Dea Alaska

Dea Alaska
Bab 37 : Aska Memang Gila


__ADS_3

Anggap saja dia licik atau bahkan bajingan dengan memanfaatkan keadaan malam ini dengan sebaik mungkin. Dia tak bisa lagi kehilangan Dea, dia tak bisa lagi dijauhi oleh wanita itu, dan dia juga amat amat tak rela jika harus mengikhlaskan Dea untuk berhubungan dengan laki-laki itu.


Maka dari itu anggap saja Aska bersedia untuk mendapat segala cacian atau umpatan bahkan hingga tamparan dari Dea nanti.


Melihat bagaimana sosok pria bernama Abri itu masih tak kunjung percaya juga dengan apa yang dikatakan Dea, Aska akan membuat laki-laki itu bungkam hanya dengan satu tindak. Mencium Dea didepan laki-laki itu.


Sesungguhnya ini adalah pilihan terakhir yang akan Aska lakukan jika Abri tak kunjung percaya dengan apa yang akan Aska katakan. Namun, melihat bagaimana laki-laki itu menatap Dea dengan tatapan yang hanya bisa dimengerti oleh sesama pria, Aska tak bisa menahannya lagi. Mungkin jika hal ini juga tak bisa membuat laki-laki itu percaya adu jotos adalah pilihan selanjutnya. Setidaknya agar dua bola mata itu tak memandangi wanitanya dengan tatapan seperti itu.


Bukan hanya detak jantung Dea saja yang cepat, tapi detak jantung Aska juga tak kalah cepatnya. Ada gelenyar aneh yang juga Aska rasakan, berbunga-bunga namun harus dihentikan sebelum Dea sadar sepenuhnya. Tubuh Dea membeku dan Aska menutup kecupan itu dengan sebuah senyuman tipis.


Diiringi dengan suara pintu yang dibanting, Aska melirik takut-takut guna melihat ekspresi Dea sekarang. Ia tahu, kedatangannya secara tiba-tiba saja sudah membuat Dea cukup terkejut ditambah dengan kejutan barusan. Mungkin sebaiknya Aska mempersiapkan diri jika akan mendapat tamparan dari Dea karena tah sopan.


"De" panggil Aska lembut.


Mata yang sebelumnya menatap ubin lantai itu beralih menatap ke arahnya. Tak ada gurat kemarahan di sana, tampak normal seperti biasanya, indah dan membuat hati tenang untuk ditatap.


Tapi, jangan lupa terkadang air tenang itu malah membahayakan. Bisa jadi tatapan Dea yang tampak tenang ini bisa menjadi bencana bagi Aska kedepannya. Bisa saja, setelah ini Dea benar-benar tak ingin melihatnya sama sekali.


"Mati gue" gumam Dea.


Dahi Aska berkerut dalam. Alih-alih Dea yang mati sepertinya dirinyalah yang mati melihat Dea langsung menyambar tas miliknya dan berjalan keluar dari ruangangan. Ditambah lagi Dea yang tak lagi menggunakan 'aku' membuat Aska dibuat gelisah seketika.


"Dea" mengejar Dea adalah pilihan yang paling baik sekarang.


"De—" panggilan itu kembali Aska telan saat mengetahui restoran malam ini cukup ramai. Dea susah payah berjalan sambil menunduk meski sudah mengenakan topi, Aska tak boleh mengacaukan segalanya.

__ADS_1


Saat langkahnya sudah cukup dekat. Aska meraih tangan Dea hingga membuat langkah wanita itu berhenti. Restoran memang cukup ramai malam ini, tapi dengan keramaian malam ini mereka tak akan menjadi pusat perhatian karena berhenti ditengah-tengah restoran, mengingat beberapa pegawai dan pelanggan cukup sibuk dengan urusannya masing-masing.


"Kita bicara lain kali. Nggak sekarang"


"Kenapa?" Aska menguatkan pegangannya pada tangan Dea yang berusaha meloloskan diri. Bicara lain kali? Jangan bercanda, bisa-bisa mereka tak bisa bicara berdua sama sekali karena Dea yang menghilang dari hidup Aska.


"Kita bicara lain kali ya Ka. Please"


"Why?"


Untuk sesaat Dea tak menjawab, wanita-wanita itu sesekali menunduk menyembunyikan wajahnya dari keramaian. Aska tahu seharusnya ia tak menahan Dea sekarang. Tapi jika melepaskannya, Aska takut tak ada lagi kesempatan baginya untuk bicara dengan wanita ini.


"Karena Abri? Kamu setuju sama perjodohan ini? Kamu nggak punya perasaan apapun dengan ku?"


Dea tahu Abri menyewa Reporter untuk mengambil foto mereka. Skenario terburuk adalah, Abri akan menciumnya dan membuat berita heboh keesokan harinya. Maka dari itu, Dea melakukan hal yang sama. Menyewa reporter guna mengabadikan momen saat Abri memaksanya. Membuat sanggahan yang sempurna untuk jaga-jaga jika Abri melakukan hal itu.


Tapi, siapa sangka Aska malah datang dan melakukan hal gila tadi. Sekali reporter maka mereka tetaplah reporter, mereka akan mengabadikan apapun yang terjadi apalagi diluar perjanjian. Maka dari itu, Dea bisa gila saat berita besok muncul. Ia harus menghentikan semuanya, menghentikan reporter untuk menyebarkan foto mereka. Dea tak ingin Aska terlibat masalah karena ulah yang dirinya buat.


"Bukan itu. Masalahnya.."


"Masalahnya?"


"Nama kamu akan muncul besok di berita Ka" keluh Dea. Nampak frustasi dengan segala hal. Lagi pula kenapa Aska tiba-tiba datang dan menciumnya? Ini gila, tentu saja. Bahkan untuk marah pada laki-laki ini karena bertindak tak sopan saja, Dea tak tega. Karena, dia lebuh khawatir mam Aska akan muncul di berita besok pagi.


"Ada reporter yang diam-diam mengikuti ku" aku Dea. Tentu saja, nggak mungkin kan kalau dia bilang dia menyewa reporter malam ini?

__ADS_1


Bukan sebuah keterkejutan yang Dea lihat sekarang. Alih-alih Aska yang terkejut, melainkan Dea yang terkejut karena Aska kini malah tersenyum lebar. Tampan, Dea benar-benar merindukan senyuman itu.


"Nyebelin banget sih" satu pukulan mendarat di dada Aska. Dea sudah panik setengah mati tapi bisa-bisanya Aska malah tersenyum sekarang "Ngapain senyum?" tubuh Dea bergeser sedikit ke kiri saat Aska menariknya agar tak tertabrak oleh para pramusaji yang lewat.


"Jadi, kamu lari bukan karena marah? Tapi karena khawatir sama aku?"


Melihat bagaimana Aska yang malah nyengir kuda seperti ini, menyadarkan Dea jika ia tengah berhadapan dengan sosok Aska yang memiliki sifat percaya diri yang sangat tinggi. Tapi ajaibnya melihat Aska tersenyum, membuat Dea melupakan semua tentang Abri barusan, melupakan tentang gosip yang akan akan timbul besok, seolah tak kebaratan akan apa yang terjadi esok hari. Ah, Dea sadar detak jantungnya tak lagi sama seperti dulu saat bertemu dengan Aska. Kini bertalu dengan cepat dan semakin cepat saat Aska menarik tubuhnya dalam pelukan laki-laki itu. Dan heh? Sejak kapan topi itu tergeletak di lantai.


Dea berusaha menjauhkan diri dari Aska saat sadar wajahnya tak terhalang apapun, tak ada lagi masker, tak ada lagi topi dan kini ia berada di dekapan pria yang jelas akan menjadi berita heboh esok hari.


"Itu bukanya Dea ya?"


Bisik-bisik suara yang menyebut namanya mulai terdengar. Dea lupa Aska cukup gila untuk bertindak, dan sepertinya laki-laki ini sama sekali tak terganggu saat beberapa jepretan kamera ponsel tertuju ke arahnya.


"Lepasin ak—"


"Aku nggak tertarik dan nggak terpengaruh dengan gosip kecil. Tapi kayanya seru kalau gosipnya jadi besar. Sesekali terlibat gosip sama artis kayanya menyenangkan" potong Aska.


"Gila" Dea masih berusaha untuk melepaskan diri, dan Aska jelas melakukan hal sebaiknya.


"Gimana kalau kita berkencan beneran De?"


...****************...


Setelah sekian purnama sampai ini aku rasanya udah ubanan. Baru balik lagi aku.. hehe selamat kembali baca kisah Aska dan Dea.

__ADS_1


__ADS_2