
"Kayanya lo demen banget bikin orang jantungan ya As? Gila beneran lo kayanya!"
"Terus sekarang mau gimana?"
"Lo mau bikin gue pusing atau gimana sih?"
"Apa lagi setelah ini? Berita lo sama Ajeng?!"
"Lo benar-benar gila!!"
Entah sudah beberapa kali Gema mengumpatnya dari sebrang telfon tak juga membuat senyuman Aska menghilang begitu saja. Apa lagi yang bisa ia lakukan sekarang, selain tersenyum menikmati sensasi bahagia yang tengah dirasakan, meski dibalik itu Aska juga sadar mungkin akan ada hal yang membuat semuanya menjadi kacau, bukan hanya dirinya saja yang terluka, namun Dea bisa lebih terluka.
Awalnya Aska berpikir untuk mundur sesaat dan menyelesaikan masalahnya dengan Ajeng, namun melihat bagaimana Dea mengakui memiliki perasaan yang sama, rasa tak ingin melepaskan Dea begitu saja dirasakan oleh Aska. Ia tak mau, ia tak ingin melepas Dea kali ini. Aska ingin mendekap Dea, menjadi milik Dea dan amat sangat marah saat ada laki-laki yang memandang Dea dengan tatapan seperti Abri kemarin.
"Terus lo mau gimana sekarang? Sebelum makin kacau dan buat nama baik Dea rusak. Lo bisa mundur As, lo bisa bikin klarifikasi. Dan lo bisa menjalin hubungan sama wanita lain"
"Kaya adik lo contohnya?"
Ada umpatan yang terdengar dari balik telfon. Aska yang tengah merapihkan rambutnya hanya tersenyum singkat.
"Kayanya gue ogah ngasih adik gue buat berandalan kaya lo. Bakal gue jampe² biar adik gue nggak suka lagi sama lo"
Aska tertawa, tawa keras yang membuat decakan sebal Gema kembali terdengar.
"Gem. Masalah gosip pagi ini, kalau gue ngakuin semuanya, dampak apa yang bakal kena ke Dea?"
"Anjir. Lo beneran macarin artis gue?"
"Bener. Gue nggak pernah main-main sama Dea, gue serius sama dia. Jadi, apa dampaknya sama Dea? Nggak masalahkan kalau gue jadi pacar dia?"
__ADS_1
"Terus gimana sama Ajeng. Gila lo. Jangan nyeret artis gue kalau ujung-ujungnya malah ada berita lo tunangan sama Ajeng"
Aska berdecak kesal. Rambut yang sudah di tata kembali ia acak saking kesalnya. Setelah meninggalkannya dulu, Ajeng malah kembali datang di waktu yang nggak tepat. Sialnya, sang ayah terlalu jatuh cinta pada wanita tak tahu malu itu. "Gue nggak tunangan sama dia. Lo tahu sendiri kan, dulu dia ninggalin gue bahkan tanpa nengok sedikitpun?"
"Gue tahu. Tapi Dea apalagi media nggak tahu Aska!!"
"Gue bakal bicara sama bokap gue. Kalau perlu nikahin Dea agar dia jadi milik gue sepenuhnya, gue terima. Gue sanggup"
"Terus gimana janji bokap lo sama bokap Ajeng, dan perjanjian bokap lo sama nyokap lo?"
Aska mengeram kesal. Persetan dengan perjanjian dulu, Aska benar-benar tak ingin kehilangan Dea. Tak ada lagi rasa yang ia punya untuk Ajeng, cinta Aska sekarang hanya untuk Dea seorang. Lagi pula, ia dulu menyetujui lamaran dengan Ajeng karena ia memang menyukai wanita itu, tapi sekarang tidak sama sekali. Secuil pun nggak ada rasa yang tertinggal.
"Gue bakal ngomong sama wartawan kalau gue pacaran sama Dea"
"Gue nggak izinin. Ingat, Dea artis gue!!"
"Dan gue pemegang saham terbesar. Ada atau nggak ada izin dari lo. Gue nggak bakal nyangkal berita ini"
Tanpa menunggu kalimat Gema selesai, Aska langsung mematikan sambungan sepihak. Masalah Ajeng adalah hal yang ingin ia bahas pada Dea tadi, tapi sekarang rasanya Aska takut untuk bercerita, takut jika dia bercerita sekarang maka Dea akan menjauh darinya.
Tanpa merapihkan kembali rambutnya, Aska langsung berjalan keluar dan menuju unit Dea, tak butuh waktu lama, hanya sekitar 5 detik pintu itu terbuka dengan Dea yang nampak cantik dengan riasan tipis. Wajahnya terlihat panik dan enggan untuk membuka pintu lebih lebar lagi.
"Kok kamu cepat banget. Aku belum selesai masak" keluh Dea.
"Aku nggak diizinin masuk? Nanti kalau ada penghuni lain yang ngeliat kita gimana? Aku sih nggak masalah, soal—" belum juga selesai bicara, tubuhnya langsung ditarik Dea untuk masuk ke dalam unit wanita itu.
Seketika aroma harum masakan memanjakan indar penciumannya. Bau nasi goreng, itu yang terlintas di kepala Aska sekarang.
"Aku nggak punya bahan apapun di kulkas selain kaget, telur, sosis sama nasi kemasan. Jadi nasi goreng buat sarapan nggak apa-apa kan?"
__ADS_1
Aska mengangguk kepala. Ditariknya Dea lalu dipeluk dengan erat. Masih tak menyangka jika Dea benar-benar ada di pelukannya sekarang.
"Aku masih nggak nyangka kalau kita pacaran sekarang. Seneng banget rasanya. Mungkin kalau kita nikah, rasanya akan jauh lebih senang dari sekarang"
Aska kira Dea akan melepaskan pelukan mereka saat dia membahas tentang pernikahan. Tapi nyatanya pelukan Dea malah mengerat.
"Aku tahu tujuan kamu deketin aku buat serius sampai sana. Tapi, kalau aku maunya pelan-pelan gimana? Kamu nggak akan kecewa sama keputusanku kan?"
Tangan Aska mengelus lembut rambut Dea "Nggak masalah. Kita pelan-pelan aja ya. Aku nurut apa mau kamu"
"Maaf ya"
"Nggak usah minta maaf. Nggak ada yang salah. Mari pelan-pelan aja sambil numbuhin rasa percaya satu sama lain."
Dea mengangguk. Aska semakin mengeratkan pelukannya.
"Aku mau minta kamu janji satu hal sama aku, bisa?"
"Apa?"
Aska melerai pelukan mereka. Tangannya beralih menggenggam kedua tangan Dea erat.
"Percaya sama aku. Apapun yang terjadi ke depannya, aku mohon percaya sama aku, hmm?"
Saat melihat Dea menganggukkan kepalanya, Aska kembali menarik Dea dalam pelukannya. Apapun yang terjadi, Aska bersumpah tak akan pernah melepaskan Dea sedikitpun.
"Aku publik figur As. Apapun gosip tentang aku yang ada di internet, kamu juga harus percaya sama aku ya. Tanya aku langsung. Aku bakal jujur"
Aska menganggukkan kepalanya "Tapi Dea, aku kaya cium bau gosong deh"
__ADS_1
"Ya ampun. Naget aku!!" pekik Dea yang langsung berlari menuju dapur.
Sedangkan Aska tersenyum melihat kepanikan Dea.