
Sudah dua minggu berlalu sejak ciuman pertama Mysha dengan Egon. Mysha yang masih terkejut dengan apa yang terjadi, masih mengurung dirinya untuk berinteraksi lebih banyak dengan Egon, sampai perasaannya benar-benar terorganisir dengan baik.
Banyak yang harus ia pertimbangkan ketika ingin menjalin hubungan dengan seseorang. Egon yang tampan dan terlihat lihai dalam segala urusan, memang tidak bisa dibandingkan dengan siapapun. Malah jika harus memilih satu lelaki dari ratusan ribu lelaki yang ada di dunia, ia akan memilih Egon.
Tetapi, baik saat ia membaca novelnya, maupun saat Egon muncul dihadapannya, tidak pernah terlintas dipikirannya kalau ia ingin menjalin hubungan dengannya. Memang benar, Mysha sangat perhatian padanya, tapi perhatian tersebut karena memang Mysha mengerti benar kondisi dan perasaan Egon. Perasaannya benci terhadap ayahnya yang sedari awal hanya memanfaatkannya, ataupun perasaan Egon yang diam-diam sering merasa kesepian.
Karena perasaan itu pula, Mysha menjadi takut. Takut bahwa perasaan Egon yang sebenarnya bukanlah karena ia mencintainya, tapi karena ia merasa berhutang budi pada Mysha.
Sejak kemunculannya di dunia, Mysha telah banyak membantu dan menemaninya. Walaupun Mysha beberapa kali bilang untuk tidak terlalu memikirkannya, tapi bagi Egon yang mempuyai masalah dengan kepercayaan, itu hal yang sulit dilakukan.
Mysha pun menggigit ujung jarinya, merasa cemas dengan keadaan mereka saat ini.
Disisi lain ia merasa takut untuk memastikan perasaan Egon sesungguhnya. Tapi disisi lain, ia merasa senang, karena seorang Egon yang terlihat sempurna itu, menaruh perasaan padanya.
Beberapa hari setelah kejadian itu pun, Egon pindah ke tempatnya sendiri. Selama ini, Mysha berpikir bahwa alasan kenapa ia tidak dapat berpikir jernih adalah, karena sosok Egon yang menawan selalu ada di dekatnya. Bahkan saat malam sudah tiba pun, ia dapat melihat sosoknya yang polos tertidur tidak jauh darinya.
Sejak itu, Mysha berharap dengan tidak adanya Egon, ia dapat lebih rasional dalam membuat keputusan, hubungan seperti apa yang ia inginkan dengan Egon.
Tetapi kenyataannya, ketika Egon tidak ada, ia malah merasa semakin cemas dan kesepian. Canda tawa yang biasa ia dengar sampai larut malam seakan menghilang terbawa air hujan yang hampir setiap malam datang menemani.
Sejak itu pula, ketika malam tiba dan urusan dengan pekerjaan Egon telah selesai, ia melarikan diri dari kesepian dengan cara berkunjung ke cafe terdekat untuk menyegarkan hati dan pikirannya.
***
Hari ini adalah hari Mysha bekerja di kantor. Pagi setelah ia sarapan dengan sepotong roti dan segelas kopi susu, ia berangkat dengan menggunakan kaos scoop neck putih yang terbuat dari katun dan celana jeans yang warnanya biru pucat. Perusahaan tempat ia bekerja memang tidak terlalu memperhatikan pakaian. Malah ada kalanya, ia tidak perlu datang ke kantor karena pekerjaannya bisa dikerjakan secara mobile.
"Sha, apa habis ini kamu kosong?" tanya seorang teman kantor Mysha, Floria.
Floria adalah seorang gadis manis berkulit sawo matang dengan rambut pendek bergelombang. Sejak Mysha mulai bekerja di perusahaan tersebut, Floria sudah terlebih dahulu ada di sana. Floria terlihat cukup supel, bahkan dengan para staff karyawan senior di perusahaan pun terlihat akrab.
Hanya saja, karena Mysha sendiri sedang repot dengan skripsi, ia jadi jarang berinteraksi dengan orang-orang kantor diluar jam kerja. Ditambah lagi, sekarang ia harus membantu pekerjaan Egon, sehingga setiap pekerjaannya selesai, Ia selalu segera mengambil langkah untuk pulang.
Tapi kali ini berbeda, Mysha sedang menghindari Egon untuk sementara. Ia pun memutuskan untuk meluangkan waktunya untuk menjalin interaksi dengan gadis tersebut.
"Kosong kok. Ada apa?" Jawabnya dengan mata berbinar, seakan memang sedang menanti seseorang mengajaknya pergi.
"Aku ingin mengajakmu makan di cafe makanan Italia diujung jalan ini. Aku dengar cafenya sedang hits. Kupikir kau pasti akan menyukainya!”
'Ah, itukan cafe yang Egon promosikan beberapa hari lalu.' pikir Mysha dengan penuh perasaan bangga.
"Kau memang paling mengerti kesukaanku! Kalau begitu, aku akan mengabarimu setelah ini selesai"
“Ok! Aku tunggu ya!”
__ADS_1
Floria pun kembali ke mejanya. Mysha lalu mengangkat kedua tangannya untuk meregangkan badannya, sebelum kembali pada pekerjaannya.
‘Egon sepertinya sudah bisa bekerja tanpa diriku. Seharusnya, hari ini tidak aku cek pun tak akan jadi masalah kan?’ pikirnya.
‘Hmm.. Egon.. Apa sekalian saja aku meminta pendapat tentang hubunganku dengannya ya?’ Lanjutnya.
***
"Jadi, lelaki seperti apa yang berhasil membuat Mysha Kencana terlihat murung berhari-hari seperti ini?"
Uhuk uhuk! Mysha yang baru saja menegukkan air putih ke dalam kerongkongannya pun langsung tersedak mendengar kalimat yang dilontarkan Floria. Mysha lalu menaruh gelas minumnya dan mengambil selembar tisu untuk mengelap mulutnya.
"Haha. Sepertinya benar ini tentang lelaki ya? Pacarmu?" Lanjut Floria sambil tersenyum jahil.
"Semudah itukah kamu dapat menerkaku?” Mysha memegang kedua pipinya sambil menatap Floria penuh tanya.
"Hahaha. Kau tau, biasanya kalau ada masalah kau selalu mencariku untuk diskusi. Tapi kali ini kau malah diam-diam saja, wajar bukan? Jika aku curiga..”
"Hmm.. iya sih..” Mysha lalu menyeruput air putihnya kembali. “Tapi sayangnya, orang yang membuatku galau itu, bukan pacarku..”
“Lalu?”
“Ia hanya seorang lelaki sempurna yang sepertinya memiliki perasaan spesial padaku.”
“Tapi, sepertinya aku tidak merasa cocok dengannya..”
“Alasannya?”
“Karena...” seketika Mysha berpikir alasan apa yang harus i gunakan saat seperti ini. Tidak mungkin ia memberitahu Floria bahwa orang tersebut adalah pangeran Egon.
"Karena dia seleb terkenal?"
"Hah?" Mysha terkejut, tidak percaya dengan apa yang ia dengar.
“Hah? Bener ternyata?” Floria lebih terkejut lagi karena jawabannya ternyata benar. “Siapa dia?” Mata Floria berbinar, berhrap Mysha memberitahu identitas lelaki tersebut.
“Aku tidak akan memberitahumu,” Mysha menjulurkan lidahnya, malu karena terjebak oleh tebak-tebakan Floria.
"Hahaha baiklah. Lalu? Ada masalah lain?”
"Hmm.. Sepertinya, dia salah mengartikan perasaannya,"
"Maksudmu?"
__ADS_1
"Dia itu sebenarnya pendatang baru baik di sini maupun di dunia selebritas. Aku banyak membantunya selama ini, sepertinya ia hanya merasa berhutang budi padaku. Bukan karena suka..”
"Hmmm....."
"Dan lagi,” Mysha sejenak berpikir kembali, kalimat seperti apa yang cocok untuk menjelaskan keadaannya yang membuat ia tidak bisa berpacaran dengan Egon. “karena… dia bukan orang sini, suatu hari mungkin ia akan kembali ke tempat asalnya. Aku tidak mau mengambil resiko untuk berhubungan jarak jauh." Lanjut Mysha sambil mendesah galau.
Melihat Mysha yang selalu ceria terlihat sangat bimbang, Floria pun sadar bahwa Mysha memerlukan dukungan. Baginya, Mysha bukanlah seorang gadis bodoh dan lugu yang selalu memerlukan orang lain saat ia mendapat masalah. Walaupun wajahnya terlihat polos, ia adalah tipe gadis yang dapat berpikir matang.
Dan untuk kali ini, selain dukungan, Floria yakin bahwa gadis tersebut butuh seseorang yang dapat menyadarkannya bahwa dirinya sedang jatuh cinta. Tapi karena perasaan takutnya itu, ia pun membentengi perasaannya sendiri.
“Kau bilang, kau tidak berniat menjadikannya kekasih. Lalu kenapa kau galau dengan alasan-alasan itu?” Sambil menyeruput mocktail yang sudah ada di depannya, Floria pun mencoba menyusun kata-kata yang ada dibenaknya untuk disampaikan pada Mysha.
“...” seakan petir menyambar dirinya, dengan muka serius, ia pun menatap Floria, untuk meminta penjelasan lebih dalam.
"Begini... Aku yakin kau mengerti. Masalah dia seleb atau bukan, yang paling utama, dia menerimamu yang bukan seorang seleb, dan kamu menerima dia yang seorang seleb kan?” Seakan Mysha pun sudah mengerti apa yang Floria ucapkan, Ia langsung mengangguk ketika mendengar saran yang dipaparkan oleh Floria.
"Dan masalah itu hutang budi atau bukan, bagaimana perlakuannya padamu selama ini? Kau pasti bisa membedakan kan, mana perlakuan baik karena berhutang budi, dengan perhatian yang benar-benar tulus karena menyukaimu?”
Mysha pun terdiam. Ia langsung teringat ketika Egon menawarinya pekerjaan sebagai managernya. Memang Egon menawarkan gaji sebesar apapun yang Mysha mau, seakan itu adalah sogokan agar ia bisa membayar hutang budinya. Tapi, setelah Mysha menolak tawaran tersebut, Egon tidak pernah memaksanya kembali. Ia menghormati pilihannya. Bahkan setelah itu pun, Egon mendukung Mysha dengan pekerjaannya.
"Untuk hubungan jarak jauh. Tenang saja. Aku yakin jika kalian saling mencintai, sejauh apapun kalian berpisah, pasti akan ada jalan bagi kalian untuk bertemu kembali, ya kan?”
Mysha tersenyum masam mendengar kalimat yang Floria ucapkan. Ia tidak bisa memberitahu Floria alasan bahwa hubungan jarak jauh antara Egon dan dirinya tidak bisa semudah dilakukan seperti yang Floria jelaskan.
"Dan lagi yang terpenting itu, kau dan dia benar-benar saling mencintai. Kalaupun kalian tidak berjodoh, setidaknya kalian tidak menyesal karena tidak mencoba untuk menjalin hubungan," ucap Floria sambil sedikit menggodanya.
"Terima kasih, aku sedikit tenang mendengarnya,” mendengar nasehat terakhirnya, Mysha pun sedikit tersenyum lega. Ia bersyukur memiliki partner kerja yang tidak hanya mahir dalam urusan pekerjaan.
“Terima kasih kembali. Semoga sekarang kau bisa lebih yakin dengan keputusanmu nanti..”
“Iya.. sepertinya aku—“ baru saja Mysha mau mengakui perasaannya, ponselnya bergetar, mengalihkan pembicaraan mereka.
Aku akan segera kesana.
Begitulah pesan masuk yang tertulis. Ia tersenyum kembali ketika melihat nama si pengirim.
"Floria, sepertinya, aku harus menemuinya sekarang. Ia akan mampir ke tempatku..”
"Haha.. baiklah, baiklah, beritahu aku kabar baik ya"
“Haha. Aku tidak yakin”
Setelah Mysha membayar bagiannya pada Floria, ia pun langsung pergi meninggalkan tempat tersebut dengan langkah cepat. Berharap Egon tidak terlalu lama menunggunya nanti.
__ADS_1
Bersambung.