
keesokan harinya
15:30 WIB
Cindy dan gilang tengah berjalan di koridor sekolah menuju parkiran dimana pak hadi sudah menjemput.
"Gilang"panggil cindy pada gilang
"Kenapa?"tanya gilang
"Temenin aku makan yuk? Mau gak?"tanya cindy
"Gausah nanya, kamu kan tau jawabannya pasti iya mana bisa aku nolak"jawab gilang
"Terpaksa?"tanya cindy
"Enggak"jawab gilang
"Mau makan dimana?"tanya gilang
"Restaurant italia yang deket perusahaan mamah"jawab cindy
"Oke"ucap gilang
Cindy tersenyum sembari menatap gilang, entah kenapa perasaannya selalu bahagia seharian ini.
"Kenapa senyum senyum?"tanya gilang
"Gpp"jawab cindy, ia benar benar tidak mengerti kenapa sedari tadi tidak bisa berhenti tersenyum
Mereka lalu memasuki mobil yang akan membawa mereka menuju restaurant itali di dekat perusahan alin.
*****
Restaurant
16:00 WIB
Tatapan cindy tidak bisa lepas dari gilang entah ada apa dengan dirinya tapi ia benar benar terlalu fokus pada gilang
"Kenapa?"tanya gilang
"Gpp kok"jawab cindy
"Mau aku potongin steak nya?"tanya gilang menawarkan yang di angguki cindy
gilang lalu mengambil piring cindy dan memotong steak cindy menjadi bagian kecil agar lebih mudah di makan. Cindy masih terus memperhatikan gilang dengan lekat
"Nih makan"ucap gilang mengembalikan piring milik cindy
"Makasih"ucap cindy
"Makan cindy jangan ngeliat yang lain"ucap gilang yang membuat cindy tertawa malu
Gilang menghentikan kegiatan makannya lalu menatap cindy.
Ada hal yang gilang ingin sampaikan pada cindy, namun menurutnya terlalu cepat tapi ia hanya berharap setelah ia mengatakan hal tersebut semua akan berjalan baik.
Gilang menggigit bibir bawahnya berkali kali lalu mengetukan jarinya pada meja seperti cemas.
"Apa?"tanya cindy yang dibalas gelengan kepala oleh gilang.
Cindy lalu kembali memakan kembali steaknya sembari mencuri-curi pandang pada gilanh
"Cindy"ucap gilang
"Apa?"tanya cindy
Gilang lagi lagi terdiam.
Sudah sejak lama sebenarnya gilang ingin membicarakan hal ini namun ia sebelumnya takut jika tak terbalaskan
"Ck! Kenapa sih?"tanya cindy sedikit kesal
"Bukan sonya yang aku suka tapi kamu"ucap gilang yang membuat cindy membulatkan mata
Jantung cindy benar benar berdegup kencang bahkan telapak tangannya hingga berkeringat dingin.
__ADS_1
Sudah sedari lama gilang menyukai cindy namun gilang selalu menahannya karena ia yakin cindy baik padanya karena menganggapnya saudara.
Gilang mulai menyukai cindy ketika cindy selalu memperhatikan gilang di rumah dan sekolah. Tidak ada yang lebih perhatian selain cindy selama ini apalagi kedua orang tuanya memang sudah tidak ada.
Gilang mulai berani berniat untuk mengatakan hal ini ketika melihat sikap posesif cindy saat gilang bersama sonya.
Saat pagi itu sonya memang menembak gilang namun gilanglah yang meminta untuk tidak berpacaran ia menolak secara halus, sonya tetap memaksa hingga akhirnya berujung pada hts. Namun tadi siang saat di kantin setelah alin menelpon gilang perihal bantuan cindy untuk olimpiade, saat itu juga gilang menyudahi segala kedekatan dengan sonya.
Ia memang tidak menyukai sonya dari hal apapun.
Menurutnya tidak ada yang sebaik dan seperhatian cindy. Itulah kenapa gilang benar benar nyaman dengan cindy.
Ia tau alin tidak akan mengizinkan hal ini terjadi, itulah kenapa gilang butuh cindy untuk tetap diam
"Kamu ngomong apa?"tanya cindy memastikan
"Aku suka sama kamu"jawab gilang dengan nada tenang yang aslinya sesuatu dalam dadanya benar benar bergemuruh
"Bukan sama sonya?"tanya cindy
"Bukan"jawab nya tenang
"Beneran suka sama aku?"tanya cindy yang di angguki gilang
Cindy berpikir kenapa bisa sikap gilang setenang ini.
"Tapi mamah aku gimana?"tanya cindy
"Jawab dulu aja pernyataan aku"ucap gilang yang membuat cindy kesulitan bicara
"Iya"jawab cindy pelan karena malu yang membuat gilang sedikit tersenyum tapi ditahannya agar tetap menunjukan ekspresi tenang
"Kamu tau kan harus gimana"ucap gilang
"Gak akan ketauan mamah kan?"tanya cindy
"Enggak"jawab gilang yang di angguki cindy
Cindy benar benar tidak bisa menjawab apapun, lidahnya terasa kelu.
"Lanjutin makannya habis ini kita pulanh, kalau kemalaman nanti mamah kamu nyariin"ucap gilang sembari mengusap tangan kiri cindy.
*****
19:21 WIB
Kamar cindy
Berbeda dari hari hari sebelumnya, kali ini mereka benar benar canggung bahkan untuk berbicara pun sulit.
Mereka bahkan duduk berjauhan dan tidak saling menatap
"Cin"ucap gilang membuka suara
"Hm?"tanya cindy
"Pr udah ngerjain?"tanya gilang
"Mmmm iya"jawab cindy berbeda dari biasanya
"Yaudah kalau udah"ucap gilang lalu kembali hening.
Gilang mencuri curi pandang pada cindy
"Aku balik ke kamar aja kalau gitu"ucap gilang
"Tunggu!"ucap cindy yang membuat gilang menatapnya
"Kenapa?"tanya gilang
"Disini dulu"ucap cindy gugup
"Ayo belajar pelajaran lain aja"ucap gilang yang di angguki cindy, gilang lalu berjalan menuju meja belajar cindy dan mengambil modul matematika untuk belajar bersama.
"Yang bab ini udah paham?"tanya gilang
"Belum"jawab cindy
__ADS_1
"Aljabar belum paham?"tanya gilang memastikan
"Iya aku gak paham"jawab cindy
"Tapi kita udah belajar ini bulan lalu"ucap gilang
"Iya tapi aku gak paham gilang"ucap cindy
"Oke kita belajar lagi"ucap gilang
Gilang pun lalu mengajari cindy, cindy memang tidak memiliki minat di pelajaran-pelajaran tersebut. Bagi cindy ingin rasanya hanya fokus sebagai atlet taekwondo dan tidak perlu sekolah namun itu tidak mungkin.
Gilang yang fokus mengajari cindy selalu dibuat sedikit kesal karena cindy yang sulit untuk fokus belajar. Kadang bercanda, tertawa, membicarakan orang lain hingga hanya berbaring memperhatikan gilang tapi tidak mendengarkan apa yang gilang bicarakan.
"Aku ngantuk gilang"ucap cindy
"Tapi kamu aja gak ngerti, makanya jangan bercanda terus"ucap gilang
"Ck! Seberapapun bodohnya aku pada akhirnya aku akan meneruskan perusahaan mamah"ucap cindy
"Kamu enak, sedangkan aku harus terus belajar supaya bisa masukin universitas dan akhirnya kerja"ucap gilang
"Kamu kerja sama aku ajaa"ucap cindy yang memebuat gilang terkekeh
"Aku gak akan mau terus-terusan merepotkan kamu, tante alin dan om farhan"ucap gilang
"Aku mau kerja atas hasil aku sendiri"sambung gilang
"Kamu mau jadi apa?"tanya cindy
"Aku mau punya perusahaan sendiri kaya tante alin"jawab gilang
"Bagus! Nanti perusahaan kita kerja sama dan setelah itu kita nikah"ucap cindy yang membuat gilang terkekeh
"Belajar aja dulu, jangan mikir kejauhan"ucap gilang sembari membereskan buku dan meletakan pada meja belajar cindy
"Lagipula aku juga gamau nikah sama orang yang gak bisa aljabar"sambung gilang lalu berjalan menuju pintu kamar cindy
"Nanti aku belajar sampai pintar"ucap cindy, gilang hanya tersenyum menanggapinya.
"Tidur cin, udah jam 9 besok biar gak telat sekolah"ucap gilang yang di angguki cindy
Gilang pun lalu keluar dari kamar cindy dan berjalan menuju kamarnya
******
21:02 WIB
Kamar farhan dan alin
Alin dan farhan tengah berbaring di kasurnya sembari melakukan pillow talk
"Tadi mas liat gilang sama cindy makan di restaurant italia deket perusahaan kamu"ucap farhan
"Yaudah terus kenapa?"tanya alin
"Gpp sih tapi tumben aja"jawab gilang
"Mas, minggu depan cindy akan tanding taekwondo dan lusanya gilang akan olimpiade. Aku rasanya seneng banget ngeliat mereka sehebat itu"ucap alin yang membuat farhan tersenyum
"Alin dan gilang beruntung punya mamah kaya kamu"ucap farhan yang membuat alin menatap farhan lekat
"Gilang bukan anak aku"ucap alin
"Kenapa? dia pantas kok jadi anak kamu. Dia baik, sopan juga pintar"ucap farhan
"Udah 10 tahun dia hidup tanpa kasih sayang orang tua, apa kamu gak kasihan sama dia?"sambung farhan
"Kamu ngomong gini bukan karena dia anak citra kan?"tanya alin
"Ya enggak lin, udah 10 tahun berlalu dan kamu masih aja ngomongin soal dia. Mas aja udah lupa soal dia"jawab farhan
"Kita lihat nanti aja, aku juga selalu mencoba untuk bersikap baik dengan gilang"ucap alin yang di angguki farhan
Disisi lain, gilang tengah merenung di kamarnya.
Alin semakin baik padanya dan ia semakin nyaman dengan cindy, bukankah hal tersebut sangat bertolak belakang seharusnya?
__ADS_1
Jika alin akan menangkatnya sebagai anak secara resmi maka ia dan cindy tidak akan bisa bersama. Sebuah problematika rumit bagi siswa smp yang mencoba dewasa.
bersambung