
"Ngapain kamu ke sini?"
Pertanyaan itu masih terdengar sama dinginnya sejak terakhir kali. Dari siaran cctv yang ia lihat di ruang pengawasan gedung ini, Aska tahu jika Ana pernah menemui Dea, tapi Aska tak tahu apa yang dibicarakan mereka berdua hingga Dea benar-benar menjauhinya. Masalah tentang Dea yang tahu jika dia bisa bergabung dengan Alaska Entertainment karena rekomendasi dari dirinya, Aska yakin tak akan membuat wanita ini semarah sekarang. Hubungan mereka benar-benar merenggang akhir-akhir ini. Maka dari itu, Aska ingin mengakhiri sensasi dingin diantara keduanya malam ini. Aska tak bisa lagi bersabar barang sedetikpun untuk tidak bertegur sapa dengan Dea.
Jangankan sehari, sedetik saja rasanya hidup Aska gelap gulita.
"Nggak mau pakai saran dari mamah kamu De?" gila. Aska tahu dia memang gila sekarang karena melontarkan pertanyaan barusan meski sudah melihat ekspresi wajah tak bersahabat sama sekali dari Dea sekarang.
"Maksudnya?"
Sebuah senyuman Aska tampilkan untuk mencairkan suasana. "Dipanggil mas juga aku nggak keberatan kok Dea"
Saat melihat bola mata indah milik Dea berputar jengah, seharusnya Aska berhenti sekarang juga. Tapi, sudah dibilang kan? Ia tak tahan jika terlalu lama tak bertegur sapa dengan Dea seramah dulu lagi.
"Atau mau langsung panggil sayang juga ngga apa-apa" percayalah mungkin hanya ada sepersekian laki-laki di dunia ini yang berani menggoda wanita padahal ada mamah wanita itu sendiri.
"Kamu mau apa datang ke sini? Ngembaliin kotak bekal?" kotak bekal yang sebelumnya berada di atas meja, kini berpindah ke pangkuan Dea "Sudah saya terima. Jadi kamu bisa langsung pergi. Aku nggak mau mempertaruhkan karir ku lagi"
Kalian tahu, apa hal yang membuat kepercayaan diri Aska naik berkali-kali lipat sekarang hingga nekat masih tetap duduk meski sudah diusir berulang kali? Itu karena Aska percaya, hal yang membuat Dea marah bukanlah hanya semata karena karirnya yang bisa hancur, namun Aska yakin ada hal lain yang membuat Dea seperti ini. Itu yang tengah Aska cari tahu sekarang.
"Jus dari mamah kamu belum habis. Tunggu aku habisin ini dulu" Aska menyesap sedikit jus lalu beralih makan bakpia.
Dea menghela napasnya kesal. Melihat Aska yang bahkan nekat masuk dan ngobrol dengan mamahnya, Dea tahu laki-laki ini tak akan mudah untuk di suruh pergi "Aska"
"Orang temennya lagi tamu kok diusirĀ sih mbak"
Aska tersenyum saat mamah Ajeng kembali keluar dari kamar. Setidaknya jika ada mamah Ajeng di sini, Aska sedikit aman dari pengusiran Dea. Melihat mamah Ajeng ikut duduk diantara mereka, senyuman Aska semakin mengembang berbanding terbalik dengan ekspresi Dea yang semakin masam.
"Mamah nggak bisa tidur karena penasaran"
Dea menyipitkan matanya curiga. Sang Raden Ajeng Purwaningsih yang terkenal akan tindak tanduknya yang halus dimata orang lain akan selalu berubah mengerikan di mata Dea jika sudah mengajukan pertanyaan itu. Pasalnya bukan pertama kali Dea berada di posisi seperti ini. Dea bahkan ingat dulu saat SMA, kakak kelasnya jadi mengejar-ngejarnya terus menerus setelah bertemu dengan mamah hanya karena merasa mendapat lampu hijau dari sang mamah.
"Nak Aska kan tadi bilangnya belum punya pacar atau calon istri, terus hubungan kalian berdua ini apa?"
"Tetangga" jawab Dea cepat.
__ADS_1
"Tetangga tante, tapi saya juga suka sama Dea" koreksi Aska cepat yang jelas mendapat pelototan mata dari Dea.
"Kalau punya hubungan yang lebih tante juga nggak masalah"
"Mamah!!"
Ajeng menggeplak lengan putrinya keras. Jika sudah berteriak, suara Dea benar-benar menggelegar. Lagi pula, hubungan Dea dan Ardigo juga sudah kandas, maka tak masalah jika menjalin hubungan yang baru lagi.
"Nak Aska, ikut tante ke dapur yuk. Minta tolong taruh persediaan makanan di laci atas" tak peduli dengan putrinya yang kembali mengomel karena sikap sok akrab dirinya pada Aska, Ajeng langsung menarik tangan laki-laki itu untuk diajak ke dapur. Dea sudah pasti akan ikut juga mengekor ke dapur.
Aska tahu lampu hijau dari mamah Ajeng sepenuhnya menyala untuknya sekarang. Dengan senang hati demi jalan pendekatannya berjalan mulus, Aska naik ke atas kursi dan mulai menerima beberapa mie instan dan bumbu racik ke rak di atas mesin kopi. Sesekali melirik ke arah Dea yang berdiri bersandar pada kulkas dengan tangan yang terlipat di depan dada.
"Kenapa mamah bawa banyak banget barang? Ini pasti belum juga yang mau ditaruh di kulkas" Membuka kulkas, Dea menemuka kulkas sebelumnya yang tak berpenghuni kini sudah berubah dengan beberapa box yang bersusun rapih. Di dalamnya jelas berisi lauk-pauk yang hanya tinggal dipanaskan jika ingin dimakan.
"Sebanyak ini masih nanya belanja dimana tadi? Ini mah satu bulan juga nggak bakal habis mah" Dea geleng-geleng sendiri melihatnya. Meski dibagi dengan Arin sekalipun, makanan segini banyaknya akan berakhir menjadi basi.
"Bakal habis. Mau mamah bagi 3 itu lauk-pauk. Nak Aska mau coba masakan tante juga kan?"
Aska yang baru turun dari kursi melirik sekilas ke arah Dea. Mata indah Dea seolah berharap jika Aska akan mengiyakan ucapan mamahnya. Maka dari itu, tak perlu berpikir ulang kepala Aska mengangguk setuju. Jika mamah Aska berbagi makanan, pasti wadahnya akan menggunakan box, dan itu berarti masih banyak box lagi yang bisa Aska gunakan kedepannya untuk mendekati Dea.
"Kalian belum pada makan malam kan ya? Rin, belum makan malam juga kan?"
Arin yang juga ikut bergabung di dapur menganggukkan kepalanya "Arin bantu masak ya tan."
"Oke. Nak Aska duduk dulu aja lagi di ruang tamu, jangan pulang dulu. Mbak, temenin nak Aska"
"Tapi mamah capek baru sampai. Nggak sudah masak, kita pesan makanan aja dari luar" Tangan Dea yang sudah menggulir layar ponsel ditahan oleh Ajeng.
"Masa ada tamu disuguhin makanan dari luar"
"Nggak apa-apa tante." ucap Aska.
"Nggak ada. Tunggu, tante masakin. Kalian mending tunggu di ruang tengah"
Jika sang Raden Ajeng Purwaningsih sudah memberi titah, maka tak akan ada yang bisa membantah.
__ADS_1
***
"Maaf kalau nggak sopan. Tapi setelah makan aku harap kamu langsung pulang. Dan mari bersikap seperti tetangga biasa yang nggak terlalu sering ngunjungi unit masing-masing"
Ucapan Dea barusan sukses menahan tangan Aska yang hendak meraih gelas berisi jus yang baru diisi penuh lagi oleh tante Ajeng.
"Aku nggak tahu apa yang buat kamu marah. Jadi, bisa jelasin ke aku kenapa sikap kamu jadi sedingin ini?" cerca Aska langsung. Nada suaranya masih terdengar lembut meski kesabarannya sudah setipis tisu dibagi dua.
Jika Dea marah karena dirinya ikut campur masuknya Dea ke agensi, Aska bisa menjelaskannya asalkan Dea cerita semua.
Atau
Jika Dea marah karena keberadaan Ana, Aska sudah menjelaskan jika mereka tak memiliki hubungan apapun. Dea seharusnya tak terusik dengan hal itu.
"Aku tahu kamu bukan tipe orang yang akan langsung marah hanya karena karir. Jadi kenapa? Karena Ana? Dia pasti nemuin kamu kan?"
Mata Dea terpejam sejenak. Ucapan Aska tak ada yang salah. Sebenarnya karir hancur tak akan membuatnya begitu takut. Lagi pula, masih belum ada yang tahu jika Dea tinggal di apartemen ini sekarang. Karir hanya sebagai alasan semata.
"Kamu tahu apa alasan aku pilih merantau ke Jakarta dan menjadi selebriti As?"
Pertanyaan itu tak pernah Aska tebak sebelumnya. Kepala Aska menggeleng tanda tak tahu jawabannya.
"Karena jika aku bekerja di perusahaan keluarga. Semua orang akan bilang jika aku masuk karena orang dalam. Saat sekolah, orang-orang bilang aku bisa mendapat nilai bagus karena orang dalam. Aku sukses karena orang dalam. Itu hal yang buat aku merantau ke Jakarta dan membangun karir ku sendiri sebagai artis"
"Aku cuman ingin bantu kamu De. Kebetulan aku kenal sama Gema dan Aldo"
"Membantu? Bukan memaksa mereka buat rekrut aku?"
Sepertinya acara makan malam tak akan senyaman bayangan Aska. Aska tak pernah menebak jika Dea adalah salah satu orang yang membenci jalur orang dalam.
"De"
"Aku sudah terlanjur bergabung dengan Alaska. Jadi aku harap mari bersikap tak saling kenal kedepannya karena aku tak mau ada gosip aku menjual diri demi karir"
"Dea!"
__ADS_1