
Duduk berdua di balkon unit masing-masing adalah hal yang tak pernah Aska bayangkan sebelumnya. Kedatangan Ana tadi secara tiba-tiba membuat langkah Aska untuk benar-benar dekat dengan Dea semakin sulit. Ditambah lagi mamah yang terus mengingatkannya agar besok ia pulang ke rumah harus sambil membawa gandengan. Tak menunggu akhir pekan sesuai rencana awal, mamah memintanya untuk datang karena hari ini Aska memutuskan untuk tak pulang ke rumah. Jika tak pulang sambil membawa gandengan, maka siap-siap saja ada jadwal kencan buta dadakan yang direncanakan sang mamah.
Dan kini orang yang ingin Aska ajak pulang bertemu dengan mamah kini malah terasa semakin jauh untuk di jangkau. Dilihat dari ekspresi Dea, dia tidak marah, wanita itu malah terkesan santai menatap bangunan-bangunan kota Jakarta yang kini begitu terang. Ditangannya ada secangkir coklat panas yang asapnya masih terlihat mengepul. Sesekali mata itu terpejam untuk menghirup uap beraroma coklat itu.
"Suka coklat?" pandangan mereka bertemu setelah Aska hanya mengamatinya tanpa disadari sang empu. Senyuman itu tercetak begitu manis semanis rasa coklat yang pernah Aska makan. Tapi, kenapa dirinya malah kecewa melihat senyuman itu setelah Dea melihat apa yang terjadi tadi pagi. Rasa itu masih hanya dirinya saja kah yang merasakannya?.
"Mau?"
Kepala Aska menggeleng. Ingin sekali ia menantang maut dengan melewati lagi pembatas antara balkon kamarnya dan balkon kamar Dea. Namun tangannya malah menarik kursi terdekat dan duduk menghadap ke arah Dea. "Bahagia banget? Ada kabar bagus?"
Senyum itu kembali tercetak, bahkan kini jauh lebih lebar dari biasanya. Kedua mata cantik Dea berbinar. Mau tak mau Aska juga menarik senyumnya lebar. Mungkin, apa yang terjadi tadi pagi bukanlah sebuah hal yang mengusik wanita itu.
"Kayanya, aku bisa kembali ke dunia entertainment As"
"Serius? Wah.. Itu kabar bagus. Dunia Film Negeri bisa berantakan kalau aktris sebagus kamu harus pensiun. Udah dapat agensi baru?" tadi pagi Aldo sempat memberitahu jika hari ini mereka merekrut Dea untuk bergabung dengan agensi. Aldo, bukan Gema. Entah kemana perginya laki-laki itu sebenarnya. Aldo pun, Aska terus memaksa sahabatnya itu dengan berbagai imbalan yang menjanjikan.
Kepala Dea mengangguk "Sudah. Aku cuman perlu bangun karirku dari awal lagi. Ya nggak masalah sih, dari pada harus balik ke Solo"
Aska menganggukkan kepalanya. Tatapannya masih tertuju ke arah Dea, berharap jika Dea akan membahas perihal kejadian tadi pagi. Setidaknya Aska ingin melihat sedikit kecemburuan dari mata indah itu.
"Aku buatkan sandwich tadi pagi. Cuman karena nggak sampai di kamu. Gimana kalau besok kita makan malam bersama?" Aska gila. Ia tahu, ajakannya kali ini jelas bukan hanya untuk makan malam berdua semata, melainkan untuk mengenalkan Dea kepada mamahnya.
__ADS_1
Dea menoleh, lalu menggeleng "Besok akan ada berita aku gabung di Alaska Entertainmen. Jadi makan malam terlalu beresiko."
"Kalau jalan-jalan sebentar di taman malam ini?"
Gelengan kepala kembali diberikan oleh Dea. Aska merasa jika takut adanya gosip karena besok Aldo akan memberikan berita resmi bergabungnya Dea dengan agensi hanyalah alasan semata. Aska yakin Dea tengah menghindarinya sekarang.
"Ada yang ingin aku jelaskan tentang hal yang kamu lihat tadi pagi. Tapi tidak dengan jarak seperti ini De" Aska sudah frustasi seharian ini karena memikirkan ekspresi Dea tadi pagi. Ia sudah tak tahan untuk menjelaskan semuanya.
Namun sialnya, sebuah senyuman tipis malah kembali Aska lihat dari wajah Dea. Meski senyuman itu tak sampai mata Dea, tapi cukup untuk membuat Aska sakit hati dibuatnya.
"Kamu tahu apa yang Ardigo ucapin saat kami bertemu terakhir kali As?"
Dahi Aska berkerut dalam. Kenapa tiba-tiba dia bahas tentang manusia keparat itu?.
Tawa kini muncul dari arah Dea. Ingatan buruk hari itu sepertinya masih cukup membekas di hati. Mungkin ada hal yang lebih menyakitkan dari hal itu. Aska hanya menebaknya dari ekspresi Dea sekarang.
"Aku minum? Iya. Aku kadang ke kelab? Iya. Tapi aku bukan perempuan murahan yang bersedia membuka kaki kepada laki-laki yang bukan suami ku hanya untuk sebuah karir."
"Mau karir ku jatuh bahkan sampai nyungsep pun, apa yang aku lakuin di pesta Ardigo, aku nggak pernah menyesal. Tapi tahu nggak As, aku takut sama komentar yang akan muncul besok"
Aska tahu pembicaraan mereka kini sudah berada jauh dari topik awal. Tapi ia ingin tetap diam dan menjadi pendengar yang baik bagi Dea sekarang.
__ADS_1
"Dunia maya itu cukup menakutkan buat aku. Besok mungkin bakal muncul berita kalau— demi agar bisa masuk ke Alaska Entertainment, aku menjual tubuh ku"
Aska mengepalkan tangannya. Pupil matanya melebar saat tatapan mereka bertemu. Rasa kekecewaan tampak terlihat jelas di wajah Dea sekarang. Aska tak tahu kenapa tatapan itu seolah tengah menunjukan jika wanita yang tengah ia puja sekarang kini sangat kecewa dengannya.
Tidak mungkin, Dea..
"Aku nggak punya uang lagi untuk bayar denda untuk pembatalan kontrak"
Tangan Aska semakin mengepal erat. Takut jika apa yang tengah ia pikirkan sekarang adalah hal yang memang terjadi sebenarnya. Ini tidak mungkin kan? Aska harap jawabannya tidak.
"Uang ku habis terkuras karena masalah dengan Ardigo. Dan setiap kali aku ingat alasan dia selingkuh. Ingin rasanya tak cabik-cabik muka dia."
Aska yakin tebakannya kali ini jelas salah. Dea tidak mungkin tahu secepat itu.
"Dea, wanita yang kamu liat tadi pagi itu—" ucapan Aska terhenti saat Dea mengangkat tangannya.
"Aku tidak peduli dengan hubungan kalian As. Tidak ada urusannya dengan ku. Cuman, ada satu yang ingin aku minta sama kamu" Dea berdiri dari posisi duduknya "Jangan datang lagi ke unit ku. Entah dari pintu depan atau kamu loncat lewat balkon. Aku nggak mau ada gosip aku gabung dengan Alaska Entertainment—agensi sahabat kamu—karena aku bersedia membuka kaki di depan mu"
Dunia Aska terasa hancur seketika. Tubuhnya mematung tiba-tiba mendengar sederet kalimat Dea barusan. Mulutnya terasa begitu keluh sampai tak sanggup menahan Dea untuk tetap berada di balkon kamar. Wanita itu masuk ke unitnya, meninggalkan Aska yang masih berusaha mencerna semua ucapan Dea barusan.
Dea tahu. Tebakan Aska sejak tadi ternyata benar.
__ADS_1
...°°°...
Penginnya ikut Jumkat 60k kata dalam sebulan. Dan sepertinya tak sanggup. wkwkw