
Perhatian!
Bab ini, flashback kehidupan pertama Egon.
***
3 hari berlalu sejak terakhir Egon dan Anastasia bertemu. Walaupun Egon sangat menantikan pertemuannya kembali dengan Anastasia, ia tidak bisa melakukan apapun selain menunggu akan datangnya hari itu.
Setiap sore hari, ia menunggu dekat pohon apel sambil meminum teh yang selalu ia seduh sendiri. Pekerjaan rumah dan menumpuknya daftar buku yang harus ia baca, membuatnya hanya bisa menikmati waktu sendiri tersebut kurang dari 15 menit. Setelah itu, ia kembali ke ruangannya untuk melanjutkan pekerjaannya.
Tak terasa, seminggu pun berlalu. Harapannya untuk bertemu Anastasia mulai sirna. Dalam beberapa hari, ia harus melakukan ekspedisi ke hutan bersama para kesatria, membantai monster-monster yang turun dari gunung untuk berkembang biak.
Ia pun menutup buku yang sedang ia baca di ruangannya sambil menghela nafas panjang. Lalu, ia memutar kursinya ke arah jendela. Melihat langit biru yang cerah menerangi pekarangan istana.
‘Jika saja dia tidak muncul kembali dengan sosok seperti itu, buku-buku ini pasti sudah selesai dibaca..’ gerutunya.
Sosok Anastasia saat muncul kembali dihadapannya, memang berhasil membuatnya hilang akal. Sosoknya yang indah, benar-benar terlihat seperti bidadari.
Egon yang terhanyut dalam khayalannya sendiri, tiba-tiba melihat sesuatu yang asing pada pandangannya.
‘Merpati?’
Jarang sekali ia melihat burung merpati terbang ke dalam pekarangan istana. Bahkan, bukan cuma 1-2 ekor, saat itu ia dapat melihat beberapa ekor terbang dan berkumpul di dekat air mancur.
‘Apa seseorang sedang memberi makan mereka? mungkinkah?’ Egon pun mencoba menerka dalang dibalik munculnya merpati-merpati itu.
Demi menghilangkan rasa penasarannya, ia pun turun dari kursinya dan berjalan ke arah air mancur.
Dan ternyata, dugaannya tepat.
Anastasia sedang di sana, memberi makan burung-burung tersebut dengan roti kering ditangannya.
“Apa yang sedang kau lakukan?”
“Oh, pangeran Egon. Salam dan semoga Ecroupevell memberkatimu..” Anastasia menarik gaunnya dengan satu tangan sambil memberi salam padanya.
“Berdirilah.. kau tidak perlu seperti itu padaku.. Apa yang sedang kau lakukan di sini?”
“Ada mata yang memandang..” jawab Anastasia yang menyadari bahwa beberapa pelayan sedang memperhatikan mereka dari kejauhan. “Hari ini aku akan mengikuti kelas sejarah oleh Countess Ophelia bersama kalian”
“Oh, kupikir kau menyelinap lagi..”
“Aku kemari hampir setiap hari tapi kau tak ada..” jawabnya.
“Kapan? Aku terjebak di ruang belajarku.. aku tidak bisa sering-sering datang ke sana..”
“Setiap malam. Aku ingin melihat bintang bersamamu..” jawab Anastasia sambil kembali memberi makan para merpati.
“Setiap malam? Bagaimana caranya?” Egon melihat Anastasia tidak percaya.
“Hehe, aku bohong..”
“Kau..”
__ADS_1
“Tapi aku tidak bohong tentang ingin melihat bintang bersamamu..” ucapnya sambil tersenyum.
Egon dapat melihat bahwa gadis itu sedang menyembunyikan sesuatu dibalik senyumannya yang terlihat sedang memaksakan diri.
“Aku bisa menemanimu jika kau emang benar menginginkannya..”
“Benarkah?”
“Malam ini.. kau akan datang?”
“A—“
“Egon?”
“Frederick!”
“Yang mulia putra mahkota! Salam dan semoga Ecroupevell memberkatimu!”
Tanpa mereka sadari, Frederick sudah ada dibelakang mereka. Egon merasa sedikit malu, mengingat pembicaraan terakhir dengan Anastasia adalah tentang kencannya malam itu.
“Apa yang sedang kalian bicarakan?”
“Kami—“
“Kami sedang membicarakan kelas Countess Ophelia, yang mulia..” Anastasia memotong ucapan Egon.
Ia kemudian melirik Egon, sebagai sinyal untuknya agar ia mengikuti permainannya.
“Ah iya, aku tidak ingat putri Duke Willyn mengikuti kelas hari ini bersama aku dan Nikolai,” jawab Egon.
“Tidak. Nyonya Ophelia sepertinya sudah memberitahu, akulah yang tidak mendengarkannya..”
“Benarkah? Kupikir kau murid teladan..” ucap Frederick sambil menggoda Egon.
“Aku memang murid teladan. Hanya saja, sesuatu mengganggu pikiranku akhir-akhir ini..” jawab Egon sambil tersenyum, melirik Anastasia secara diam-diam.
Menyadari bahwa Egon sedang menggodanya pun, Anastasia tersipu malu. Untungnya, saat itu Frederick tidak menyadarinya.
“Kalau begitu, bagaimana kalau kita pindah ke dalam. Sepertinya cuaca semakin terik. Tidak baik untuk kulitmu..” ucap Frederick.
Mereka bertiga pun lalu masuk ke dalam istana dan melanjutkan perbincangan mereka di dalam ruangan.
***
Lonceng istana berdentang, menunjukan bahwa pukul 9 malam telah tiba. Orang-orang menyelesaikan aktivitas mereka di luar. Berjalan cepat ke dalam berharap rembulan tidak melahap mereka.
Jauh sebelum orang-orang mulai ekspedisi untuk berburu monster, orang-orang diwajibkan untuk sudah ada di dalam rumah sebelum pukul 9 malam. Karena, monster danau biasanya naik ke permukaan tanah untuk mencari makanan pada jam tersebut.
Kebiasan itu pun terus berlangsung bahkan saat monster danau sudah punah, terutama diantara kalangan orang tua.
Sementara bagi para anak muda, jam 9 malam tidak berarti apa-apa, selain untuk istirahat dan tidur.
“Apa dia tidak akan datang?”
Pukul 9 telah berlalu dari 10 menit yang lalu, tapi ia tidak menemukan tanda bahwa bidadarinya akan datang.
__ADS_1
“Egon..” panggil gadis itu dengan suara kecil.
Egon yang sudah hampir satu jam berada di sana pun, langsung bersemangat ketika mendengar suara yang ia nantikan, memanggil lembut namanya.
“Ternyata benar kau di sini.. aku menunggumu di bawah pohon apel..” ucapnya sambil sedikit terengah-engah.
Anastasia mengenakan gaun yang berbeda dari yang ia kenakan siang itu. Kali ini, gaunnya lebih tipis, seperti orang-orang dari kalangan rakyat jelata biasa kenakan.
Walau begitu, kecantikan Anastasia tidak pudar karenanya. Gaunnya terlekuk dengan indah mengikuti garis tubuhnya. Walaupun ia masih berumur 14 tahun, sama seperti Egon.
“Bagaimana kau bisa menyelinap kemari?”
“Ah, pelayan wanitaku dulu, saat aku masih kecil, dia pindah ke bagian dapur istana mengikuti kakaknya yang lebih dulu di sini. Dia selalu membantuku untuk menyelinap kemari”
“Siapa namanya?”
“Hey! Aku pikir kau akan mengajakku melihat bintang? Ayo!” Untuk melindungi pelayan tersebut, Anastasia pun mengganti topik pembicaraan mereka dengan cepat. Ia lalu menarik tangan Egon dan mengajaknya kembali ke daerah dimana pohon apel tumbuh.
“Cantiknyaaaa” sambil duduk di samping Egon, Anastasia mendongakkan kepalanya, memperhatikan bagaimana bintang-bintang dan cahaya bulan menerangi malam mereka.
Sementara Egon, ia berbaring di rerumputan, memperhatikan bagaimana gadis disampingnya terlihat sangat bahagia hanya dengan pemandangan di atasnya.
“Hey Egon, sejak 4 tahun lalu, aku selalu menantikan saat-saat bertemu denganmu..” tiba-tiba Anastasia berbicara padanya sambil tetap memandang bintang-bintang.
“Mungkin waktu itu aku masih kecil, tapi melihatmu yang tidak merendahkanku saat aku memberimu salam dengan kaki gemetar. Dan.. kau tidak menyebarkan ceritaku yang menyelinap ke mari, membuatku yakin kalau kita bisa jadi teman yang baik..” lanjutnya.
“Lalu, saat bertemu lagi denganmu, melihatmu kini yang terlihat lebih dewasa dari anak-anak seumuran kita, entah mengapa, aku semakin menantikan pertemuan denganmu selanjutnya. Termasuk malam ini..”
Egon memahami maksud Anastasia saat itu. Egon dan Anastasia sama-sama merupakan anak yang paling tidak diperhatikan dengan baik oleh orang tua mereka. Sehingga mereka berdua pun tumbuh menjadi seorang anak yang lebih mandiri dan dewasa daripada anak-anak seumuran mereka.
“Aku selalu nyaman bersamamu, dan aku selalu merasa bisa jadi apapun di depanmu..” ucap Anastasia sambil memandang Egon.
Sosok Anastasia terlihat semakin cantik di bawah sinar rembulan. Egon yang tidak ingin melewatkan kesempatan untuk menyentuh sang putri Duke itu pun langsung bangkit dari posisinya, dan mencium bibir gadis itu.
Malam itu, menjadi malam yang cukup panjang bagi mereka berdua. Sejarah terukir diantara keduanya.
Sejak saat itu pun, Anastasia sering datang menyusup ke dalam istana untuk bertemu Egon. Egon pun sesekali mengajaknya jalan berdua, menyusuri indahnya kota sambil berpura-pura menjadi seorang rakyat biasa.
Kenangan tersebut tidak pernah terlupakan oleh Egon.
Karena… semua yang mereka lakukan, membawa petaka bagi Egon dikemudian hari.
***
A/N: Maaf untuk ketidaknyamanannya ngeliat anak umur 14 tahun sudah begitu. Dan ini hanya fiksi ya, jadi dimohon pengertiannya 🙏🏻
***
Hadiah, buat yang kangen sama Mysha ❤️
***
Bersambung..
__ADS_1