
“Bagaimana jika beli saja dua-duanya..” saran Mysha.
“Hmmmm…. Kau benar, keduanya pasti dipakai,” Frederick pun menyetujuinya.
Setelah Frederick dan Mysha hampir 2 jam berkeliling toko baju yang ada di dalam sebuah mall, akhirnya Frederick pun bisa memutuskan baju apa yang akan ia beli untuk hadiah ulang tahun ibunya.
Mysha bersyukur bahwa ibu Frederick adalah seorang wanita karir, jadi ia dapat lebih mudah memilihkan pakaian yang sekiranya bagus untuk dikenakan saat ke kantor.
“Terima kasih ya.. sudah mau mengantarku..” Frederick berterima kasih sambil tersenyum tulus.
“Ah, bukan apa-apa kok…” jawab Mysha dengan senyuman sedikit terpaksa.
“Kalau begitu, aku akan bayar ini dulu..”
“Iya, aku akan menunggumu di depan toko,” Mysha pun melangkah menjauhi Frederick, sementara Frederick berjalan ke arah kasir dengan dua buah bolero ditangannya.
‘Hah, melihat senyumannya, aku jadi tidak tega untuk memberitahukan tentang Egon padanya..’ Mysha membuka ponselnya untuk menghabiskan waktunya sambil menunggu Frederick datang.
Saat itu, ia membuka profil stagram Egon. Ia baru sadar bahwa dirinya tidak pernah memberikan sebuah ‘like,’ pada foto-foto Egon.
*‘Kalau aku spamming like seperti ini, dia akan marah tidak ya?*’ Sambil menerka-nerka reaksi Egon terhadap perilaku jahilnya, ia pun menekan tombol like pada setiap foto Egon yang terunggah di sana.
Egon: Hey! Kau baru memberi like pada foto-fotoku tadi? Aku kira kau fans setiaku? 🤨
Tak lama, pesan dari Egon muncul. Mysha tersenyum membacanya.
Mysha: Aku ini Fans nomor satumu 😚
Balasnya.
“Sepertinya kau terlihat senang,”
“Frederick!” Terkejut melihat Frederick yang muncul dari samping belakangnya, Mysha refleks menutup layar ponselnya ke arah dadanya.
“Pacarmu?” Tanya Frederick dengan intonasi yang santai.
“Ah.. itu…—“
“Frederick?” Belum sempat Mysha menyelesaikan ucapannya, tiba-tiba seorang wanita paruh baya memanggil nama Frederick.
Karena ia penasaran dengan siapa pemilik suara tersebut, Mysha pun ikut menoleh untuk melihatnya.
“Mama? Sedang apa di sini?” Frederick bertanya kebingungan.
“Ada client mama yang minta bertemu di sini,” jawabnya. Kemudian, ia memperhatikan gadis samping Frederick.
“Oh? Ini gadis yang ingin kau kenalkan pada mama besok?” sambil menatap Mysha dengan mata yang berbinar dan senyum yang lebar, ia pun bertanya pada anaknya.
“Oh—mm—hai tante!” Dengan sedikit terpaksa Mysha pun menyapa ibu Frederick. Ia merasa telah terjebak pada suasana canggung.
__ADS_1
“Ya ampun, manis sekali kamu,” ibu Frederick memuji Mysha yang saat itu mengenakan bando kain, sweater pink, dan celana jeans yang panjangnya 3/4 kakinya.
“Terima kasih tante, tante juga cantik sekali..” tanggap Mysha dengan sopan.
“Ah, karena ini sudah jam makan siang, apa lebih baik kita makan siang bersama?” Tanya ibunya Frederick.
“Ah, itu..”
“Maaf ma, Mysha sedang banyak pekerjaan. Mungkin lain kali?” Frederick yang melihat adanya sebuah penolakan pada raut wajah Mysha, bergegas membantunya untuk menjawab ibunya.
“Hmm.. kalau begitu, bagaimana kalau kita minum bubble tea saja di sebelah sana? Mama pastikan, kita tidak akan lebih dari 20 menit di sana,”
“Sepertinya, kalau itu aku bisa,” Melihat ibunya Frederick yang bersikeras mengajak Mysha untuk menghabiskan waktunya bersama, akhirnya Mysha pun pasrah menerimanya.
‘Pertama dan terakhir,’ tegasnya dalam hati.
Mereka bertiga pun mengunjungi kedai minuman yang berada tak jauh dari sana. Terdapat beberapa meja dan kursi kosong untuk mereka tempati. Setelah masing-masing dari mereka memesan rasa bubble tea yang mereka inginkan, mereka pun menempati salah satunya.
“Kau tau Mysha, Frederick itu dari kecil sangat pintar!” Ibu Frederick memulai cerita masa kecilnya Frederick.
“Oh ya?” Mysha yang mencoba untuk bersikap sopan padanya pun, berusaha untuk menanggapinya dengan baik.
“Iya! Dia bisa mengerjakan pelajaran SMA saat dia masih SD! Seakan dia sudah mempelajari semua sendiri!” Jelas ibunya Frederick.
“Wow! Itu keren!”
“Iya, sayangnya dia tidak memiliki niatan untuk mengikuti olimpiade,” sesaat ibunya terlihat sedikit kecewa pada pilihan Frederick tersebut. “Tapi, tidak apa! Karena ternyata dia tumbuh menjadi anak yang sangat dewasa dan mandiri di usia belianya!” Lanjutnya.
Mysha pun hanya bisa meresponnya dengan senyuman.
“Mah, sudahlah, apa mama lihat Mysha terlihat lelah dengan cerita mama..” Frederick memotong pembicaraan mereka.
“Mama kan hanya ingin cerita tentang bagaimana akhirnya kau mendapatkan ide cerita The Dark Prince,” jawabnya sambil cemberut.
“Tidak apa Frederick, aku pun penasaran..” kali ini Mysha menjawabnya dengan jujur.
Melihat mata Mysha yang antusias begitu mendengar judul novel yang ditulisnya, Frederick pun tersenyum, ‘anak ini.. sepertinya ia tidak akan pernah lelah dengan novelku.’
Ibu Frederick yang mendapat izin untuk kembali bercerita pun mulai bercerita kembali mengenai Frederick dan perjalanan hidupnya.
Tentu saja, kali ini, Mysha mendengarkan ceritanya dengan baik.
‘Egon harus tau tentang ini!’ Ucapnya dalam hati.
***
“Maaf ya, jadi terlalu lama..” Frederick mengantar Mysha menuju lobby.
Ibunya telah lebih dulu pergi untuk berbelanja. Mengetahui bahwa ia hanya akan jadi lalat bagi mereka berdua, ia pun meninggalkan mereka tanpa berharap untuk ditemani.
“Tidak apa-apa. Aku menikmatinya,” jawab Mysha dengan senyuman.
__ADS_1
“Akhirnya aku melihat senyum itu lagi..” ucap Frederick.
Sejujurnya, saat pertama bertemu Mysha di depan toko baju, ia sudah menyadari bahwa Mysha sedang tidak dalam suasana hati yang baik. Ia pun sebenarnya sadar, Mysha sedang memberi jarak pada hubungan mereka. Tapi, ia tidak ingin mempercayai pikirannya tersebut.
“Frederick.. ada yang ingin aku sampaikan padamu..” Mysha menatap Frederick dengan tatapan yang serius. Matanya terlihat bening sampai-sampai Frederick dapat melihat pantulan bayangan dirinya.
Ia terlihat menyedihkan. Ia sadar bahwa suasana seperti ini akan berakhir tidak baik. Tapi ia harus tegar dan berani menghadapinya. Bisa saja, suatu hari, Mysha-lah yang akan menyesali momen itu.
“Aku sudah tau.. atau lebih tepatnya, aku sudah sadar..” Frederick mengucapkan lebih dulu, jawaban yang tadinya akan ia lontarkan setelah Mysha mengakui perasaan sesungguhnya padanya. Tapi, karena ia tidak ingin memaksa gadis itu untuk menolaknya, ia pun berbicara lebih dulu. Karena ia tahu, menolak seseorang itu bukanlah hal yang mudah.
Mendengar itu, Mysha langsung menundukkan tatapannya. Tidak berani melihat rasa kecewa yang akan ditunjukkan oleh Frederick untuknya.
“Sudah berapa lama?” Frederick pun bertanya.
“Baru beberapa hari,” tanpa menyangkal Frederick sama sekali, Mysha pun menjawabnya.
“Hmm..” responnya.
“Maaf.. aku tidak bermaksud untuk memberimu harapan kosong..” jelas Mysha.
“Tidak perlu merasa bersalah, memang beginilah resiko kalau kita jatuh cinta, bukan?
Ada yang gagal dan ada yang berhasil,” jawabnya dengan tenang.
“Terima kasih.”
“Iya, semoga kau bahagia ya..”
“Kau juga harus bahagia..” ucap Mysha dengan senyuman tipis. “Taksinya sudah datang, kalau begitu, aku pergi dulu ya,” ucap Mysha sambil membenarkan posisi tasnya yang tergantung di bahunya.
“Iya, hati-hati ya..”
Mysha pun mengangguk, “kalau begitu, saat selanjutnya kita bertemu, apa kau keberatan jika aku hanya menganggapmu sebagai rekan kerja?”
“Tidak, aku menantikan itu,” jawab Frederick.
“Baiklah, selamat tinggal” Mysha pun memberikan lambaian tangan sebelum pergi meninggalkan Frederick.
“Selamat jalan!” Frederick pun menanggapinya.
Ia terdiam sesaat. Tidak menyangka bahwa penolakannya akan datang secepat itu. Dan lebih buruknya lagi, penolakan tersebut terjadi setelah Mysha dikenalkan pada ibunya.
Sesungguhnya ia patah hati. Tapi, ia percaya bahwa kesempatan akan datang kembali suaru hari nanti.
Dan ia percaya, saat itu, Mysha akan menjadi miliknya.
Frederick pun berbalik arah untuk mengambil mobilnya yang ia parkir di basement.
‘Mysha dan Egon.. kombinasi yang buruk,’ gumamnya dalam hati.
***
__ADS_1
Bersambung…