Dea Alaska

Dea Alaska
Bab 39 : Lo Kira Segampang Itu Bambang !!!!


__ADS_3

"Sorry, aku pinjam dulu Dea nya"


Layaknya karung beras tanpa isi, Dea pasrah saja saat Arin menariknya masuk ke dalam kamar. Lagi pula siapa yang tak terkejut ditengah keadaan yang kacau seperti ini, malah menemukan dua tokoh utama yang digosipkan malah berada di dalam satu atap dengan baju tidur dan wajah polos. Semua orang jelas bisa berpikir negatif akan apa yang terjadi semalam pada dua orang lawan jenis.


Seperti sekarang contohnya, Dea kembali pasrah saat pukulan bertubi-tubi Arin berikan di punggung. Ditambah dengan gosip yang beredar dan pemandangan yang dilihat, sudah jelas semarah apa sahabat yang menjelma menjadi manager 6 tahun silam.


"Lo gila" satu pukulan mendarat di punggung Dea


"Lo gila" lagi, Dea bahkan tak sempat untuk menjelaskan karena kalah dengan pekikkan Arin.


"Lo gila. Lo gila. Lo gila. Lo bener-bener gila!!!. Lo habis ngapain sama dia semalam?. Gila. Seriusan. Lo nggak tahu gimana hebohnya di luar. Apa? Foto kalian pelukan? Lo gila. Itu aja udah bikin gue stress tapi malah muncul foto yang lebih gila lagi. Dan sekarang, gue malah liat lo sama dia di apartemen pagi-pagi begini. Oh ya Tuhan" Arin memijat lehernya sendiri.


"Tap—"


"Mau berita seheboh apa lagi bulan depan? Lo nikah? Atau Lo ditinggal nikah? Kalian putus? Atau yang lebih buruk lo hamil? Sayat dulu nadi gue sebelum semua itu lo lakuin"


"Lo bisa dengerin gue dulu ng—"


"Dan dia dengan pakaian begitu. Lo begini, satu apartemen. Lo bener-bener gila. Gimana kalau ada yang foto kalian semalam? Berita apa lagi? Dea terciduk masuk ke dalam apartemen pebisnis muda? Hahahahha gue pengin ketawa Dea"


"Gue nggak segila itu buat semaleman sama Aska"

__ADS_1


"Ya terus? Emang mereka tahu Aska tinggal di sini? Mereka tahu lo tinggal di sini aja udah buat tanda tanya, apa lagi pebisnis setajir Aska" satu pukulan kembali mendarat di punggung Dea. Arin kini meniup poninya lalu berkacak pinggang "Ah bukan begitu gosipnya. Mungkin begini Dea Aliska Rahayu dan Alaska terciduk masuk ke apartemen biasa. Apartemen Dea yang digunakan hanya untuk bermalam dengan pacarnya. Ah, atau mungkin lebih halus lagi. Dea Aliska Rahayu hamil setelah terciduk bersama dengan Alaska. Atau juga beg— hmmpp"


Lelah dengan ocehan Arin yang makin nggak jelas, Dea langsung membekap mulut Arin. Masalahnya Aska masih ada di depan dan suara Arin yang tak bisa dikategorikan kecil ini jelas terdengar hingga luar. Aska jelas bisa mendengar semuanya.


"Bisa dengerin penjelasan gue dulu?" pinta Dea. Setelah mendapat anggukkan dari Arin, Dea melepaskan bekapannya dan satu umpatan keluar dari mulut Arin.


"Dia muncul saat ketemu sama Abri. Lo tahu, Abri nyewa reporter pribadi, dan mungkin dia sengaja nyewa karena buat bikin gosip sama gue. Meluk gue atau mungkin bisa ngelakuin hal senonoh yang lebih dari itu, gue nggak tahu Rin. Gue cari tahu dia sebelum pertemuan, dan reputasinya untuk berkencan bener-bener buruk. Kayanya mamah ketipu sama dia. Terus"


"Terus?"


"Aska dateng semalam ke restoran"


"Gila. Dan lo malah bikin gosip sama dia" tebak Arin yang sepenuhnya benar. "Liat lo yang kayanya biasa aja malah cenderung nggak marah karena Aska ngelakuin itu. Kayanya bukan Aska yang punya rasa, tapi lo juga?"


Sedangkan Dea merasa jawaban yang ia berikan sudah benar dan sesuai dengan yang diinginkan hatinya. Mengkhawatirkan Aska akan gosip yang ada, sudah membuat Dea yakin jika ia menaruh rasa pada laki-laki itu. Terlebih melihat sikap Aska yang begitu baik padanya, sudah bisa menunjukkan jika rasa yang Aska miliki untuknya mungkin jauh lebih besar.


Arin menarik napas dalam lalu menghembuskannya perlahan "Gue pengin marah, tapi anehnya gue juga merasa seneng denger jawaban lo. Jadi, pertanyaan gue sekarang adalah, kalian bermalam bersama? Di sini? Atau di kamar tamu?"


Dea langsung menggeleng tegas. Satu pukulan mendarat di dahi Arin. Bisa-bisanya sahabatnya itu berpikir yang tidak-tidak. "Nggak!! Gue nggak semurahan itu. Gila lo. Ya kali gue ngelakuin itu sebelum nikah"


"Oke. Berarti lo juga kayanya lebih gila karena biarin Aska masuk lewat pintu, padahal ada kemungkinan orang bisa foto kalian"

__ADS_1


Dea kembali menggeleng. Menciptakan kerutan jelas di dahi Arin sekarang.


"Ya terus dia masuk lewat mana? ya kali lewat gorong-gorong. Atau jangan-jangan dia jelmaan jin atau alien yang bisa menghilang kaya di film-film. Yang hidup ribuan tahun tapi masih tetep muda?"


"Lewat balkon" jawab Dea.


Tak berkata apapun, Arin langsung berjalan keluar dari kamar menuju balkon, dan satu kata yang keluar dari mulutnya adalah 'GILA' Sambil menatap ke arah Aska yang duduk di sofa.


"Emang gila semua orang di sini" ucap Arin. Berjalan menuju dapur lalu menenggak sebotol air mineral dari sana.


Dea hanya tersenyum saat Aska dengan polosnya malah bertanya ada apa dengan Arin.


"Kenapa?" bisik Aska. Laki-laki itu kini berdiri bersisian dengan Dea di depan meja makan.


Arin menenggak air minum, lalu menoleh ke arah Dea dan Aska, menggelengkan kepala lalu kembali menenggak air mineral. Terus berlangsung hingga tiga kali dan diakhiri dengan tawa. Mungkin di mata Aska, Arin tampak seperti orang gila.


"Bapak bosan hidup ya?" tanya Arin.


Aska menoleh sebentar ke arah Dea lalu kembali menatap ke arah Arin. Ia memang salah membiarkan gosip itu memanas, tapi jika ditanya apa dia menyesali perbuatannya kemarin maka jawabannya tidak. Aska tidak menyesali apa yang ia lakukan kemarin. Setidaknya Dea miliknya sekarang.


"Saya akan bertanggung jawab gosip ini. Saya bersedia jika diminta untuk membuat klarifikasi langsung ke wartawan. Karena saya—" Aska mengambil tangan Dea lalu menggenggamnya. Sontak saja hal itu membuat Arin yang tengah minum seketika tersedak.

__ADS_1


"Jika minta untuk menikahi Dea saya juga bersedia"


Arin dengan wajah putus asanya kini hanya bisa tertawa sambil bertepuk tangan. Lo kira segampang itu Bambang!!!!


__ADS_2