
Angin malam tercium basah malam ini. Rintik-rintik hujan bersenandung lembut mengetuk kaca. Hari sudah terlalu larut bagi mereka untuk bersanda gurau. Pemuda berambut hitam itu mengerti, sudah waktunya ia harus kembali ketempatnya.
Setelah Egon pamit pulang, Mysha pun mengunci pintu kamarnya dan kembali ke kasurnya. Ia terdiam dalam sepi, sambil memandang langit-langit kamarnya yang polos.
Ada hal yang membuatnya khawatir sedari tadi. Yaitu, tentang cerita Egon dengan putri Anastasia.
Menurut apa yang dikatakan Egon, putri Anastasia dan dia tidak menjalin hubungan apapun dikehidupan keduanya.
‘Jika Frederick menikahi putri Anastasia di kehidupan pertama Egon, bukankah berhubungan dengan putri Anastasia bisa jadi balas dendam pertamanya ya? Tapi kenapa tidak Egon lakukan?’ Tanyanya dalam hati.
Hal tersebut semakin ganjil karena semakin Mysha berpikir, semakin ia yakin, kalau Egon sebenarnya bukan tokoh yang muncul dari novel.
Ia pun percaya bahwa, selain tentang putri Anastasia, masih ada hal lainnya dari dalam novel yang tidak sesuai dengan kenyataan yang Egon alami.
“Egon.. Siapa kamu sebenarnya?” Sambil terus memikirkan kemungkinan-kemungkinan yang sebenarnya terjadi, Ia pun kembali bertanya pada angin malam, sampai tak sadar ia tertidur.
***
“Selamat pagi!”
“E-egon! Kenapa kau di sini?”
“Kau tidak ingat kalau kau di kamarku?”
Mendengar hal itu, Mysha langsung memeriksa cepat ruangan di sekelilingnya. Warna dinding yang pucat. Hiasan lampu gantung yang megah. Tirai yang terbuka mengelilingi kasur besar yang ditidurinya.
‘Ini bukan apartemenku!’
Mysha menatap Egon yang mulai melingkarkan tangannya pada pinggangnya.
“Apa yang kau lakukan?”
“Kau tidak suka?”
“A-aku, a—ah” Egon menggigit kecil leher Mysha. Mysha yang masih belum mengerti situasinya berusaha mendorong Egon sekuat tenaga. Tetapi, melihat ukuran tangannya sendiri yang sangat kecil dibanding dengan dada Egon yang terbentuk dengan baik, membuat ia sadar bahwa hal yang dilakukannya sia-sia.
“E, Egon, dengarkan aku dulu..” Mysha langsung mengangkat tangannya pada mulut Egon. Egon pun mengerang kesal. Ia lalu menarik tangan Mysha dan menatap langsung matanya.
“Ada apa Anastasia-ku?”
‘Huh?’
***
Ngiiiiing
Kepala Mysha berdenging keras. Ia memejamkan matanya dengan kuat menahan rasa sakit tersebut. Ini pertama kalinya ia bangun dengan keadaan seperti itu. Alasannya, tentu saja karena sudah seminggu lebih ia bekerja terlalu keras demi menjernihkan pikirannya dari Egon.
__ADS_1
Hal itu pun semakin parah karena saat dirinya mulai mengantuk dan berbaring, yang dia ingat hanya tentang Egon seorang. Tidur nyenyak pun menjadi sekedar impian belaka.
Beberapa menit berlalu. Saat kepalanya akhirnya terasa mulai membaik, ia pun bangun dari tidurnya untuk mengambil segelas air putih di meja yang berada di samping kasurnya. Setelah beberapa tegukan, ia pun mengembalikannya ke tempat semula.
‘Sepertinya aku terlalu memikirkan apa yang dikatakan Egon,’ Sambil menghela nafas panjang, Mysha menaruh satu tangannya pada pelipis kepalanya dan memijatnya pelan.
‘Ya ampun! Aku tidak menyangka akan bermimpi mesum seperti itu dengan Egon,’
Ia menutup matanya. Mencoba menenangkan dirinya sekali lagi. Padahal, akhirnya kemarin ia berhasil berbaikan dengan Egon. Hubungannya pun tidak terasa canggung lagi. Seharusnya malam itu ia bisa tidur nyenyak. Tetapi, mimpi buruk ini malah mengganggu tidurnya.
‘Sebaiknya aku cepat mandi dan sarapan’
Mysha pun bangkit dari kasur dan langsung menuju kamar mandi. Berharap air dingin yang mengguyurnya bisa membantu untuk menyegarkan pikirannya.
***
"Tidak... kumohon... Jangan lakukan itu..." Mysha terisak melihat adegan pada drama yang tengah mereka tonton hari ini. Egon yang sedaritadi hanya duduk dan ikut menonton disamping Mysha hanya bisa menggelengkan kepalanya saat melihat tingkah Mysha yang terlalu berlebihan.
Tak lama setelah Mysha mandi dan sarapan, Egon datang mengunjunginya sesuai dengan janjinya di hari sebelumnya. Kali ini ia mengenakan celana pendek diatas lutut dengan kaos hitam polos melekat di atasnya.
Setibanya Egon di kamar Mysha, Mysha langsung mengajaknya untuk menonton drama terlebih dahulu, agar ia bisa melihat dan mengamati drama film masa kini, terutama tentang seni peran. Setelah Egon menyetujuinya, mereka pun menonton beberapa drama mulai dari film yang langsung tamat dalam satu episode sampai drama serial dengan episode yang pendek.
Drama yang kali ini mereka tonton adalah salah satu drama serial bertemakan kerajaan, yang sedang populer di kalangan anak muda. Bumbu-bumbu romansa banyak ditaburi di setiap episodenya. Sebagai wanita lajang yang kurang mahir dalam urusan percintaan, hal itu tentu saja kadang membuat Mysha menjadi canggung, mengingat pemuda disampingnya belum lama ini baru melakukan hal senonoh padanya.
Berbeda dengan lelaki disampingnya, adegan romansa pada drama tersebut malah banyak membuat ia mengernyitkan keningnya kebingungan. Walaupun begitu, bagi dirinya, drama di dunia tersebut adalah maha karya yang patut diacungi jempol. Tidak kalah jika dibandingkan dengan seni peran pada teater masanya. Suasana latar, ekspresi, intonasi, semua saling mendukung untuk menciptakan kehidupan di dalam cerita. Ia terkesima dengan hal-hal yang dilihatnya. Tapi, hanya sebatas itulah perasaannya tergerakkan.
“Masih sama. Mereka berperan dengan baik. Tapi, mungkin karena memang latar tempat yang berbeda dari tempatku, ada beberapa etika kerajaan yang tidak sama.”
“Hmm...”
“Dan lagi, menurutku adegan percintaan di drama seperti ini, aneh. Maksudku, aku sebagai orang yang hidup di latar yang mirip, tidak habis pikir, bagaimana seseorang bisa terlihat bahagia hanya dengan berpegangan tangan?”
Mendengar hal tersebut, Mysha hanya menganggukan kepala. Beberapa drama yang mereka tonton memang drama dari negara daerah timur, yang mana, adegan percintaannya pun tidak terlalu terlihat bergairah seperti adegan percintaan pada drama-drama daerah barat.
Mysha lalu melirik Egon. Jika ia ingat-ingat, ciuman yang Egon berikan saat itu pun, bukan hanya sekedar bibir yang menempel pada bibir. Tapi...
“Tidak! Sadarlah!”
“Hmm?”
“Ah, itu, aku tadi sempat mengantuk” jawab Mysha dengan wajah panik. Ia lalu menenggelamkan wajahnya pada boneka yang ia peluk untuk menyembunyikan wajahnya dari Egon.
Egon dapat melihat telinga Mysha yang memerah. Sesungguhnya, melihat Mysha yang seperti itu, membuat Egon ingin menggodanya. Tetapi, mengingat hubungan mereka yang baru saja pulih, ia pun memilih untuk pura-pura untuk tidak menyadarinya.
“Apa ada drama lagi yang harus kutonton?” Tanya Egon.
“Fuhh..” Mysha membuang nafasnya sambil mengangkat kembali wajahnya. “Tidak. Sudah cukup. Kalau begitu, apa kita mulai saja latihannya?” Tanyanya kembali.
__ADS_1
Egon pun menyetujuinya dan mereka berdua pun memulai untuk latihan.
“Baik, pertama mungkin kita coba ekspresi.. bisakah kau tunjukan ekspresi sedih?”
“...”
“Marah?”
“...”
“Senang?”
“...”
“Hmm.. sepertinya kita harus ganti metode” ujar Mysha dengan serius.
Sesaat, Egon terkesima melihat Mysha yang bisa berkata dengan serius seperti itu. Karena dalam benak Egon, Mysha pasti akan tertawa lagi melihat aktingnya yang tidak terlalu bisa dibanggakan, sama seperti saat pertama kali ia berswafoto.
“Kupikir pangeran Egon di novel itu, tidak terlalu memiliki ekspresi.” Mengingat dirinya yang tidak terlalu sering menampakan emosi pada wajahnya, Egon pun mencoba membantu Mysha mencarikan metode baru.
“Kau benar! Kalau begitu, kita coba latihan intonasi saja dulu!” Mysha lalu mengambil novel The Dark Prince, lalu mencari satu kalimat yang pangeran Egon ucapkan.
“Coba baca kalimat ini..” Mysha pun lalu menunjuk pada sebuah kalimat di bagian pertengahan novel itu.
“Apa kau pikir, semua akan berjalan sesuai dengan rencanamu?”
“Hmm..”
“Apa itu buruk?”
“Tidak. Itu sempurna!” Ucap Mysha. Ia lalu menutup novelnya dan menaruhnya kembali di atas meja komputernya. Ia lalu berjalan mendekati Egon dan berdiri dihadapannya.
“Aku salah. Kau pangeran Egon. Saat kau bermain peran sebagai pangeran Egon. Kau bisa jadi dirimu sendiri.” Ucap Mysha sambil tangannya memegang kedua pundak Egon.
“Apa itu cukup?”
“Menurutku lebih dari cukup. Selanjutnya tinggal mengikuti kata sutradara. Jadi, percaya dirilah” Mysha menarik kembali tangannya dan tersenyum lebar padanya.
Egon pun membalas senyuman Mysha. “My lady?” Ia mengangkat tangannya untuk bersalaman.
Mysha yang masih berdiri di depannya, tanpa ragu meraih tangan tersebut.
“Terima kasih. Aku selalu berhutang budi padamu.”
Egon lalu mengangkat tangan Mysha dan mencium punggung tangannya dengan bibirnya, sambil menatap dalam matanya.
Bersambung..
__ADS_1