Dea Alaska

Dea Alaska
Bab 25 : Menggigit Lidah


__ADS_3

***Pertama maaf karena ini nggak aku edit lagi, jadi mungkin bakal ada typonya. kedua tolong tinggalkan LIKE dan KOMENTAR kalian ya.. Authornya maksa nih 🤭😂


...°°°***...


"Gue cabut ya De. Jangan kemana-mana atau gue iket kaki lo besok kalau tiba-tiba ada berita aneh!"


Ancaman Arin membuat Dea tersenyum lebar. Meski hanya beberapa bulan saja Dea tak pernah lagi mendengar Arin yang mengingatkan dibalik sebuah ancaman agar Dea menjadi anak baik-baik dan tak membuat gosip datang, nyatanya Dea merindukan ancaman Arin. Menganggukkan kepalanya, Dea keluar dari mobil Arin dan menunggu hingga mobil itu pergi meninggalkan area apartemen. Tanda tangan kontrak hari ini dengan Alaska Entertaiment berjalan dengan lancar, besok akan ada berita resmi bergabungnya ia dengan agensi. Dea hanya perlu diam di dalam apartemen dan memastikan tak akan ada gosip miring lagi yang menerpannya. Semua karirnya akan ia mulai dari awal lagi bersama Alaska, Dea tak ingin semuanya hancur hanya karena gosip yang tidak beralasan.


Mengenakan topi dan kaca mata hitam seperti biasanya, dengan senandung pelan di bibir. Dea keluar dari lift dilantai dimana unitnya berada. Semua yang dikatakan Aska benar adanya, karirnya tak akan hancur semudah itu hanya karena sosok Ardigo, akan ada agensi yang merekrutnya, dan Alaska mengulurkan tangannya dan menyambutnya dengan begitu ramah. Meski tak bertemu langsung dengan pak Gema selaku CEO Alaska Agensi, Dea benar-benar bersyukur karena masa-masa kelamnya kini mulai menunjukkan penerangan.


Dea ingin memberitahu Aska. Ingin agar Aska menjadi orang ke dua yang tahu kabar ini setelah Arin, ingin berbagi kebahagiaan dengan laki-laki itu. Karean setelah dipikir-pikir masa suramnya beberapa bulan lalu, tak terlalu menyedihkan karena Aska selalu ada untuknya.


 Meski apa yang ia lihat tadi pagi, cukup untuk membuat Dea ragu sejenak. Hanya saja mereka tak memiliki hubungan apapun selain teman bicara dan tetangga. Dea hanya ingin berbagi kabar gembira ini dengan teman sekaligus tetangga barunya.


"Mbak Dea?"


Hanya tinggal beberapa langkah lagi sampai di depan pintu unit Aska, Dea berhenti seketika. Kepalanya menoleh ke belakang dan menemukan sosok wanita berambut panjang yang baru saja keluar dari lift. Hanya ada dia dan wanita itu di sini, dan sudah jelas jika wanita itu yang memanggilnya barusan.


"Bisa kita bicara sebentar?"


Dea tak langsung menjawab. Netra nya menatap lekat wanita yang kini sudah berdiri tepat di depannya. Dea tak mengenalnya,  bukan juga termasuk fans yang pernah ia temua sebelumnya. Sangat asing diotaknya yang kini berputar cepat berusaha untuk menggali ingatan-ingatan akan wajah ini. Ibu sering sekali mengirimkan orang dari Solo untuk mengawasinya, apalagi kasus kemarin jelas membuat sang ibu cukup khawatir.


"Saya mantan tunangan Mas Aska"


Ah, wanita yang ia lihat memeluk Aska tadi pagi?.


"Bisa bicara sebentar mbak?"

__ADS_1


Kepala Dea akhirnya mengangguk, mengizinkan wanita itu untuk ikut masuk ke unitnya dan duduk di salah satu sofa yang ada di ruang tengah. Dengan dua kaleng minuman, Dea ikut duduk berhadapan dengan wanita itu. Jangan bilang wanita ini menganggapnya sebagai pelakor?.


"Sebelumnya perkenalkan mbak, saya Ana mantan ya Aska. Kami sudah pacaran sejak SMA sampai lulus kuliah dan baru putus 4 tahun yang lalu. Saya dan mas Aska bahkan sudah pernah bertunangan"


Dea tahu semua yang menyangkut Aska jelas bukan urusannya, mereka tak ada hubungan apapun dan Dea tak pernah berharap apapun pada Aska mengenai hatinya. Seharusnya ia baik-baik saja, tapi entah kenapa ia tak suka dengan kalimat yang penuh kesombongan dari wanita bernama Ana ini. Bukankah mereka sudah putus? Lalu, apa hal itu perlu diungkit kembali?.


"Aku ingin kembali ke mas Aska"


Dahi Dea berkerut dalam "Sebelumnya saya nggak ngerti apa yang kamu bahas sekarang. Saya dan Aska tak punya hubungan apapun selain hubungan tetangga. Jadi jangan salah paham"


"Tetangga ya?"


Kepala Dea mengangguk meski dahinya kini semakin berkerut. Nada bicara Ana barusan tampak sangat dingin terkesan tak percaya.


"Tetangga tapi sering membuka pintu dan berduaan dalam waktu yang lama?"


Firasat Dea mengatakan jika satu lagi manusia spesies Ardigo dan Ria kini tengah berada di depannya sekarang. "Sebenarnya apa niatan kamu buat bicara sama saya?"


Tangan Dea mengepal erat. Disamakan dengan Ria yang bersedia melakukan hal itu demi karir membuat emosi Dea naik seketika. Tak mengatakan apapun, Dea langsung berjalan menuju pintu dan membuka pintu itu lebar-lebar. Tak ingin mengambil resiko karena besok akan ada berita resmi dari pihak agensi.


"Aku rasa pembicaraan ini sudah selesai. Saya tak punya hubungan apapun dengan Aska, jadi jangan khawatir dan silahkan pergi dari unit saya" usir Dea. Tak ada lagi senyuman atau ekspresi ramah saat melihat Ana kini tersenyum dengan satu sudut bibir yang terangkat.


"Jangan pernah lagi menemuinya kalau kamu nggak ingin ada berita yang mengatakan kalau kamu sama saja dengan Ria. Apa istilahnya? Menjual tubuh atau membuka kaki untuk karir?"


Sebaik mungkin Dea berusaha agar tak ada umpatan yang keluar dari mulut dengan mengigit lidahnya kuat-kuat. Kedua tangan Dea rapatkan ke sisi tubuh agar tak melayang untuk menampar Ana yang kini berjalan melewatinya. Begitu Ana keluar, Dea langsung menutup pintu unit rapat-rapat dan mengumpat habis-habisan sambil berjalan menuju kamar mandi. Ia perlu air dingin untuk mendingin kan kepalanya yang seolah mulai berasap.


***

__ADS_1


Sudah satu minggu Aska tak pernah melihat Dea setelah pembicaraan mereka di balkon. Chat tak dibaca, telfon juga tidak diangkat. Aska merasa hampir gila karena tak melihat wajah Dea. Pemberitaan mengenai bergabungnya Dea dengan agensi Alaska mendapat sambutan baik dari beberapa pihak, meski ada juga beberapa orang yang meninggalkan komentar kekecewaan pada Alaska entertainment. Namun, mereka bisa apa? Dea tetap bergabung dengan agensi.


Beberapa iklan juga sudah kembali menjadikan Dea sebagai bintang iklannya. Kabar dari Aldo, Dea baru saja mendapatkan tawaran untuk bermain film yang akan tayang akhir tahun ini. Mungkin karena itu, Dea sangat sulit untuk dihubungi. Setidaknya itu yang Aska pikirkan untuk menjaga sedikit kewarasannya. Dea tak benar-benar menghindarinya.


Aska tersenyum saat menatap kemasan botol minuman bervitamin yang ada ditangannya. Dea ada di sana, memegang botol yang sama sambil tersenyum lebar. Ah, Aska benci karena senyuman manis itu kini harus ia bagi dengan para laki-laki di luar sana.


"Bucin lo udah taraf gila kayanya"


Aska hanya melirik Aldo sebentar lalu kembali tersenyum dan berjalan menuju Aldo yang duduk di sofa ruang kerjanya. Ia menang sengaja meminta sahabatnya ini untuk mampir ke kantor sebentar.


"Dea baik-baik aja kan?" tanya Aska.


"Lo manggil gue ke sini cuman buat nanyain itu doang?"


"Nggak" Aska melempar ipad yang langsung ditangkap oleh Aldo "Itu design rumah sesuai sama keinginan lo. Kalau ada yang kurang atau mau ditambahin tinggal kabarin gue"


"Siap bos"


"Jadi gimana? Dea baik-baik aja kan?" Aska menopang dagu dengan satu tangannya.


Bola mata Aldo memutar malas. Setiap kali bertemu dengan Aska, laki-laki ini selalu tanya mengenai Dea "Dea baik. Cuman kayanya Gema yang akhir-akhir ini rada aneh"


"Aneh gimana?"


Meletakan ipad nya, Aldo mengambil satu bungkus coklat dimeja Aska dan mulai mengunyahnya. Akhir-akhir ini Gema memang jarang sekali berada di agensi, alasannya tengah mencari artis baru, tapi Aldo merasa jika ada yang disembunyikan oleh laki-laki itu "Dia jarang banget di kantor. Bahkan semenjak Dea gabung, mereka belum pernah ketemu secara langsung"


"Lah, Dia kan emang suka kelayaban kata lo. Nanti pulang-pulang bawa trainee baru kan?"

__ADS_1


"Tapi gue ngerasa kalau dia kaya ngehindar. Lo tahu kan dia punya aja alasan buat ngundur ngerekrut Dea. Apa jangan-jangan dia nggak suka sama Dea cuman kasihan sama lo, takut lo jadi gila di usia muda. Mana muka lo ngemis banget minta biar Dea segera gabung"


Satu bantal melayang tepat mengenai muka Aldo. Yah walaupun benar adanya, Aska mungkin bakal jauh lebih ngemis ke Aldo dan Gema agar Dea bisa segera bergabung. Apapun hal yang menyangkut Dea memang benar-benar bisa buat Aska gila tiba-tiba.


__ADS_2