
From: miracle_ent@xxx.com
Subject: Casting
Selamat pagi,
Perkenalkan, saya Gilang dari Miracle Entertainment. Dengan e-mail ini, saya bermaksud untuk mengundang Anda untuk mengikuti Casting film 'The Dark Prince' yang diadaptasi dari novel dengan judul yang sama, pada:
Hari/tanggal: Senin, 29 Maret 2021
Pukul: 19:00
Tempat: JCC
Saya ucapkan terima kasih atas perhatian. Kami berharap akan kedatangan Anda.
Walaupun sudah beberapa kali Egon membaca *e-mail* tersebut, ia masih tidak percaya bahwa ia menerima sebuah undangan untuk bermain film. Melihat progres yang ia lakukan semenjak ia memulai karirnya sebagai seleb stagram, ia berpikir ia mungkin memang cukup berbakat menjadi seorang seleb. Tetapi untuk bermain film? Ia khawatir ia tidak bisa memberikan hasil terbaik, walaupun dirinya adalah gambaran sempurna tokoh Egon di novel 'The Dark Prince.'
"Hah... bagaimana ini?" Egon menutup ponselnya lalu menaruhnya di kasur. Ia pun mendesah kebingungan sambil mengusapkan kedua telapak tangannya pada wajahnya.
Belum ia berhasil menyelesaikan masalahnya dengan Mysha, ia sudah dapat masalah baru yang memaksanya untuk lebih berpikir.
Jika Egon memang manusia yang berasal dari dunia yang sama dengan Mysha, mungkin ia tidak akan ragu untuk mengambil kesempatan emas ini untuk menjadi lebih terkenal. Sayangnya, ia bukanlah warga asli sini. Ia tidak tahu kapan ia akan kembali ketempatnya. Bahkan kalau saat itu datang dan Egon diharuskan memilih, ia harus memilih tempat asalnya. Karena ada yang harus ia selesaikan.
Beban serta tanggung jawabnya sebagai pangeran sekaligus ksatria kerajaan, membuat ia tidak bisa semudah itu memilih untuk selalu bersama Mysha.
"Seharusnya aku sadar akan hal ini sebelum aku melakukan itu pada Mysha," gumamnya.
Egon pun jadi beranggapan bahwa Mysha sebenarnya sudah lebih dulu sadar akan hal ini, makanya Mysha langsung menolak dan menghindari dirinya. Ia sekarang paham bahwa keterikatan yang terjalin antara ia dengan dirinya, malah akan membuat mereka berdua teriksa satu sama lain nantinya.
__ADS_1
Ia pun menarik nafas panjang sambil meregangkan tubuhnya. ‘Pikiran-pikiran seperti itu ada baiknya jika dibicarakan langsung,’ pikirnya.
Ia pun melihat kembali ponselnya. Sudah 15 menit berlalu dari terakhir dia mengirim pesan pada Mysha, tapi tidak ada balasan satupun.
Tidak baik jika ia terus-menerus memaksa Mysha untuk berbicara. Ia harus memberinya waktu lebih lama. Tetapi, melihat makanan yang sudah ia beli untuk dimakan berdua, Egon pun kembali beranjak dari tempat duduknya dan pergi keluar.
'Aku akan coba berbicara padanya sekali lagi. Jika dia masih menghindariku, lebih baik aku berhenti mengganggunya,’
***
"Mysha?" Egon mengetuk pintu kamar Mysha sekali lagi, tapi tidak ada jawaban.
"Aku ingin bicara sebentar. Kupikir kita harus membicarakan ini baik-baik." Lanjutnya.
Egon menatap makanan yang sudah mulai terasa dingin ditangannya. Apakah ia harus memakannya sendiri, seperti hari-hari sebelumnya? Ataukah lebih baik ia menggantungkannya di pintu agar Mysha bisa memakannya?
"Egon!" Mysha yang langsung berlari kecil ketika lift terbuka, datang menghampiri Egon. Nafasnya terengah-engah seakan ia sudah berlari dari tempat yang jauh.
"Apa kau menunggu lama? Aku baru saja dari luar," belum sempat Egon menanyakan keadaannya, Mysha sudah terlebih dahulu mengkhawatirkan Egon yang terlihat masih setia menunggu Mysha di depan pintunya.
"Kau harus minum," ucap Egon tanpa menjawab pertanyaannya. Melihat pipi Mysha yang memerah dan lipstick-nya yang mulai memudar, Egon langsung bisa membayangkan jarak yang ditempuh Mysha untuk berlari sampai di sini.
"Iya, aku haus. Kita masuk saja dulu." Ucap Mysha sambil membukakan pintu kamarnya.
Egon sedikit terkejut melihat kamar Mysha yang cukup berantakan. Tidak seperti saat Egon tinggal di sana. Bahkan di hari pertama Egon muncul pun kamarnya tertata rapi.
Mysha yang menyadari tatapan Egon pada keadaan kamarnya pun langsung memberikan penjelasan, "Ah, sejak kau tidak di sini, aku selalu pergi ke cafe sampai larut malam. Tak ada waktu untuk membereskan ini."
'Ah, apa itu alasan kenapa dia tidak pernah membukakan pintu untukku?' Egon ingat betul bahwa Mysha sedang sibuk dengan skripsi dan pekerjaannya sebagai editor. Itulah mengapa, kemungkinan Mysha berada diluar saat malam hari tidak terpikirkan olehnya dan langsung saja datang mengunjunginya. Ia tidak tahu bahwa mengerjakan pekerjaan di cafe adalah salah satu yang banyak dilakukan anak muda di sana.
__ADS_1
"Ini, aku membawakan makanan untukmu. Mungkin sudah tidak sehangat saat baru datang tadi," ucap Egon sambil menyerahkan makanan yang sedari tadi belum ia buka.
Mata Mysha langsung berkilau ketika mendengar kata makanan. Walaupun sebelumnya ia sudah pergi ke cafe bersama Floria, ia belum sempat memakan makanan berat, hanya segelas air putih dan semangkuk salad saja. Mysha pun mengambil makanan tersebut dari tangan Egon lalu mengucapkan terima kasih. Tanpa banyak berbasa-basi, ia pun membukanya lalu mengajak Egon untuk langsung menyantapnya bersama.
"Ini terlihat sangat enak!" Melihat isi makanan yang dibeli oleh Egon, Mysha terlihat kegirangan. Walaupun tinggal bersama Egon hanya dalam waktu yang cukup singkat, ia sangat senang Egon dapat mengingat apa yang menjadi favoritnya selama ini.
"Makanlah!" Egon meresponnya dengan senyuman. Ia tidak pernah bosan melihat bagaimana Mysha mengekspresikan dirinya dengan jujur.
Melihat senyuman Egon, telinga Mysha pun memerah. ‘Apa benar, aku akan berpacaran dengan lelaki ini? Melihat dia tersenyum padaku seperti ini saja, sudah membuatku panas,’ Mysha pun mencoba untuk menenangkan dirinya sebelum ia mulai menyantap makanan ke dalam mulutnya. Ia takut perasaannya yang tidak karuan itu, membuat tangannya bergetar.
"Jadi, sebenarnya ada yang ingin kubicarakan denganmu," Mysha yang baru akan menyuapkan makanan kemulutnya, dengan ragu menurunkan kembali sendoknya. Ia memberanikan dirinya untuk menatap mata hijau Egon. Ia sudah membulatkan tekadnya untuk menjawab Egon ketika Egon mengirimkan pesan padanya tadi, walaupun sekarang ia harus sedikit menahan perut kosongnya untuk langsung menghabiskan makanan di hadapannya.
*"Miracle Entertainment *menghubungiku, mereka mengundangku untuk ikut casting minggu ini?"
"Hah?" Mysha yang tadinya mengira alasan kedatangan Egon adalah untuk membahas masalah dua minggu lalu, tercengang setelah mendengar yang Egon ucapkan.
"Haha.. Kau bisa mendengarnya sambil makan.. maaf, kau pasti sangat lapar" ucap Egon sambil tersenyum lebar. Ia berpikir bahwa Mysha terlalu lapar sehingga tidak dapat mencerna kata-kata yang ia ucapkan padanya.
Mysha yang kembali merasa malu mendengar ucapan Egon yang tidak sesuai perkiraannya, langsung menundukkan kepalanya. Tidak mau telihat canggung, ia pun lalu mengambil sendok yang sempat ia taruh di piringnya dan menyantap kembali makanannya.
"Mereka sepertinya berencana untuk mengadaptasi novel 'The Dark Prince' menjadi drama"
"Apa!" Mysha pun langsung bereaksi ketika mendengar Egon mengucapkan judul novel kesayangannya tersebut. "Ya ampun! Sebenarnya aku tidak suka ketika orang sembarangan mengadaptasi novel yang sudah ditulis dengan baik, menjadi sebuah drama, yang biasanya malah terlihat jauh dari harapan. Tapi, jika kau yang bermain peran sebagai Egon, mungkin bisa jadi pengecualian!" lanjutnya.
Egon pun tertawa melihat sikap Mysha yang tiba-tiba berubah menggebu-gebu. Jika boleh ia berasumsi, Mysha memiliki dua kelemahan. Pertama adalah makanan enak. Kedua adalah novel 'The Dark Prince,' terutama karakter pangeran Egon. Walaupun seharusnya dia senang dengan perasaan Mysha yang mengagumi ‘pangeran Egon,’ ia masih tidak bisa menerima kenyataan bahwa Mysha terlihat masih menganggap bahwa dirinya dan pangeran Egon adalah dua karakter berbeda.
“Jadi, apa kau akan ikut castingnya?” Dengan tatapan yang berharap, Mysha pun menantikan jawaban lelaki di depannya.
Bersambung..
__ADS_1