Dea Alaska

Dea Alaska
Bab 38 : Senam Jantung di Pagi Hari


__ADS_3

Arin pikir bekerja sebagai manager artis akan membuat hidupnya penuh dengan warna. Dimana saat orang perlu mengeluarkan uang untuk menonton sebuah film, Arin bisa melihat secara langsung pembuatan film secara geratis. Disaat orang perlu desak-desakan untuk melihat artis dalam jarak dekat, Arin bahkan bisa mengobrol dan duduk di samping artis. Dan di saat orang perlu kembali mengeluarkan uang untuk menghadiri preview film, Arin bisa menontonnya tanpa mengeluarkan uang sepeserpun. Yang paling membahagiakan adalah ia bekerja dengan sahabatnya sendiri.


Tapi sialnya sehabatnya itu sepertinya tak ingin membuatnya bernapas lega sejenak saja. Ada saja hal yang Dea lakukan yang membuat kepala Arin rasanya ingin pecah.


Pagi-pagi buta ia sudah dibuat kalang kabut dengan banyaknya telfon yang masuk. Baik itu dari pihak agensi maupun dari reporter. Ah, bahkan dari tante Mega yang kemarin baru pulang ke Bali.


Dikala Dea tak memiliki kegiatan apapun di pagi hari, Arin akan mandi diiringi oleh lantunan musik, berendam cukup lama dengan suasana hati yang benar-benar baik. Bukan seperti sekarang, alih-alih mandi diiringi oleh musik sambil berendam, Arin hanya bisa mandi kilat karena yang mengiringinya adalah dering ponselnya yang sama sekali tak berhenti barang sedetik pun.


Ada umpatan yang tak bisa lagi ditahan saat nama pak Gema yang kali ini menjadi penelfon dari sebrang sana. Mau tak mau, Arin terpaksa menerima dan suara yang sarat akan kekesalan itu terdengar dari sana.


"Kamu sudah lihat beritanya?"


Arin mengangguk, ia menyalakan speaker lalu sambil berpakaian karena ia sepertinya harus menjitak kepala Dea beberapa kali agar wanita itu sadar. Bisa-bisanya, Dea terlibat skandal dengan Aska disaat wanita itu seharusnya kencan buta dengan laki-laki lain.


"Kamu dengerin saya nggak mba Arin?!!"


Saking tak bisa berpikir jernih, bisa-bisanya Arin menjawab pertanyaan Gema tadi dengan hanya anggukan kepala, padahal jelas Gema tak bisa melihatnya. Buru-buru Arin meraih ponselnya dan kembali mengangguk.


"Dengar pak, saya dengar pak."


"Jadi, kamu udah lihat beritanya?"


"Sudah pak" jawab Arin lirih. Rasanya sudah pasrah saja jika sang CEO Agensi akan mengomelinya hari ini. Mungkin Gema akan mencapnya sebagai manager yang tak beres karena hal-hal seperti ini terjadi ditengah-tengah skandal Dea dan Ardigo yang baru saja meredup.


"Bagaimana bisa sampai terjadi begini?!"


Jika Arin tahu sejak awal, jelas dirinya akan menahan Dea agar tak membuat skandal baru.


"Saya juga tidak tahu pak"


"Bagaimana bisa nggak tahu!!!" pekik Gema dari sebrang telfon.


Arin spontan melemparkan ponselnya ke kasur. Sudah benar ia tak memegang ponselnya dan membiarkan dalam keadaan speaker. Gema itu satu dari sebagian spesies laki-laki yang jika sudah marah akan terus mengomel hingga otaknya yang pintar itu menemukan cara mengatasi masalah. Pantes cepat kaya diusianya yang muda.

__ADS_1


"Dimana Dea sekarang?"


"Di apartemennya pak" menyambar tas dan kunci mobik, Arin langsung keluar dari rumah dan melajukan mobilnya menuju apartemen Dea berada. Jika Dea masih menempati apartemennya dulu, jelas semua wartawan akan menyerbu. Syukur Dea sudah pindah, dan kemungkinan kecil para wartawan tahu tempat tinggalnya sangatlah kecil.


"Bicarakan sama Dea. Dan buat keputusan yang tepat. Di sangkal sepertinya lebih baik" ucap Gema lagi.


"Bapak yang mengurusi pak Aska berarti ya pak. Saya-Dea, bapak-pak Aska"


"Kenapa harus saya?"


"Ya bapakkan temannya" oke Arin jelas sudah kelewatan sekarang. Bisa-bisanya ia menyuruh bosnya untuk ikut mengatasi skandal yang dilakukan oleh artisnya sendiri.


"Maaf pak" ucap Arin akhirnya. Dikala situasi sedang kacau ditambah telfon masuk yang bertubi-tubi dari ponsel satunya, Arin malah harus ikut terjebak macet di depan sana. Ajaibnya, Dea yang sejak tadi Arin hubungi sama sekali tak mengangkat telfonya, dan kali ini malah tak bisa dihubungi sama sekali. Hebat benar sahabatnya itu.


"Kamu urusin semuanya. Dan ngomong-ngomong jam saya ketinggalan di rumah kamu tidak?"


Ucapan Gema barusan sontak membuat Arin mengerem mendadak meski jarak kemacetan masih lumayan jauh di depan sana. Suara klakson yang bertubi-tubi dari arah belakang membuat Arin mengumpat habis-habisan Gema yang langsung merubah arah pembicaraan mereka. Bisa-bisanya laki-laki itu bertanya mengenai jam yang ketinggalan di rumah yang membuat Arin dipaksa untuk mengingat semua kejadian kemarin.


"Arin. Lo ngga apa-apa kan?"


***


Wajah Kekasih Dea Aliska Rahayu.


Dea Aliska Rahayu ketahuan berpelukan di tempat umum dengan seorang pria. Sudah Move On dari Ardigo.


Pacar baru Dea Aliska Rahayu adalah seorang pengusaha dibidang arsitektur.


Dea Aliska Rahayu berpelukan dengan Alaska di Restoran Xxx.


Dea Aliska Rahayu berpelukan di tempat umum. Fans menyayangkannya karena tak pantas bermesraan di tempat umum.


Dea Aliska Rahayu kepergok salaman bibir di restoran XXX.

__ADS_1


Entah sudah selebar apa matanya membulat membaca setiap berita yang membawa namanya pagi ini. Berita mengenai dirinya yang memiliki kekasih mungkin tak masalah dan masih bisa diatasi. Tapi, untuk highlight terbaru yang baru saja ia baca membuat Dea berulang kali keluar masuk mesin pencarian saking tak percaya dengan yang ia lihat sekarang.


Gila. Ini jelas gila. Karena ajakan Aska untuk berkencan, Dea sampai lupa dengan reporter yang ia sewa maupun yang Abri sewa. Mereka jelas memotret adegan itu dan kini adegan itu tengah menjadi santapan nikmat bak kopi manis di pagi hari untuk manusia seantero negeri.


Menyibakkan selimutnya, buru-buru Dea keluar dari kamar berniat untuk pergi ke unit Aska. Namun, betapa terkejutnya begitu membuka pintu kamar, Dea langsung disambut dengan ketukan pada pintu jendela balkon. Yang membuat terkejut adalah karena Aska berdiri di sana dengan menggunakan celana pendek dan baju tanpa lengan. Rambutnya masih acak-acakan dengan wajah khas orang baru bangun tidur. Sial, Aska masih saja tetap tampan dalam kondisi apapun.


Sepertinya mengenal Aska itu sama saja menguji kekuatan jantungnya. Begitu membuka pintu balkon, Aska langsung menarik tubuhnya dan memeluknya erat. Ini gila. Masih pagi, tapi dirinya diajak senam jantung oleh laki-laki ini. Perihal ajakan Aska kemarin, Dea tak menolak namun juga tak menerimanya. Sepertinya Aska berpikir jawabannya adalah pada opsi kedua.


"Aku kira kamu bakal pergi lagi De. Aku nggak sanggup kalau kamu diamin aku lagi karena hal ini" ucap Aska jujur.


Melepaskan pelukan Aska, Dea menarik laki-laki itu untuk duduk di sofa depan TV. Mereka harus membicarakan hal ini. Dea yakin agensi pasti akan menagih klarifikasi darinya sebentar lagi.


"Ayo kita menikah. Aku nggak masalah dengan semua gosip itu"


Dea memejamkan matanya sejenak, ini masih pagi tapi sepertinya pikiran laki-laki hanya seputar bagaimana mereka bisa bersama.


"Kamu bisa kerja dari rumah kan Ka?" tak mengiyakan ajakan Aska, Dea malah balik bertanya. Selagi Aska tak keluar rumah dan bertemu wartawan, maka semuanya sepertinya masih aman.


"Kenapa?"


"Jangan keluar dulu untuk sementara waktu"


Sebuah senyuman jahil Dea lihat pada wajah Aska sekarang.


"Kenapa? Sembunyi dari wartawan pengin ditemenin sama aku?"


Dea memutar bola matanya jengah. Bisa-bisanya Aska bercanda di saat-saat seperti ini.


"Bukan begitu. Situasinya nggak memungkin kan buat—"


Ucapan Dea terhenti saat suara sandi pintu terdengar. Arin masuk dari sana dan bola matanya membulat seketika. Bahkan ponsel yang sebelumnya ditempelkan di telinga kini terjatuh ke lantai.


Dea melihat penampilannya sendiri. Piyama dengan celana sebatas betis, rambut yang belum tersisir ditambah suasana yang masih pagi. Lalu, pandangan Dea beralih mengamati penampilan Aska yang tak jauh beda darinya.

__ADS_1


Dea tahu dari mana penyebab mata Arin membulat sempurna. Mungkin Arin juga senam jantung untuk kesekian kalinya pagi ini.


Penjelasan jelas akan panjang.


__ADS_2