
Keesokan harinya...
Kantor
14:15 WIB
"Dewi setelah ini kamu panggil sekretaris saya dan bagian SDM untuk ke ruangan saya"ucapku pada dewi yang merupakan asisten pribadi ku di kantor.
"Iya baik bu"ucapnya.
Aku kemudian berjalan keluar ruang meeting yang berada di lantai 5 menuju ruangan ku yg berada di lantai 7.
Sembari berjalan menuju lift, aku sedikit melakukan pengawasan terhadap pegawaiku. Terutama citra yang memang bekerja di lantai ini pada bagian administrasi.
dari kejauhan ku lihat matanya sembab, apa ia baru menangis? Aku hanya berharap dia menangis bukan karena perlakuan farhan.
Ia berjalan membawakan 2 cangkir kopi dan diberikan pada 2 orang pegawai senior di bagian administrasi.
Aku menghampiri mereka menanyakan hal ini
"Kamu ngapain tadi bawain mereka kopi?"tanyaku pada citra
Kedua pegawai senior itu pun bangkit dan menyapaku dengan sopan.
"Hmm ... ini tadi sekalian bu"jawabnya
"Kalian kan bisa minta ke bagian rumah tangga"ucapku pada dua karyawan senior
"Tadi kami juga mau begitu bu tapi citra menawarkan untuk di ambilkan"ucap salah seorang pegawai senior tersebut
"Gausah gini lagi! Saya gamau liat ada pegawai lagi jam kerja justru sibuk bawain kopi atau apapun buat orang lain. Tinggal minta ke bagian rumah tangga"ucapku
"Iyaaa bu, maaf"ucap citra
"Muka kamu kenapa pucat gitu? Sakit?"tanyaku pada citra yang mendapati mukanya tampak pucat ditambah lagi matanya yang sembab.
"Enggak kok bu, cuma lagi flu aja"ucapnya
"Kalau sakit gausah kerja, kamu mending ke klinik di lantai 3 terus minta di periksa"ucapku yang ia angguki.
Aku kemudian melanjutkan langkahku menuju lift.
******
Ruang kerja alin
14:47 WIB
Perasaanku tidak enak mengenai citra, entah apa itu. Aku lalu memutuskan untuk menelpon dokter perusahaan yang memeriksa citra untuk memberi tauku mengenai kondisi citra.
Yaampun lihatlah diriku sekarang ini, justru mengkhawatirkan wanita yang merenggut kebahagiaanku dengan farhan.
Aku memang membencinya sangat membenci kehadirannya, tapi melihat kondisinya dan pengakuan farhan yang menjaga rasa cintanya padaku. Tidak ada lagi yang perlu ku khawatirkan
"Untuk hasil lab nya, keluar besok lin"ucap notri yang merupakan salah satu dokter di perusahaan ini
"Yaudah nanti kalau udah keluar hasilnya, kasih ke gue"ucapku
"Oke"ucapnya.
Aku lalu mematikan panggilanku terhadapnya
Tokk tokk
__ADS_1
Pintu terbuka dan menampilkan para pegawai SDM dan sekretarisku.
"Duduk"ucapku meminta mereka duduk
"Saya langsung ke intinya saja, Besok saya harus ke bandung untuk bertemu rekan bisnis saya. Saya butuh perwakiln 2 orang dari SDM untuk ikut"ucapku
"Oh iya, din kamu bisa ikut kan besok?"tanyaku pada ardina yakni sekretarisku
"Maaf bu sebelumnya, tapi saya kan 3 hari lalu sudah mengajukan cuti untuk 2 hari kedepan dan ibu sudah acc"ucap ardina tersebut.
Aku berdecak, kenapa bisa aku lupa.
"Bagaimana kalau fani aja bu yang menggantikan sekretaris untuk besok?"tanya salah seorang pegawai SDM.
"Saya akan pikirkan lagi. Nanti sore saya kasih tau keputusan saya mengenai siapa yang akan ikut sebagai pengganti sekretaris saya. Untuk 2 perwakilan SDM langsung disiapkan ya. Besok berangkat pakai mobil perusahaan dan berangkatnya terpisah dengan saya"ucapku yang mereka angguki.
"Untuk barang-barang keperluan besok apa ada yang harus di bawa bu selain berkas meeting tadi?"tanya seorang pegawai SDM
"Gak perlu, itu aja. Yaudah kalian boleh keluar"ucapku yang mereka angguki.
Mereka lalu keluar dari ruanganku.
Untuk hari ini ada banyak sekali yang harus ku kerjakan, inilah yang terjadi jika aku terlalu menunda-nunda pekerjaanku. Alhasil jadi tidak bisa pulang siang seperti biasanya.
******
16:36
Aku merapikan barang-barangku karena melihat sudah sangat sore. Ah! Aku terasa seperti pegawai kantoran yang harus berangkat pagi dan pulang sore.
Biasanya aku akan pulang saat siang hari karena tugasku memang sedikit ataupun ku tunda-tunda. Dasar pemalas!
Aku keluar dari ruanganku lalu berjalan menuju lift hingga turun pada lantai 1.
Mobilku tidak kuparkirkan di basement karena aku tau akan pulang sore dan kondisi basement yang menyeramkan jika sudah menjelang malam. Itulah kenapa aku parkirkan mobilku di halaman depan kantor.
Aku berjalan menuju mobilku dan langsung menancapkan gas keluar dari kantor.
Saat aku mengemudi, mataku tertuju pada citra yang tengah berjalan kaki.
Apakah dia selalu berjalan kaki jika bekerja? Ah yang benar saja.
Farhan memang menepati ucapannya mengenai nafkah.
Aku memepetkan mobilku pada citra sehingga ia berhenti dan menoleh padaku.
Kuturunkan kaca mobilku
"Citra! Mau kemana?"tanyaku
"Saya mau pulang bu"jawabnya dengan sopan
"Rumah kamu dimana?"tanyaku
"Di perumahan flamboyan bu"jawabnya.
Aku memang tidak suka dengan citra karena telah merebut farhan, tapi melihat sikapnya yang begitu sopan padaku. Membuatku sedikit menerimanya.
"Ayo masuk, saya anterin"ucapku
"Ohh gausah bu gpp kok, nanti di depan saya naik angkot"ucapnya
"Tenang aja, saya cuma mau nganterin kamu kok bukan ketemu si farhan. Ayo bentar lagi maghrib"ucapku menawarkan
__ADS_1
Ia kemudian menganggukan kepala dan masuk ke dalam mobil.
"Kamu selalu naik angkot terus jalan kaki gini?"tanyaku yang masih tidak percaya. Yang benar saja, farhan seorang pemiliki restaurant cukup besar di jakarta membiarkan istrinya berjalan kaki untuk bekerja. Keterlaluan orang itu!
"Iyaaa bu, tapi tadi pagi diantar mas farhan"ucap citra
"Kamu tau gak? Kamu tuh sebenarnya gak perlu berhenti kuliah. Karena perusahaan saya menyediakan beasiswa kuliah sekaligus magang"ucapku
"Saya waktu itu belum tau bu"ucapnya dengan sopan
"Oh iya bu, Nanti sampai di gerbang perumahan aja soalnya rumah saya gak jauh dari situ"ucapnya
"Iya"ucapku
"Gimana tadi pas ke dokter, udah di kasih obat?"tanya ku
"Iya sudah bu"ucapnya
Tiba tiba aku terpikirkan mengenai pertemuan bisnis besok di bandung, apa aku ajak si citra ini saja ya?
"Citra, besok saya ada pertemuan bisnis di bandung. Saya butuh sekretaris, kamu bisa jadi sekretaris saya untuk besok?"tanyaku
"Loh sekretaris ibu biasanya kemana? Bukannya apa apa bu, saya kan masih baru dan belum paham apa apa"ucap citra
"Sekretaris saya cuti, gampang kok tugasnya. Kamu cuma perlu mencatat hasil meeting aja"ucapku
"Oh baik bu, nanti saya izin ke mas farhan"ucapnya yang membuatku tertawa
"Pernikahan kamu sama dia kan gak di anggap tapi segala minta izin ke dia, dia juga gak akan peduli kamu mau ngapain. Kalau saya jadi kamu, saya udah cari cowo lain"ucapku yang membuat citra terdiam
Aku menoleh pada citra yang terdiam dan menunduk, aku menjadi sedikit menyesal telah berkata seperti tadi, ah! Penyesalan memang selalu datang terakhir.
"Bukan apa apa citra, tapi saya cuma kasih saran aja. Daripada kamu luntang lantung gajelas hidup sama dia, kamu cari aja cowo baru yang memang sayang sama kamu"ucap ku
Saat sampai di gerbang perumahaan flamboyan, aku langsung memberhentikan mobilku
"Nih udah sampai, sana turun"ucapku
"Iya, makasih banyak bu atas tumpangannya"ucapnya sembari keluar dari mobil
"Oh iya, besok jam 6 saya mau kamu udah ada di rumah saya. Nanti alamatnya kamu minta ke sekretaris saya"ucapku
"Iya bu"jawabnya
Aku kemudian menancapkan gasku menuju rumah
******
Keesokan harinya
05:50 WIB
Aku membawa citra masuk menuju ruang tamu dan kuminta untuk menunggu disitu.
Aku berjalan menuju dapur meminta bi sari menyiapkan sarapan agar aku bisa sarapan.
"Lin, itu di ruang tamu siapa?"tanya mamah yang sedang menyiapkan bekal makanan andre dan deandra
"Istrinya farhan"ucapku dengan nada santai yang membuat mamah terkejut
"Istrinya farhan di rumah ini?"tanya papah yang menimpali pembicaraan kami
bersambung
__ADS_1