
“Puhahahaha” suara tawa Frederick memenuhi restoran kala itu. Kegaduhan yang jarang terdengar di sebuah restoran kelas atas. Untungnya, orang-orang sekitar mereka terlihat sudah terlatih untuk tidak peduli dengan kebisingan seperti itu.
Pipi Mysha merona merah melihat reaksi yang ia tidak sangka. Padahal ia hanya menceritakan pengalaman pertamanya meminum minuman beralkohol, sebagai sebuah alasan untuk menolak tawaran Frederick, untuk mencicipi wine berkualitas tinggi di restoran tersebut.
“Baiklah kalau begitu, pesanlah tambahan minuman lain jika kau masih merasa haus..”
“Iya, terima kasih..”
“Oh ya, bagaimana menurutmu novel TDP?”
“Seperti yang aku bilang sebelumnya, aku hanya staff magang, aku tidak berhak memberi komentar ataupun kritik pada karyamu..”
“Dan aku pun sudah bilang untuk lebih santai padaku.. Aku bertanya padamu bukan sebagai penulis, tapi sebagai teman”
“Tapi membahas novelmu juga pekerjaanku,” Mysha cemberut.
“Bagaimana dengan Frederick?” Frederick pun mengalihkan pembicaraannya.
“Hmm.. apa kau tidak malu menggunakan namamu sendiri dalam novelmu?”
“Hahaha.. kau benar, sebenarnya aku malu, tapi aku punya alasan tersendiri..”
“Oh?”
“Aku akan memberitahumu suatu hari..”
“Kau tidak perlu memberitahukanku jika sulit..”
“Terima kasih, tapi aku memang berencana untuk memberitahu pasanganku tentang ini. Kalau dia tertarik untuk mendengarnya.”
Frederick menatap kedua mata Mysha, sambil tetap tersenyum. Seakan ia sedang memberikan sinyal pada Mysha, bahwa orang yang dimaksud itu adalah dirinya.
Sebagai penggemar novel romantis, tentu saja Mysha dapat menebak dengan cepat maksud Frederick. Mysha yang tidak nyaman medengar pernyataan tersebut pun, langsung mengalihkan tatapannya ke arah minuman yang masih tersisa di meja. Ia tidak bisa menatap balik pria tersebut, karena ia masih tidak tahu, apakah lelaki itu benar-benar tertarik padanya, atau hanya lelaki sampah bermulut manis.
Ia berusaha tetap tenang sambil mencoba berpikir topik pembicaraan lain untuk menurunkan suasana.
‘Kalau terbawa suasana seperti ini, aku jadi merasa bersalah pada Egon. Ini seperti... sedang berselingkuh.. Maafkan aku Egon..’ ucapnya dalam hati.
__ADS_1
Mengingat kata berselingkuh, Mysha pun teringat isi novel ‘The Dark Prince’ tentang putri Anastasia yang diam-diam menjalin hubungan dengan Egon ketika pertunangan dengan Frederick diumumkan.
“Hey, aku jadi teringat tentang Egon dan putri Anastasia..”
“Hmm?”
“Aku pikir, sepertinya Egon tidak akan menerima begitu saja putri Anastasia di kehidupan keduanya..”
“Oh ya? Kenapa kau berpikiran seperti itu?”
“Karena.. sepertinya, di kehidupan kedua, Egon tidak terlihat tertarik dengan para gadis, termasuk putri Anastasia sendiri..” Mysha yang sebenarnya tahu bagaimana alur cerita aslinya dari Egon berusaha untuk mencari alasan yang masuk akal.
Ya, menurut Egon, hubungannya dengan putri Anastasia tersebut tidak sepenuhnya sama dengan apa yang tertulis dalam novel. Hubungan mereka hanya terjadi di kehidupan pertamanya. Pada kehidupan kedua, dia menolak putri Anastasia, walaupun alasan sebenarnya masih belum ia ceritakan pada Mysha.
“Kau pikir begitu? Tapi kau tau kan, bagaimana hubungan Egon dengan Anastasia di kehidupan pertamanya?”
“Iya, mereka saling.. mencintai..” sebuah kata yang sulit untuk diucapkan Mysha. Walaupun ia tau, bahwa Egon sendiri yang memberitahu bahwa ia telah memilih untuk meninggalkan Anastasia.
“Betul.. Jadi, apa menurutmu seseorang bisa meninggalkan begitu saja orang yang ia cintai?” Frederick bertanya dengan wajah yang serius.
“Bisa. Jika ada alasan yang kuat.. Seperti balas dendam..” Melihat raut wajahnya, Mysha pun jadi merasa tidak enak karena sudah berkomentar tanpa bisa menjelaskannya dengan baik.
“Iya, aku pun berpikir begitu... tapi..” Mysha tersenyum lemas. Itu adalah pertanyaan sama yang ingin ia tanyakan pada Egon.
“Di dunia ini bukan saja tentang romansa, pertimbangan dengan siapa kita akan berhubungan harus dipikirkan baik-baik.. Apalagi, Egon sudah menghadapi hal-hal buruk pada kehidupan pertamanya. Jika menurut dia berhubungan dengan putri Anastasia tidak memberikan benefit, pasti ia tidak akan melakukannya lagi..” pada akhirnya, Mysha pun menjawab Frederick dengan jawaban apapun yang terbesit di otaknya saat itu.
“Wow.. sepertinya kau lebih cocok jadi editorku..” pujinya.
“Haha, aku harap bisa begitu..”
Frederick pun kembali tersenyum tanpa memberi respon lebih.
“Mysha..” Frederick mengucapkan nama Mysha dengan suara perlahan. Mysha yang sadar akan situasinya pun langsung terlihat gugup, mengingat orang yang memanggilnya dengan suara seperti itu hanya ada 2 orang.
“Y-ya?”
“Sepertinya sudah terlalu larut. Aku akan mengantarmu pulang.”
__ADS_1
Tanpa menunggu respon Mysha, Frederick pun memanggil seorang pelayan untuk meminta bill. Ia membayarnya, lalu mengucapkan terima kasih sebelum mengajak Mysha keluar.
Mobil mewah Frederick terparkir di vallet restoran tersebut. Mysha bersyukur, karena ia tidak perlu berjalan terlalu jauh, mengingat ia tidak biasa menggunakan high heels.
Mysha pun memandu jalan menuju apartemennya, sambil mereka mengobrol asyik tentang kehidupan pribadi mereka. Dari sudut pandangnya, baik Frederick maupun Egon, merupakan orang yang dewasa baik dalam pola pikir maupun bertingkah laku.
Hal tersebut dapat terlihat dari bagaimana mereka berdua selalu menjadi pendengar dan perespon yang baik tanpa mengeluarkan kata-kata yang menghakimi.
‘Walaupun mereka memiliki kepribadian berbeda, karakter mereka mirip,’ pikirnya.
“Ah, Egon..”
Saat mobil Frederick mndekati tempat tinggal Mysha, tiba-tiba ia melihat sosok Egon sedang berjalan kaki ke arah apartemen mereka, sambil membawa plastik bening yang berisi kotak makanan. Walaupun Egon menggunakan masker, tentu saja Mysha dapat langsung mengenalinya. Selain dari posturnya, itu karena Egon menggunakan jaket hitam yang biasa ia gunakan.
“Frederick bisakah kau menurunkanku di depan sana?” Mysha pun menunjuk sebuah tempat berhenti mobil yang tidak jauh dari tempat Egon berjalan.
“Oh? Di sinikah tempat tinggalmu?”
“Iya, di dekat sini.. aku mau bertemu dengan temanku dulu..” jelasnya.
Tanpa bertanya siapa teman Mysha yang dimaksud, Frederick pun menghentikan mobilnya di pinggir jalan. Untungnya, malam itu tidak terlalu banyak mobil di sana, jadi ia bisa berhenti sedikit lebih lama untuk turun dan membukakan pintu untuk Mysha.
“Terima kasih ya..” ucap Mysha dengan senyuman.
“Iya, terima kasih juga. Kuharap kita bisa bertemu kembali” jawabnya.
Mysha pun lalu melambaikan tangannya pada Frederick yang kembali masuk ke dalam mobilnya. Ia lalu membalikkan badannya dan berlari kecil untuk segera mendatangi Egon.
“Egon!” Teriak Mysha.
Egon terkejut mendapati Mysha berlari mendekatinya.
“Hai, aku pulang” ucap Mysha.
Egon tersenyum. Walau Mysha tidak dapat melihatnya karena masker yang dikenakan, ia tau bahwa Egon sedang menyambutnya dengan senyuman.
***
__ADS_1
“Egon..?” Ucap Frederick. Sambil memandang Mysha yang berlari menjauhinya, Frederick pun bertanya-tanya tentang identitas pria yang didatangi oleh Mysha.
Bersambung...