
Udara di pagi itu berhembus membawa angin sejuk. Jalanan terlihat basah karena hujan yang mengguyur pada dini hari tadi.
Seorang lelaki berdiri sendiri di dekat jendela kamarnya, memandang hiruk pikuk kota yang dipenuhi mobil dan motor, sambil termenung memikirkan gadis yang menolaknya di hari sebelumnya.
Gadis itu… mirip dengan belahan jiwanya yang telah tiada.
Secara fisik mereka mungkin sedikit berbeda. Akan tetapi, dari sifatnya, cara berbicaranya, dan cara ia menatap dirinya, sangatlah mirip. Matanya yang berbinar ketika membicarakan hal yang disukainya, kepintarannya yang tersembunyi dibalik kepolosannya.
Bahkan, bagaimana mereka menggigit bibir mereka untuk menahan diri agar tidak menyakiti lelaki itu sangatlah mirip.
“Maaf, aku menyukai Egon…”
Sebuah kalimat yang tidak ingin ia dengar kembali setelah bertahun-tahun lamanya.
Ia merasa seperti mengalami de javu ketika Mysha mengatakan bahwa ia ingin berbicara padanya. Untung saja ia berhasil menahan ucapan tersebut sebelum terlontarkan dari mulut gadis itu.
Ia merasa takut jika takdirnya akan selalu berakhir sama, sejauh apapun ia pergi, seberapa banyaknya pun ia terlahir kembali menjadi orang lain.
“Anastasia.. aku harus bagaimana?” ucap lelaki tersebut. berharap pada sebuah jawaban yang ia tahu tak akan datang.
Hatinya memang merasa bersalah ketika pertama kali ia mendekati Mysha hanya karena dirinya mirip Anastasia. Matanya yang berbinar ketika membicarakan hal yan disukainya, kepintarannya yang tersembunyi dibalik kepolosannya. Ia sangat menyukai itu.
Tapi, entah sejak kapan, ia mulai melihat Mysha sebagai dirinya sendiri. Bayang-bayang Anastasia pada dirinya sudah hampir hilang. Kalau saja Mysha tidak menolaknya, mungkin saat ini Anastasia akan benar-benar terhapuskan dari benaknya.
__ADS_1
Ketika pertama kali ingatan tentang Anastasia dan dirinya sebagai pangeran Frederick kembali, ia mengalami stress berat. Ia mengurung dirinya dalam kamar selama berhari-hari, mencari-cari sebuah petunjuk agar ia bisa kembali ke dunianya untuk menyelamakan orang yang lebih berharga dari dirinya sendiri. Karena, Ia tidak yakin, ketika Egon memenggalnya, apa yang akan ia lakukan terhadap belahan jiwanya tersebut.
Dan hal yang membuat dirinya semakin tidak waras adalah...
ia mendapatkan ingatannya pada kehiupan pertama dan keduanya.
Dengn kata lain, ia ingat ketika Anastasia memilih Egon di kehidupan pertamanya karena ia telah menjalin hubungan terlebih dahulu dengan Egon sebelum pernikahannya diumumkan. Dan yang lebih parah, ia lalu mengandung dan melahirkan anak Egon.
Walaupun awalnya ia tidak menyadarinya, tapi saat hukuman pemenggalan Egon akan dilakukan, Anastasia mengakui semuanya pada Frederick. Dengan mata yang berderai air mata, ia memintanya untuk menolong Egon. Mendengar itu, Frederick pun merasa bimbang dan terpuruk dalam waktu bersamaan. Ia ingin menolong gadis yang dicintainya itu, disisi lain jika ia menolongnya, ia juga akan kehilangan gadis tersebut.
Tak lama, Egon pun akhirnya dipenggal di depan matanya tanpa sempat ia berusaha lebih keras untuk menarik hukuman tersebut. Ia menysalinya. Dan saat itulah, kekuatan sihir Frederick bangkit untuk yang pertama kalinya.
Kekuatannya sangat besar sehingga ia berhasil mengembalikan waktu ke beberapa tahun belakang. Saking besarnya kekuatan tersebut, ia bahkan sampai kehilangan jejak kekuatan sihir pada tubuhnya di kehidupan keduanya.
Awalnya, Ia merasa telah menjalani kehidupan keduanya dengan lebih baik. Ia memutuskan pertunangan dengan putri mahkota dan mulai mendekati Anastasia secara diam-diam, bahkan sebelum wabah dimulai.
Anastasia yang tidak terlalu dipedulikan oleh Duke Willyn pun akhirnya dipaksa untuk menemui Egon di kamarnya. Sang raja memberitahu Frederick bahwa mereka berdua bercinta sampai seluruh ruangan bergema karena suaranya. Mendengar itu, Frederick pun mulai menyesali telah berpikir untuk menyelamatkan Egon.
Wabah pun datang. Sayangnya, putri Charlotte mengalami nasib yang sama walau Frederick maupun Egon telah banyak membantu memberikan informasi. Hanya saja, wabah tersebut bisa ditangani jauh lebih cepat dibanding saat itu.
Tak lama wabah menghilang, Egon tiba-tiba mengajukan diri sebagai delegasi kerajaan untuk pergi ke kerajaan lain selama beberapa tahun. Melihat itu sebagai sebuah kesempatan, Frederick pun menyetujui pengiriman Egon. Ia pun gencar mendekati Anastasia. Secara terang-terangan ia datang ke kediaman Duke Willyn dan mengajaknya berkencan di istana.
Lalu, Egon pun pulang di saat mereka sudah dekat. Ia membawa berita bahwa negara yang ia tinggali selama beberapa tahun itu akan mendeklarasikan perang karena penghasutan oleh orang-orang kepercayaan kerajaan.
Perang pun dimulai. Ia meninggalkan Anastasia selama berbulan-bulan. Saat perang pun akan berakhir dan ia mulai menantikan pertemuannya kembali dengan Anastasia, Egon tiba-tiba mendatanginya.
__ADS_1
"Apa yang akan kau lakukan?" Tanya Egon saat itu. Frederick yang tidak mengerti dengan maksud pertanyaan Egon pun diam terbungkam.
"Aku yakin kau bukan pria bodoh. Sedikit banyakya, kau tau kan bahwa perang ini akulah dalangnya?" Ucap Egon.
"Aku akan membalaskan dendamku pada Ayah. Dan Anastasia memilih untuk meninggalkan dunia ini daripada ikut terlibat dengan urusanku.."
"Dimana Anastasia!? Kau membunuhnya!?" Mata dan tubuhnya bergetar hebat ketika mendengar bahwa Anastasia memilih untuk mati. Di saat rasa sedihnya menguasai pikirannya, Egon pun mengeluarkan pedangnya.
"Jawabannya?"
"Kirim aku pada Anastasia..." dengan suara berbisik, ia pun memilih untuk pergi bersama Anastasia. Ia menutup matanya, dan itulah ingatan terakhir yang masih terus ia simpan. Itulah awal mula kenapa ia selalu menyesal dengan keputusannya menyelamatkan Egon sehingga akhirnya membuat Frederick membenci Egon.
Selama ia di kamar ia selalu meneriaki nama Egon dan Anastasia. Keputusasaan mulai menggerogoti dirinya ketika ia sadar bahwa tidak ada lagi yang dapat ia lakukan di dunia barunya, selain memulai hidup baru. Di saat itulah, Anastasia mendatangi mimpinya.
Akan tetapi sosoknya sangat samar. Seakan sebuah kaca buram berdiri menghalangi mereka berdua. Bibirnya terlihat bergerak, seolah sedang mencoba untuk menyampaikan sesuatu. Sayangnya, tidak ada sepatah kata pun yang Frederick menegerti. Menyadari itu, Anastasia pun akhirnya terdiam pasrah. Dan hanya tersenyum pada akhirnya.
Keesokan harinya, ia terbangun dalam keadaan lebih waras. Pertemuannya dengan Anastasia yang bahkan terasa sangat semu, membuat ia sadar bahwa Anastasia telah tiada. Ia pun lalu mulai mengumpulkan kewarasannya untuk melanjutkan hidup barunya sebagai orang baru tanpa dirinya.
Dari sanalah ia lalu memulai untuk menulis tentang dirinya, Anastasia, dengan Egon sebagai tokoh utama. Ia ingin membuat Egon sebagai tokoh utama yang disukai, lalu menjadi orang yang sangat dibenci di akhir cerita. Hanya itu yang bisa ia lakukan untuk membalaskan rasa dendamnya pada Egon.
“Mysha.. Anastasia.. bukalah mata kalian dan lihatlah lelaki yang kalian pilih itu..”
***
__ADS_1
Bersambung…