
Mendengar suara Mysha yang terdengar panik, kedua lelaki yang sedari tadi terhanyut dalam suasana kelam pun langsung tersadarkan. Mereka berdua bertatapan, seakan sedang mencoba untuk saling bertanya bagaimana mereka harus menghadapi Mysha jika ia melihat keadaan mereka saat itu.
Frederick lebih dulu mengambil inisiatif untuk segera bangkit dan berdiri. Ia kemudian merapikan bajunya sebelum mulai berjalan ke arah pintu.
Sementara Egon, untuk beberapa saat ia terdiam sambil menatap pisau yang ada di tangannya. Baru kemudian, ia ikut bangkit sambil menaruh pisau tersebut di dalam saku celananya.
Sebelum Frederick membuka pintunya, ia sempat berbalik terlebih dahulu untuk memastikan Egon dalam kondisi yang tidak mencurigakan. Begitu Egon memberi isyarat bahwa ia tidak apa-apa, barulah Frederick membukakan pintu, “Hai, Mysha.”
“Apa Egon ada?” Tanya Mysha dengan suara terengah-engah.
Mendengar nama Egon yang terlebih dulu disebutkan, Frederick tersenyum kecut. “Ia ada di dalam,” jawabnya singkat.
Frederick pun menyuruh Mysha untuk masuk dan menemui Egon.
Tanpa terlihat mengkhawatirkan Frederick sama sekali, Mysha melewatinya dan dengan segera mencari sosok pria yang sangat ia nantikan.
“Egon!” Begitu melihat Egon yang bersandar di sebuah dinding, Mysha menghampirinya.
Mysha mengamati wajah dan gerakan Egon, tapi ia tetap terlihat seperti Egon yang biasa. Ia pun mengalihkan pandangannya pada pria yang datang mendekat dari arah pintu. Lelaki itu terlihat sedikit berantakan dari biasanya, tetapi, dilihat dari bagaimana Frederick masih tersenyum padanya, Mysha berpikir bahwa mereka berdua masih belum membicarakan apapun.
Ia pikir, ia datang diwaktu yang tepat.
Namun, kursi yang tergeletak pada posisi tidak seharusnya, tentu berhasil membuat Mysha sadar bahwa yang dipikirkannya adalah sebuah kekeliruan.
Telah terjadi sesuatu di antara mereka berdua dan salah satu diantara keduanya tidak ada yang memulai untuk menjelaskan apapun padanya.
Mata Mysha mulai bergetar. Ia tidak tahu apa yang harus diucapkannya sekarang.
Kedua lelaki itu pun sama. Tidak ada sepatah kata pun keluar dari mulut mereka. Hanya suara hujan dan petir yang bising mengisi sisi ruangan tersebut.
Mysha melirik Egon. Egon menatapnya balik.
“Kita harus pulang,” ucap Mysha dengan hati-hati.
“Kalian tinggal bersama?” Frederick bertanya tanpa ragu.
“Ah, itu—,”
“Bisakah kami izin pamit terlebih dulu?” Egon memotong jawaban Mysha. Terlalu banyak risiko yang harus ditanggung jika mereka berbicara lebih banyak di sana.
__ADS_1
“Ah, ya,” tanpa Egon perlu menjelaskan, Frederick mengerti. Ia pun mencoba untuk tidak terlalu banyak melibatkan Mysha dengan masalah mereka berdua.
Mau bagaimanapun, Mysha dan Anastasia adalah orang yang seharusnya sama. Hanya, kedua lelaki itu tidak melihat tanda-tanda bahwa Mysha mengenali dirinya sendiri selama ini selain Egon yang mengetahui bahwa Mysha beberapa kali bermimpi tentang Anastasia.
Dan sampai sekarang pun, mereka tidak menyadari bahwa Mysha telah mendapatkan semua ingatannta, baik tentang Anastasianya sendiri maupun tentang kehidupan mereka bertiga.
“Sepertinya hujan tidak akan berhenti dalam waktu dekat,” Frederick mencegah Egon dan Mysha yang hendak pergi keluar. “Biar aku antar kalian,” Lanjutnya.
Egon dan Mysha saling menatap untuk beberapa saat. “Terima kasih, tapi.. bisakah kau mengantar kami hanya sampai halte bus?” Tanya Mysha.
“Bukan masalah,” Frederick menjawabnya dengan santai.
Setelah Frederick mengambil kunci mobilnya, mereka bertiga pun berjalan menuju basement apartemen Frederick. Tidak ada yang memulai untuk berbicara lagi selama perjalanan dan tanpa terasa, mereka akhirnya tiba di halte bus.
“Egon,” Frederick memanggil Egon sebelum Ia turun dari mobilnya.
“Kau mengerti kan?” Tanyanya.
Egon mengangguk dan menutup pintu mobilnya.
***
Apa yang harus ia jelaskan tentang Anastasia?
Seberapa banyak yang ia tau tentang dirinya?
Apa yang sudah Frederick ceritakan?
Dan yang paling penting.
Ia ingin tau, bagian mana yang salah?
Tentu saja, bagian Egon yang tidak bisa jujur dan mengkomunikasikan segalanya dengan baik adalah kesalahan paling terbesar.
Tapi setelah itu?
Lagi-lagi, tanpa dapat berbicara sepatah kata pun, Mysha hanya menatap Egon diam-diam.
Raut wajahnya yang tidak menunjukkan ekspresi apapun, membuat Mysha tau bahwa inilah Egon yang disebut sebagai pangeran kegelapan.
__ADS_1
Mata hijau yang seharusnya berkilau oleh pantulan cahaya, terlihat gelap tertutupi bayangan kesedihan.
Mysha ingin mendengar semuanya dari mulut sang pangeran, tanpa ada yang ditutup-tutupi lagi.
Tanpa sadar, tangan Mysha pun menggenggam lembut jemari Egon.
Dan tanpa disangka, Egon pun menggemgam balik tangan mungil itu.
***
Waktu berlalu dengan cepat. Seakan waktu telah disihir agar mereka tak menyadari berapa lama waktu yang telah digunakan untuk sampai ke gedung tempat tinggal mereka.
Kini mereka berdua berdiri di depan pintu Mysha. Setelah Mysha membuka pintu dan masuk, Egon pun berpamitan untuk kembali ke kamarnya.
“Sampai jumpa lagi,” ucap Egon masih dengan ekspresi yang sulit ditebak.
“Hmm.. iya,” jawab Mysha lemas.
Ia kesal akan dirinya yang tidak bisa jujur bahwa dirinya ingin menahan Egon di sana dan membuatnya berbicara tentang masalah mereka.
Egon pun mulai melangkah menjauh.
Mysha melihat punggung Egon yang terbentuk indah bahkan saat tertutupi bajunya. Haruskah ia bersabar dulu sampai Egon membicarakannya lebih dulu?
Tapi, ini bukanlah masalah Egon saja, itu masalah dia juga.
Dan lagi, Perasaan mengganjal jika ia membiarkan Egon pergi ini apa?
Mysha mengepalkan tangannya dengan kuat, mengubur rasa malunya untuk bersikap egois.
“Egon,” Mysha memanggilnya.
Egon membalikkan tubuhnya untuk melihat sang gadis yang masih berada di dekat pintunya.
“Maukah kau bermalam di sini?”
***
Bersambung
__ADS_1