Dendam Sang Pangeran

Dendam Sang Pangeran
21: Pesan


__ADS_3


“Hi! Selamat malam!


Apa kabar semua?


Maaf, beberapa hari kemarin aku sakit, sehingga aku tidak dapat menyapa kalian.


Aku melihat banyak sekali pesan yang masuk, tapi sebelumnya aku ingin meminta maaf, sepertinya aku tidak bisa menjawabnya satu-satu.”


Sakit apa?


“Oh, hanya demam biasa, tapi aku sudah kembali sehat…”


Setelah Egon sadar dari pingsannya, ia memutuskan untuk istirahat dari dunia stagram beberapa hari. Keputusannya tersebut bisa terbilang tepat, melihat bagaimana ia dapat kembali menyapa para fansnya dengan baik setelah itu.


“Kau terlihat sangat berbeda saat siaran langsung,” komentar Mysha setelah Egon selesai siaran langsung.


“Aku ini seleb profesional..” Egon mengedipkan matanya pada Mysha.


“Hey! Aku tidak tahu kau ini ternyata sombong!” Lanjut Mysha, sambil berusaha meledeknya.


Egon pun tertawa mendengar celotehan tersebut.


“Tapi, syukurlah kau akhirnya kembali ke stagram, aku pikir kau akan berhenti..”


“Oh? Jika aku berhenti bagaimana aku akan memanjakan anak kecil ini?” Ucapnya sambil mengacak-acak rambut Mysha.


“Hey! Sudah kubilang rambutku ini susah diatur!” Mysha menahan tangan Egon yang masih ada di atas kepalanya.


Egon pun kembali tertawa melihat Mysha yang cemberut. Ia merasa senang, kini ia bisa dengan bebas menggoda gadis dibawah tangannya itu.


“Maaf, kau ini kadang terlihat menggemaskan..” Egon menurunkan tubuhnya dan berbicara lembut di dekat telinga Mysha.


“Kadang?” Mysha menolehkan mukanya. Bertanya pada Egon sambil menatap wajahnya.


“Iya. Terkadang lagi kau menyebalkan,” godanya kembali sambil meringis.


“Kapan aku menyebalkan?”


“Hmm..” Egon kembali berdiri, berpura-pura untuk memikirkan jawabannya. “Seperti saat aku menciummu, dan kau meninggalkanku demi pekerjaanmu,” jawab Egon sambil menatap Mysha dengan senyuman.

__ADS_1


Egon pun melepas tangannya dari genggaman Mysha. Ia mengangkat tubuhnya yang mungil, lalu menggotongnya ke atas kasur. Walaupun sudah lama ia tidak berolahraga berat, baginya, berat tubuh Mysha bukanlah apa-apa.


Hati Mysha berdetak tak karuan, membayangkan hal apa yang akan terjadi selanjutnya. Ia pun merangkulkan tangannya pada leher Egon ketika ia membawanya. Menyembunyikan wajahnya pada tengkuknya, sambil mencium aroma tubuhnya yang selama ini tak pernah bisa ia lakukan sedekat itu.


“Kenapa kau diam saja?” Ucap Egon setelah membuat Mysha duduk bersandar di ranjangnya.


“Aku tidak diam saja..” Mysha menjawabnya dengan mata mengarah ke jendela, terlalu takut untuk menatap mata Egon. Aura ditubuhnya terlalu panas seperti hewan buas yang akan menerkamnya.


Egon pun menarik satu tangannya dan menciumnya lembut. Wangi lembut sabun karamel yang menempel pada kulit Mysha membuatnya semakin ingin mencicipinya.


Jantungnya berdetak semakin kencang. Walaupun ia tidak memperhatikan bagaimana Egon menciumnya, ia dapat membayangkan wajahnya ketika ia melakukannya. Ia menelan ludahnya. menantikan apa yang akan lelaki itu lakukan padanya setelah itu.


Sayangnya, lelaki itu tidak melakukan hal berlebihan, seperti yang ada di dalam benaknya.


Setelah ia mencium tangan Mysha, Egon menyisir poninya ke samping dan mencium dahinya dengan lembut.


Mysha yang tidak menyangka Egon melakukan hal manis seperti itu pun, akhirnya memberanikan diri untuk menatap balik matanya. Aura panas yang tadi mengelilinginya telah sirna. Hanya ada tatapan kasih sayang terpancar dari matanya.


“Kenapa?” Mysha bertanya dengan polosnya sambil memegang dahinya yang masih hangat setelah Egon menciumnya.


“Aku tidak yakin akan bisa mengendalikan diriku sendiri jika aku melakukan lebih jauh,” jawabnya.


Egon pun lalu berbaring di sampingnya, memeluk pinggang ramping Mysha yang masih setengah bersandar di ranjangnya.


Mendengar hal itu, telinga Mysha kembali memerah. Ia merasa kesal dan malu dalam waktu bersamaan.


Walaupun di kehidupan keduanya Egon digambarkan sebagai tokoh yang tidak tertarik dengan percintaan, pada kehidupan pertamanya, kisah romantis Egon bersama Anastasia cukup banyak tertulis di dalam novel. Dari sana-lah, Mysha pun menganggap bahwa Egon adalah orang yang cukup berani dalam hubungan percintaan.


Maka dari itu, ketika Mysha memutuskan untuk menjalin hubungan dengan Egon, di dalam hatinya, ia mempersiapkan dirinya, akan sejauh apa mereka berpacaran.


Tapi, sepertinya hal itu hanya akan terjadi di dalam benaknya. Egon terlihat sangat berhati-hati padanya. Sampai-sampai, ia bisa dengan santainya berbaring di samping Mysha tanpa merasa risih seperti sebelumnya.


“Egon..” panggiln Mysha dengan hati-hati. “Jika.. Jika aku yang melakukannya lebih dulu, apa kau bisa mengendalikannya?” Tanya Mysha dengan ragu.


Egon dapat melihat bagaimana matanya bergetar ketika berbicara pada dirinya. Ia pun tersenyum, mengagumi sosok gadis di sampingnya yang sedang mencoba memberanikan diri untuk meminta sesuatu padanya.


“Aku tidak tahu jika tidak dicoba,” jawabnya sambil sedikit bangkit menggunakan tangannya. Memposisikan diri sehingga Mysha dapat lebih mudah mendekatinya.


Mysha pun lalu menurunkan tubuhnya untuk mencium Egon.


***

__ADS_1


Hari sudah mulai larut. Bintang-bintang banyak bertaburan di langit yang sudah mulai padam.


Egon memandang langit itu sendirian di balkon kamarnya. Sementara gadis yang ia pikir tidak akan pernah ia miliki itu, sedang tertidur pulas di kasurnya.


Padahal, berkali-kali ia sudah memantapkan hatinya untuk tidak berhubungan lebih jauh dengan Mysha. Tapi, setiap kali dirinya berada dihadapannya, tubuhnya selalu bergerak lebih cepat dari akal sehatnya. Seakan Mysha telah memantrai dirinya agar tergila-gila padanya.


“Hah,” Egon menghela nafas panjang.


‘Sekarang, hal yang lebih penting adalah, bagaimana menemukan Frederick..’ ucapnya dalam hati.


Sejak terakhir kali ia menggunakan sihirnya pada Frederick dan Anastasia, Egon kehilangan sebagian besar kekuatannya. Karena, mengirimkan seseorang ke dimensi lain membutuhkan kekuatan sihir yang sangat besar.


Makanya, sihir tersebut dilarang di dunianya. Selain membutuhkan kekuatan besar, beberapa dari mereka yang mencoba menggunakan sihir itu, kehilangan nyawanya.


Alasan itulah yang kemudian membuatnya kewalahan, karena ia harus melindungi Nikolai juga saat itu. Walaupun pada akhirnya, dengan sisa sihir dan tenaga yang ada, ia dapat membuat wajah dan ciri fisik Nikolai berubah untuk beberapa waktu, ia tetap saja butuh beberapa saat untuk bangkit kembali dan mendatangi sang raja yang saat itu sedang bergembira atas kemenangan pasukannya.


Lalu, Nikolai pun pergi ke desa terpencil untuk menyembunyikan dirinya dan identitasnya, sampai nanti Egon kembali menjemputnya untuk memberikan tahta kerajaan padanya.


Egon memperhatikan kedua tangannya yang kosong. Ia terlalu lemah untuk berada di dunia itu. Ia harus menyelamatkan orang-orang yang telah menjadi korban keegoisannya.


‘Aku tidak bisa bermain-main seperti ini lagi.’


‘Tapi, apa yang harus kulakukan sekarang? Dunia ini terlalu luas. Bahkan aku tak yakin dia berada di dunia yang sama. Bahkan fisiknya pun pasti berubah..” Egon menyisirkan rambutnya kebelakang, sambil tetap memandang dengan hampa, langit gelap diatasnya.


‘Lagi pula, aku tidak tahu bagaimana caranya aku mendapatkan sihirku kembali..’


“Dan lagi..” sesaat, ia pun menilik gadis di dalam ruangannya. Ia dapat melihatnya langsung dari balkon, karena pintunya yang ia biarkan terbuka lebar.


‘Jika saja, ada satu petunjuk yang berguna..’


Di saat ia berharap menemukan adanya sebuah petunjuk untuk mengakhiri kehidupannya di sana dan menyelamatkan orang-orang yang menjadi korbannya, ponselnya berbunyi dari dalam ruangannya.


Ia pun langsung memasuki ruangan untuk mengaktifkan mode senyap, mengingat gadis yang berada di dalam sedang tertidur pulas di atas kasurnya.


“Frederick?”


Ketika ia melihat isi e-mail yang masuk tersebut, ia dibuat bingung dengan nama pengirim dan isinya.


***


__ADS_1


Bersambung…


__ADS_2