
1 tahun kemudian...
Aku menggenggam erat tangan mungil cindy, membawanya untuk berjemur di taman belakang rumahku.
"Jangan lama lama dijemurnya lin"ucap mamah padaku. Aku menoleh padanya dan menganggukan kepalaku
Aku membawa cindy menuju baleho agar tidak terpapar sinar matahari lagi.
Mamah juga duduk di sebelahku
"Apa farhan masih gak bisa dihubungi?"tanya mamah
"Masih gak bisa mah"jawabku dengan nada sendu, sembari memandangi cindy.
Mata cindy sangat mirip dengan farhan, ada apa dengan farhan kenapa tidak bisa kuhubungi??
"Kita sarapan dulu aja yuk"ucap mamah mengajakku
"Aku masih kenyang mah"ucapku
"Yaudah kalau gitu, mamah ke dalam dulu ya"ucap mamah yang kemudian ku angguki.
Aku terus memandangi cindy yang dimana ia menatapku lekat. Aku mendekatkan bibirku pada pipinya dan mulai menciuminya. Ia mulai tertawa dengan perlakuannku.
Hingga tak lama ia mulai menangis, pertanda ia mimulai terusik dan memang ini jamnya dia harus diberi ASI.
Aku membuka kancing bajuku dan mulai menyodorkan payudaraku pada cindy agar bisa ia hisap.
Aku mengusap pucuk kepalanya sembari terus menatapnya dengan tersenyum.
******
Kamar alin
11:23 WIB
Tokk tokk tokk
Pintu terketuk dan kemudian terbuka dari luar.
Muncullah sosok yang sudah lama ingin ku pukuli, farhan.
Flashback***
"Lin"ucap farhan
"Dari saat ini, aku minta kamu berhenti untuk semua effort yang kamu lakukan untuk hubungan kita kalau kamu sudah sadar bahwa semuanya sia sia"ucap farhan yang membuatku menoleh padanya
"Hah?"tanyaku memastikan lagi
"Berhenti melakukan semua hal yang menurut kamu sia sia"ucap farhan
"Biarkan aku kali ini yang melakukan semuanya, kasih aku kesempatan lin supaya kamu bisa tau seberapa serius aku sama hubungan ini"sambung farhan
***
Aku melempar 2 bantal padanya hingga membuatnya meringis
"Aduhhh sakit lin"ucap farhan sembari memunguti bantal tersebut, ia kemudian berjalan menujuku dan menaruh kedua bantal yang kulempar tadi
"Kenapa kamu gak bisa dihubungi 2 hari ini sih???!!!!"tanyaku dengan nada kesal
"Nih liat hp mas, rusak kecebur di kolam ikan"ucap farhan
"Aku kan mikirnya kamu udah mati"ucapku dengan asal
"Astagfirullah alin, jangan gitu juga kali mikirnya"ucap farhan
"Ck! Udah pas lahiran kamu gak dateng, dan sekarang aku sering di tinggal-tinggal pergi! Kesel banget sih"ucapku dengan kesal
Flashback***
Aku menahan kuat sakit perutku ini, meremas seprei yang membaluti ranjang rumah sakit ini.
"Farhan mana sih mah?"tanyaku
"Lahiran sekarang aja ya sayang? Dia lagi meeting kata sekretarisnya"jawab mamah
"Mamah! Bilang ini pentingg!!!!"ucapku
__ADS_1
"Yang penting tuh anak kamu dan kamu selamat, udah lahiran sekarang aja kan ada mamah"ucap mamah memaksaku
Bahkan saat aku akan melahirkan, rasa kesalku pada farhan semakin berkali-kali lipat.
Lihat saja!!! Tidak akan kubiarkan dia menyentuh anakku nanti!
1,5 jam kemudian...
Aku tengah menyusui anakku ini, yang masih belum tanpa nama. Menunggu si manusia mengesalkan itu datang!
Hingga akhirnya pintu terbuka dan muncullah farhan masih dengan setelan kemeja juga jas nya.
Aku menatapnya tajam dimana ia menunjukan ekspresi takut.
"Lin"ucapnya yang ku abaikan
Ia mencoba meraih anak yang tengah ku gendong ini namun ku hempaskan tangannya
"Tau gak? Tangan kamu tuh kotor!!"ucapku dengan nada ketus
"Lin jangan gitu"ucap mamah menasihati
"Biarin! Siapa suruh gak nemenin aku pas lahiran!"ucapku dengan kesal
Farhan berjalan menuju wastafel untuk mencuci tangan dan kemudian berjalan kembali ke arahku.
"Cantik ya"ucapnya yang kuabaikan
"Mamah mau pergi dulu nyusul papah sama adik-adik kamu dibawah"ucap mamah yang ku angguki.
Mamah kemudian keluar dari kamar rawatku
"Makasih ya sayang, maaf mas gak bisa nemenin kamu lahiran"ucap farhan
Aku masih tetap terdiam, malas menanggapi ucapannya!
"Jangan marah sama mas gini lin, please jangan diemin mas kaya gini"ucap farhan memohon
"Diem!"ucapku
"Mas minta maaf, tadi bener bener urusan penting karena client aku gamau di ganti jadwal rapatnya"ucap farhan
"Maafin mas"ucapnya.
Ia kemudian mengeluskan jarinya pada pipi anak kami ini.
"Cindy habizard"ucap farhan yang awalnya mmebuatku mengernyitkan dahi. Aku menoleh padanya meminta kejalasan apa yang dia bicarakan
"Nama anak kita"ucapnya
"Enak aja! Aku gamau!"ucapku yang membuat farhan mengernyitkan dahi
"Loh kenapa?"tanya farhan
"Aku gamau ada nama kamu! Tadi kan yang nemenin aku lahiran papah sama mamah aku jadinya nama belakang harus nama mereka bukan nama kamu"ucapku
"Yaampun lin, masih marah aja"ucap farhan
"Sana pergi! Udah gabutuh kamu! Lanjutin rapat kamu kalau perlu gausah pulang sekalian"ucapku
Farhan menghela nafasnya dalam mencoba menenangkan diri agar tidak tersulut emosi karena ucapanku yang dari tadi memang bernada emosi.
****
"Itu yang terakhir mas janji"ucap farhan
"Bisa gak sih kamu tuh banyak waktu di rumah? Lama-lama cindy bisa lupa punya papah kamu kalau kamu sering pergi"ucapku
"Aku udah minta urusan rapat di handle bawahan aku"ucap farhan
"Bagus! Aku aja copot jabatan supaya bisa fokus sama keluarga, masa iya kamu masih gitu gitu aja! Kamu bukan bujangan lagi yang bisa seenaknya kesana kemari. Udah punya istri sama anak"ucapku
"Nih jagain anak kamu, aku mau kebawah makan"sambungku lalu pergi meninggalkan farhan dengan cindy di kamar
Hampir 1 tahun usia pernikahanku dengan farhan dan semua berjalan sesuai harapanku.
Semenjak perdebatan yang dulu terjadi, farhan bersikeras menetapi kata-katanya untuk tidak mengecewakanku lagi.
Kami dan citra sudah benar-benar tidak berhubungan lagi, citra sudah berada di kota lain dan menikah dengan seorang karyawan yang bekerja di perusahaan cabangku. Ya begitu yang ia bilang, entahlah! Aku sudah tidak peduli dengannya.
__ADS_1
Awalnya sangat sulit untukku menerima farhan kembali, setelah semua hal yang aku rasakan karena ulahnya. Bahkan pernikahan kami pun harus di undur karena aku bertekad untuk membatalkan pernikahan ini namun farhan berusaha untuk tetap mempertahankan hubungan ini.
Setiap hari ia selalu datang ke rumah, bersikap baik dan melayaniku selayaknya seorang pembantu. Itulah yang aku tidak suka! Sikapnya terlalu berlebihan! Dia calon suamiku tapi memperlakukanku sebagai majikannya. Bodoh!
Aku sempat dekat dengan rangga walaupun pada akhirnya tetap berakhir karena farhan terus mengusik hubunganku dengan rangga dan akhirnya aku kembali padanya. Saat usia kandunganku 2 minggu, akad lalu dilaksankan dan tidak menggunakan resepsi karena melihat kondisiku yang masih saja mudah lelah.
Awalnya orang tuaku tidak mengetahui mengenai kehamilanku namun pada akhirnya farhan lah yang berterus terang pada kedua orang tuaku sehingga amukan yang ia dapatkan, aku sudah memperingatkannya untuk diam saja namun mulutnya yang tidak bisa diam itu selalu saja mencari gara-gara.
Papah kecewa padaku karena perilaku yang benar benar memalukan, sempat terjadi konflik namun akhirnya berbaikan karena bantuan dari mamah.
5 hari kemarin, farhan harus datang ke sebuah acara sebagai pembicara dalam hal bisnis. Acara tersebut dilaksanakan di kota surabaya, awalnya semua berjalan baik hingga 2 hari terakhir aku tidak bisa menghubunginya dan mulai cemas.
Hingga akhirnya dia datang dengan wajah cengegesannya tanpa rasa bersalah
Ruang makan...
Aku mulai memakan makanan yang sudahku ambil dan muncullah farhan dengan menggendong cindy, ck!
"Kok cindy dibawa kesini??"tanyaku
"Udah bangun tuh"jawab farhan sembari menunjukan wajah cindy.
"Hai mamah"ucapnya sembari melambaikan tangan cindy padaku
"Dia tuh baru tidur mas, kamu kenapa sih ganggu cindy terus"ucap ku geram
"Papahnya kan kangen mau main bareng"ucap farhan membela diri
"Terserah deh"ucapku
"Udah makan belum?"tanyaku
"Belum"jawabnya
"Aku ambilin makanan dulu"ucapku sembari mengambil piring dan menuangkan nasi juga lauk dan kuberikan pada farhan
"Nih papah makan dulu biar cindy aku tidurin lagi"ucapku
"Enggak ah, nanti aja makannya kalau gitu. Mas mau main dulu sama anak mas"ucap farhan sembari menciumi wajah cindy
"Yaudah yaudah terserah lah"ucapku sudah malas berdebat.
Ting...
Ponselku berbunyi dan aku pun mengambil ponsel dalam saku ku tersebut.
Aku membulatkan mata melihat rangga yang menelpon, ada urusan apa?
"Angkat itu telponnya"ucap farhan
"Siapa sih yang nelpon?"tanyanya
"Rangga"jawabku yang membuat farhan membulatkan mata. Ia langsung merampas ponselku dan menjawab telpon dari rangga, tak lupa ia loud speaker agar aku bisa mendengar
"Halo alin?"ucap rangga
"saya suaminya, ada apa ya?"tanya farhan
"Oh farhan, alinnya dimana?"tanya rangga
"Lagi di kamar mandi. Ada apa?"tanya farhan
"Mmm nanti aja kalau begitu, tolong sampaikan alin ya kalau saya nelpon"ucap rangga
"Hm"jawab farhan dengan singkat lalu memutuskan panggilan.
Ia mulai menatapku tajam
"Selama aku pergi kamu telponan sama dia?"tanya farhan
"Enggak lah ngapain juga"jawabku
"Kenapa dia gamau ngomong sama aku malah maunya sama kamu"ucap farhan dengan nada kesal
Huh! Drama lagi!
Oh my! Farhan benar benar se cemburu ini jika menyangkut soal rangga. Aku malas menganggapi ucapannya karena berujung pada perdebatan
bersambung
__ADS_1