DEKADE RENGKUHAN ALIN

DEKADE RENGKUHAN ALIN
15


__ADS_3

Rumah farhan dan alin


11:21 WIB


Aku tengah memperhatikan farhan yang sedang bercanda dengan cindy, entah itu mencubit pipinya ataupun menggendongnya dengan tinggi.


Jika ditanya apa aku sudah benar-benar memafkaan semua kejadian yang lalu, tentu saja jawabanku tidak.


Aku tidak akan berharap banyak dengan farhan, aku hanya ingin dia terus ada bersamaku untuk cindy. Aku mulai paham bahwa "sia-sia" jika berharap dengan farhan.


Aku teringat dengan ucapan aldo saat SMA dulu dia tengah pendekatan denganku, dia bilang "cinta selalu menemukan jalan, jika benar-benar cinta maka akan selalu ada cara untuk tidak berpisah"


Tapi justru aku dan farhan berpisah dimana ia menikah dengan citra. dia mungkin tidak benar-benar cinta ataupun cintanya sudah memudar karena 10 tahun tanpa kejelasan.


Kata-kata itu terbukti karena memang saat aku dan aldo putus kami berdua memang tidak memiliki rasa cinta lagi.


Farhan menatapku dan aku langsung membuang tatapanku padanya. Aku kemudian pergi menuju ruang makan dan bersiap siap untuk makan siang.


Farhan berjalan mendekatiku sembari menggendong cindy, ia duduk di sebuah kursi dimana bersebelahan dengan toddler seat milik cindy.


Aku mengambilkan piring untuknnya dan menuangkan nasi juga lauk lalu kuberikan padanya.


Akan berbeda kali ini, aku tidak akan banyak berbicara. Entahlah kenapa tapi aku sedang malas banyak bicara.


"Ini pertama kali kamu buat semur ayam ya?"tanyanya yang ku angguki


"Enak"ucapnya


"Makasih"jawabku dengan nada datar dan menlanjutkan makanku


"Udah lama mas mau bilang ini, ada orang yang mau berani bayar banyak untuk restaurant mas"ucap farhan


"Terus?"tanyaku


"Apa mas jual aja? mas pikir, hasil dari investasi juga udah cukup"ucap farhan


"Yaudah"jawabku yang dibalas tatapn bingung dari farhan


"Yaudah aja? Kamu gamau ngasih alasan dulu? beneran gak masalah?"tanya farhan memastikan lagi


"Iya gpp"ucapku


"Oke"jawabnya


Aku tidak sebodoh itu, yang akan membeli restaurantmu itu aldo yang merupakan sahabat baikku. Jelas saja aku setuju!


Lagipula, aku menanam 30% modal untuk pembelian restaurantmu itu mas farhan!


******


Kamar


22:11 WIB


Aku tengah duduk di atas ranjang sembari menonton tv, cindy baru saja tertidur dan akhirnya aku bisa beristirahat. Sulit sekali untuk cindy bisa tertidur, apalagi jika tidak ku gendong.


"Lin"ucap farhan yang membuatku menoleh. Ia berjalan ke arahku dan duduk di sebelahku, tidak hanya duduk melainkan memelukku.


"Apa?"tanyaku


"Gpp"jawabnya sembari mengecup leher ku. Ya, aku tau kemana arahnya hal ini.


Farhan memang belum menerima jatah semenjak kelahiran cindy karena aku belum bisa berhubungan hingga jahitan ku kering. Aku memang melakukan operasi caesar karena tidak memungkinkan untuk lahiran normal karena suatu kondisi.


"Mau apa?"tanyaku yang dibalas R3m4s4n payu**** oleh farhan


"Makeout aja?"tanya farhan


"Kenapa makeout?"tanyaku


"Tapi kita udah lama gak berhubungan"ucap farhan


"Maksud aku kenapa makeout? Aku udah bisa berhubungan"ucapku yang membuat farhan membulatkan mata


"Udah dari minggu lalu"sambungku

__ADS_1


"Ck! Kenapa gak bilang sih?"tanya farhan


"Kamu gak inget akhir-akhir ini kita banyak berantem. Masa iya aku bilang"ucapku


"Iya iyaa"ucap farhan kemudian hening sejenak


"Sekarang ya?"tanya farhan


"Hm"jawabku.


Farhan langsung menidurkanku dan berada di atasku. ya, malam ini untuk menuntaskan hasrat farhan.


••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••


Keesokan harinya


Kantor alin


11:44 WIB


Aku menggendong cindy berjalan menuju ruangan lamaku yang sekarang sudah ditempati oleh aldo. Sepanjang perjalanan, banyak karyawan yang menyapaku juga salah fokus terhadap cindy.


Ya! ini kali pertama mereka bertemu dengan cindy, yang merupakan penerus perusahaan ini nantinya. Mungkin saat aku berniat untuk memiliki anak lagi aku harus membuat perusahaan lainnya untuk anakku yang lain nantinya.


Sesampainya di depan ruangan lamaku, sekretaris lamaku mengantarku memasuki ruangan tersebut. Terlihat disana aldo yang tengah sibuk dengan laptopnya.


Sampai aku berjalan mendekatinya ia belum sadar juga keberadaanku dan saat aku melihat kegiatannya, ia tengah bermain game.


"Aldo!"ucapku yang membuatnya terkejut


"Eh?? Lohh? Udah sampe aja lo?"tanyanya


"Kok kerjaan lo malah main game sih? Kerjain tuh tugas"ucapku


"Udah semua lin, ini gue refreshing dulu"ucapnya lalu kemudian menutup laptopnya.


Ia menatap pada cindy yang berada di gendonganku.


"Sini ayo sama kakak"ucap aldo mengulurkan tangan pada cindy


"Menolak tua"ucapnya


"Makanya moveon dong dari gue"ucapku sembari tertawa


"Lin! Lo gak se worth it itu sampe gue gabisa move on. Ngaca coba sana"ucap aldo yang membuatku menatap tajam padanya


"Terserah!"ucapku


"Oh iya gimana soal restaurant udah aman kan?"tanyaku


"Lusa udah jadi milik kita"ucap aldo yang kubalas senyuman


"Aneh banget masa si farhan cuma mau investasi aja, dikira saham selamanya aman hahaha"ucapku


"Suami lo udah agak-agak sih lin, yaudahlah mau gimana lagi udah terlanjur punya anak sama lo juga"ucap aldo


"Kasihan kamu cindy, punya papah kaya farhan"ucap farhan menatap cindy


Aku hanya terdiam menanggapi, memang harus apalagi? Farhan memang sudah "agak-agak" seperti yang tadi diucapkan oleh aldo.


"Atau mau punya papah kaya rangga aja?"tanya aldo pada cindy yang kuhadiahi pukulan pada lengannya dengan keras


"Ngeselin banget sih lo!"ucapku dengan kesal


"Kesini udah bilang si farhan belum?"tanya aldo


"Udahlah! Gue kan istri yang baik"ucap ku


"Nanti dia yang akan jemput gue"sambungku


"Eh iya waktu lo sama nyokap lo ngelabrak si citra gimana?"tanya aldo


"Ya gitu babak belur si citra ditampar sama maura"jawabku


"Maura siapa?"tanya aldo

__ADS_1


"Adik tiri gue"jawabku


"Umurnya berapa?"tanya aldo yang membuatku mengernyitkan dahi


"17 kenapa?"tanya ku


"Bisalah sama gue, beda 11 tahunan doang"ucap aldo


"GAK! Gak boleh! Gak rela gue punya adik ipar kaya lo!"ucapku dengan nada tegas


"Coba aja temuin gue sama si maura itu, gue yakin dia langsung jatuh cinta ngeliat ketampanan gue ini"ucap aldo


"Apaansih!! Masa adik gue dapet bekasan gue aneh bgt lo"ucapku


Tokk tokk


Pintu pun terbuka dan menampilkan farhan disana


"Loh kok cepet banget mas?"tanyaku


"Cuma tandatangan aja"jawabnya sembari menuju ke arah cindy yang berada di tangan aldo untuk mengambilnya.


Farhan langsung menciumi pipi cindy yang membuat cindy tertawa kegelian


"Lucuu bangett sih sayang"ucapnya pada cindy


"Oh iya lin, mulai besok dani akan mulai berhenti kerja"ucap aldo yang membuat farhan sedikit menoleh


"Yaudah bagus kalau gitu"ucapku


"Soal beasiswa citra, 30 juta kan udah di alokasikan untuk pembayaran kuliah dia apa gak mau di kasih aja? Terlanjur juga"tanya aldo


"Gak!"Jawabku dengan tegas


Aaaaa!!


Teriak cindy yang membuatku dan aldo sontak menoleh pada cindy dan farhan.


"Mmm ini gak sengaja tadi, mas gak sadar kalau tangan mas kena matanya cindy"ucap farhan


"Gak sadar? Kamu terlalu fokus mikirin dani sama citra mungkin makanya sampe gasadar kalau tangan kamu kena matanya cindy. Gitu?"tanyaku


"Enggak lin, mas gak mikirin siapa-siapa"jawab farhan mencoba memberi pehamanan padaku sembari menenangkan cindy


"Aku kan cuma nanya. Bagus kalau gak mikirin mereka"ucapku


"Mau pulang sekarang mas?"tanyaku pada farhan


"Yaudah boleh"jawab farhan


Aku pun langsung mengambil tasku dan memakainya lagi


"Yaudah do, kita pulang ya"ucapku pada aldo yang diangguki kepala


Farhan lalu berjalan terlebih dahulu


"Lin"panggil aldo pelan padaku


"Kenapa?"tanyaku


"Citra kecelakaan"jawabnya yang membuatku membulatkan mata


"Jangan sampai suami lo tau, si citra dalam keadaan kritis"sambungnya


"Kenapa?"tanyaku


"Biar citra cepet mati aja, kalau suami lo tau kan dia pasti sibuk ngebantuin citra"ucap aldo yang membuat gue sedikit kaget.


Aldo ternyata benar-benar kejam.


Tapi, aku setuju dengan usulnya.


Citra mati, akan membuatku senang juga nantinya.


bersambung

__ADS_1


__ADS_2