Dea Alaska

Dea Alaska
Bab 31 : Ayo Menikah


__ADS_3

Dea masih terdiam di teras kamarnya tanpa berbuat apapun. Pertemuan dengan pak Gema tadi pagi nyatanya cukup membuat moodnya benar-benar berantakan. Dea pikir, sekalipun Gema adalah sahabat baik Aska, laki-laki itu menawarkan dirinya bergabung bukan hanya sekedar jalur orang dalam, tapi karena Alaska memang menginginkan aktris papan atas sepertinya bergabung. Bukan karena orang dalam, tapi karena kemampuan dirinya dalam berakting tidak perlu diragukan lagi.


Namun, tebakannya ternyata salah. Semua karena permintaan Aska pada Gema, dan semua diterima Gema karena laki-laki itu juga memiliki maksud yang lain.


Dea menghembuskan napasnya lelah, ponsel yang sedari tadi berbunyi hanya ia lirik sebentar dan tak berniat untuk mengangkatnya karena nama Aska yang tertera di sana.


Memang, penyesalan itu selalu datang terlambat. Jika Dea tahu karirnya akan penuh dengan jalan terjal setelah mengusik seorang Ardigo, mungkin Dea tak akan melakukannya. Biarkan saja ia tampak menyedihkan dengan sebuah hubungan yang kandas meski sudah berjalan hampir 4 tahun. Bukan cuman kandas, tapi diselingkuhi sampai Ria hamil anak Ardigo.


Dea tertawa kecut. Biarkan saja ia tampak gila sekarang. Karena rasanya dirinya memang sudah berada ditahap itu. Karir hancur dengan agensi yang bobrok, Dea hanya perlu melambaikan tangan keduanya dan kembali menjadi anak yang penurut kepada orang tua.


Menyandarkan punggungnya disandarkan kursi, Dea kembali melirik ke ponselnya yang kembali berdering dengan sang penelpon yang sama. Tak lagi membiarkannya begitu saja, Dea menggeser tombol merah kemudian kembali menatap langit yang tampak cerah malam ini.


"Sejujurnya, saya tak terlalu setuju untuk merekrut kamu gabung dengan agensi kami"


Mengingat ucapan Gema, Dea mengepalkan tangannya kesal. Oh, jika saja Ardigo tak menyebar gosip buruk tentangnya pada agensi lain, Dea pasti sudah angkat kaki dari Alaska Agensi. Jika saja dirinya juga tak akan diseret langsung ke perusahaan oleh mamah, Dea mungkin akan keluar dari sana dan hiatus 1 tahun dari dunia hiburan. Mau bagaimanapun dirinya harus tetap bertahan di sana.


"Secara pribadi, saya menerima kamu karena permintaan Aska selaku pemegang saham terbesar disini. Dan selaku calon adik ipar saya"


Dea berdecak sebal saat ponselnya kembali berdering. Calon adik ipar Gema. Bukankah itu berarti Aska punya hubungan dengan adik Gema? Terus, kenapa malah menelfonya sekarang?


Mengambil ponselnya, Dea kali ini menggeser tombol hijau dan mendekatkan ponselnya ditelinga. Tak ada suara dari sebrang telfon, Dea bahkan sampai mengecek lagi nama penelfon takut ia salah lihat tadi.


"As?" ucap Dea setelah hampir 5 menit tak ada suara apapun yang terdengar.


"Aska?"


1 menit berlalu, Dea sudah berniat untuk mematikan sambungan sebelum akhirnya suara Aska yang terdengar parau menyahut dari sebrang telfon.


"Jemput aku Dea"


Dea melirik jam yang ada di ponsel, jam sudah hampir menunjukkan pukul 23.00 dan Aska masih belum juga pulang ke apartemen.

__ADS_1


"Jemput aku Dea"


Dahi Dea berkerut dalam "Sudah malam. Aku nggak bisa jemput. Pulang sendiri atau minta jemput sama sahabat kamu itu"


"Aku cinta sama kamu"


Tubuh Dea membeku seketika. Tak disangka ia malah akan mendengar pengakuan disaat saat seperti ini. Ditambah lagi suara Aska yang tampak seperti orang yang tak terlalu sadar.


"Kamu habis minum ya As?"


Sebuah tawa kecil terdengar dari sebrang, Dea menghela napasnya kesal. Dari cara bicara Aska yang mulai tak jelas arah, sudah jelas laki-laki itu tak sepenuhnya sadar kali ini.


"Jemput aku ya De. Aku butuh kamu"


"Kirim alamatnya"


Mematikan rokok, Dea menyambar jaket, topi, dan kunci mobilnya. Persetan dengan Arin yang memerintahnya untuk selalu izin pada wanita itu jika dirinya keluar, dan Arin harus selalu tahu kemana tujuannya, Dea mengesampingkan itu dan melajukan mobilnya menuju alamat yang Aska kirim. Selagi tak ada yang melihatnya, maka seharusnya semuanya akan baik-baik saja.


Di meja paling pojok, Aska tampak berbaring di kursi panjang dengan beberapa botol wine kosong yang ada di atas meja. Sebenarnya apa yang terjadi hingga membuat Aska semabuk itu.


Bukankah tujuan pertama kencan adalah sebuah pernikahan? Seharusnya Aska bahagia karena laki-laki itu akan segera menikah, perjalanan mereka akhirnya bermuara di tempat yang indah, tidak seperti kisah cintanya yang ditikung oleh sahabatnya sendiri. Ah, mengingat itu rasanya tangan Dea ingin membogem wajah Ardigo.


"Kamu bisa jalan sendiri kan As?"


"Aska?"


"Aska bingung!!" bisik Dea, sesekali ia melirik ke arah sekitar takut jika pengunjung lain menyadari keberadaannya. Lagi pula, bar ini memiliki ruangan privat, kenapa juga Aska malah duduk di meja yang bercampur dengan pengunjung lain?.


"Aska. Bangun atau aku tinggal" ancam Dea.


"Dea?" Aska tampak menggeliat, sebuah senyuman terbit di wajah tampan laki-laki itu sekarang.

__ADS_1


"Jangan keras-keras, banyak orang. Kamu bisa jalan sendiri kan?"


"Dea?"


"Iya Dea. Ayo ba—"


Ucapan Dea terhenti saat Aska tiba-tiba membungkam bibirnya dengan bibir laki-laki itu. Hanya menempel beberapa detik saja karena setelahnya Aska menjauhkan kepala dengan senyuman yang lagi-lagi membuat Dea semakin mematung ditempat.


Disaat seperti ini, bukankah dirinya seharusnya menampar Aska sekarang?.


"Aku cinta sama kamu De."


Dea menahan tubuh Aska yang kembali ingin memangkas jarak antara mereka. Dea tak sudih melakukanya jika besok Aska jelas tak akan mengingat apapun. Maka dari itu, Dea mendorong tubuh Aska dan membiarkan laki-laki itu kembali terlelap.


Dea menghela napasnya. Menatap ke arah Aska yang kini tertidur sambil memegang erat lengannya. Menunggu kedatangan Anton yang tadi memang Dea hubungi untuk jaga-jaga.


"Dea"


"Hmm?" balas Dea. Duduk didekat Aska.


"Ayo menikah"


Gemas. Dea menggeplak keras dahi Aska hingga laki-laki itu meringis kesakitan sebelum akhirnya melanjutkan mimpinya.


"Ngajakin nikah udah kaya ngajakin beli permen di warung" gerutu Dea.


...****************...


Setelah sekian purnama, akhirnya up juga. hehe.


untuk cerita Rich and Marry, akan aku unpublish dulu ya. Aku Taman kan ini dulu, baru aku up lagi.

__ADS_1


__ADS_2