Dea Alaska

Dea Alaska
Bab 22 : Wanita 4 Tahun Yang Lalu


__ADS_3

"Lo dateng beneran cuman buat ngeliat Aska?" pertanyaan itu meluncur dari mulut Dea setelah melihat Aska keluar dari unitnya. Mungkin jika tak ada kalimat panjang Aska sebelum Arin datang, Dea juga pasti akan sama mematungnya seperti Arin yang berdiri mematung dengan mata yang mengerjap beberapa kali. Dea yakin sebentar lagi, Arin akan memekik girang.


"Gue nggak salah denger tadi kan De? Dia sat set sat set banget?" bukannya menjawab, Arin malah melemparkan pertanyaan.


Sejujurnya Dea juga cukup terkejut tadi saat Aska tiba-tiba berkata demikian, seterus terang itu Aska terhadap perasaan yang laki-laki itu miliki di saat hampir semua pria gengsi untuk menunjukkan ketertarikan kepada teman gebetannya. Bahkan ajakan menikah begitu ringan untuk diucapkan. Jika, Arin tahu ini bukanlah pertama kali Aska mengajaknya berkencan dan menikah, sahabatnya ini pasti akan pingsan.


"Serius?"


"Apaan sih Rin?"


"Akhhhh."


Membungkam mulut Arin yang terus berteriak kencang, Dea melakukannya begitu cepat, bisa-bisa ibu-ibu penghuni apartment ini kembali mendatangi mereka berdua.


"Lo sebenarnya ke sini mau ngapain sih?"


"Niatnya gue pengin ngasih kabar sedih sama gembira sekaligus. Tapi gue pengin teriak gemes dulu. Gila itu cowok sat set sat set banget. Ya Tuhan, sisakan satu buat Arin Lidya Seruni. Amiin"


Gila. Memang benar, orang gila pasti berteman dengan orang gila. Menarik Arin agar duduk di sofa, Dea melipat tangannya di depan dada. Jika euforia Arin tak dihentikan secara paksa, wanita ini akan kegirangan nggak jelas hingga pagi.


Aska memang bermain begitu cepat, sat set sat set dalam mendekatinya. Tapi, belum tentu itu akan bertahan lama jika sudah mulai bosan. Meski jujur Dea juga sedikit mulai tertarik untuk mengetahui kehidupan laki-laki itu mulai dari apa pekerjaannya, siapa orang tuanya, apa hobinya, apa makanan kesukaannya, apa minuman kesukaannya dan segala hal lain yang mengangkut Aska, Dea masih belum yakin untuk membuka hatinya. Luka yang di torehkan Ardigo masih belum kering sepenuhnya. Dea hanya tak ingin menyeret nama orang lain di gosip yang tengah menimpanya layaknya minya tanah yang disiramkan ke kobaran api.


"Kabar buruk"


"Gue mundur jadi manager Marinka. Keluar juga dari agensi" jawab Arin cepat, secepat perubahan ekspresi wanita itu.


"Ah. So sweet banget jadi bestie" Dea menarik Arin kedalam pelukannya. Jangan berpikir Dea akan bertanya kenapa alasannya dan menyayangkan keputusan Arin untuk keluar dari agensi. Inilah yang di sebutan sahabat sejati.


"Kabar baik nya?"


Sebuah senyuman muncul di wajah Arin sekarang. Wanita itu mengambil berkas dari dalam tas nya lalu di serahkan kepada Dea.


"Alaska management berniat untuk kerjasama sama lo. Lo diminta buat gabung sama agensi mereka"

__ADS_1


Mata Dea berbinar seketika. Alaska entertainment memang tak sebesar milik Ardigo, hanya saja banyak artis dan aktor papa atas yang bergabung dengan agensi itu. Bahkan hampir semua film yang diperankan oleh aktris dari Alaska sukses dipasaran.


"Ini bukan karena pemiliknya sepupu lo kan?"


Arin menggeleng. Ia tahu betul jika Dea tak akan menerimanya jika dikarenakan oleh orang dalam. Dea paling benci hal itu. Bisa-bisa dirinya di benci juga oleh sahabatnya ini.


"Kapan bisa ketemu?" Membuka berkas dari Arin, Dea benar-benar merasa karirnya tak akan hancur. Meski tak pula stabil seperti sebelumnya, Dea tak masalah jika ia harus merangkak perlahan lagi untuk kembali kepuncak.


"Lusa. Kita datang ke sana untuk surat kontraknya"


Dea menganggukkan kepalanya. Hari-hari suramnya kini benar-benar akan mulai berkahir. Jatuh miskin karena putus dengan Ardigo? Oh, itu jelas tak ada di kamus hidupnya. Sekalipun tak menjadi artis, hidup dan karir Dea sudah terjamin ke depannya oleh keluarga.


"Tapi, lo beneran jadian sama Aska De? Agensi juga harus tahu. Jangan main kucing-kucingan"


"Nggak ada yang jadian Rin. Jangan ngaco"


"Kalau jadian juga nggak masalah sih"


"Serius?" kepala Dea menoleh cepat ke arah Arin. Dan langsung mendapatkan satu sentilan di dahi.


Dea menghela napasnya kesal. Satu pukulan bantal ia arah ke wajah Arin hingga wanita itu jatuh terduduk di sofa. Kadang kalimat Arin itu penuh jebakan. Berteman belasan tahun masih saja membuat Dea terkadang terjebak pada kalimat yang keluar dari mulut wanita itu. Berharap? Entahlah, Dea belum terlalu yakin. Karena hatinya memang terkadang terbuka untuk orang baru namun juga suka tertutup secara tiba-tiba jika mengingat perilaku Ardigo. Kata beberapa wanita, sifat satu laki-laki dengan laki-laki lain itu tak jauh berbeda.


"Kagak ada kata ngarep-ngarepan lagi. Yang gue pikirin sekarang gimana biar karir gue bisa naik lagi. Kalau terus begini aja tanpa ada kemajuan. Ibu bakal jodohin gue sama anak temennya"


Arin menjentikkan jarinya "Kalau yang jodohin tante. Pasti ganteng bin tajir orangnya De. Bisa tuh buat pamer sama Ria. Dan juga.."


Dea mengikuti arah gerak Arin. Wanita itu bangkit, berjalan menuju dapur lalu kembali duduk di sampingnya. Tiga karet gelang berada ditangan wanita itu, kemudian di pakaian ke penggalangan tangan Dea.


"Lo minta gelang nanti, terus ditunjukin ke Ria sambil gerak kaya nari India"


Kerandoman Arin sudah berada di taraf mengerikan.


***

__ADS_1


Pagi kali ini memang terasa berbeda dari sebelumnya. Hari ini ia harus pulang ke rumah dan itu berarti hanya waktu pagi saja ia bisa bertemu dengan Dea sebelum berangkat ke kantor. Dua sandwich yang selesai Aska buat dengan begitu sempura, ia potong membentuk segitiga lalu dimasukan kedalam satu kotak bekal berbentuk persegi panjang. Satu kotak bekal lagi yang masih kosong Aska isi dengan buah strawberi dan anggur yang sudah ia cuci bersih. Meski tak bisa mengobrol lama karena Arin menginap di rumah Dea semalam, setidaknya Aska berharap bisa melihat wajah cantik Dea sebelum pergi bekerja.


Mengambil ponsel miliknya, Aska memfotonya terlebih dahulu lalu mengirimkannya pada Dea.


Aska :(Foto)


Aku buat sandwich khusus untuk kamu. Cuman boleh kok kalau mau berbagi sama manager kamu itu.


Kotak bekal kamu masih ada di aku. Dan ini aku kasih pake kotak bekal pribadi, jadi masih ada alasan untuk masakin kamu sesuatu sekali lagi.


Note : Ini nggak asin.


Selesai mengirim pesan, Aska menutup bekalnya lalu ia masuk ke dalam tote bag. Senyum Aska mengembang saat membaca pesan balasan dari Dea.


Dea : Aku ada urusan pagi ini. Ini udah mau berangkat, jadi paling aku makan di jalan aja ya.


Aska : Oke.


Masuk ke dalam kamar, Aska juga bersiap-siap untuk berangkat kerja. Pagi ini ia harus kembali ke proyek untuk memantau langsung pembangunan perumahan di daerah Jakarta Selatan, setelah dari sana Aska akan langsung pulang menepati janjinya pada sang mamah.


Suara bel yang berbunyi, membuat gerakan tangan Aska yang tengah memasang dasi terhenti seketika.


"Kayanya beneran sibuk banget dia. Mau kemana sih, berangkat cepat banget"


Menenteng tote bag yang ia ambil dari meja dapur, Aska membuka pintu dengan senyuman mengembang. Kali saja melihat dasinya yang belum sempurna, Dea akan tergerak untuk membantu spontan. Lumayan bisa lihat wajah cantik itu dari jarak yang dekat lagi.


"Udah mau ber—"


Bukan Dea yang Aska liat begitu membuka pintu unitnya. Melainkan sosok wanita yang 4 tahun lalu sukses memporak-porandakan hatinya karena permintaan putus dadakan.


Azkia Anastasya.


"Hai mas"

__ADS_1


Bersamaan dengan sapaan Ana yang membuat mata Aska membulat karena terkejut, pintu unit di depannya tiba-tiba terbuka. Dea keluar dari unit gadis itu dan terdiam membeku melihat Ana yang malah bergerak maju dan memeluk tubuh Aska sepihak.


__ADS_2