
Aska merasa bahwa pendekatan dengan Dea belum berakhir sepenuhnya. Keberadaan tante Ajeng benar-benar membuat hubungan dirinya dan Dea tak sejauh kemarin. Contohnya saja seperti sekarang, tak pernah menyangka sebelumnya, ditengah-tengah hubungan mereka yang merenggang, dirinya malah bisa satu mobil dengan Dea. Ya, meski hanya dianggap sebagai supir, Aska tak masalah sama sekali asalkan bisa memiliki waktu untuk mengobrol sekali lagi dengan Dea.
Masalah permintaan Dea untuk menjauhinya, Aska akan menganggap tak mendengar sebelumnya. Maka dari itu, meski hari ini ia tak bisa mengenalkan Dea kepada ibu dan akan berakhir datang ke kencan buta, Aska punya alasan untuk menolak pertemuan kedua. Sekali saja bertemu, dan selesaikan langsung semuanya.
"Makasih untuk bekalnya ya. Roti bakar yang terakhir kamu kasih rasanya enak" buka Aska. Mobil sudah mulai melaju menuju agensi Alaska. Bercampur baur dengan kemacetan yang sudah menjadi sarapan sehari-hari para penghuni ibu kota ini.
"Bukan aku yang masak, tapi mamah. Jadi nggak usah terima kasih sama aku"
"Isinya mamah kamu yang masak, tapi kotak bekalnya tetap punya kamu kan?"
Lirikan mata Dea yang ditutup dengan tawa riang wanita itu, mau tak mau langsung menular dan membuat Aska ikut tertawa. Suasana mobil yang sebelumnya dingin, kini terasa jauh lebih hangat. Dea tak lagi menunjukkan ekspresi kesal melainkan tampak menggemaskan saat wanita itu mulai tertarik dengan foto yang bergantung.
"Ini foto adik dan mamah kamu?"
Aska mengangguk "Iya. Dan ini ponakan aku yang kamu kira anak ku"
"Cuman dua bersaudara? Ah nggak. Tiga bersaudara" koreksi Dea cepat. Aska pernah bilang jika laki-laki itu kembar dan saudara kembarnya meninggal beberapa tahun yang lalu.
"3 bersaudara. Sama kaya kamu kan?"
"Tahu dari mana?"
Aska mengusap pelan dahi Dea yang kini berekerut. "Mamah kamu. Kamu anak perempuan satu-satunya. Dan tante Ajeng pesan buat jaga kamu sebaik mungkin"
Bola mata Dea berputar jengah. Entah sejauh apa mamah sudah bertindak sebenarnya. Sejauh apa obrolan mereka hingga sang mamah meminta Aska untuk menjaganya meski mereka baru bertemu beberapa kali "Lupain aja yang mamah bilang. Mamah emang kadang suka-suka aneh"
"Aneh juga nggak apa-apa" lirikan maut Dea membuat Aska tertawa melihatnya. Setelah beberapa minggu tak lagi tertawa bersama Dea, rasanya pagi ini adalah pagi terbaik yang pernah Aska miliki.
"Aku turun di kafe depan"
"Nggak mau sampai agensi?"
"Meski bisa dibilang masuk jalur orang dalam, aku masih terlalu sayang dengan karir dan nggak berniat buat gosip baru"
Tawa Aska kembali menggema. Menepikan mobilnya tepat didepan kafe yang dimaksud, Aska menahan tangan Dea saat wanita itu hendak keluar dari mobil.
"Mau aku jemput?" pertanyaan konyol yang langsung mendapat respon decakan kesal dari Dea.
"Terima kasih bapak Aska yang terhormat. Nggak perlu"
Membiarkan Dea keluar dari mobil, senyum Aska masih bertahan sampai wanita itu hilang dari balik pintu kafe. Semuanya kembali membaik, Aska hanya perlu mendatangi kencan buta malam ini, lalu mengakhiri semuanya.
Berniat untuk kembali melajukan mobilnya menuju kantor, Aska tertegun sejenak saat matanya menangkap sosok Ana yang masuk ke gedung agensi Alaska yang memang berjarak tak jauh dari kafe. Matanya masih sangat sehat, dan Aska yakin ia tak salah untuk mengenali sosok Ana.
Untuk apa Ana datang ke agensi Gema?
__ADS_1
°°°
Dea mendelik saat matanya menemukan Arin yang baru saja masuk ke dalam kafe setalah hampir 30 menit ia menunggu. Jarak rumah Arin dengan agensi tidak terlalu jauh, entah apa yang baru saja wanita itu lakukan hingga baru sampai di kafe sekarang.
"Rumah lo pindah ke HI bu?" sindir Dea.
Tak memperdulikan ocehan Dea, Arin langsung menenggak ice Latte milik Dea tanpa izin sama sekali. Seperti sudah seperti kebiasaan sehari-hari, Dea hanya menggerutu kesal sambil melirik sosok pria yang datang bersama managernya itu.
"Siapa?" bisik nya pada Arin.
"Anton" jawab Arin disela napasnya yang tersengal-sengal.
Ini orang naik mobil atau lari maraton sih?
Mencolek pinggang Arin, Dea kembali berbisik "Anton siapa?"
"Supir yang dikasih agensi. Kalau gue nggak bisa, dia yang bakal antar jemput lo."
"Halo mbak Dea. Anton"
Meski masih bingung karena selama menjadi artis tak pernah mendapat sopir pribadi, Dea tetap menjabat tangan Anton yang berdiri di depannya. Biasanya, sesibuk apapun kerjaannya, Dea hanya akan bersama Arin selaku manager. Tak pernah ada orang lain yang ikut bergabung dengannya.
"Alaska selalu ngasih sopir pribadi buat artisnya selain manager. Jadi, orang lo nambah satu lagi. Gue sebagai manager dan Anton sebagai sopir. Mayan, gue nggak capek buat ngurusin semua sekaligus jadi sopir"
Dea mengangguk. Agensi baru, maka aturannya serta fasilitas yang diberikan juga akan berbeda. Dea hanya perlu beradaptasi setelah ini.
"Ayok. Pak Gema sudah ada di agensi. Sebagai artis yang baik, lo harus nyapa dia"
***
Tak seperti biasanya, ibu mengadakan kencan buta di rumah. Lebih tepatnya ini bukan kencan buta melainkan pertemuan antara dua keluarga yang membuat Aska kehabisan kata-kata.
Sudah hampir 10 menit Aska hanya diam sambil sesekali membaca alamat yang diberikan ibu. Memastikan jika ia tak salah lihat dengan alamat yang dikirim ibu beberapa menit yang lalu. Bukan di resto atau kafe seperti biasanya, melainkan di rumah yang itu berarti bukan hanya dirinya saja yang akan bertemu dengan anak teman ibu, melainkan seluruh keluarga.
Seolah sudah diwanti-wanti oleh ibu, Billa tak menjawab pesannya sama sekali. Ditelfon pun, gadis itu tak mengangkatnya. Billa diam seribu bahasa meski biasanya adiknya itu selalu memberitahu informasi tentang wanita yang dijodohkan ibu dengannya. Iming-iming uang 500.000 pun sama sekali tak membuat Billa angkat bicara.
Menghela napasnya kasar, mobil Aska yang memang sejak tadi sudah berada di depan pagar perumahan, kini mulai bergerak menuju rumahnya. Sebelum turun ia sempatkan untuk membuka pesan yang dikirim oleh Aldo.
Melihat Ana di agensi Alaska tadi pagi, membuat Aska sedikit tak tenang. Maka dari itu ia bertanya pada Aldo dan baru mendapat pesan balasan meski Aska bertanya sejak tadi pagi.
Aldo:
Gue nggak tahu, dia ngobrol sama Gema. Cuman gue denger sedikit tentang foto. Kalau lo cemburu tanya aja langsung sama Gema. Jangan sama gue.
Aska :
__ADS_1
Cemburu? Siapa gue? Nggak sama sekali. Gue cuman penasaran kenapa dia dateng ke agensi. Thanks untuk infonya.
Memasukan ponselnya ke saku celana. Aska keluar dari mobil yang disambut oleh Billa. Bukan hanya ada mobik dirinya dan mobil ibu, melainkan ada satu mobil lagi yang nampak tak asing dimata Aska. Ia pernah melihat mobil itu sebelumnya.
"Lama bener pak. Tamunya udah dateng itu."
Menjitak pelan kepala Billa. Aska masuk ke dalam rumah. Acara diadakan di halaman belakang, maka dari itu langkahnya bersama dengan Billa langsung menuju halaman belakang rumah. Namun baru sampai dapur, langkah Aska terhenti saat melihat Gema keluar dari area pantry. Benar. Itu mobil Gema.
"Lah. Ngapain lo ke sini?" tanya Aska. Billa langsung melipir meninggalkan keduanya.
"Kangen sama nyokap lo"
"Gila" sembur Aska yang mendapat gelak tawa dari Gema.
"Kangen sama lo juga mungkin?"
Kali ini Aska yang tertawa. Mengambil kaleng soda yang diberikan oleh Gema, Aska mengurungkan diri untuk ke halaman belakang dan memilih untuk duduk di kursi meja makan.
"Gue liat Ana tadi pagi di gedung agensi. Kenapa?" tanya Aska. Tak ada rahasia diantara mereka. Maka dari itu Aska akan langsung bertanya jika ada hal yang menganggu pikirannya.
"Gue cerita nanti. Ayok ke halaman. Ada yang perlu lo tahu"
Sebenarnya melihat keberadaan Gema di rumahnya disaat-saat seperti ini, Aska sudah sedikit curiga. Dan benar saja, tepat saat dirinya sampai di halaman belakang. Bukan hanya Billa dan ibu yang Aska lihat, melainkan ada sosok Arina dan kedua orang tua Gema.
Mengerti apa yang terjadi sekarang. Setelah memberi salam pada kedua orang tua sahabatnya, Aska langsung menarik Gema masuk ke dalam rumah. Aska cerdas, maka hanya dengan sekali lihat, laki-laki itu tahu pasti semua ini ada hubungannya dengan Ana dan Dea.
"Lo?"
"Arina. Nikah sama adik gue Ka. Maka gue bakal lepasin Dea" Mengenal baik Aska sejak kecil. Gema tahu jika Aska bisa langsung menarik kesimpulan yang ada.
"Arina suka sama lo sejak SMA. Sama kaya Billa yang lo sayangi dan rela ngelakuin apa aja buat adik lo. Gue juga sama."
"Lo Gila beneran Gem"
"Ya gue gila. Gue udah nurutin kemauan lo biar Dea bisa gabung sama agensi. Jadi sekarang, giliran lo yang ngabulin kemauan adik gue"
"Lo kerjasama sama Ana?" tangan Aska sudah mengepal erat. Jika bukan sahabatnya, satu bogeman pasti sudah melayang mengenai pipi Gema sekarang.
Jadi, semuanya ulah Gema?.
"Ya. Gue juga yang ngaku sahabat lo dan dia masuk ke agensi karena permintaan lo. Gue juga yang nyuruh Ana buat foto kalian di apartemen. Gimana kalau foto itu jadi gosip yang ngancam karir dia? Gue tinggal ngeluarin dia dari agensi"
Bugh.
Satu bogeman kini tak bisa Aska tahan lagi. Musuh paling mengerikan adalah orang terdekat.
__ADS_1