
“Hai Mysha”
“Ah, cepat sekali kau sampai”
“Haha. Kau yang memilih tempat di sini. Wajar bukan, jika aku datang cepat?” Ucapnya sambil tersenyum.
***
Hari itu, Mysha berencana mengajak Egon keluar, untuk mencoba kue yang dijual di toko kue baru dengan sistem all you can eat, segera setelah Egon menyelesaikan pekerjaannya.
Dari percakapan di hari sebelumnya, hari itu Egon hanya akan melakukan siaran selama dua puluh menit di kamarnya. Dan tentu saja, karena Mysha sudah tau kebiasaan pukul berapa Egon siaran, ia pun mendatanginya satu jam setelahnya.
Tetapi, saat ia berkunjung, tidak ada yang membukakan pintu untuknya. Bahkan setelah beberapa saat ia menunggu.
Mysha telah mencoba menghubunginya beberaoa kali, tetapi, Egon tidak menjawab sama sekali.
Dengan rasa kecewa, Mysha pun memutuskan untuk membatalkan rencananya hari itu dan kembali ke kamarnya.
‘Sadarlah Mysha! Ia juga manusia yang punya kehidupannya sendiri!’ ucapnya dalam hati.
Pada akhirnya, Mysha pun menghabiskan waktunya sendirian di kamarnya. Mengerjakan skripsi yang beberapa hari ini ia tidak sentuh sama sekali.
Saat menunggu laptopnya menyala penuh, ia pun membuka ponselnya untuk memeriksa akun acebook dan stagram-nya.
“Egon dan Lentera!?”
Mysha tersentak kaget melihat profil yang muncul di deretan pertama story stagram-nya. Egon dan Lentera. Mereka berdua melakukan siaran langsung bersama.
‘Kenapa kau tidak memberitahuku tentang ini!!’ Sebagai salah satu fans Lentera juga, Mysha sedikit kecewa pada Egon yang tidak memberitahunya tentang hal tersebut.
*Lalu, tanpa berpikir panjang, Mysha pun mengeklik story *mereka, dan munculah layar siaran langsung Egon dan Lentera.
‘Ya ampun! Ini tempat yang aku ingin datangi hari ini!’ Mysha yang tadinya merasa antusias untuk melihat Egon dan Lentera melakukan siaran bersama pun, dalam sekejap, suasana hatinya berubah kelam.
Egon terlihat senang dan bahagia melahap setiap kue yang ada di mejanya bersama Lentera. Berbagai komentar seperti ‘krimnya lembut!’ ‘Coklatnya meleleh!’ dan lainnya pun saling mereka ucapkan setiap kali mereka mencoba kue baru.
Mysha yang kesal karena tidak bisa menjadi orang pertama yang mencoba kue itu dengan Egon, akhirnya menutup siaran mereka.
Ia pun mematikan kembali laptopnya dan menutupnya. Karena ia tau, dengan suasana hatinya yang seperti itu, ia tidak mungkin bisa mengerjakan skripsinya.
Lalu, ia memutuskan untuk berjalan keluar apartemen dengan membawa tasnya.
Ia ingat, ada satu toko lagi yang ingin dia kunjungi. Tapi, berbeda dari toko kue yang ingin ia kunjungi hari itu, toko tersebut hanyalah sebuah toko gelato biasa. Dan karena toko tersebut dekat dengan apartemen Frederick, ia pun mengajaknya untuk bertemu di sana.
***
*“*Bagaimana kau bisa tahu tentang toko gelato ini?” Tanya Frederick.
Mereka memesan dua buah cup gelato. Mysha memesan rasa pistachio dan strawberry shortcake, sementara lelaki dihadapannya memesan rasa blueberry cheesecake.
__ADS_1
“Temanku. Sepertinya toko ini terkenal di kalangan expat,” jawabnya sambil sedikit melirik orang-orang asing di sekitarnya.
“Kau benar,” Frederick menyetujuinya. Karena tak satu pun dari mereka adalah orang lokal. Tentu saja terkecuali mereka berdua.
“Aku makan ya..” Mysha pun menyendokkan gelato-nya dan melahapnya.
“Ya Tuhan, ini sangat enak! Gelato terenak yang pernah aku makan!” Lanjutnya lagi. Matanya berbinar-binar seakan menemukan harta karun.
Frederick tertawa melihat sikap Mysha yang seperti anak kecil.
“Maaf, kalau soal makanan aku tidak bisa tahan..” Mysha tersipu malu ketika menyadari bahwa Frederick sedang menikmati tontonan di depannya.
“Tidak apa, kau terlihat seperti tidak memiliki beban dalam hidupmu..”
“Aku punya tanggung jawab, tapi tidak aku jadikan beban..”
“Hoo? Menarik. Aku harus menerapkan hal yang sama dalam hidupku,” Frederick kembali tersenyum.
“Kau punya beban?”
*“*Iya. Aku harus menulis buku ke-3 The Dark Prince, tapi… aku tidak punya ide sama sekali untuk melanjutkannya..”
“Begitukah? Biasanya, kau melakukan apa untuk mendapatkan ide?”
“Melupakan novel itu..”
“Hah?”
“Wah? Aku baru pertama kali dengar yang seperti itu..”
“Yah, setiap penulis memiliki cara masing-masing untuk mendapatkan ide,”
“Hmm..” Mysha mengangguk dengan sendok gelato di bibirnya.
“Dan sayangnya, kali ini aku tidak bisa melupakan The Dark Prince, karena mereka akan mengadaptasinya menjadi film. Aku akan banyak berbicara tentang itu..”
“Aku mengerti..”
“Oh ya, kau sendiri salah satu penggemar The Dark Prince kan? Apa ada hal yang ingin kau tanyakan lagi?”
“Umm…” Mysha pun mengingat-ingat isi novel tersebut. “Sepertinya tidak ada.. kau menulisnya dengan baik,” jawabnya.
“Ah! Tapi!” Lalu, tiba-tiba Mysha pun teringat perkataan Egon mengenai anak Frederick yang mirip dengannya. “Apa ada kemungkinan jika anak Pangeran Frederick adalah anak Pangeran Egon?”
“Hmm?”
“Umm.. aku penasaran saja,” Mysha tersenyum dengan sedikit terpaksa.
“Iya.. itu adalah anak pangeran Egon..” jawabnya.
Mendengar kenyataan tersebut, Mysha pun langsung terdiam. Bingung dengan apa yang harus ia ucapkan setelah itu karena suasana hatinya yang terlalu sedih.
__ADS_1
‘Inikah alasan kenapa Egon bilang ia merasa bersalah pada Frederick?’ Ia pun bertanya pada dirinya sendiri.
“Ada yang ingin kau tanyakan lagi?”
“Tentang Anastasia..”
“Putri Anastasia? Kenapa?”
“Orang seperti apa dia?”
“Seperti dirimu?”
“Jangan bercanda,”
“Hahaha. Walaupun ia putri seorang bangsawan, ia cukup berani mengungkapkan apa yang ia rasakan. Mungkin itu yang menjadikan kalian mirip,” jelasnya.
“Ah ya, kalau sebatas itu sih, aku pun paham dari hanya membaca novelnya..”
“Tapi, jika aku bisa memilih, aku ingin kau bermain peran Anastasia, karena gambaran dirinya cocok di dirimu,”
“Terima kasih, tapi aku tidak berbakat untuk bermain peran..”
“Aku mengerti,”
Sejenak mereka berdua pun terdiam. Fokus untuk menghabiskan gelato yang ada dihadapan mereka.
*“*Oh ya Frederick, kau tau pangeran Egon? Bukan yang ada di novelmu, tapi artis stagram.” Mysha lalu membawa topik Egon.
“Iya. Tadi pagi aku mendengarnya dari Pak Asep, sutradara film The Dark Prince, katanya ia akan memerankan peran pangeran Egon?”
“Iya, benar, Egon yang itu..”
“Ada apa dengannya?”
“Apa mau kukenalkan dengannya? Kebetulan aku pun dekat dengannya.”
“Untuk apa?”
“Ia memiliki banyak pandangan bagus tentang The Dark Prince, mungkin kau bisa berbicara dengannya untuk mencari ide baru..” jawab Mysha.
“Terima kasih.. Sepertinya itu memang ide yang bagus. Aku jadi penasaran, pandangan seperti apa yang ia miliki tentang The Dark Prince,”
Mysha pun kembali tersenyum. ‘Dengan pandangan asli Egon, tokoh asli The Dark Prince, Frederick pasti akan merasa sangat terbantu mendengarnya..’ pikirnya.
Setelah Frederick menyetujui untuk berkenalan dengan Egon. Mereka berdua pun mengganti topik pembicaraan mereka. Sampai akhirnya gelato habis dan Frederick pun kembali mengantar Mysha pulang sampai apartemennya.
***
Bersambung…
__ADS_1