
Entah sudah berapa lama Dea hanya duduk sambil mendengar sederet ocehan mamahnya setelah Aska dan tante Mega pulang. Kurang lebih yang dibahas adalah kekhawatiran mamahnya akan pergaulan di Jakarta. Mulai dari ketakutan jika Dea berakhir seperti Ria Salsabila yang hamil diluar nikah, hingga berita para artis yang terjerat narkoba. Ditambah lagi, Mamah melihat Aska berada di unitnya semalam ini.
"Apa dia nggak menghargai mamah? Jadi besan? Bercanda kali!!" oleh Ajeng lagi.
Itu adalah hal lain yang menjadi topik ocehan Ajeng malam ini.
"Pantes mamahnya aja begitu, apalagi anaknya"
Dea memutar bola matanya jengah. Tipe menantu dan besan mamah Ajeng adalah keturunan keraton dengan tata krama tinggi dan penuh dengan keanggunan. Bukan berarti Mega tak memiliki tata krama yang baik di mata Ajeng. Hanya saja melihat bagaimana respon Mega yanga hanya melempar bantal saat mendengar putranya minum alkohol membuat Ajeng dibuat gregetan. Jika Aska putranya, percayalah ia pasti sudah menyeret putranya ke kamar mandi dan langsung menyiramnya dengan air.
"Kamu lihat tadi kan mbak? Kalau mas kamu yang minum alkohol, mamah kayanya bakal langsung nyiram kakak Kamu. Alih-alih minta maaf dulu sama mamah karena anaknya ada di unit kamu malam-malam begini, dia malah ngajak jadi besan?!! Dia toh gimana?!"
"Tapi Aska nggak minum kan mah"
"Kata siapa? Bisa aja dia bohong kan? Dilihat dari cara dia deketin kamu dengan pura-pura mabuk, itu berarti dia memang sudah pernah minum sebelumnya"
"Ini Jakarta mah"
"Karena ini Jakarta, makanya mamah pengin kamu pulang ke rumah saja. Kerja di perusahaan keluarga. Mamah yakin pergaulan kamu nggak akan aneh-aneh"
Dea menghela napasnya. Berdiri, lalu bergelayut manja di lengan mamahnya "Aduh, ndoro ratu Ajeng Purwaningsih, mamah ku yang paling cantik. Aska ngelakuin itu karena Dea lagi marah sama Aska dan ngehindarin dia. Jadi jangan marah-marah ya. Aska laki-laki yang baik"
"Tunggu, Kamu toh suka sama nak Aska mbak?"
Dea membeku sesaat, sebelum akhirnya menggelengkan kepalanya guna merubah raut wajah menyeramkan mamahnya sekarang.
"Bagus. Mamah nggak bakal setuju. Dan—"
Plak. Dea meringis saat satu pukulan maut mamahnya mendarat di punggung.
"Aw. Sakit mah" rengek Dea. Sungguh, pukulan mamah benar-benar sangat mematikan.
"Habis kamu ditangan mamah kalau masukin laki-laki ke unit kamu!!"
Dea menarik senyumnya. Ini bukan pertama kalinya Aska masuk ke dalam unitnya. Dea jelas tak akan mengatakan hal itu pada mamahnya sekarang.
"Ngomong-ngomong, mamah kenapa ke Jakarta?" tanya Dea, berusaha untuk mengalihkan pembicaraan.
Ajeng yang tengah mengeluarkan beberapa kotak makanan yang ia bawa dari rumah, menyingkirkan lengan Dea yang masih melingkar ditangannya. Lalu memasukan beberapa lauk matang ke dalam kulkas. "Mamah mau kasih dua pilihan ke kamu"
__ADS_1
Dea mengerutkan dahinya curiga, agak sedikit khawatir jika mamah merencanakan hal-hal yang dulu sering kali dilakukan mamahnya.
"Pilih ketemu di rumah atau di Jakarta"
"Maksudnya?" mata Dea semakin memincing curiga. Bukan hanya kali pertama mamah memberikan pilihan aneh seperti itu, Dea yakin pasti ada hal berbau perjodohan yang tengah mamahnya siapkan.
"Pilihan aja yang mana"
"Mamah nggak ngelanggar perjanjian kita kan? Nggak lagi niat jodohin Dea sama anak temen mamah kan?"
Ajeng menghela napasnya. "Setelah putus dari Ardigo kamu juga belum punya pacar kan mbak? Emangnya kamu mau single mulu?! Nikah dan lepasin karir kamu itu"
Kali ini Dea yang menghela napasnya kesal. Bukan pertama kalinya mamah menjodohkannya pada anak dari teman-temannya itu. Dulu, Dea bahkan sampai membuat perjanjian jika dirinya hanya ingin menikah dengan pilihannya sendiri dan mamah menyetujui hal itu dengan syarat jika Dea harus punya kekasih setelah lulus kuliah dan melakukan hubungan serius hingga pernikahan. Dea punya Ardigo saat itu, meski sialnya laki-laki itu malah berselingkuh dengan sahabatnya sendiri.
"Mamah udah janji sama Dea"
"Dan perjanjian itu batal karena kamu salah pilih laki-laki kaya Ardigo, ingat itu"
"Mamah!!"
Darah tinggi Ajeng naik seketika mendengar pekikan putrinya. Helaan napas disertasi pijatan di leher berubah menjadi pukulan keras yang mendarat tepat di punggung Dea. Rasanya Ajeng salah mengizinkan Dea untuk keluar dari rumah. Jika tahu putrinya akan menjadi wanita dengan karakter seperti ini, Ajeng tak akan pernah membiarkan Dea keluar dari pengawasannya.
"Pokoknya Dea nggak mau dateng. Titik"
"Kalau nggak mau dateng, pastikan kamu bawa gandengan saat acara nikahan neng Rita"
Ah, Dea lupa jika sepupu jauhnya akan menikah minggu depan. Itu yang pasti menjadi alasan kenapa mamah mau datang jauh-jauh ke Jakarta. Jelas guna memastikan putri satu-satunya ini sudah punya pasangan untuk dibawa ke acara keluarga nanti.
"Jadi, mamah dateng karena acara nikahan Rita? Mamah nyiapin kencan buta juga karena dia?"
Ajeng tak menjawab. Ia menyuapi Dea dengan anggur untuk menahan putrinya bicara. Sebenarnya masalah pernikahan bukanlah sesuatu yang akan Ajeng desak agar cepat menikah pada anak-anaknya. Hanya saja kejadian pernikahan Ardigo yang jelas tersebar kemana-mana membuat para iparnya mengasihani Dea yang membuat Ajeng merasa muak. Bukan mengasihani, lebih tepatnya bicara yang tidak-tidak mengenai putrinya. Bahkan Ajeng pernah mendengar gosip yang mengatakan Ardigo meninggalkan Dea karena Dea tak lagi perawan.
"Oh jadi bener nih karena mbak Rita. Oke, kalau gitu. Hanya tinggal bawa cowok ke acara keluarga kan? Gampang. Aska nganggur mah"
Ajeng langsung menggelengkan kepalanya. Kesan pertama Ajeng pada Aska benar-benar tak baik, terlebih pada mamah laki-laki itu. "Habis sama mamah kalau kamu datang sama dia. Ketemu saja sama temen anak mamah! Dan datang sama dia!!"
***
Bukan Mega namanya jika ia langsung menyerah begitu saja setelah mendapat penolakan dari ibu Dea. Dengan sekantong belanjaan yang baru ia beli di supermarket pagi-pagi buta, Mega tersenyum lebar saat tak sengaja bertemu dengan Ajeng saat tengah menekan sandi pintu. Mengurungkan diri masuk ke dalam rumah, Mega melambaikan tangannya ke arah Ajeng yang hanya di jawaban dengan senyuman oleh Ajeng.
__ADS_1
"Mbak Ajeng mau kemana?" tanya Mega ramah. Misi membantu putranya agar direstui calon mertua.
"Mau turun ke bawah sebentar mbak"
"Mau belanja" tanya Mega lagi. Meski sangat jelas Ajeng terlihat begitu malas untuk menanggapi, Mega tak pantang menyerah.
"Mau beli garam mbak"
"Di rumah saya ada garam mbak. Di luar hujan dan supermarket dilantai 1 masih tutup mbak."
"Nggak apa-apa, saya bisa cari toko yang lain"
"Jauh loh mbak. Tunggu sebentar saya ambilkan di dalam ya mbak" tak menunggu jawaban dari Ajeng, Mega langsung buru-buru masuk ke dalam rumah.
Disisi lain, Ajeng yang baru menekan tombol lift mau tak mau mengurungkan niatnya untuk turun ke bawah. Mau bagaimanapun, mereka adalah tetangga terdekat unit putrinya, Ajeng tak boleh membuat masalah yang membuat mereka enggan untuk bertegur sapa dengan Dea. Mereka orang pertama yang bisa membantu putrinya jika terjadi masalah.
Ting.
Ajeng menoleh saat suara pintu lift terbuka, Aska tampak berjalan keluar dari lift sambil membungkukkan badan memberi salam. Dari pakaian olahraga yang dikenakan, Aska mungkin habis dari tempat gym di lantai 3.
"Pagi tante"
"Pagi" jawab Ajeng. Ia berjalan mendahului Aska menuju unit Dea. Tak ada lagi obrolan diantara keduanya, karena Ajeng juga berusaha untuk menghindari bicara dengan laki-laki itu.
"Untuk yang semalam"
Langkah Ajeng berhenti, membalikan badan dan menatap lurus ke arah laki-laki itu. Memasang ekspresi dingin dengan tatapan yang ia buat seseram mungkin guna menguji mental anak itu.
"Saya minta maaf ya tan. Tidak ada yang terjadi. Sekali lagi saya minta maaf tan"
Ajeng menganggukkan kepalanya "Satu pesan tante untuk kamu nak. Jika ingin mendapatkan sesuatu yang berharga menurut orang lain, maka lakukan dengan cara yang benar" pesan Ajeng. Sebelum benar-benar masuk, Ajeng kembali menoleh ke arah Aska yang masih berdiri ditempatnya. "Kamu, suka sama anak tante"
Raut wajah terkejut bisa Ajeng lihat dari wajah tampan anak itu, lalu disambut dengan anggukkan dan senyuman lebar yang membuat Ajeng seolah tersihir untuk ikut tersenyum.
"Tante ingin lihat usaha kamu buat dapetin hal yang amat sangat berharga bagi tante. Jika menurut tante gagal. Maka jangan coba-coba untuk dapetin pakai cara yang salah. Habis kamu ditangan tante nanti" setelah mengatakan itu, Ajeng langsung masuk ke dalam rumah. Jantung nya nyaris copot saat menemukan Dea berdiri tepat di depan pintu dengan cengiran yang macam anak kudanil yang dapat makanan kesukaan.
"Katanya nggak suka. Ngapain cengar-cengir begitu" ingin sekali Ajeng tertawa melihat putrinya salah tingkah sekarang.
"Siapa yang senyam-senyum. Garamnya mana? Mamah nggak jadi beli? Katanya mau beli garam?"
__ADS_1
"Nggak jadi. Garamnya masih tercampur sama air laut" jawab Ajeng seadanya.