Dendam Sang Pangeran

Dendam Sang Pangeran
17: Saingan


__ADS_3


“Egon… mungkinkah Egon yang itu?”


Malam ketika Frederick mengantar Mysha kembali ke apartemennya, pikirannya dipenuhi oleh nama lelaki tersebut.


Beberapa kali ia mendengar nama tersebut diperbincangkan oleh orang-orang sekitarnya, tapi ia tidak menyangka bahwa orang tersebut akan menjadi saingan cintanya.


Mysha memang terlihat seperti gadis biasa, tapi ada beberapa hal yang terlihat luar biasa di matanya. Selain parasnya, sifat jujurnya saat mengekspresikan perasaannya sendiri menjadi daya tarik yang tidak biasa.


Sret sret


Walaupun Frederick bukan tipe orang yang suka mencari tahu tentang seorang selebritis tanah airnya, ia terpaksa melakukannya demi mendapat informasi mengenai saingannya tersebut.


Ia terus menggulung halaman demi halaman. Kebanyakan dari artikel yang muncul hanya tentang Egon yang seorang seleb stagram dan sukses membuat karirnya melejit hanya dalam waktu singkat.


‘Apa alasannya?’


Frederick pun terdiam pada artikel berita sekitar 1 bulan lalu.


“Pangeran Egon muncul di dunia?”


Frederick pun mengernyitkan dahinya.


Ia lalu membuka artikel tersebut dan membacanya.


Di sana tertulis bahwa sosok lelaki tampan datang menggemparkan warga di pusat perbelanjaan di tengah kota. Lelaki tersebut mirip dengan gambaran tokoh salah satu pangeran dalam novel yang sedang jadi perbincangan, ‘The Dark Prince.’


Dalam artikel tersebut juga, terdapat beberapa foto paparazi Egon dengan menggunakan baju kerajaan. Frederick dapat menilai bahwa baju tersebut bukanlah baju biasa. Walaupun secara harga ia tidak dapat menebaknya, tetapi, dari jahitan serta detail baju tersebut, ia tahu bahwa itu bukanlah baju biasa.


‘Ah, dia cepat terkenal karena dia lebih dulu dikenal ya,’ pikirnya.


Ia pun lalu memperhatikan dengan seksama foto-foto tersebut. ‘Dia memang sangat mirip dengan Egon,’ lanjutnya.


Lalu, matanya pun terfokuskan pada suatu titik, dimana emblem keluarga kerajaan Ecroupevell terukir dengan indah pada ujung kerah bajunya. Warnanya silver, tidak terlalu terlihat jika ia tidak teliti. Apalagi, kualitas foto paparazi yang diunggah sangatlah buruk.


“Hah..” Frederick mendesah kesal.


Ia membantingkan tubuhnya di atas kasur. Sambil telapak tangannya menyentuh dahinya, ia menatap kosong langit-langit kamarnya.


“Bagaimana ini? Apa yang harus kulakukan?” Tanyanya pada dirinya sendiri.


***


“Egon, kumohon jangan lakukan ini padaku..”

__ADS_1


“Apa menurutmu aku akan menurutimu?”


“Tidaaaaak!!!!”


Egon tertawa melihat kekalahan Mysha yang berturut-turut.


Akhir pekan tiba. Walaupun sebagai seleb stagram tidak ada kata libur, tapi sesekali Egon tetap meluangkan waktunya untuk bersantai.


Kebetulan, hari itu pun Mysha sedang tidak ada deadline pekerjaan yang harus ia kejar, sehingga mereka berdua pun memutuskan untuk menghabiskan waktu bersama dengan bermain gim konsol seharian penuh di kamar Egon.


Tidak terima dengan kekalahannya, Mysha pun lalu menggembungkan pipinya sambil memeluk kedua lututnya.


“Hey, tidak ada waktu untuk merajuk seperti ini, kau ingat kan—“


“Iya iya” potong Mysha. “Bagi yang kalah, harus mentraktir, ‘kan” lanjutnya lagi.


Agar permainan terasa lebih seru, mereka berdua bertaruh, bagi siapa saja yang kalah, harus mentraktir persediaan makanan ringan selama seminggu kedepan.


Sambil menghela nafas, Mysha pun bangkit dari duduknya. Ia lalu berjalan mengambil kardigan yang ia gantung di gantungan baju kamar Egon.


“Biar aku antar,” Egon pun mengikutinya.


“Tidak perlu,” ucapnya sinis.


“Kau masih kesal?”


“Dia itu lupa umur ya?” Egon yang melihat perlakuannya hanya bisa tertawa.


***


Setelah Mysha pergi, Egon pun berjalan ke arah balkon untuk mengambil handuknya yang ia jemur di sana. Memang benar, ia belum mandi dari sejak ia bangun tidur sampai matahari akan terbenam.


Sebelum ia kembali ke dalam, ia pun terdiam pada pagar balkon. Memandangi langit jingga yang tertutupi awan putih.


Dunia itu terasa sangat nyata dan fana dalam waktu yang bersamaan.


“Hah.. sepertinya, hari tenang seperti ini memang dibutuhkan ya..”


Hubungannya dengan Mysha sudah kembali membaik. Malah, menurutnya, semenjak pertengkaran itu, ia merasa lebih dekat dengannya.


Sampai saat ini, baik Egon maupun Mysha, belum ada yang memulai pembicaraan di hari itu. Walaupun mereka sadar bahwa mereka memiliki perasaan yang sama. Yaitu, perasaan ingin saling memiliki yang bercampur oleh perasaan takut.


Egon pun menghirup panjang udara sore saat itu sambil meregangkan tubuhnya.


Ia tidak ingin melakukan hal yang terburu-buru, sampai ia yakin bahwa perasaannya memang benar-benar siap untuk menerima Mysha dan takdir mereka apa adanya.

__ADS_1


Ping!


Ponsel Egon berbunyi, menandakan bahwa sebuah pesan telah masuk.


Walaupun ia banyak mematikan notifikasi yang berhubungan dengan pekerjaan, ia tetap menyalakan beberapa aplikasi untuk keadaan darurat.


Ia pun meraih ponsel yang ada dalam saku celana training-nya untuk memeriksa pesan tersebut.


“Lentera?” Dengan sedikit bingung, ia pun membuka pesan tersebut.


Ia tidak menyangka kalau gadis itu akan menghubunginya lebih dulu.


Hai Egon, maaf menghubungimu tiba-tiba.


Apa besok ada waktu luang?


Tanpa berpikir panjang, ia pun langsung membalas pesan tersebut.


Maaf, besok aku ada jadwal untuk siaran langsung di stagram.


Begitu Egon mengirim pesannya, tak lama kemudian, balasan pun kembali masuk.


Ah! Kebetulan, aku mau mengajakmu untuk siaran langsung di sebuah toko kue all you can eat! Apa kau mau ikut?


Egon pun terdiam sebentar. Sebelumnya, ia tidak pernah melakukan siaran langsung bersama dengan seleb lain.


Alasannya ada beberapa. Tapi yang pasti, jika ia melakukan siaran langsung dengan orang lain, ada kemungkinan mereka akan bercakap-cakap mengenai kehidupan pribadi mereka.


Walaupun ia sudah merancang latar belakang seorang Egon, ia memilih untuk menghindarinya untuk sementara waktu.


Tapi, Lentera adalah artis yang terkenal. Bisa saja karirnya menjadi jauh lebih baik setelah siaran bersama dengannya.


‘Mungkin sebelum siaran, aku bisa bicarakan dulu dengannya, hal-hal apa saja yang perlu diperhatikan.’ pikirnya.


Baiklah.


Toko kue di mana?


Pukul berapa?


Setelah Egon membalas pesan Lentera, ia pun mengunci ponselnya tanpa menunggu terlebih dahulu balasannya dan segera melangkah menuju kamar mandi.


Dalam waktu beberapa menit, Mysha akan kembali. Ia tidak ingin mendapat komplain yang sama tentang tubuhnya yang bau.


***

__ADS_1



Bersambung…


__ADS_2