
The Dark Prince
Rambutnya hitam sepekat bulu burung gagak. Kulitnya pucat seakan telah kehilangan warna aslinya. Egon, sang pangeran yang hidup kembali untuk balas dendam, hanya kegelapanlah yang terlihat dari dirinya. Satu-satunya yang dapat membuat orang percaya dia masih hidup adalah.. mata hijaunya yang berkilau seperti batu jade setiap cahaya meneranginya.
Suaranya yang berat tidak sebanding dengan nafasnya yang berirama lembut. Tidak pernah orang lain melihatnya tersenyum, bahkan sebuah kemarahan pun tidak pernah terlukiskan diwajahnya.
Begitulah deskripsi sang pangeran setengah pelacur yang tertulis di dalam novel ‘The Dark Prince.’
“Aku tidak menyangka, selain fisikmu, suara, mimik dan gerak-gerikmu sesuai dengan yang kami cari untuk peran ini!” Ujar Asep, sang sutradara utama.
“Terima kasih..” Egon tersenyum. Apa yang dikatakan Mysha di hari sebelumnya ternyata benar, dirinya tidak perlu terlalu banyak berusaha untuk casting hari ini, karena, walaupun ia tidak terlalu paham bagaimana bermain peran, ia hanya perlu menjadi dirinya sendiri di depan kamera.
“Aku jadi penasaran, apa Frederick pernah bertemu denganmu? Penggambaran tokohnya mirip sekali denganmu. Bahkan.. apa matamu asli?” Asep mengamati Egon yang berdiri tak jauh di hadapannya.
Pemuda berusia delapan belas tahun itu, tidak seperti kebanyakan pemuda di sana. Fisiknya terlihat tegap dan berotot, bagai seorang anggota militer yang rutin melatih fisiknya. Cara bicaranya pun sangat rapi dan sopan, setara dengan seorang politikus.
“Ah, iya, warna mata saya asli. Buyut saya orang asing” Egon menjawabnya sesuai dengan yang direncanakannya dengan Mysha sebelum berangkat casting hari ini. “Dan.. siapa Frederick?”
“Oh! Buyutmu orang asing! Pantas saja! Frederick itu nama asli penulis novel ‘The Dark Prince’ namanya sama seperti putra mahkota di novel ini, bukan? Aku pun terkejut saat pertama kali tahu.” Jawab Asep.
“Ia memasukkan dirinya sendiri dalam novel, bukankah itu lucu?” Lanjutnya sambil tertawa.
Egon hanya tersenyum mendengarnya. Ia setuju bahwa memasukkan diri sendiri ke dalam novel adalah hal yang paling konyol yang pernah ia dengar. Kecuali itu adalah novel yang diangkat dari kisah nyata.
Ah, bahkan novel yang diangkat dari kisah nyata pun, tokohnya menggunakan nama alias.’ Pikirnya.
*“*Baiklah kalau begitu, selamat atas diterimanya kau di sini. Walaupun kau terlihat belum memiliki pengalaman berseni peran. Tapi, aku yakin seorang seleb stagram sepertimu pasti cepat belajar.”
“Baik, saya akan melakukan yang terbaik..”
“Bagus! Kalau begitu sampai jumpa minggu depan.”
Sutradara Asep lalu berdiri dari kursinya dan menghampiri Egon. Ia menjabat tangannya lalu menepuk punggungnya pelan.
“Kuharap kau dapat dengan cepat akrab dengan staff kami” ujarnya. Asep menyadari karakter Egon yang kaku terlihat sulit untuk berteman dengan orang baru.
“Terima kasih” Egon memberikan senyum terakhir sebelum pamit untuk pulang.
Tetapi, belum sempat ia meraih gagang pintu, tiba-tiba pintu terbuka dengan sangat cepat. Dan seorang gadis berambut putih muncul dari balik pintu tersebut.
“Ayahhhh! Apa pangeran Egon sudah datang? Oh—ya ampun. Maafkan aku, kau pangeran Egon?” Ucap gadis tersebut.
Tubuhnya mungil, tak jauh berbeda dari Mysha. Kulitnya pucat sehingga membuat pipinya terlihat kemerahan. Rambut bergelombangnya yang berwarna putih pirang terurai bebas menghiasi tubuhnya.
“Selamat sore” sapa Egon.
“Ah, perkenalkan, aku Lentera, aku akan bermain peran putri Anastasia nantinya”
“Oh, salam kenal, Lentera” melihat warna rambut dan matanya, Egon pun langsung bisa menebak hal tersebut tanpa perlu menunggu Lentera memberi tahu.
__ADS_1
“Haha, maaf atas kegaduhannya, putriku memang sangat menanti momen untuk bertemu denganmu” jelas sutradara Asep.
“Tak apa, putrimu sangat cantik” puji Egon.
Mendengar pujian tersebut, Lentera tersipu malu. Ia pun mencoba menahan rasa senangnya dengan menutup mulutnya dengan tangannya.
“Haha jika kau berkata seperti itu, putriku akan merasa paling cantik sedunia.”
“Ayah..” ia menajamkan matanya pada ayahnya, memberi peringatan untuk tidak berkata lebih jauh, yang mana dapat melukai harga dirinya.
Egon yang menyadari hal tersebut langsung merasa bersalah. Kata-kata pujian seperti itu biasa ia sebutkan sebagai sebuah salam formalitas ketika bertemu seorang putri bangsawan. Ia tidak tahu, hal tersebut berdampak besar di kehidupannya sekarang.
“Bagaimana kalau kita makan malam bersama terlebih dahulu? Kau tidak keberatan kan Egon?”
“Um, iya, sepertinya aku memang punya waktu kosong..”
“Bagus, kalau begitu, kalian berdua tunggulah dulu di ruang tunggu, aku akan membereskan pekerjaanku dulu sebentar,” sutradara Asep lalu melirik pada Lentera sebelum ia pergi. Ia pun mengedipkan mata pada putrinya saat mata mereka bertemu.
“Uh.. Dasar Ayah..” gumam Lentera.
“Kau tau ruang tunggu di mana?” Tanya Egon.
“Tentu saja! Aku sering datang ke tempat ini! ayo ikut aku”
Egon pun mengangguk.
Lentera memutarkan badannya lalu kembali membuka pintu ruangan tersebut. Ia berjalan terlebih dahulu menuju lift diikuti oleh Egon di belakangnya. Tak ada satupun kalimat terucap diantara mereka sampai mereka tiba di depan lift. Lalu, mereka pun berdiri bersandingan sambil menunggu lift tiba.
“Ah iya, aku kaget, padahal aku belum pernah bermain seni peran sebelumnya.”
“Iya, aku juga tidak pernah melihatmu di TV” ucap lentera sambil menganggukkan kepalanya.
“Kau sendiri, apa kau aktris?” Tanya Egon dengan polosnya.
“Ah, ya,” Lentera sedikit menundukan kepalanya, merasa malu ketika harus mengakui dirinya adalah aktris terkenal.
“Tapi, karena akhir-akhir ini lebih banyak menghabiskan waktu untuk kegiatan lain, aku jarang muncul di TV.” Lanjutnya.
“Begitu ya..”
“Kapan-kapan, kau mau gabung?”
“?”
“Umm.. sebenarnya kegiatan lainnya itu—ah, sudah datang” lift yang ditunggu pun tiba. Egon langsung menahan pintu lift begitu pintu lift terbuka penuh. Ia pun menyuruh Lentera untuk masuk terlebih dulu sebelum ia menyusul masuk.
Tidak ada orang di sana selain mereka berdua.
“Jadi, kegiatan lain yang aku maksud itu, kegiatan volunteer. Kita datang ke tempat masyarakat kurang mampu lalu membagikan bahan makanan atau pakaian pada mereka”
__ADS_1
“Ah, kegiatan seperti itu ya..” Egon tidak menyangka, bahkan di dunia modern ini pun kegiatan seperti itu masih dilakukan.
*“*Ya, kau bisa lihat detailnya di akun stagram-ku..”
“Apa username stagram-mu?”
“Username-nya—“
“Tunggu..”
“Ground floor” lift berbunyi, memberi tanda bahwa mereka tiba di lantai tujuan. pintu lift pun terbuka dan mereka pun keluar dari sana.
Sebelum melanjutkan pembicaraan, mereka berjalan terlebih dahulu ke arah lobby VIP, dengan Lentera sebagai pemandu.
“Ini.. boleh minta username-nya?” Setibanya di sana, mereka pun duduk bersebrangan di sofa bewarna merah. Lalu, Egon memberikan ponselnya untuk meminta username Lentera. Dengan agak ragu, Lentera pun mengambilnya dan mulai mengetik username-nya pada kolom pencarian.
Ping
Saat baru saja Lentera akan menekan tombol follow pada profil stagram-nya, tiba-tiba sebuah pesan masuk. Lentera pun secara tidak sengaja membacanya.
Mysha: Aku menunggumu di tempat biasa 🍕
“Siapa Mysha?” Tanya Lentera.
“Ah, maaf, aku tidak sengaja membacanya..” langsung menyadari ketidaksopanannya, Lentera pun meminta maaf.
“Tidak apa.. Mysha itu temanku, dia yang banyak mengatur jadwal dan keuangan sampai aku dapat manajer” Lentera lalu mengembalikan ponsel Egon setelah menekan tombol follow.
“Oh? Kau bahkan belum punya manajer? Padahal jika dilihat dari stagram-mu, kau sangat sibuk?”
“Ya, aku juga tidak menyangka akan sesibuk ini, makanya aku masih mempercayakan pekerjaan itu pada temanku..” Sambil menjawab pertanyaan Lentera, Egon pun melihat isi pesan Mysha. Dengan cepat ia pun membalas pesannya.
“Begitu ya?”
Egon lalu mengunci ponselnya dan menaruhnya di saku celana. Melihatnya sebagai sebuah kesempatan, Lentera pun mengajaknya kembali berbicara tentang hal-hal ringan seperti pekerjaan dan hari-harinya sebagai seorang seleb stagram.
***
Aku diterima✌🏻
Tapi maaf, pak sutradara mengajakku makan malam 🍽😋
Mysha tersenyum bangga. Ia memang sudah memprediksi bahwa Egon pasti akan diterima.
Selamat ya 😝
Baiklah, kalau gitu, sampai bertemu besok ✨
Egon pun tersenyum membaca balasannya.
__ADS_1
Bersambung...