Dendam Sang Pangeran

Dendam Sang Pangeran
12: Makan Malam


__ADS_3

“Egon...” Anastasia memandang jari-jari kakinya sambil memanggil Egon dengan lembut.


“Hmm?” Egon yang masih berbaring di kasur, memberikan respon tanpa membuka mulutnya. Terlalu sulit untuknya membuka mata, apalagi setelah melewati malam yang panjang bagi mereka berdua.


“Apa tidak apa seperti ini?” Masih dengan posisi duduk di pinggir kasur, Anastasia meremas seprei putih yang ada di kedua telapak tangannya, seakan sedang menahan gejolak emosi yang masih belum hilang di malam sebelumnya.


“Frederick akan mencintaimu lebih..”


“Tapi aku tidak mencintainya...” Anastasia mengalihkan pandangannya ke arah Egon. Mencoba mengutarakan perasaan sesungguhnya pada Egon.


Egon yang mengerti dengan suasananya, membuka matanya perlahan. Ia ingin melihat lebih jelas, ekspresi seperti apa yang sedang diperlihatkan gadis di sampingnya itu.


Marah.


Benci.


Kesal.


Penyesalanlah yang banyak terlihat pada raut wajahnya.


Penyesalan pada dirinya sendiri yang tidak bisa melakukan apapun.


Penyesalan pada dirinya sendiri yang bisa dengan mudahnya terlena pada lelaki di sampingnya.


Egon mengerti.


Seorang putri bangsawan seperti Anastasia, pasti akan menyesal dengan apa yang telah ia perbuat selama ini, apalagi perbuatan tersebut telah menodai dirinya sendiri.


Jika saja, tunangan putra mahkota tidak ikut terserang wabah saat itu, Anastasia mungkin masih bisa bersama Egon tanpa harus menerima perintah ayahnya untuk menikahi Frederick.


“Kau harus bersiap, hari ini Frederick mengajakmu berkencan ,’kan?”


“...”


“Kuharap kau bisa menerima, alasan kenapa, kita tidak sebaiknya bertemu kembali seperti ini..”


Egon pun bangkit dari kasurnya. Ia mengenakan bajunya kembali sebelum ia pergi meninggalkan putri Anastasia sendiri di kamarnya.


***


“Egon?”


“Hmm?”


“Hei, apa kau lelah?” Mysha menyisir rambut Egon dengan jari-jarinya. Ia baru saja kembali dari supermarket untuk membeli bahan makanan. Ia tidak menyangka akan melihat Egon tertidur dengan kepalanya di atas meja makan.


Egon membuka matanya perlahan, memperhatikan gadis dihadapannya yang tersenyum dengan lembut. Entah apa yang ada di dalam pikirannya, tapi ia membalas senyuman tersebut. Dan lagi-lagi, ia mengangkat tangannya untuk menyentuh sisi wajah Mysha.


“Kau cantik” ucapnya tanpa sadar.


“Hah?” Mysha terkejut mendengar yang diucapkan Egon. Selama ini, tidak pernah ada yang mengatakan hal seperti itu padanya, kecuali teman-teman wanitanya.


Egon yang langsung tersadar dengan apa yang ia lakukan pun langsung membelalakan matanya dan bangkit dari posisinya. “Maaf, aku baru bermimpi aneh..”


“Siapa wanita cantik yang kau sebut cantik tadi?” Mysha menyeringai licik melihat telinga Egon yang memerah. Walaupun sebenarnya, ia sedikit sedih mengetahui bahwa pujian Egon terhadap dirinya tadi, ternyata bukan ditujukan padanya.


Egon tidak menjawab.

__ADS_1


Wajahnya pun tiba-tiba berubah. Rona merah pada pipinya memudar dengan cepat.


“Kau tidak apa-apa?”


“Tadi kau beli apa?” Egon mengalihkan pembicaraan tanpa menjawab Mysha. Ia mengarahkan pandangannya ke arah kantong belanja yang penuh terisi.


“Oh ya! Aku membelikanmu teh jasmin” Mysha pun langsung mengambil teh dingin dalam kemasan dan memberikannya pada Egon.


“Oh! Terima kasih! Aku tau aku dapat mengandalkanmu” ucap Egon.


Egon lalu membuka tutup kemasan botol tersebut dan meneguk cairan tersebut dengan cepat.


“Kau terlihat lelah..”


“Entahlah, akhir-akhir ini aku merasa sangat lelah..”


“Apa kau sakit?”


“Tidak...”


Mysha memperhatikan Egon dengan perasaan tidak enak. Ada yang salah dengan Egon. Dia terlihat lemas dan pucat. Jika memang Egon sedang tidak sakit, ia takut kalau-kalau dia sedang merasa stress.


“Kau tidak perlu sungkan untuk memberitahukanku masalahmu.. aku tau pasti sulit, tapi aku akan selalu mendengarkanmu..”


Untuk memastikannya, Mysha pun berkata demikian.


Egon tersenyum. Ia memegang kepala Mysha dan mengacak-ngacak rambutnya dengan perlahan.


“Terima kasih.. tapi aku tidak apa-apa.”


“Hey, sebenarnya ada yang ingin kubicarakan padamu, makanya aku menyuruhmu menunggu di sini” Sambil menyingkirkan tangan Egon yang masih berada di atas kepalanya, Mysha berbicara. Ia lalu menata kembali rambutnya dengan asal menggunakan jemarinya.


“Apa itu?”


“Aku sudah bertemu dengan penulis ‘The Dark Prince’”


“Oh ya?”


“Iya, dia cukup tampan dan—“


“Berani?” Dengan nada datar, Egon memotong Mysha. Lalu, ia mengambil sebotol lagi teh dalam kemasan tersebut. Ia membuka tutupnya sebelum menyerahkannya pada Mysha.


“Bukan, dia tampan dan kaya” Mysha menerimanya, lalu meminumnya beberapa tegukkan sebelum ia tutup kembali botolnya.


“Oh? Aku pikir penulis tidak akan terlalu menghasilnya. Apa pekerjaan aslinya?”


“Ya kan? aku pikir juga begitu, sepertinya bagi orang seperti itu, menulis novel hanya pekerjaan sampingan. Aku tidak tahu pekerjaannya lainnya apa..” jawab Mysha.


Dan...”


“Dan?”


“Sekarang dia mengajakku makan malam.. hanya berdua..”


“Kencan?”


“Mungkin”

__ADS_1


“Dan kau akan pergi?”


“Aku tidak tahu..”


“...” Egon dapat melihat, perasaan bimbang terlukiskan jelas pada wajah Mysha.


“Kau tidak perlu khawatir denganku. Aku paham kalau kamu harus menemui banyak orang selain aku,” jelasnya.


“Bukan begitu.. Aku hanya merasa terbebani karena dia partner kerja tempat aku bekerja..” Mysha memangku dagunya pada tangannya.


“Begitu ya..”


“Hah.. sepertinya aku akan pergi. Jika dia melakukan hal tidak wajar aku akan langsung pergi.”


“Kau bisa meneleponku jika terjadi apa-apa”


“Baiklah.. terima kasih”


***


Ada perasaan bersalah yang dirasakan oleh Mysha ketika ia akan meninggalkan Egon untuk menemui lelaki lain. Padahal ia tahu bahwa dirinya dan Egon tidak memiliki hubungan khusus—untuk saat ini—.


“Kenapa kau terlihat biasa saja saat aku bilang seperti itu..” Mysha bergumam sendiri, merasa kecewa dengan sikap Egon yang tidak terlihat cemburu sama sekali.


Terlalu sibuk dengan pikirannya, tanpa sadar, ia sudah berada di restoran kelas atas, tempat Frederick mengajaknya bertemu. Suasananya sangat berbeda dengan restoran kecil yang sering ia datangi. Ia dapat melihat bagaimana para chef memasak dan menghidangkan makanannya, karena bagian dapur ditampakkan dengan kaca sebagai pembatas.


Meja dan kursinya terbuat dari kayu jati. Walau tidak ada kain alas meja menghiasi, di atas meja sudah tersedia tatakan piring dan napkin yang sudah terlipat rapi. Ia pun langsung tersenyum begitu melihat Frederick sudah menyadari kehadirannya dan menyapanya.


“Maaf terlambat..”


“Tidak, aku yang datang terlalu cepat” Frederick segera berdiri dari kursinya dan berjalan menuju kursi yang akan Mysha duduki. Ia menarik kursinya dan mempersilakan Mysha untuk duduk.


“Terima kasih..”


“Ngomong-ngomong kau terlihat sangat cantik dengan baju itu..”


Hari itu Mysha menggunakan dress sepanjang lutut dengan furing dan tanpa lengan berbahan chiffon. Warna pink pucat sangat cocok dengan kulit dan warna rambutnya. Ia mengenakan tambahan bolero putih berbulu untuk melindungi lengannya dari udara dingin malam itu.


Rambut coklatnya diikat sebagian dengan sebuah pita yang berwarna sama dengan bajunya. Pada telinganya terdapat anting berbentuk hati berwarna putih. Agar tidak terlihat terlalu polos, pada lehernya pun sudah tergantung kalung tipis dengan liontin berbentuk bulat dengan permata putih.


“Terima kasih, temanku membantuku untuk memilihkan ini..” jelasnya.


Ya, pergi ke tempat mewah seperti ini adalah hal yang tidak pernah ia lakukan sebelumnya. Saat memilih baju pun Mysha terlihat kelabakan. Akhirnya, ia pun meminta Egon untuk membantunya memilih baju.


“Aku ingin terlihat elegan tanpa menghilangkan kesan diriku sendiri,” itulah syarat yang diberika Mysha untuk tampilan saat itu.


Sayangnya, karena Mysha tidak memiliki baju yang dimaksud, mereka berdua akhirnya pergi ke sebuah butik di ujung jalan dengan agak terburu-buru. Butik kecil yang menjual baju-baju cantik dengan harga yang miring.


Tanpa berlama-lama, mereka berdua pun memilih baju yang sekiranya paling cocok dengan Mysha. Walaupun Egon sendiri tidak terlalu mengerti tentang fashion orang saat ini, tapi kalau untuk memberikan penilaian tentang dress ia cukup bisa diandalkan. Apalagi ia sudah cukup mengenal karakter Mysha.


“Oh ya? Sepertinya temanmu sangat tahu tentang dirimu..” Frederick menopang dagunya pada tangan kanannya, masih dengan senyuman di wajahnya.


“Sepertinya begitu,” Mysha menjawab dengan senang. Bagaimana tidak, orang yang dia sukai disebut sebagai orang yang sangat mengerti dirinya.


Walaupun Frederick sedikit penasaran dengan teman yang dimaksud, ia mengalihkan topik pembicaraan mereka dan mulai memesan makanan hidangan pembuka. Mereka pun mulai berbincang mengenai. Topik-topik ringan, seperti kegiatan yang mereka lakukan beberapa hari ini.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2