Dea Alaska

Dea Alaska
Bab 32 : Susah Iya, Bencana Pun Datang


__ADS_3

"Taruh aja disitu"


Dea meletakan tas kerja Aska di sofa. Setelah Anton datang tadi, Dea tak ingin terlalu lama disana dan langsung meminta Anton untuk membopong Aska ke mobil. Namun, seolah bukan hanya ingin merepotkannya satu kali, tiba-tiba Aska lupa dengan password unitnya sendiri dan berkahir Alea bawa masuk ke unitnya sendiri dari pada ada penghuni lain yang melihat mereka.


"Mas Anton, bisa duduk sebentar. Ada yang ingin aku katakan" ucap Dea. Jika bukan Anton melainkan Arin yang ada di sini, dirinya tak perlu was-was. Hanya saja sekarang yang ada dan melihat semuanya adalah Anton, laki-laki yang belum juga satu hari bekerja dengannya ditambah Anton adalah staf dari Alaska, Dea tak perlu terlalu khawatir. Dea masih belum sepenuhnya percaya pada laki-laki ini.


"Ya mbak"


Meletakan sekaleng soda didepan Anton, Dea memposisikan duduk menghadap ke arah laki-laki itu. Mungkin ia menjadi artis pertama yang dikenal oleh Anton membawa laki-laki masuk ke apartemennya sendiri terang-terangan. Ditambah lagi, posisi unit Aska yang ternyata tetanggaan dengan unit Dea, sudah pasti Anton akan berpikir macam-macam.


"Emm. Gini—" Dea meremas tangan. Bingung dari mana ia akan menjelaskannya sekarang.


"Kenapa mbak?" tanya Anton balik. Ekspresi laki-laki itu tampak datar dan tak penasaran sama sekali tentang Aska. Seharusnya Anton penasaran karena laki-laki ini pasti juga mengenal Aska karena terkadang bertemu di gedung Agensi.


"Laki-laki itu" Dea menunjuk ke arah kamar dengan pintu yang terbuka. Lebih tepatnya menunjuk ke arah Aska yang terkapar lengkap dengan sepatunya diatas kasur. "Kita nggak punya hubungan apapun. Jadi—"


"Sudah ada perjanjian kerja dari agensi sejak awal bahwa saya harus menjaga rahasia artisnya. Jadi mbak tenang aja" ucap Anton sambil menunjukkan sederet giginya.


"Artis juga tetap manusia yang butuh kencan dengan lawan jenis kan mbak" lanjutnya. Ekspresi Anton tampak begitu tenang, berbanding terbalik dengan eskpresi Dea yang dibuat bingung dan panik bersamaan.


"Aku memang nggak punya hubungan sama Aska Ton. Karena unit kita berdekatan, jadi aku kenal sama dia. Dan" ucapan Dea terhenti seketika. Entah kenapa ia malah penasaran apakah Anton tahu jika Alaskan merekrut Dea hanya karena permintaan Aska.


"Ngomong-ngomong, ada gossip tentang aku di kantor Ton?"


"Tentang?" tanya Anton balik.


Dea terdiam sejenak. Ia tidak bisa membaca raut wajah Anton sekarang, entah memang tak ada atau sopir barunya ini hanya berpura-pura tak tahu. Dea menggelengkan kepalanya, kebiasaannya yang selalu curiga dengan orang baru benar-benar mengerikan.


"Nggak jadi. Kamu udah makan?" berusaha untuk mengalihkan pembicaraan, Dea berdiri dan berjalan menuju kulkas guna melihat ada makanan apa yang bisa ia makan malam ini.

__ADS_1


"Sudah mbak. Tadi kebetulan banget sih mbak telfon pas aku selesai makan. Aku pamit sekarang nggak apa-apa kan mbak? Atau tunggu sampai mbak Arin dateng?"


Dea tampak berpikir sebentar, lalu kepalanya menyumbul dari pintu kulkas yang tengah dibuka "Kamu ada acara habis ini?"


Dea berharap Anton tak akan mengangguk dan bersedia untuk menemaninya di sini sampai Arin datang. Masalahnya hanya berdua dengan Aska dalam kondisi laki-laki itu yang tak sadarkan diri membuat Dea sedikit was-was, ditambah pengakuan mendadak yang Aska lakukan tadi.


"Malam minggu mbak. Aku lagi makan sama pacar tadi. Ini aku tinggal sebentar karena mbak nelfon"


Seketika Dea merasa tak enak dibuatnya. Dengan senang hati ia mengeluarkan buang anggur yang masih terbungkus rapih dan memberikannya ke Anton. Bukan anggur lokal, melainkan anggur impor dengan harga fantastis karena rasa manisnya.


"Kamu bisa langsung pulang aja. Maaf ya. Maaf banget ganggu malam minggu kamu"


"Nggak apa-apa mbak" Sebuah senyuman ditunjukkan oleh Anton. Namun setelah itu, laki-laki itu langsung melesat pergi dengan terburu-buru. Dea tahu ia baru saja merusak hubungan orang lain.


Pandangan yang sebelumnya ke arah pintu unit yang tertutup setelah Anton pergi, kini beralih ke arah kamar dimana Aska berada.


Mencopot sepatu Aska, Dea memukul pelan kaki Aska dengan sepatu yang ada ditangannya. Di drama yang pernah ia perankan, laki-laki akan terbangun kemudian menarik tangan wanitanya hingga berbaring bersama diatas kasur, Dea jelas menolak jika hal itu terjadi di dunia nyatanya.


"As. Aska! Bangun"


Dea menggeram kesal saat Aska hanya menggeliat. Mungkin mengeraskan sedikit pukulan ditulang kering, Aska akan tersadar sepenuhnya.


Tuk


"Bangun!! Password unit kamu apa?!!"


"Aska!!!"


"Yak!! Aska!!"

__ADS_1


Percuma, Dea tahu apa yang ia lakukan sekarang percuma saja, karena laki-laki itu sama sekali tak bangun. Hanya menggeliat dan berpindah posisi saja.


"Aku suka sama kamu De, sejak awal" Aska mengigau dengan suara super pelannya.


"Apa?"


"Aku suka sama kamu"


Dea menghela napasnya. Tak lagi berniat untuk membangunkan Aska karena percuma saja, Dea membentangkan selimut sampai batas leher laki-laki itu.


"Aku suka sama kamu" ucap Aska lagi. Mata laki-laki itu masih terpejam, tapi tangannya kini mencengkram erat tangan Dea.


"Kalau besok kamu nggak bakal ingat semuanya, nggak usah diucapin" menarik paksa tangannya, Dea kini berjalan menuju ponselnya yang berada di atas nakas. Panggilan dari Arin, mungkin manager sekaligus sahabatnya itu ingin mengomel panjang lebar.


"Nggak usah ngomel. Langsung aja ke sini" ucap Dea langsung begitu menggeser tombol berwarna hijau. Tapi, bukan Arin namanya jika tak mengomel karena hal ini.


"LO GILA BERDUAAN DOANG SAMA ASKA!! KENAPA ANTON LO SURUH PULANG??!!! KENAPA JUGA LO BAWA ASKA KE UNIT LO!!! LO CARI MATI BENERAN DEA!!! GIMANA KALAU ADA YANG LIAT?!!! GIMANA KALAU ADA YANG FOTO KALIAN BERDUA?!!! LO MAU BIKIN GOSSIP LAGI APA??!! LO TUH YA!!! SUMPAH PENGIN GUE BEJ—"


"Jadi, lo dimana sekarang ibu Arin yang terhormat?" potong Dea lagi. Jika tak dipotong, maka percayalah Arin akan mengomel sepanjang jalan kenangan.


"GUE UDAH DI DEPAN APARTEMEN LO, BARU PARKIR DAN.... Mati kita De"


Dahi Dea berkerut dalam, nada kalimat terkahir Arin berbuah drastis, seolah keterkejutan menyapa manager nya itu. Seperti Dea yang juga terkejut karena Aska tiba-tiba menariknya dan membuatnya terduduk di samping laki-laki itu yang juga sudah dalam posisi duduk. Laki-laki itu kembali berbaring dan menjadikan paha Dea sebagai pengganti bantal.


"Mati De. Ada nyokap lo"


Ucapan Arin dari sebrang telfon, sontak saja membuat Dea refleks terbangun. Posisi mereka yang berada di pinggir ranjang, membuat Aska terjatuh ke lantai dengan suara yang cukup keras. Sedangkan Dea langsung mematikan panggilan, kemudian mengambil segelas air yang langsung ia siram tepat di wajah Aska.


"Maaf, tapi lo harus sadar sekarang Aska!!"

__ADS_1


__ADS_2