Dea Alaska

Dea Alaska
Bab 33 : Mamah Ajeng Syok


__ADS_3

Bukan hanya menyiram Aska dengan air saja karena panik, Dea menggoyangkan tubuh Aska kencang hingga laki-laki itu sadar. Masalahnya jika mamah tahu Dea memasukan laki-laki ke apartemen dalam kondisi mabuk pula, percayalah karirnya benar-benar akan kandas malam ini juga. Mungkin Dea akan langsung ditarik ke rumah dan sesampainya di rumah ia akan mendengar ceramah yang bahkan dalam satu bulan pun tak akan pernah selesai, atau mungkin seumur hidup sampai dirinya menikah nanti.


Lelah karena bukannya sadar sepenuhnya, Aska malah menyandarkan punggungnya di kasur dan kembali tertidur, tak punya banyak waktu lagi yang tersisa, Dea mengalungkan tangan Aska di pundaknya dan berusaha sekuat tenaga mebopong Aska. Ya. Meski Aska nyaris 30kg lebih berat darinya, Dea akan tetap berusaha membawa Aska ke unit laki-laki itu atau ke tangga darurat sebelum mamah datang. Apapun, asalkan mamah tak melihat Aska sekarang.


Meski berjalan dengan susah payah sambil sesekali mengomel karena Aska malah seolah enggan berjalan dan hanya menyeret kakinya, Dea menjitak kepala Aska keras. Jika tahu Aska akan begitu merepotkan dalam keadaan seperti ini Dea pasti enggan datang menjemput laki-laki ini tadi.


Meraih tas Aska lalu mengalungkannya dileher laki-laki itu, Dea kembali jalan tanpa sadar suara sandi pintu tengah dimasukan dari arah luar. Dan memang sepertinya keberuntungan miliknya seolah sudah habis tahun ini, begitu pintu terbuka, mata Dea membulat sempurna. Bukan hanya Dea saja, tapi


Ajeng yang berdiri didepan pintu tak kalah terkejutnya memergoki kelakuan putri satu-satunya itu.


"Mamah salah paham. Ini nggak seperti yang mamah pikirkan" sanggah Dea langsung bahkan sebelum Ajeng mengatakan apapun.


"Kau??!!"


"Serius mah, ini—" Dea menjeda kalimatnya saat lengan Aska dilehernya tiba-tiba terasa bergerak dan menjauh. Dan seolah bukan hanya kehadiran mamah yang mendadak yang membuatnya terkejut setengah mati, kondisi Aska sekarang membuat Dea tak bisa mengatakan apapun saking terkejutnya.


"Selamat malam tante" Aska tiba-tiba berdiri tegak lalu sedikit membungkukkan badannya, tangan laki-laki itu menumpuk di depan dengan posisi begitu sopannya.


Dea dibodohi. Aska sudah sadar sejak tadi atau mungkin sejak awal laki-laki itu tak pernah mabuk.


"Aska?"


Bukan hanya jatuh ketiban tangga saja, tapi setelah jatuh Dea juga sepertinya ketiban lemari. Suara itu membuat Dea kembali menoleh ke arah pintu. Bukan Ajeng melainkan Mega, ibu Aska tiba-tiba menyembulkan wajahnya dari balik pintu. Arin bahkan hanya bisa pasrah sambil menggelengkan kepalanya.


"Dea!!"


Pekikan mamah membuat Dea sontak bersembunyi dibelakang tubuh Aska. Percayalah, orang pertama yang paling ia takutin di dunia ini adalah mamahnya.


"Saya bisa menjelaskan semua yang terjadi sekarang tante" ucap Aska. Sedikit meringis saat mendapat cubitan diperut dari Dea.

__ADS_1


"Kamu ngapain di situ malam-malam begini mas?" kali ini Mega yang bicara, wanita itu juga sama terkejutnya dengan Ajeng. Namun ditambah dengan rasa bersalah karena putranya berada di unit Dea selarut ini.


Ajeng memijat pelipisnya sendiri "Kalian pacaran? Kamu—" menghela napas sebentar lalu melotot ke arah putrinya sendiri "Kamu hamil mbak?" tebak Ajeng yang jelas sontak membuat Mega ikut melotot juga.


Dea menghela napasnya. Dalam kondisi seperti ini, dijelaskan sekarang pun hanya akan semakin memperpanjang masalah. Maka menurut Dea lebih baik Aska pulang dan menjelaskan sendiri kepada tante Mega, sedangkan penjelasan ke Raden Ajeng Purwaningsih adalah tanggung jawabnya.


"Apa-apaan kalian ini!!" pekik Ajeng dan Mega bersamaan.


***


Niat untuk menjelaskan ke orang tua masing-masing gagal saat dua wanita yang tampak anggun itu meminta keduanya masuk ke dalam. Mamah Ajeng tampak anggun dengan baju kebaya moderen berserta rambut yang disanggul, sedangkan mamah Mega menggunakan gaun formal berwarna hitam. Keduanya duduk di sofa dengan Dea dan Aska yang kini duduk tepat berhadap dengan mereka.


Entah sudah berapa kali Dea mengusap tangannya sendiri karena gugup, Aska yang menyadari hal itu menepuk pelan punggubg telapak tangan Dea yang jelas langsung mendapat tatapan maut dari wanita itu.


Siapa juga yang tidak marah? Susah payah ia membawa Aska ke unitnya dan laki-laki itu sampai harus disiram tapi kenyataannya Aska masih cukup sadar untuk bisa berdiri tegak dan menyapa mamahnya. Dea curiga Aska sejak awal memang tak mabuk sama sekali.


"Jadi, kalian punya hubungan?" pertanyaan itu kembali terlontar dari mulut Ajeng. Tangannya sudah mengepal erat bersiap-siap untuk memukul punggung putrinya jika apa yang ia takutkan benar-benar terjadi.


"Hampir" jawab Aska.


Mata Dea melotot seketika. Jika tak ada tante Mega mungkin ia sudah menggeplak kepala Aska sekarang juga.


"Maksudnya? Kalian benar-benar melakukan hal itu?" Ajeng sudah hampir berdiri namun kembali duduk saat melirik ke arah Mega yang menatap dengan tatapan tak setuju. Segala hal yang menyangkut Dea memang membuat Ajeng dibuat panik seketika. Putri satu-satunya, Ajeng takut jika ia salah mendidik Dea hingga putrinya itu terjerumus ke pergaulan bebas.


"Maaf sebelumnya bu. Saya mendidik putra saya dengan baik, dan sepertinya Dea juga anda didik dengan baik. Jadi mari kita dengarkan penjelasan mereka dulu" ucap Mega. Ajeng menghela napasnya, ia memang terlalu berlebihan sekarang. Tapi jika dipikir-pikir itu adalah hal wajar, karena jika mereka benar-benar melakukannya, bekasnya akan tertinggal di Dea bukan di Aska.


"Jadi, kenapa kamu ada disini mas? Kenapa kalian berduaan selarut ini?" tanya Mega.


Aska dan Dea menjelaskan bergantian. Lebih tepatnya Dea yang mengebu-ngebu meluruskan semuanya. Ditambah lagi dengan aksi Aska yang menyebalkan karena berpura-pura tak sadar. Dea bahkan mencubit lengan Aska keras yang membuat Mega nampak menunduk tak enak pada Ajeng sekarang.

__ADS_1


"Aku cuman bantu Aska mah, dia tiba-tiba lupa sandi unitnya. Nggak mungkinkan aku biarin dia tidur di depan pintu?" tanya Dea. Berharap jika sang mamah yang memiliki jiwa kemanusiaan dan peri kehewanan yang amat tinggi itu menganggukkan kepalanya. Jangankan pada manusia, pada tikus yang terjepit di besi saluran air pun, mamah bakal bantu karena merasa kasihan.


"Jadi kamu khawatir sama aku De?"


Dea menganga tak percaya, bisa-bisanya Aska mengatakan hal itu di situasi seperti ini. Ajeng juga ikut terkejut mendengar ucapan Aska barusan. Sepertinya lepas dengan Ardigo yang tukang selingkuh, putrinya itu bertemu dengan laki-laki yang kepercayaan dirinya diatas rata-rata.


"Kamu suka sama anak tante? Tapi sayangnya tante nggak berniat untuk punya menantu yang suka minum"


Mata Mega kali ini yang melotot ngeri. Bahkan bantal yang ada ditangannya kini langsung melayang ke wajah putranya itu. "Kamu minum mas?"


Dengan cengiran handal yang rasanya ingin sekali Dea gilas pake penggilas cucian yang bergerigi itu, Aska menggelengkan kepalanya sambil sesekali melirik takut ke arah Dea.


Bersamaan dengan itu, satu pukulan maut Dea kembali melayang dipunggung Aska.


"Kamu ngerjain aku As?!!" pekik Dea.


"Habis kamu sama bunda kalau sampai nyentuh minuman mas!!" pekik Mega.


Ajeng mengerjapkan matanya mendengar pekikan keduanya. Biasa hidup disekitar orang yang bicara begitu lembut dan anggun tanpa pakai urat jelas membuat Ajeng cukup syok dengan keadaan sekarang.


Setelah memekik lengkap dengan ancaman kepada putranya, Mega menoleh ke arah Ajeng sambil tersenyum lebar.


"Saya jamin anak saya nggak akan pernah nyentuh minuman lagi. Saya suka dengan putri mbak, dan anak saya juga suka sama anak mbak. Jadi—"


Ajeng mengerutkan dahinya bingung, menunggu kelanjutan kalimat Mega.


"Jadi, bagaimana kalau kita jadi besan mbak?"


Dan rasanya Ajeng tengah mendapatkan kejutan yang membuatnya tak bisa berkata apapun. Budaya di Jakarta memang sangat jauh beda dengan budaya di tempat tinggalnya.

__ADS_1


__ADS_2