Dendam Sang Pangeran

Dendam Sang Pangeran
11: Pertemuan


__ADS_3


“Egon!!!!”


Belum satu jam berlalu sejak sang mentari terbit, kegaduhan terdengar di lorong apartemen.


Egon mengernyitkan dahinya saat mendapati Mysha yang masih berpakaian tidur, berdiri menunggu Egon di depan kamarnya. Saat ia membuka pintu kamarnya untuk bertanya alasan gadis itu mengunjunginya, gadis tersebut lebih dulu melemparkan pertanyaan padanya.


“Kamu kemarin makan malam dengan Lentera?”


“Iya.. kau tahu dia?”


“Tentu saja!” Jawab Mysha dengan suara yang melengking.


Tanpa berpikir panjang, Egon pun meraih lengan Mysha dan menariknya masuk ke dalam kamarnya. Ia lalu menutup pintunya dan menatap gadis itu kembali, meminta penjelasan lebih jauh.


“Kau tau, dia itu artis yang sedang naik daun! Tidak hanya cantik, dia terkenal ramah dan baik hati!”


“Ah, iya, dia memang cantik.. tapi bagaimana kau bisa tau aku makan malam dengannya?”


“Kau belum lihat stagram-mu? Lentera mengunggah foto denganmu dan ayahnya!” Egon


“Aku belum lihat..”


“Hah... beruntung sekali kamu.. bisa bertemu dengan artis sekeren itu.. Apa jangan-jangan ia juga akan bermain peran denganmu?”


“Aku tidak tahu kalau aku boleh mengatakan ini atau tidak.. tapi.. iya.. dia akan menjadi putri Anastasia..”


“Benarkan! Aku pikir juga begitu.. karena warna rambutnya sama dengan gambaran tokoh Anastasia di novel! Apa Anastasia yang asli mirip dengannya?”


“...” Egon terdiam. Ia menatap Mysha, seakan ada hal yang ingin ia sampaikan tapi sulit untuk diutarakan. Ia pun menghela nafas panjang lalu mengalihkan pandangannya ke tempat lain sambil menjawabnya dengan suara kecil, “tidak.. ia tidak mirip sama sekali..”


Mysha merasa bingung dengan gerak-gerik Egon. Ia sangat yakin ada yang salah dengannya saat itu. “Maaf, aku mengganggumu ya?” Tanyanya.


“Bukan, aku bahkan sedang tidak melakukan apapun..”


“Begitukah? Lalu, ada apa? Mukamu terlihat sedang merasa tidak enak..”


“Aku akan memberitahumu lain kali..”


“Hmm.. baiklah.. Jika itu maumu..” Walaupun Mysha terlihat tidak puas dengan jawaban Egon, ia mencoba untuk menghargai keinginan Egon.


“Ah, kemarin, maaf, padahal kamu sudah menungguku di cafe kan?” Egon mencoba mengganti topik pembicaraannya dengan Mysha.


“Tidak apa, aku memang sedang mengerjakan pekerjaanku di sana.. dan lagi...”


“Dan lagi?”

__ADS_1


*“*Sepertinya pembuat naskah film ‘The Dark Prince’ sedang mencari editor naskah, aku diberitahu oleh atasanku kemarin. Aku ditawari untuk ikut melihat bagaimana cara kerjanya..”


“Lalu? Kau menerimanya?”


“Iya.. Lagi pula, aku juga penasaran, bagaimana cara mereka melakukan adaptasi film dari cerita novel..” ucap Mysha dengan senyuman.


“Apa kita akan bertemu nantinya?”


“Maksudmu saat pengambilan film? Mungkin, walaupun kemungkinannya kecil. Karena, sepertinya aku hanya akan ke sana 1-2 kali..”


“Karena itu bukan pekerjaanmu?”


“Iya, aku belum sebaik editor lain, jadi aku hanya akan mempelajarinya”


“Semangat ya.. sepertinya hal seperti ini memang cocok untukmu..” Egon tersenyum. Ia lalu menaruh telapak tangannya pada kepala Mysha dan mengacak-acak rambutnya dengan lembut seperti mengelus anak anjing.


“Oh ya?”


“Tentu saja. Kamu selalu terlihat bersemangat dan antusias saat bekerja. Bukankah tidak semua orang bisa menikmati pekerjaan mereka?”


Mysha tersipu mendengar pernyataan Egon. Memang betul, walaupun banyak sekali hal yang masih harus ia pelajari di bidang tersebut, ia memang menikmati pekerjaannya.


“Terima kasih...”


“Kau belum sarapan, ‘kan?”


“Aku baru saja akan membuat sarapan. Kalau begitu, makanlah di sini..”


“Baiklah..”


***


“Kau terlihat tegang..”


“Oh ya?”


“Bisakah kau senyum dengan natural?”


“Aku sedang mencoba..”


“Hah... kau membuatku sakit kepala..” Floria pun memijat dahinya. Seakan sakit kepala telah menyerangnya karena perlakuan teman di sampingnya.


Hari itu adalah hari saat mereka berdua mengunjungi kediaman Frederick, penulis novel ‘The Dark Prince.’ Seharusnya, mereka berdua datang bersama dengan seorang lagi, sang penulis naskah film. Tapi, karena ada halangan mendadak, rencana hari itu untuk bekerja pun tiba-tiba dibatalkan.


Merasa kasihan dengan editor naskah yang sudah menantikan pertemuannya dengan dirinya, Frederick pun akhirnya mengundang Floria untuk datang ke apartemennya. Selain untuk membicarakan garis besar bagaimana film ‘The Dark Prince’ akan berjalan, Frederick memang sudah mengkhususkan hari ini untuk saling mengenal satu sama lain, baik dengan penulis maupun editornya.


“Floria ya? Maaf menunggu lama” ucap seorang pria tampan berawak jangkung, saat membuka pintu apartemennya.

__ADS_1


“Tidak apa, kami juga datang terlalu cepat..” Floria menelan ludahnya. Baru pertama kali ia melihat pria tampan dengan matanya sendiri.


“Hmm.. sebelahmu?”


Floria melirik ke arah Mysha yang belum mengucapkan salam sepatah kata pun. Ternyata gadis tersebut sedang menundukan kepalanya untuk menyembunyikan senyumannya yang terlihat bodoh.


“Ah, ini Mysha, anak yang aku bilang akan ikut melihat pekerjaanku.”


*“*Ma-maaf, aku terlalu gugup. Aku sangat menyukai The Dark Prince...” gumamnya dengan suara kecil.


Floria menggelengkan kepalanya. Tidak tahu lagi, apa yang harus ia lakukan pada gadis di sampingnya yang terlihat tidak dapat mengontrol dirinya. Entah karena terlalu gugup bertemu penulis novel kesayangannya atau karena si penulis yang terlihat tampan itu.


Frederick pun tertawa melihat kelakuan Mysha. Wajah tampannya pun seketika terlihat sangat memukau. “Mau masuk dulu?”


“Baik, terima kasih” Floria pun meyenggol Mysha untuk segera sadar dan bertingkah dewasa. Mysha pun memutar matanya sambil mencoba untuk tenang.


Mereka bertiga pun memasuki apartemen milik Frederick. Berbeda dengan apartemen yang dimiliki Mysha, apartemen Frederick terlihat sangat mewah dan luas.


Saat masuk ke dalam ruang apartemennya pun, mereka hanya melihat barang-barang mewah tertata sangat bersih dan rapi. Tidak ada aroma menyegak seperti parfum atau bau tidak sedap lainnya. Hanya udara segar dari AC-lah yang memenuhi ruangan-ruangan di dalamnya.


Frederick lalu menyuruh mereka duduk dan menunggu di sebuah sofa putih yang ada di ruang tamunya. Tak lama ia pergi, ia kembali sambil membawakan dua buah minuman segar berwarna oranye pada gelas kaca ramping, dengan potongan buah jeruk yang menghiasi mulut gelasnya.


“Wah! Terima kasih!” Melihat Frederick dengan ramahnya membawa minuman untuk mereka, Mysha pun terlihat senang. Rasa gugup yang tadinya menyelimutinya pun seakan sirna begitu saja.


“Ah, akhirnya aku bisa melihat wajahmu. Kau Mysha kan?” Frederick tersenyum memandang Mysha.


“Iya, salam kenal,” ucap Mysha dengan senyuman.


“Maaf tentang tadi, aku terkadang masih belum bisa mengendalikan diri sendiri, apalagi saat bertemu dengan penulis novel yang aku kagumi..” jelasnya lagi.


Floria terkagum melihat perubahan Mysha yang tadi terlihat bodoh menjadi seperti seorang ahli bicara. Ia pun menjadi yakin bahwa ia tidak salah membawa Mysha ke sana.


“Haha.. bukankah lebih baik begitu? Aku senang ketika melihat orang bisa mengutarakan perasaannya dengan jujur seperti itu..” ucap Frederick masih dengan senyuman di wajahnya.


Floria memperhatikan Frederick yang tersenyum di hadapan mereka. Walaupun jarak mereka terhalang sebuah meja tamu, ia dapat dengan jelas melihat bagaimana lelaki tersebut memandang teman di sebelahnya.


Wajahnya terlihat tegas. Begitu pula hidungnya. Bibirnya terukir indah berwarna merah agak pucat. Iris matanya berwarna coklat muda. Rambutnya yang coklat disisir ke arah belakang dengan gaya curtain.


“Terima kasih..” Mysha tidak dapat memberi banyak respon pada perkataan Federick saat itu, ia lalu menarik sisi rambut kanannya ke belakang telinga dengan jarinya. Terkadang, sebuah pujian memang membuat seseorang salah tingkah. Apalagi jika orang yang mengucapkannya memiliki postur dan wajah yang menarik.


“Jadi, bagaimana rencana kalian untuk adaptasi novel TDP? Akan sangat membantu jika aku mendengar dari kalian terlebih dahulu..” Frederick mulai membawa pembicaraan ke arah pekerjaan.


Mengerti kemana arah pembicaraan mereka, Floria dan Mysha pun langsung menegapkan tubuh mereka, bersiap untuk berbicara dengan dengan serius. “Ah, menurut Pak Hermawan, penulis naskah film TDP...”


***


__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2