
Entah sudah berapa banyak Dea menggerutu kesal melihat Arin yang tertawa terbahak-bahak mendengar ceritanya barusan. Dea menceritakan semuanya, kecuali kejadian tadi pagi yang nyatanya masih membuat Dea berbunga-bunga setiap kali mengingatkan. Biarkan saja Arin menertawakan hal yang menurutnya lucu, sedangkan kabar bahagia tadi pagi enggan Dea ceritakan karena tahu Arin malah akan menggodanya habis-habisan selagi menunggu jadwal pemotretan berikutnya.
"Jadi 2 jam kalian di sidang sama nyokap lo?" tanya Arin dengan kekehan terdengar semakin menjengkelkan di telinga Dea.
Tangan Dea terlipat di depan dada, ingin sekali ia menyumpal mulut Arin sekarang tapi takut jika ada yang melihat mereka dan malah menganggap dirinya kasar dengan managernya sendiri. Kehidupan artis tak jauh dari gosip.
"Dan ternyata sebenarnya Aska nggak mabuk?"
Dea mengangguk, ia membuka satu pesan dari sang mamah yang masuk ke ponsel. Isinya? Jelas alamat tempat kencan buta lengkap dengan ciri-ciri laki-laki yang akan menjadi teman kencan butanya.
Tampan, rapih dan cukup menarik. Tapi entah kenapa Dea tak merasa tertarik sedikitpun dengan laki-laki yang ada di foto. Menurut Dea, Aska bahkan jauh lebih tampan dari pada laki-laki itu. Meski terkadang menyebalkan, tapi keberadaan Aska dimasa-masa sulitnya kemarin benar-benar membantu Dea untuk tetap bertahan di industri ini. Ngomong-ngomong mengenai Aska, Dea penasaran apa yang akan dilakukan laki-laki itu guna meluluhkan hati mamah Ajeng.
"Terus, nanti malam lo ada kencan buta?"
Pertanyaan Arin membuat Dea kembali menghela napasnya. Hal lain yang Dea takutkan jika bertemu dengan laki-laki di luar rumah adalah jika tercium oleh media. Meski agensi tak melarang jika aktrisnya berkencan, hanya saja Dea sadar diri setelah gosip yang menimpanya kemarin. Dia akan terlihat tak jauh beda dengan Ardigo jika seperti ini.
"Dimana?" tanya Arin lagi.
"RnQ restoran. Tapi Ar, kemarin di surat kontrak beneran nggak ada larangan kencan buat gue kan?"
"Nggak ada. Tapi lo harus cukup sadar diri dengan apa yang menimpa lo kemarin"
__ADS_1
Dea menghela napas kesalnya.
"Mbak De. Kita lanjut lagi ya" teriakan Berto membuat pembicaraan mereka berakhir.
***
Sudah dibilang kan, jika Mega tak akan menyerah begitu saja. Maka disinilah dia sekarang. Berdiri di depan unit Dea sambil menenteng dua bekal makan yang dilapisi dengan kain. Tersenyum cerah demi mendapatkan menantu spek dewi seperti Dea, Mega menekan bel satu kali dan dengan setia menunggu pintu unit di buka.
Tak perlu waktu lama, pintu unit Dea terbuka dengan Ajeng yang berdiri di depan pintu.
"Boleh saya masuk mbak?" tanya Mega ramah.
"Silahkan"
"Saya buat ayam bakar khas keluarga mbak. Semoga cocok ya mbak" ucap Mega sambil sesekali melirik ke arah sofa guna mengkode Ajeng karena tak juga kunjung dipersilahkan untuk duduk.
Ajeng yang sadar hal itu tersenyum "Silahkan duduk. Mau minum apa mbak?"
"Apa aja boleh mbak" jawab Mega senang lalu langsung berjalan menuju sofa. Mega hanya ingin dekat Ajeng, setidaknya itu akan sedikit membantu Aska untuk mendapat restu mamah Dea.
Tadi pagi, saat Mega hendak keluar untuk memberikan garam, dia mengurungkan niatnya saat mendengar percakapan Ajeng dan putranya. Ada sedikit rasa senang saat mendengar Aska meminta maaf dengan tulus, dan amat senang saat Ajeng menerimanya bahkan mengizinkan Aska untuk menunjukan usahanya dalam mendapatkan Dea.
__ADS_1
"Silahkan diminum mbak"
Mega mengangguk, ia meyesap sedikit teh hangat yang disajikan dengan pisang goreng. "Jangan panggil saya pakai 'mbak' mbak, panggil saja nama saya, biar lebih akrab"
"Lebih tua saya ya?"
"Iya mbak. Kita beda 5 tahun" jawab Mega lengkap dengan cengirannya. Sungguh usahanya untuk mendapat besan benar-benar luar biasa.
Untuk sesaat keduanya sama-sama diam. Meski memiliki semangat 45 untuk mendapat besan, nyatanya Mega tetap merasa gugup hingga ada jeda sunyi diantara keduanya cukup lama.
"Mbak. Ah, namanya Mega ya?"
Mega mengangguk "Iya mbak. Saya Mega mamah kandung Aska. Maaf untuk kejadian kemarin ya mbak. Saya juga nggak ngira putra saya punya rencana super salah kaya gitu buat deketin Dea" ucap Mega akhirnya. Kedatangan dirinya ke sini memang ingin mengucapkan permintaan maafnya.
"Aska sudah minta maaf langsung sama saya tadi pagi. Saya harap hal itu nggak lagi terulang ya Mega, karena mau bagaimanapun Dea adalah putri saya satu-satunya."
Mega menganggukkan kepalanya "Saya pastikan itu nggak akan terjadi lagi mbak."
"Semoga ya Mega. Saya juga sudah dengar kalau Aska yang ada disisi Dea saat ada masalah kemarin. Terima kasih untuk itu" ucap Ajeng, ia menyesap teh hangat miliknya.
Mata Mega berbinar seketika "Jadi, kita bisa jadi besan nih mbak?"
__ADS_1
Ajeng yang tengah minum tersedak seketika. Kesan pertamanya dengan Mega benar-benar tak salah.