jika dia akan membantu Aska dalam misi pendekatan dengan Dea, Aska mendapat info dari mamahnya jika nanti malam Dea akan ada kencan buta. Mamahnya itu memang juara jika mencari info seperti ini.


Panggilan pertama belum ada jawaban dari sebrang sana, Aska kembali menelfon sang pemilik nomor yang sama.


Membiarkan Dea kencan buta dengan pria lain? Tentu saja Aska tak akan melakukannya. Begitu sang mamah memberi info, Aska bahkan langsung mendapat biodata laki-laki itu dalam hitungan kurang dari 1 jam.


Pengacara kondang dengan persentase kemenangan kasus yang cukup tinggi. Beberapa perusahan teman kuliah Aska bahkan pernah menggunakan jasa laki-laki ini.


Tak juga kunjung mendapat jawaban, Aska kini beralih mengirim pesan pada Dea. Wanita itu mungkin tengah berada di lokasi syuting atau jika tidak di lokasi pemotretan.


Aska:


Mau makan malam bareng De? Saya yang traktir sebagai permintaan maaf.


Cukup lama Aska tak mendapat balasan dari Dea, bahkan hingga sekretarisnya datang dan mengabarkan jika client sudah datang dan rapat akan dimulai.


Dan ajaibnya, sampai rapat selesai pun Dea masih tak kunjung menjawab pesannya. Dari kolom chat, Aska kembali menelfon Dea kembali hingga tiga kali. Masalah pura-pura mabuk kemarin sepertinya membuat Dea begitu marah padanya.


Aska :


Alih-alih kencan buta hanya untuk dikenalin ke acara tunangan sepupu kamu. Gimana kalau ajak aku aja?.


Aska menekan tombol send hingga pesan itu terkirim ke Dea. Jika ingin sesuatu yang dianggap berharga bagi orang lain maka dapatkan dengan cara yang benar dan perlahan pendekatan. Benar Aska setuju dengan kalimat itu. Tapi, jika wanitanya seperti Dea, Aska tak bisa lagi melakukan pendekatan perlahan. Mari to the point saja semuanya.


Aska melirik ke arah jam yang melingkar di tangannya. Info dari mamah, Dea akan bertemu dengan laki-laki itu pukul 16.00. Sebelum jam kerja berakhir. Dan sekarang jam sudah menunjukkan pukul 16.10.


Saat satu notifikasi pesan masuk ke ponselnya, Aska buru-buru membukanya terlebih pengirimnya adalah Dea. Senyuman Aska mengembang hingga gigi putih terawatnya terlihat semua. Tak ingin mengulur waktu, Aska menyambar jas dan kunci mobilnya kemudian langsung berjalan keluar dari ruangan. Dea mengirim alamat lengkap restoran kencan buta nya malam ini. Bukankah ini sebagai kode permintaan tolong juga?.


***


Dea mengetukkan jarinya di meja. Bukan hanya menunggu kencan bu tanya yang bernama Abriel itu, Dea malah lebih menunggu kedatangan Aska yang Dea harapkan laki-laki itu bisa datang lebih cepat dari pada Abri.


Menyesap sedikit minumannya. Padangan Dea kembali ke arah ponsel miliknya. Pesannya sudah dibaca oleh Aska namun laki-laki itu tak kunjung menjawabnya. Jika diminta untuk memilih antara Aska atau Abriel untuk datang bersama ke pesta Mela, Dea jelas lebih memilih Aska.

__ADS_1


Bukankah Aska sudah pernah mengajaknya berkencan sebelumnya? Itu sudah menjadi bukti jika laki-laki itu memang tertarik kepadanya. Meski sekarang, Dea sedikit meragukannya karena belum juga ada tanda-tanda Aska menjawab pesannya.


Suara pintu yang digeser membuat Dea menoleh ke belakang. Mamah Ajeng memesan ruang VIP di restoran ini. Alasannya jelas untuk menjaga privasi putrinya.


Laki-laki berjas hitam dengan lencana kecil di dada. Rambut rapih dengan sentuhan gel serta jam tangan dan tas yang memiliki merek cukup terkenal, mengambil posisi duduk di depan Dea dengan senyuman ramahnya.


Dea yang kala itu masih menggunakan topi melepaskannya sambil balas senyum. Bukan senyum karena merasa terpesona atau bahagia, namun tersenyum demi menjaga imagenya sebagai selebritis. Ya, meski karirnya tengah terjun bebas sekarang.


"Abri"


Lima detik tangan Abri yang terulur hanya dipandangi oleh Dea. Ucapan Arin yang sudah mengingatkannya untuk menjaga sikap membuat Dea menjabat uluran tangan Abri.


"Dea"


"Maaf karena menunggu lama. Ada sidang tadi"


Dea menganggukkan kepala. Hatinya mulai was-was karena Aska masih juga tak kunjung menjawab pesannya. Apa Aska sudah menyerah sekarang? Bukankah mamah Ajeng sudah memberikan lampu kuning untuk laki-laki itu?.


"Akhir-akhir ini pekerjaan saya sedang padat. Tapi saya berusaha untuk mengurangi jadwal padat hari ini untuk ketemu sama kamu."


Jika yang dihadapinya bukan anak dari teman mamahnya, mungkin alis Dea sudah menukik sekarang.


Tawa pelan Abri membuat dahi Dea berkerut dalam, alisnya menukik tajam menandakan jika Dea geli sendiri mendengar ucapan Abri barusan.


Laki-laki itu sedang memuji dirinya sendiri di depan orang lain?.


"Pria seperti anda? Seperti apa?"


"Seseorang yang mungkin akan setia"


Dea menganggukkan kepalanya sambil tersenyum.


"Bagaimana dengan pekerjaan kamu hari ini?" tanya Abri.


Dalam hati rasanya Dea ingin berteriak saja. Namun, mengingat apa pekerjaan Abri yang memungkin laki-laki itu tak bisa menonton gosip di tv, Dea menahannya sambil menyesap kembali minuman.

__ADS_1


"Seperti biasa. Meniti karir dari awal sangat susah"


"Ayo kita menikah dan kamu tidak perlu bekerja. Itu yang diharapkan kedua orang gua kita"


Ucapan Abri tadi sontak membuat Dea terbatuk seketika. Mamahnya memang selalu sukses memberikan kejutan pada Dea.


Dengan senyuman dan sikap tenang nya, Abri membukakan botol air mineral lalu memberikannya kepada Dea. Dari sikapnya seolah laki-laki itu bisa menebak hal ini sebelumnya.


Baik Dea ataupun Abri, keduanya sama-sama menoleh saat suara decitan pintu yang di buka. Dea nampak lega sedangkan Abri mengerutkan dahinya.


"Maaf saya terlambat" sapa Aska.


"Siapa?" tanya Abri dengan nada suara yang sedikit terdengar sinis.


"Kekasih ku" bukan Aska yang menjawab, melainkan Dea yang kini langsung berdiri dengan tangan yang melingkari lengan Aska.


Dari tatapan bingung, kini raut wajah Abri kembali tampak tenang, laki-laki itu bahkan tersenyum lalu kembali duduk di kursinya. Wajah seolah sudah bisa menebak semuanya kembali muncul yang membuat Dea sedikit waspada.


"Kekasih?"


Dea menganggukkan kepalanya. Abri kembali tertawa pelan. Sudut bibirnya terangkat satu yang menandakan jika laki-laki itu tak percaya dengan apa yang dilihat sekarang.


"Kenapa?"


"Tidak apa-apa. Hanya saja De. Saya rasa menyewa seseorang untuk jadi pacar di kencan buta dengan orang lain itu hal yang sudah pasaran"


"Sikap tidak percaya dengan orang lain saat kencan buta juga bukan sesuatu yang baik untuk dilakukan" jawab Dea. Cukup gemas karena Aska malah diam saja sambil menikmati suasana sekarang. Dea pikir Aska akan melakukan sesuatu untuk membungkam Abri, menjawabi segala ucapan Abri hingga laki-laki itu kalas telak. Tapi yang ada Aska hanya diam tanpa melakukan hal apapun.


"Segala sesuatu butuh bukti De"


Dea terdiam sekarang. Jelas sosok seperti Abri yang bekerja di bidang hukum tak akan langsung percaya jika tak ada bukti. Dan sialnya, Dea bahkan tak pernah dan tak memiliki foto berdua dengan Aska di ponselnya.


"Dea" panggil Aska pelan.


Mereka belum kalah, Dea masih bisa lepas dari Abri, Aska pasti memiliki cara agar laki-laki itu bisa percaya.

__ADS_1


Panggilan lembut itu membuat Dea menoleh. Untuk sesaat tubuh Dea membeku, matanya membulat sempurna dengan detak jantung yang begitu cepat. Dea lupa, sejak awal dirinya sudah memberikan julukan pada Aska sebagai laki-laki gila. Dan kini benar-benar terbukti segila dan senekat apa Aska sebenarnya.


Aska menciumnya. Meski hanya menempel sebentar namun mampu membuat dunia Dea terasa di jungkir balikkan seketika. Terlebih saat Aska menjauh sambil memberikan senyuman yang tak mampu dijelaskan oleh otak Dea sekarang.


__ADS_2