
"Oke. Aku mau minta penjelasan." Arin menarik nafasnya dalam lalu menghembusnya perlahan, melepas semua emosi yang mencekiknya sejak tadi pagi. "Jadi, kalian beneran pacaran? Oh tidak, bapak Aska suka sama teman saya?" Arin menggelengkan kepalanya "Oh bukan juga. Bapak Aska suka dengan Dea Aliska Rahayu?"
"Iya"
Arin mendengus sebal saat mendengar jawaban mantap Aska. Mari bersiap-siap untuk sibuk membuat klarifikasi kepada wartawan sekarang.
"Dan lo" pandangan Arin tertuju pada Dea "Lo juga suka sama pak Aska?"
Biasanya Dea akan tampak malu-malu untuk mengakui dan memilih untuk diam. Tapi melihat bagaimana sahabatnya itu menganggukkan kepalanya membuat Dea menghela napasnya, antara lega namun juga gemas karena akan ada banyak kerjaan yang menantinya. Jika langgeng mungkin tak masalah, tapi jika kandas ditengah jalan, nama Dea jelas akan kembali di sangkut pautkan dengan Ardigo.
Dan masalah yang paling besar yang perlu Arin hadapi adalah menjelaskan pada sosok Gema. Laki-laki yang akhir-akhir ini begitu menyebalkan di kantor tapi akan berubah layaknya anak kucing di luar kantor.
"Masalah Gema, biar saya yang jelasin langsung ke dia"
Dari mata Arin yang sayu kini langsung berbuah berbinar mendengar ucapan Aska barusan. Tapi hanya barang sejenak saat mengingat ucapan Gema tadi pagi. Gema jelas tetap akan mengincarnya untuk memberi alasan meski Aska sudah maju duluan.
"Nggak perlu. Ini tugas gue sebagai manager Dea. Satu hal yang gue minta dari loa berdua. Sembunyi-sembunyi dulu kalau mau pacaran. Setelah agensi ngasih keputusan baru kita pikirkan kelanjutannya. Nggak apa-apa kan pak?"
Dea ikut melirik ke arah Aska yang duduk di samping. Dirinya mungkin sudah terbiasa untuk menjalin hubungan secara sembunyi-sembunyi. Pacaran dalam mobil pun pernah Dea lakukan. Tapi jelas tidak dengan Aska, pacaran dengannya itu berarti Aska juga harus siap dengan segala konsekwensinya.
"Saya nggak masalah. Asalkan pacar saya Dea"
Hueek.
Arin nyaris muntah sedangkan Dea malah tersipu mendengarnya.
"Sebagai manager sudah. Sekarang sebagai teman Dea"
Pandangan Dea dan Aska kembali tertuju pada Arin yang bicara.
"Gue titip Dea ya pak. Pasti bapak sudah tahu cerita kisah cinta Dea sebelumnya. Gue harap jangan jadi pria brengsek ke dua yang masuk ke data merah sebagai seseorang yang pengin gue doain mati"
Aska mengangguk. Meraih tangan Dea, lalu menggenggamnya erat. Mendapat Dea saja susahnya minta ampun, Aska jelas tak akan mensia-siakan Dea yang sudah berada di genggamannya.
__ADS_1
Kali ini helaan napas lega yang Arin tunjukkan. Melirik ke ponsel miliknya yang berdering dan nama Gema ada di sana, Arin melempar kesal bantal sofa ke arah Dea.
"Gara-gara lo, habis riwayat gue" keluh Arin, berdiri sambil meremas kunci mobilnya sendiri.
"Palingan cuman sebentar doang marahnya, habis itu berubah jadi mode pacar" jawab Dea dengan cengiran lebarnya.
Arin yang sebelumnya sudah berdiri, sontak kembali duduk di sofa dengan mata membulat sempurna. "Lo udah tahu? Dari mana?"
"Oh, jadi beneran itu punya pak Gema?"
"Maksudnya? Apanya yang punya pak Gema?"
"Kaos yang ada di kamar mandi tamu. Gue kira punya adik lo. Oh, jadi ada yang udah sampai nginep?"
Arin menggeleng panik. Sedangkan Aska tampak tersenyum melihat semuanya.
"Kamar mandi mana? Jangan aneh-aneh, di rumah gue, dikamar mandi bawah nggak ada apa-apa ya?!!"
"Gila!!" tukas Arin yang langsung berjalan keluar dari unit Dea. Meninggalkan sahabatnya itu yang kini tertawa terbahak-bahak.
Aska yang sejak tadi hanya mengamati, kini semakin lekat menatap Dea yang tertawa geli. Bukan seperti awal pertemuan mereka dimana Dea menunjukkan senyum dan tawa palsu di depan wartawan, tapi kali ini tawanya terdengar begitu renyah dan tulus hingga Aska merasa kembali jatuh cinta pada Dea. Harapannya, tawa dan wajah ini akan Aska lihat seumur hidup.
"Cantik" ucap Aska lirih.
"Kenapa?" tanya Dea karena tak terlalu jelas mendengar gumaman Aska.
"Cantik. Cantik sekali"
Tawa Dea meredup seketika diganti dengan salah tingkah. Arin sudah pergi dan mereka hanya berdua sekarang, Dea tak bisa lagi santai dan mengontrol ekspresinya agar tak terlihat salah tingkah di depan Aska, mungkin membuat sarapan untuk mereka berdua bisa mengurangi debaran jantungnya.
Tapi seolah Aska tak ingin melepasnya sama sekali, baru juga berdiri Aska menarik tangannya dan membuatnya kembali duduk di sofa.
"Aku mau ngomong sesuatu sama kamu" ucap Aska lembut.
__ADS_1
Dea menunduk menyembunyikan wajah bantalnya saat mendapati Aska menatapnya begitu lekat. Wajah Dea polos, tak memakai riasan sama sekali, dan sungguh itu bagaikan aib bagi seorang publik figur sepertinya.
"Bisa lihat aku?"
Oh kenapa suara itu terdengar begitu lembut sekaligus serius. Dea mengangkat pelan kepalanya dan senyuman Aska yang begitu tampan menyapanya.
"Aku mau ngomong sesuatu"
"Aku lapar" jawab Dea langsung. Sungguh jika terlalu lama dalam posisi ini Dea akan kehabisan napasnya saking merasa gugup.
"Laper banget?"
Dea mengangguk semangat, sejak mengenal Aska, Dea tahu kelemahan laki-laki ini adalah saat dirinya memasang wajah memelas. Dan benar saja, Aska akhirnya menganggukkan kepala lalu mengacak rambut Dea gemas.
"Biar aku aja yang masak. Kamu mandi aja dulu"
Dea menggeleng "Aku aja. Kamu bisa pulang dulu, nanti kalau makanannya sudah siap, aku telfon. Jangan lewat balkon, lewat pintu"
"Berapa jam baru selesai?"
"Dua jam. Mandi dan masak, 2 jam"
"Keburu aku sakit perut kalau begitu"
"Mau apa nggak?" tanya Dea. Sedikit gemas saat melihat ekspresi Aska yang berpura-pura tengah berpikir.
"Oke" jawab Aska. "Tapi peluk dulu?"
"Kamu bau. Jadi mending pulang dulu ya bapak Alaska yang terhormat?"
Aska tertawa. Menurut begitu saja saat Dea mendorongnya keluar dari unit wanita itu. Senyuman Aska masih mengembang lebar hingga pintu rumah Dea tertutup.
Dan senyuman itu menghilang seketika.
__ADS_1